Aurora yang sedang sibuk dengan Ice cream strawberry itu menghentikan jilatannya melihat Kezie yang tersenyum dengan pandangan kosong hingga Ice creamnya mencair dan meleleh mengotori tangannya.
"Idih gila ya, lo? Ngapain lo senyam senyum gitu?" Tanya Aurora bergidik ngeri lalu memukul lengan Kezie hingga membangunkan gadis itu dari mimpi indahnya.
"Yahh.. kok lo gak bilang kalau udah cair!? Belepotan nih tangan gue," ujar Kezie yang malah menyalahkan Aurora. Bukan hanya belepotan di tangan, namun juga mengenai paha dan celananya.
"Eh! Badak laut! Lonya yang gue panggil-panggil enggak nyaut dari tadi. Taunya kesurupan hantu perawan," balas Aurora yang tak terima dirinya disalahkan. Walau begitu ia tetap membantu membersihkan paha dan celana Kezie yang kotor, sedangkan Kezie membersikan tangannya menggunakan tisu.
"Lagian lo kenapa deh, aneh banget. Dulu aja lo murung kayak abis di tinggal suami pergi perang, sekarang malah... eh bentar deh."
Aurora tiba-tiba menatap Kezie intens hingga gadis itu gelagapan walaupun ia tidak tau kenapa. Mulut gadis itu terbuka lebar setelah menyadari sesuatu.
"Cerita sama gue se ka rang!"
Aurora yakin perubahan mood Kezie ini masih dikarenakan hal yang sama dengan beberapa waktu lalu. Kezie yang tidak bisa mengelak, mulai bercerita dimana Joshep mengajaknya ke danau, namun tentu saja ia tidak mengatakan jika itu Joshep. Kezie hanya mengatakan ini pria yang ia suka.
"Yosh! Kita udah sampai," ujar Joshep ketika mobilnya berhenti di depan apartemen Jessica. Senyum manis tidak luntur dari wajah gadis yang terkenal dingin itu. Kini suasana hatinya sedang baik, terlewat baik malah. Hingga Kezie tidak bisa menahan senyum itu mengambang di wajahnya.
"Makasih," ujar Kezie lalu turun dari mobil diikuti oleh Joshep.
"I-itu hm.. Ara ada ngabarin lo gak?" Tanya Joshep membuat Kezie tersenyum kecil.
"Enggak, Josh. Dia cuma minta gue buat nginep di apartemen Kak Jessie tadi." Joshep hanya mengangguk kecil sambil tersenyum mendengengarnya
"Ya udah, gih masuk. Thanks ya, lo nemenin gue hari ini."
"Harusnya gue yang bilang makasih kali. Dah.. gue masuk ya," ujar Kezie lalu kembali tersenyum sebelum berbalik hendak meninggalkan Joshep.
"Bentar."
"Ya- !!"
Kezie terkejut mendapat pelukan tiba-tiba dari Joshep. Tubuhnya menegang. Paru-parunya serasa kurang dengan pasokan udara hingga rasanya akan tersedak.
"Gini bentar," bisik Joshep.
Perlahan tangan Kezie terangkat. Naik ke punggung Joshep, membalas pelukannya. Mereka saling mengeratkan pelukan masing-masing. Beberapa saat sebelum Joshep melepaskan pelukan mereka, saling menatap dengan senyum mengembang di wajah keduanya.
"Dah sana masuk," ujar Joshep sambil sedikit mengacak poni Kezie. Jika saja Joshep sedang dalam mode jail mungkin Kezie akan mengamuk. Namun kini berbeda, keduanya kembali saling melempar senyum.
"Hm." Angguk Kezie lalu berlalu meninggalkan Joshep. Kezie nampak buru-buru memalingkan wajahnya, bahkan berlari kecil dengan menunduk. Sedangkan Joshep masih diam di sana walau Kezie sudah tak tampak lagi.
***
Sedangkan di tempat yang berbeda seseorang juga sedang memikirkan sesuatu, namun berbeda karena hal ini tidak membuatnya senang sama sekali. Kata-kata Jessica pada malam itu berputar-putar di kapalanya. Semakin jelas dan semakin membuatnya pusing.
"Josh?" Baru saja Joshep akan masuk ke mobil berbalik mendengar ada yang memanggilnya.
"Eh... Kak Jessie?" Joshep menampilkan senyum andalannya melihat wanita cantik yang merupakan kakak sepupu dari gadis yang ia cintai itu memanggilnya.
"Ngapain diluar sini, Josh?"
"Abis nganter Kezie, Kak. Katanya Ara nyuruh dia nginep," ujar Joshep yang masih setia dengan senyumannya.
"Gak mau masuk dulu?" Tanya Jessica membuat Joshep menggeleng dan tersenyum ramah.
"Gak usah, Kak. Lain kali aja. Kalau gitu aku balik dulu ya, Kak."
"Josh," panggil Jessica lagi-lagi menurunkan tangan Joshep yang akan membuka pintu mobil.
"Ya, Kak?" Joshep sedikit was-was melihat wajah serius Jessica.
"Kakak mau nanya tentang Ara," ujar Jessica yang kini terlihat sedikit keraguan di sana. Joshep hanya mengangkat sebelah alisnya sambil mengangguk pelan seolah mengatakan 'tanya aja'
"Apa terjadi sesuatu... Maksud Kakak, Ara lagi ada masalah?" Jessica maju selangkah hingga kini ia berada tepat di hadapan Joshep.
"A.ara?" Joshep terlihat ragu dengan apa yang ingin diketahui Jessica.
"Josh, bilang sama Kakak," ujar Jessica penuh penekanan. Namun Joshep hanya diam membuat Jessica menghela nafas.
"Beberapa hari yang lalu Kakak liat dia nangis di kamar. Kakak fikir karena lagi berantem sama kamu atau Zie. Tapi ternyata Kakak salah. Kakak denger dia nyebut satu nama yang sangat Kakak kenal. Karna itu Kakak ngedeketin, biar bisa denger lebih jelas." Jessica mengambil nafas sejenak sambil memperhatikan Joshep yang terlihat tidak nyaman.
"Kamu tau apa yang dia bilang? 'Billy b**o! Kenapa lo tega sama gue? Salah gue apa?' Ara terus aja bilang itu berulang-ulang sampe dia ketiduran. Kakak gak tau apa yang terjadi sama mereka. Beberapa hari ini Kakak belum ketemu sama Billy untuk nanyain ini. Kakak... Baru kali ini Kakak liat Ara kayak gitu."
Jessica menatap lekat Joshep yang terlihat menggertakan giginya. Tangannya mengepal. Perasaannya campur aduk memikirkan sebegitunya Aurora karena Omnya, Billy.
"Setiap Kakak tanya, dia selalu bilang gapapa. Ara tanggung jawab Kakak di sini, Josh. Jadi tolong.. bilang sama Kakak ada apa," ujar Jessica kini terdengar lebih memohon.
Joshep membuang pandangannya ke arah lain. Untuk sejenak ia terdiam sebelum kembali menatap Jessica.
"Ara... dia suka Om Billy, Kak. Tapi yaa gitu, Om gak ngerasain hal yang sama. Kakak ngerti maksud aku, kan?" Tanya Billy membuat dahi Jessica berkerut. Jelas-jelas ia melihat sendiri bagaimana tatapan Billy pada Aurora.
"Bener gitu?" Tanya Jessica memastikan lagi, atau lebih tepatnya ingin mendengar jawaban yang lebih.
"Hm. Aku gak tau banyak juga sih. Ara waktu itu dateng ke rumah sambil nangis. Dia bilang kalau diantara mereka cuma cinta sepihak. Beberapa hari setelah itu Ara kembali ceria. Ara bilang dia baik-baik aja," jelas Joshep walau ia sendiri yakin jika gadis itu tidak baik-baik saja.
"Itu... itu gak mungkin," ujar Kezie pelan namun masih terdengar jelas oleh Joshep yang menatap heran padanya.
"Maksud Kakak?"
"Kakak sering perhatiin mereka. Hubungan mereka baik-baik aja. Kakak juga sering liat mereka saling perhatian satu sama lain. Kakak udah lama kenal dia. Billy... Billy belum pernah senyum ke orang yang baru dia kenal, kayak dia senyum ke Ara. Tatapannya beda ke Ara. Kakak kira mereka saling suka," ujar Jessica pelan pada akhirnya.
"Tapi kenyataannya gak gitu, Kak. Udahlah, sebaiknya Kakak gak udah bahas lagi sama Ara. Ini cuma bikin dia inget lagi sama luka kemarin."
***
"Udah siap aja adik cantiknya Kakak."
Aurora yang sedang memperhatikan penampilannya dari cermin menoleh. Ia tersenyum melihat Jessica yang sudah lengkap dengan stelan kantornya mendekat.
"Iya nih, Kak. Aku ada kelas pagi," ujar Aurora sambil menyemprotkan parfum di bagian leher dan pergelangan tangannya.
"Mau Kakak anter?"
"Gak usah, Kak. Aku di jemput Josh."
"Ya udah," ujar Jessica. Ia tersenyum sambil tangannya terulur merapikan kerah kemeja Aurora yang terlipat.
"Dek... kalau ada apa-apa cerita sama Kakak, ya? Kamu tau, kan? Kakak sayang kamu. Kakak bakalan dukung kamu apapun itu," ujar Jessica tersenyum sambil mengelus pelan rambut Aurora.
Hati Aurora menghangat dapat perlakuan seperti itu dari Jessica. Jarang-jarang Jessica berkata manis seperti tadi. Ia maju dua langkah, tangannya melingkar di pinggang Jessica. Meletakan kepalanya dengan nyaman di cekuk leher Jessica yang lebih tinggi darinya.
Menghirup aroma parfum Jessica yang ia suka. Baginya, pelukan Jessica adalah pelukan ternyaman yang pernah ia rasakan dari kecil.
Dari dulu Aurora hanya bisa bermanja dengan Jessica. Mempunyai orangtua kaya yang super sibuk mengharuskan Aurora mengenyampingkan egonya untuk bermanja-manja dengan orang tuanya. Jessica sudah seperti sosok ibu dan ayah baginya.
"Aku juga sayang banget sama Kakak. Makasih ya Kak, buat semuanya."
***
Joshep berdiri di depan gedung tinggi itu. Saat ia akan masuk, ia melihat seorang yang beberapa hari ini ingin ia temui berada di sebrang sana. Coffe Lovey, sepertinya orang itu ingin membeli kopi. Ya, dia memang pecinta kopi.
Sering kali orang-orang di sekitarnya, termasuk Aurora dan Kezie melarangnya untuk mengonsumsi minuman itu terlalu sering tapi itu masalahnya, tak pernah didengarkan. Saat Joshep sampai di depan cafe, orang itu keluar.
"Loh... Josh?"
"Bisa kita bicara sebentar, Om?"
"Kenapa? Jangan bilang uang yang dikasih Papa kamu habis, terus minta jatah ke Om?"
Billy menatap Joshep curiga sebelum tertawa, tawa manis yang membuat beberapa kaum hawa yang sedang berjalan memandangnya dengan mata berbinar penuh kagum. Namun Ia berhenti tertawa saat melihat Joshep hanya diam dengan leluconnya.
"Ok, kayaknya serius. Kamu mau nanya apa?" Tanya Billy tersenyum. Ia melangkah mendekati mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana lalu bersandar pada pintu mobil. Untuk sejenak Billy melihat Joshep menarik nafas panjang sebelum membuka suara.
"Om... Om sama Ara apa-" Seketika senyum Billy lenyap tau arah pembicaraan Joshep.
"Kami gak sedekat itu sampai kamu bisa nanya sesuatu tentang dia, Josh."
Billy mengatakan itu lalu langsung melangkah meninggalkan Joshep. Namun pria itu segera meraih lengan Billy.
"Tapi Om, ini penting."
"Apa? Sepenting apa sampai kamu harus nyusul Om ke sini? Gak ada apapun yang terjadi antara Om dan Ara."
Billy kembali menyentak tangan Joshep dan berjalan meninggalkannya. Joshep kembali meraih tangan Billy sebelum..
Tinn
Keduanya hanya bisa terdiam walaupun mereka dapat melihat sebuah mobil melaju dengan cepat kearah mereka.
Ckiitt
Billy merasakan tubuhnya membentur aspal tapi tidak sekeras yang ia kira. Perlahan Billy membuka matanya. Ia melihat seseorang memeluknya.
"Kakak gapapa?" Billy dapat melihat kekhawatiran dari wajah orang yang berada di atasnya itu.
"Agh a-aku...?"
"Gapapa?" Ulang Aurora lagi.