"Aku nggak akan nyeraiin kamu, Kila." tegas Dira padaku, aku hanya menyeringai. Namun jauh di dalam lubuk hatiku aku bersorak gembira, bahagia karena akhirnya Dira memilihku dibanding Dista.
"Aku mencintaimu, dan aku udah ninggalin Dista, demi kamu. Aku enggak akan nyeraiin kamu!" lanjut Dira lagi, aku tak punya kesempatan untuk membantahnya.
Dira kemudian mengunci pintu kamar dan mengambil kuncinya lalu dimasukkannya ke dalam saku celananya, aku hanya diam saja.
Akan aku biarkan Dira mengurungku di kamar, lagian aku juga tak ada rencana keluar rumah malam ini. Namun aksi Dira tak hanya berhenti di situ, Dira menatap tasku lalu merebutnya dengan paksa.
Aku kebingungan dengan apa yang Dira lakukan, sampai akhirnya Dira mengambil ponselku, aku baru paham. Dira ingin mengisolasiku dan tak membiarkanku berhubungan dengan Guna, cih, tidak tahu malu pikirku.
"Mas, jangan, bawa sini enggak?" teriakku, Dira mematikan ponselku lalu memasukkannya ke dalam saku celananya lagi.
"Enggak akan, jangan mimpi kamu bisa berhubungan atau ketemu sama Guna." ucap Dira tegas.
Aku mengembuskan nafas panjang, tak percaya dengan apa yang dilakukan Dira. Walaupun aku senang karena Dira akhirnya meninggalkan Dista demi aku, aku tak ingin sikapnya berlebihan seperti ini padaku.
Namun aksi Dira tak hanya sampai di situ, Dira menarik tanganku dan membawaku ke kamar mandi. Aku sedikit kesakitan pada tanganku karena Dira menggenggam tanganku sangat erat.
Dira mengambil selang shower dan memegangi kepalanya, diarahkannya air shower yang sudah menyala deras itu ke kepalaku. Aku terkejut bukan main, Dira menyiramku sampai basah kuyup.
Aku sempat menghindar, namun tak berhasil karena Dira masih memegang tanganku. Aku dengan terpaksa memilih diam dan menerima perlakuan Dira.
"Di mana Guna nyentuh kamu? Ha?" teriak Dira sambil memegang daguku, aku hanya menyeringai.
"Apa kalian udah tidur bareng?" tanya Dira lagi, kali ini Dira melucuti semua pakaianku sampi tak ada sehelai benang pun di tubuhku.
Dira kemudian menggendongku menuju ke ranjang, kali ini aku yakin Dira akan memaksaku melayaninya.
Aku memutar otakku keras, berusaha mencari jalan agar Dira tak memaksaku.
Aku memang tak keberatan melayani Dira jika ia benar-benar meninggalkan Dista. Namun aku masih belum memakai pengaman, aku takut aku langsung hamil dan ternyata Dira membohongiku tentang Dista.
Dira merebahkan tubuhku di kasur, aku berusaha sekuat tenaga untuk melawannya.
"Apalagi?" bisik Dira di samping telingaku,
"Aku nggak tidur bareng Guna mas, sumpah." jawabku tegas.
"Baguslah." sahut Dira yang kemudian mulai mencumbuku, menciumi pipi dan leherku.
"Mas, jangan." teriakku, Dira tak menggubrisku dan tetap melanjutkan aksinya.
"Kalau kamu maksa aku sekarang, aku akan melakukan ini juga dengan Guna." ancamku, Dira menghentikan aksinya segera setelah mendengar ancamanku.
"Jangan berharap kamu bisa keluar dari kamar ini." Dira balik mengancamku, kali ini Dira sudah mengul*m lembut bibirku, membuatku semakin hanyut dalam permainannya.
Dira melepas ciumannya, bibirnya saat ini sudah mendarat di dadaku.
"Kalau kamu maksa aku, aku akan pergi dari hidupmu selamanya." ancamku lagi, Dira kemudian menatapku sinis.
"Sebenarnya apa sih mau kamu, Kila? Aku udah bilang kan aku putus dari Dista dan aku juga udah bilang aku mencintaimu. Kurang apalagi aku? Aku hanya meminta hakku yang seharusnya sudah lama aku nikmati." ucap Dira kesal, Dira menatap sendu padaku, membuatku merasa bersalah.
"Kalau dari awal kamu nggak jahat sama aku, aku nggak akan nolak ajakanmu mas. Aku juga nggak perlu sakit hati atas semua sikapmu!" teriakku, Dira masih berada di posisinya sebelumnya, menindihku.
"Nggak ada manusia yang sempurna Kila. Aku cuma manusia biasa, aku bener-bener minta maaf karena udah jahat sama kamu selama ini." sahut Dira lirih.
"Aku masih belum lupa rasanya setiap hari kamu bentak dan bagaimana sakitnya kamu menamparku. Belum lagi sakit hatiku mengetahui hubunganmu dengan Dista. Aku sakit mas." ucapku, keluarlah sudah air mataku mengingat semua rasa sakit hatiku karena Dira.
Dira duduk, membiarkanku terlepas dari cengkeramannya.
"Aku minta maaf Kila. Waktu aku menikah denganmu, aku hanya mencintai Dista dan berpikir kalau kamu menikah denganku hanya karena uang." ucap Dira, aku hendak pergi mengambil pakaianku, namun tangan Dira menahanku.
Aku akhirnya menarik selimut untuk menutupi tubuhku.
"Aku memang menikahimu karena uang kok mas, kamu benar. Harusnya aku udah menyiapkan mental untuk semua yang akan terjadi karena orang tuamu udah membeliku." ucapku lirih.
"Tampar aku Kila, tampar sepuas kamu. Tapi jangan kamu dekat dengan Soni, Guna ataupun pria lain." ucap Dira sambil melirikku, memindai tubuhku yang hanya kututupi selimut ini.
Sementara rambutku yang masih basah kuyup, airnya menetes pelan membasahi selimut.
Dira menarik selimut yang aku pakai lalu mendorongku lagi. Dira menatap bibirku cukup lama.
"Mas, aku bener-bener belum siap untuk ini." ucapku pada Dira dengan lirih.
"Aku akan melakukannya dengan pelan." sahutnya lirih, Dira mendekatkan bibirnya ke bibirku.
"Aku takut, mas." teriakku yang saat ini mencoba mendorong tubuh Dira. Dira kemudian mengunci kedua tanganku.
"Kamu kedinginan Kila, aku cuma mau berbagi kehangatan. Sakitnya nggak akan lama." bisik Dira, aku merinding dibuatnya.
"Aku pakai baju juga udah anget mas." kilahku lagi, Dira menyeringai.
"Aku takut hamil, aku belum siap mas. Aku.." ucapku terputus,
"Kamu menikah denganku memang agar kamu hamil kan?" teriak Dira.
"Tapi nggak sekarang, aku mau ketemu Dista dulu dan memastikan hubungan kalian bener-bener sudah berakhir atau belum." aku mencoba mencari alasan.
"Baiklah, temui Dista dan tanyakan apapun padanya. Tapi sekarang aku tetap akan meminta hakku." ucap Dira,
"Pakai pengaman mas, aku masih belum tahu hubunganmu dengan Dista. Aku nggak mau hamil.".
"Nggak ada." sahut Dira tegas,
"Kalau begitu beli sana." ucapku lagi.
"Baiklah, aku janji akan cabut sebelum keluar." ucap Dira, namun aku tak mengerti dengan pasti apa yang Dira katakan.
"Aku nggak akan keluarin di dalem, jadi kamu nggak akan hamil." ucapnya lagi,
"Emang bisa?" tanyaku, Dira menyeringai, "Percayalah padaku." sahutnya.
Dira POV
Aku benar-benar marah mendapati Kila bersama Guna, membuatku berpikir yang tidak-tidak pada istriku ini.
Aku menguncinya di kamar, menyita ponselnya dan bahkan memandikannya. Aku takut kalau Kila melakukan hal yang sama dengan Guna, seperti apa yang aku lakukan dengan Dista.
Namun setelah Kila bilang kalau ia masih perawan, aku segera menyadari kalau Kila memang berbeda dari Dista. Bodohnya aku karena tak menyadari berlian di depan mataku dan malah mencintai besi berkarat seperti Dista.
Perselingkuhan Dista dengan Danu membuatku tersadar kalau selama ini Dista tak pernah mencintaiku, ia hanya memanfaatku demi memuaskannya di ranjang.
Sejak aku berusaha meminta hakku pada Kila, sejak itulah Kila mencoba melawanku dan mengancamku, ia selalu mencari alasan agar aku tak melakukannya.
Namun hasratku untuk bisa menikmati tubuh Kila sudah lama kupendam. Bahkan sebelum aku sadar kalau aku mencintainya, aku sangat ingin menikmati tubuh dengan bau khas mawar ini.
Aku bahkan harus berjanji tidak akan membuat Kila hamil, walau aku sangat membenci harus cabut pas lagi enak-enaknya. Namun aku harus menepati janjiku agar Kila percaya kalau saat ini aku serius padanya, aku tak ingin menyakitinya atau mengecewakannya lagi.
Sore ini, akhirnya aku bisa merasakan apa yang sudah lama aku inginkan. Memiliki Kila, seutuhnya.
Bersambung...