"Apa yang bisa kita lakukan?" tanyaku ragu, namun aku sebenarnya sangat bersemangat untuk membalas rasa sakit hatiku pada Dira dan Dista.
Teruntuk Dista, aku akan membuatnya membayar atas perbuatannya terakhir kali yang telah mempermalukan aku di depan umum dan bahkan melukai wajahku.
Tak cukup ia berselingkuh dengan suamiku, menyakiti perasaanku. Namun ia juga mempermalukanku dan menyakiti fisikku.
"Kita bisa seperti mereka." jawab Guna yakin, aku mengernyitkan dahi tak percaya.
"Maaf, aku bukan tipe wanita seperti istrimu. Aku..." ucapku terpotong,
"Siapa bilang kita akan seperti mereka dalam hubungan tanda kutip?" sela Guna sambil tersenyum, tangannya bahkan mengangkat 2 jari lalu mengayunkannya pelan.
"Maksud kamu?" tanyaku penasaran,
"Kita pura-pura aja, Kila." jawab Guna lantang.
"Walaupun kamu dan Pak Dira dijodohkan, dia tetap akan marah kalau tahu kamu dan aku memiliki hubungan khusus. Kalau Pak Dira marah, itu kesempatan kamu buat minta Pak Dira ninggalin Dista. Nah pada saat itu, Dista pasti akan ribut degan Pak Dira." terang Guna, aku memejamkan mata beberapa saat untuk memikirkan tawaran dari Guna.
"Kamu nggak perlu takut, kalau Pak Dira menceraikanmu, aku akan membiayai operasi adikmu." lanjut Guna, aku masih saja diam, bingung.
"Aku nggak akan nyentuh kamu." lagi, Guna sepertinya memprovokasiku agar aku gabung dengan rencananya untuk balas dendam ke Dira dan Dista.
"Apa kamu jago bela diri?" tanyaku, Guna tertawa terbahak-bahak.
"Kamu takut aku dipukuli Pak Dira?" tanyanya, masih dengan gelak tawa yang tak kunjung henti.
"Aku serius." ucapku, aku ingat bagaimana Soni ditampar Dira, aku tak mau Guna juga ditampar oleh Dira.
Guna memang lebih tampan dari Dira, namun Dira memiliki tubuh yang jauh lebih atletis dibanding Guna.
"Kamu nggak perlu khawatir tentang aku." ucap Guna.
"Tujuan kita adalah membuat Pak Dira dan Dista berpisah. Bukannya tak adil kalau cuma kita yang tersakiti? Kalau kita bercerai, mereka malah akan semakin senang dan merasa bebas." ucap Guna, aku setuju dengan pemikiran Guna.
Seandainya aku memang harus bercerai dari Dira, aku tak rela jika hubungannya dengan Dista tetap berlanjut dengan damai. Sementara aku dan Guna merasa tersakiti karena mereka.
Setelah kami selesai makan, Guna berniat mengantarku pulang.
"Nggak perlu, aku ada sopir kok. Mas Dira beri aku mobil." tolakku,
"Mana mobil kamu?" tanya Guna ketika kami keluar dari kafe. Ia tampak celingukan menatap tempat parkir.
"Lagi di jalan." aku berbohong, Soni memang masih kuliah dan aku berniat pulang naik taksi saja.
"Ayolah, kita kan udah janji mau kerja sama. Dengan begini juga lebih bagus juga buat rencana kita. Kalau Pak Dira melihat, dia pasti akan marah." rayu Guna, aku akhirnya termakan rayuannya dan menerima tawarannya untuk diantar pulang.
Aku mengirim pesan ke Soni kalau aku sudah pulang.
***
Dira POV
"Kamu masih kurang puas dengan hubungan kita?!! Ha?!!" teriakku pada Dista, wanita yang aku cintai selama ini.
Setelah memergokinya sedang b******u mesra dengan dokter Danu di ruang penyimpanan di rumah sakit, hatiku hancur tak bersisa.
Aku secara tak sengaja memergoki mereka yang sedang berciuman, sementara tangan dokter Danu sudah menjamah d**a Dista.
Aku ingin sekali memukuli Danu, namun ia pasti akan curiga padaku. Selama ini aku dan Dista berusaha menutupi hubungan kami agar tak ketahuan Guna, suami Dista.
"Maafin aku, aku bener-bener lagi pengen. Kamu akhir-akhir ini jarang mau kalau aku ajak ketemu. Maaf.." ucap Dista yang sudah menangis-nangis, memohon ampun padaku.
Selama ini aku sudah bersabar dengan statusku sebagai orang ketiga dalam hubungan asmara kami. Dengan sekuat hati aku menerima kekurangan Dista karena aku memang sangat mencintainya.
Namun sejak aku menangkap perselingkuhannya dengan Danu, aku semakin berpikir liar. Mungkin saja Dista juga memiliki hubungan dengan pria lain mengingat nafsu birahinya yang sangat tinggi.
Dengan Guna sebagai suaminya dan aku sebagai kekasih gelapnya, Dista masih saja tergoda melakukannya dengan Danu. Dokter yang banyak dibenci kaum hawa di rumah sakit tempatku bekerja ini, nyatanya mampu merayu Dista.
"Semurah itukah kamu, Dista? Aku udah terima cuma jadi pemuas nafsumu, tapi kamu masih saja belum puas!!! Dasar wanita jal*ng!!! Mulai hari ini, hubungan kita udah berakhir!" teriakku pada Dista.
Aku meninggalkan Dista yang masih menangis sesegukan itu. Sementara aku sangat marah karena kelakuan liar Dista yang sulit diterima oleh nalarku.
Aku memilih pulang cepat, aku ingin menemui Kila dan mengatakan padanya kalau aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Dista.
Aku tiba-tiba tersenyum mengingat Kila, istriku yang kuabaikan selama ini. Aku sudah tidak sabar ingin menemui Kila, memulai hubungan kami dari nol.
Sebelum pulang, aku mampir membeli bunga mawar untuk Kila. Hari ini akan menjadi hari bersejarah bagi kami, aku terus-menerus tersenyum.
Sesampainya di rumah, mataku membulat seketika, melihat Kila yang baru saja keluar dari mobil, bukan mobilnya. Bukan pula Soni yang keluar dari bangku kemudi, Guna, suami Dista.
Harapanku ingin memulai awal yang baru dengan Kila, pupus sudah.
Bahkan Guna mendekati Kila dan mendekatkan wajah mereka, membuatku semakin emosi saja.
"Apa yang mereka lakukan? Kenapa Kila bisa kenal dengan Guna?" teriakku, aku langsung turun dari mobil lalu berjalan cepat, menghampiri Guna.
"Apa yang kamu lakuin di sini? Kalian baru saja keluar bersama?" teriakku ketika aku sudah di depan Kila, Kila tampak terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba.
"Ah, Pak Dira, maaf, aku pinjem istrinya sebentar." ucap Guna santai, ia bahkan melempar senyum padaku.
"Apa maksud kamu? Pinjam?" teriakku lagi,
"Santai Pak, aku cuma pinjem bentar aja kok. Bukannya Pak Dira juga sering pinjem istriku?" sahut Guna, aku terkejut, tak menyangka ternyata Guna mengetahui hubunganku dengan Dista selama ini.
Apa dia berusaha mendekati Kila untuk membalaskan dendamnya padaku karena aku sudah bersingkuh dengan istrinya?
"Kenapa Pak? Kaget? Karena aku tahu kelakuan Pak Dira dengan Dista? Santai aja Pak, tapi biarin aku pinjem istri Pak Dira juga. Aku juga ingin tahu apa yang Pak Dira rasain, berhubungan dengan istri orang. Ah, tapi baru nyicip dikit aja, istri Pak Dira memang nikmat." ucap Guna yang membuatku gelap mata, aku segera melayangkan sebuah pukulan, namun dengan sigap Guna menangkisnya.
Aku tak menyerah begitu saja, aku memberi Guna pukulan lain, dengan tangan kiriku dan kakiku. Saat ini Guna meringkuk di tanah, namun aku semakin naik darah karena ia masih saja tersenyum menatapku.
"Mas, udah cukup. Kamu mau ayah sama ibu lihat?" teriak Kila, ia bahkan memeluk tubuhku, mencoba menghentikanku.
Aku kemudian menarik Kila masuk ke dalam rumah.
Kila POV
Di sepanjang perjalanan, Guna tak banyak bicara. Sampailah kami di halaman rumah mertuaku, aku segera turun.
Tiba-tiba Guna keluar mobil dan mendekatiku.
"Pak Dira pulang, ingat, kita harus buat mereka berdua sakit hati sebelum bercerai. Kita harus balas dendam." bisik Guna tepat di samping telingaku, aku kemudian mencari sosok Dira.
Benar saja, mobil Dira tepat ada di belakang mobil Guna. Dira berjalan cepat menghampiriku, ia tampak marah melihatku dengan Guna.
Tibalah saatnya Dira dan Guna adu mulut, Dira tampak terkejut dengan ucapan Guna. Semua yang Guna katakan membuat Dira semakin marah dan akhirnya Dira memukul Guna.
Aku menutup mulutku seketika, melihat Dira memukuli Guna. Aku ingin berteriak, namun aku dengan sadar tak ingin Pak Bima mengetahui pertengkaran ini.
Yang ada kondisi Pak Bima akan semakin parah. Aku kemudian memeluk Dira dan mencoba menghentikan aksinya yang dengan semangat memukuli Guna.
Dira akhirnya berhenti memukuli Guna dan menarikku masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam rumah, ibu dan ayah mertuaku menyapa kedatangan kami.
"Loh, kalian pulang bareng?" tanya ibu mertuaku, namun Dira tak menggubrisnya dan tetap menarik tanganku masuk ke kamar.
Dira menutup pintu dengan membantingnya, sangat keras, brak!!! Aku bahkan sampai meringis, kaget dan takut.
"Apa yang udah kamu lakuin? Ha?!!!" teriak Dira, jujur saja aku ketakutan setengah mati saat ini. Ada juga rasa bahagia karena melihat Dira cemburu.
Namun aku berusaha melawannya karena aku tak ingin terus-menerus diinjak-injak oleh Dira.
"Bukan urusanmu mas!" jawabku tak mau kalah, aku kemudian melangkah hendak pergi meninggalkan Dira. Namun Dira segera menarik dan menahan lenganku.
"Kamu bilang kalau aku ninggalin Dista, aku berhak atas dirimu? Dan sekarang, aku udah nggak ada hubungan lagi dengan Dista!" teriak Dira, aku terkejut bukan kepalang.
Apa benar Dira putus dengan Dista, atau mungkin, Dira hanya berbohong padaku. Ah iya, mungkin Dira marah karena ucapan Guna tadi, itu sebabnya dia berbohong agar aku mau masuk ke perangkapnya.
"Oh ya? Maaf mas, kamu telat, aku terlanjur memilih Guna." ucapku yang sengaja ingin memancing amarah Dira.
"Kamu udah gila??? Dia suami Dista, Kila!" teriak Dira.
"Mas, kita akan bercerai, Guna juga akan menceraikan Dista. Nggak ada masalah kalau kami sama-sama single nanti." ucapku, wajah Dira tampak semakin merah, aku yakin Dira benar-benar marah.
Aku puas, puas melihatnya marah, semua rencana Guna berhasil. Aku tak menyesal mengikuti permainan Guna.
Bersambung...