Enough!

1697 Kata
Baru saja Billy akan menjawab, ia teringat jika mobil tadi hampir menabraknya dan Joshep. Billy segera bangkit, menyingkirkan gadis itu sedikit kasar. Ia berlari ke arah Joshep yang terbaring beberapa meter darinya. "Josh! Josh!" "Gapapa, Josh? Ada yang luka?" Tanya Billy terlihat panik. Jelas sekali jika Ia sangat khawatir dengan keponakan kesayangannya itu. "Gapapa, Om." Billy segera membantu Joshep untuk berdiri dan membersihkan pakaiannya yang kotor. Tidak peduli dirinya dengan pakaian bagian sikut dan lutut yang sobek. "Eh! Tangan Kakak berdarah," ujar Aurora yang entah kapan sudah berada di antara keduanya. Yap, tadi Aurora dan Joshep sedang jalan-jalan. Tidak sengaja Joshep yang sedang menunggu Aurora pamit ke toilet melihat Billy. "Kamu apa-apaan sih!?" Billy menyentak tangan Aurora ketika gadis itu memegang lengan Billy untuk melihat lukanya. Bukan hanya Aurora, Joshep pun terkejut melihat Aurora mendapat perlakuan seperti itu dari Billy "..." "Apa... a-apa aku pantas dapet perlakuan kayak gini?" Tanya Aurora lirih dengan suara yang bergetar. Sebenarnya Billy bukannnya bermaksud kasar. Hanya saja, saat ia dan Joshep berhadapan dengan maut, Aurora lebih memilih menolongnya. Billy hanya terlalu takut kehilangan Joshep. Joshep satu-satunya harta paling berharga yang ditinggalkan Annita. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Joshep. "Aku sama sekali gak harapin bantuan kamu! Kenapa kamu malah nyelamatin aku, bukan Josh!?" Bentak Billy sambil menatap Aurora tajam dengan nafas memburu. Mata Aurora yang berkaca-kaca menahan air mata itu untuk jatuh dari tadi akhirnya tidak dapat terbendung lagi, wajahnya juga memerah mendengar bentakan demi bentakan yang ia terima dari Billy. "Gue juga gak tau apa yang ngerasukin otak gue! Gue gak tau kenapa kaki gue ngelangkah gitu aja nolongin lo bukannya Josh yang jelas lebih berharga dari pada lo! Gue gak tau kenapa gue masih aja nolongin lo walaupun lo nyakitin gue berkali-kali!" Billy tampak terkejut dengan teriakan Aurora. Hatinya sakit mendengar Aurora meneriakinya dengan sebutan 'Lo' "Gue cuma tau kalau gue itu suka sama lo! Gue suka sama lo layaknya seorang perempuan b**o suka sama laki-laki b******k! Puas lo?!" Teriak Aurora dengan nafas terengah-engah. Billy dan Joshep mematung mendengarnya. Ini yang ditakutkan Billy, saat Aurora mengatakan sesuatu yang membuat semuanya semakin rumit. Saat Aurora mengakui sesuatu yang membuat Billy semakin sulit untuk melepasnya. "K-kamu bilang apa?" Tanya Billy tergagap mencuri pandang ke arah Joshep yang menatap nanar Aurora. Disatu sisi ia senang mendengar ungkapan Aurora, namun di sisi lain Billy merasa sedih dan takut. "Lo mau bilang gue b**o, kan!? Tapi itu kenyataannya, gue suka sama lo!" Suara Aurora tidak sekeras tadi namun tetap ada penekanan di sana. "Ka-amu... kamu gak ngerti, Ara! Hentikan semua obsesi kamu!" Suara Billy yang masih terdengar keras membuat Aurora menatapnya tidak percaya. Gadis itu menggeleng beberapa kali mencoba menyadarkannya jika ini nyata. "Gue terobsesi sama lo!? Hah? Hahaha yang bener aja? Lo gak punya hak sama sekali buat nentuin apa yang gue rasa karena cuma gue yang tau. Dan lo tenang aja, gue sama sekali gak minta jawaban apapun. Sekarang gue mikir, kenapa gue bisa suka orang kayak lo!!" Bukan hanya Aurora, namun Billy juga benar-benar terluka mendengar gadis yang ia suka menyesali perasaannya sendiri. Berteriak menyuarakan rasa sakit yang di sebabkan olehnya. "Gue emang mau lo, tapi ternyata gue gak butuh orang kayak lo. Karena itu sampai kapanpun kita gak bakalan bisa bareng karena Tuhan ngasih apa yang kita butuh, bukan apa yang kita mau." Kedua tangan Billy mengepal giginya terkatup rapat. Sungguh ia tidak ingin melihat Aurora yang lagi-lagi menangis karenanya. Aurora menghapus air matanya dengan kasar. Air mata yang dari tak mau berhenti meskipun ia ingin. Yang pasti sekarang Aurora benar-benar tidak mau bertemu dengan Billy lagi. "Om keterlaluan," ujar Joshep geram setelah Aurora pergi begitu saja meninggalkan mereka. Benar jika ia tidak ingin terjalin hubungan lebih antara Aurora dan Billy, membanyangkannya saja sudah membuat hatinya sakit. Namun setelah melihat semua ini di depan matanya, melihat kehancuran Aurora bahkan membuat dunianya seakan runtuh. "Keterlaluan? Terserah lah. Yang jelas Om cuma mau yang terbaik buat kamu, Josh." Billy mengatakannya tanpa memandang Joshep sama sekali. Ia menepuk bahu Joshep dua kali sebelum meninggalkan keponakannya yang menatap marah. *** Hari-hari berlalu dengan cepat. Jika Aurora sudah mulai melupakan kejadian itu secara perlahan karena dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Berbeda dengan Billy yang makin hari terlihat makin kacau. Apa yang dikerjakan jadi tidak fokus. Ada kontrak yang harusnya bisa ia dapat namun malah gagal, beberapa kali juga ceroboh untuk hal yang kecil seperti menumpahkan kopi ke pakaian, menjatuhkan gelas dan melakukan kesalahan saat persentasi yang belum pernah dilakukannya. "Ini bakalan menguntungkan kalau kita perpanjang kontrak sama mereka, Bang. Pasaran lagi bagus-bagusnya. Kalau abang setuju, aku perlu tanda tangan Abang di sini," ujar Billy menunjuk kertas tempat dimana Edy harus tanda tangan. Tanpa banyak bicara Edy langsung menandatanganinya. "Udah nih," ujar Edy mengembalikan lembaran kertas itu pada Billy. "Enggak Abang baca dulu?" "Gapapa, Abang percaya sama kamu." "Kalau gitu aku pulang dulu ya, Bang." Sebelum berdiri Billy menyesap kopi yang tinggal setengah tadi hingga habis. "Pulang kemana? Rumah kamu kan disini," canda Edy sambil tertawa kecil membuat Billy ikut tersenyum. "Eii itu mah aku juga tau. Maksud aku mau balik ke apartemen dulu. Rumah kedua, Bang," ujar Billy diikuti dengan tawa yang seketika memenuhi ruangan . "Kenapa gak nginep aja? Udah lama juga kan." Jujur saja Edy sangat merindukan waktu berdua dengan adik satu-satunya itu. Kesibukan mereka membuat keduanya tidak memiliki waktu banyak untuk bertemu. "Lain kali aja, Bang. Kerjaan aku semuanya ketinggalan di apartemen," ujar Billy sambil membereskan berkas-berkasnya yang berserakan di meja kerja Edy. "Balik ya, Bang." "Bill," panggil Edy ketika Billy akan melangkah keluar ruangan itu. "Iya, Bang?" Tanya Billy kemudian kembali berjalan mendekati Edy. Dahinya berkerut melihat raut wajah serius abangnya. "Apa ada yang Abang gak tau?" Billy menghentikan pergerakannya sebelum tersenyum dan memasukan berkas-berkas itu ke dalam tasnya. "Maksud Abang?" "Kamu sama Josh," jawab Edy membuat Billy tersentak. Raut wajah terkejut jelas tergambar di wajah Billy namun ia segera mengatasinya. Ya. Billy menggunakan topengnya dengan baik. Lagi-lagi Billy tidak ingin jika orang lain mengkhawatirkannya. "Gak ada apa-apa. Emang aku sama Josh kenapa, Bang?" Tanya Billy kini menatap Edy. Senyum masih tidak hilang di wajahnya. "Kamu adik Abang dan Josh anak Abang, Abang kenal kalian dengan baik. Abang bisa liat akhir-akhir ini Josh jadi sedikit pendiam. Kamu tau, kan? Biasanya dia anak yang periang dan petakilan." Sejenak Edy berhenti lalu tersenyum mengingat kenakalan Joshep tak ada bedanya dengan kenakalan Billy dulu. "Waktu itu kamu dateng mau nemuin Josh, tapi tiba-tiba kamu pulang gitu aja. Gak ada apa-apa? Abang tau kamu bohong, Bill." Billy menunduk tak berani menatap abangnya yang mendekat. Edy menghela nafas lalu memegang kedua pundak Adiknya. "Abang pergi ke kamar Josh, dia lagi nangis. Abang yakin kamu juga liat sebelum Abang. Kamu pasti tau kapan terakhir kali Josh nangis, kan? Udah lama Abang gak liat Josh nangis. Beberapa hari setelah itu, Aurora datang kesini. Dia berantakan, itu yang Abang simpulin waktu ngeliat dia malem itu," jelas Edy. "Ara nangis?" Billy mengangkat kepalanya yang semula menunduk. Menatap Edy, berharap itu hanyalah sebuah kebohongan. Namun sebuah anggukan sebagai jawaban yang ia dapat. "Abang gak sengaja liat pas lewat kolam, mereka di sana. Abang denger dia nyebut nama kamu. Abang gak enak kalau harus denger lebih jauh, jadi Abang pergi dari sana." Senyum yang tadi mengembang di sana kini sudah berganti dengan raut sendu. "Abang gak maksa kamu sama Josh buat cerita. Abang pikir kalian bisa nyelesaiin cepat dengan baik. Tapi nggak, Abang lihat Josh jadi pendiam, gak kayak biasanya. Kamu juga, kerjaan gak fokus. Abang denger kamu jadi sering ngelamun di ruangan." Edy memandang adiknya sejenak sambil menghembuskan nafas berat. "Rasanya udah waktunya Abang nanya. Jadi bilang sama Abang apa yang terjadi. Bagi ke abang rasa sakit kamu." Edy melepaskan kedua tangannya yang berada di pundak Billy, namun pandangannya tak beralih dari wajah sendu adiknya itu. "G-gak ada apa-apa kok, Bang." Lagi-lagi Billy tampak jelas sekali memaksakan senyum tipisnya. "Kalau gapapa, trus kenapa kamu nangis?" Tanya Edy lalu menghapus air mata yang turun begitu saja di pipi adiknya. Billy juga terkejut, tidak sadar jika ia menangis. "B-bang... a-aku." Edy dengan cepat memeluk Billy saat melihat mata adiknya itu akan meledakan tangisnya. "Kenapa? Bilang sama Abang," ujar Edy lembut. Ia mengusap punggung adiknya itu. "B-bang." Suara Billy terdengar semakin berat. Ia menggigit bibir bawahnya mencoba menahan emosi yang mendesak keluar. "Hm? Tenangin diri kamu dulu. Kamu kenapa, Bill? Kamu bikin Abang ikut sedih kalau kamu nangis kayak gini, Billy. Sebelumnya Joshep, Ara, sekarang kamu. Kalian kenapa?" Edy lalu mengeratkan pelukannya. "Bang... maaf, Bang. Maaf." Remasan Billy pada punggung Edy semakin kuat. Ia tak ingin menangis di depan Edy. Sama seperti Joshep, terakhir Billy menangis sekeras-kerasnya adalah saat ia kehilangan Annita. "Hei... kenapa kamu minta maaf?" Tanya Edy. "Aku... a-aku yang menyebabkan semua ini, Bang. Aku yang udah buat Joshep nangis. Maaf, Bang." Mata indah Billy kembali mengeluarkan cairan bening itu. Bagi Edy, Billy tetaplah adik kecilnya. Mereka tumbuh besar bersama tanpa bantuan keluarga yang lain. Kehilangan kedua orangtua di umur muda bukanlah suatu hal yang mudah. "Bill, Abang tau kamu. Kamu gak mungkin ngelakuin suatu yang buruk sama Josh. Abang tau kamu sayang banget sama Josh." Edy tersenyum lalu mengusap kepala Billy. "Tapi aku ngelakuinnya, Bang. Aku udah ngelanggar janji aku sama Kak Annita. Aku harus apa, Bang?" Tanya Billy dengan suara bergetar hingga Edy menangkup kedua pipinya. Menghapus air mata Billy yang terus saja mengalir. "Hei... lihat Abang. Kamu gak ngelanggar apapun. Dari dulu kamu selalu ngelindungin Josh. Billy, Abang juga gak mau kamu nyakitin diri kamu sendiri. Joshep udah cukup dewasa untuk nyelesaiin masalahnya, dia udah cukup dewasa untuk sembuh dari rasa sakit. Jangan menyalahkan diri sendiri, hm?" "Tapi aku udah janji-" "Annita juga gak bakalan mau liat kamu nyakitin diri kamu sendiri. Annita sayang banget sama kamu, sama seperti dia sayang sama Josh. Jika Annita masih di sini sama kita, dia juga bakalan bilang hal yang sama. Kamu boleh ngelindungin Joshep. Kamu boleh sayang dia, tapi tolong jangan menyakiti diri kamu sendiri. Annita gak bakalan suka," ujar Edy semakin membuat Billy kembali menangis. "Bang... kenapa di sini sakit? Rasanya sesak." Billy memukul dadanya. Edy kembali memeluk adiknya itu. "Abang gak tau apa yang terjadi sama kalian. Tapi Abang tolong perhatikan juga diri kamu, Bill."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN