Kila POV
Dira menciumku, menikmati bibirku, pipiku dan leherku dengan bibirnya. Aku merasa ada yang mengalir aneh di dalam tubuh ini, aku menggigit bibirku menahan perasaan aneh ini.
"Mendesahlah, jangan ditahan, bibirmu bisa sakit kalau kamu gigit terus-terusan." bisik Dira di telingaku, aku akhirnya menurutinya.
Desahan-desahan lirih mulai keluar dari mulutku, mewakili kenikmatan yang aku rasakan. Sesuai janji Dira, ia melakukannya dengan lembut. Sampai apa yang aku jaga selama ini dinikmati olehnya. Kedua tanganku mencengkeram lengan Dira yang sangat kekar itu, menahan rasa sakit yang aneh menurutku.
"Jangan gigit bibir kamu, gigit aja pundakku, nggak akan lama sakitnya sayang." ucap Dira yang melihatku menggigit bibirku lagi.
Awalnya Dira bergerak lambat, sampai akhirnya gerakannya semakin cepat dan aku kembali merasa ada yang aneh. Desahan tak hanya keluar dari bibirku namun juga dari bibir Dira, desahan kami saling bersahutan.
***
Aku tertidur setelah Dira masuk ke kamar mandi, ada perasaan puas dibarengi sedikit rasa perih di bawah sana.
"Kila, ayo mandi, udah mahgrib, keburu waktunya habis." ucap Dira lirih di samping telingaku, membuatku terbangun. Aku mengerjapkan mata berkali-kali, mencoba mengumpulkan kekuatanku untuk bangun.
Ketika aku duduk, ada rasa sakit di bawah sana, belum lagi badanku terasa lelah tak karuan.
"Kenapa? Sakit?" tanya Dira karena melihatku meringis, aku mengangguk lemah. Dira kemudian menggendongku dan membawaku masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku bisa mandi sendiri mas." ucapku lirih ketika Dira hendak membantuku mandi, aku malu kalau mandi saja harus dibantu.
Dira kemudian keluar kamar mandi, aku mandi cukup lama sampai beberapa kali Dira menggedor pintu kamar mandi.
"Buruan, keburu mahgribnya habis." teriak Dira.
Selesai mandi, aku segera berpakaian dan sholat berjamaah dengan Dira.
Selesai sholat, Dira selalu tersenyum padaku, membuatku malu setengah mati. Aku menoleh pada ranjang yang sudah diganti sprei oleh Dira.
"Aku ganti, yang tadi kan ada darahnya." ucap Dira yang kali ini sudah duduk di bibir kasur.
Aku mengangguk lemah, sambil menatap ekspresi Dira yang tampaknya senang karena sudah mendapatkan haknya.
"Apa kamu sesenang itu mas?" tanyaku menggoda, aku sendiri merasa senang karena sudah melakukan tugasku sebagai istri walaupun aku masih belum tahu pasti tentang hubungan Dira dan Dista.
"Banget." sahut Dira singkat, jelas dan mantap. Aku mengernyitkan dahi, lalu aku menyusulnya duduk di kasur.
Dira mendekatiku lalu duduk tepat di belakangku, memelukku dari belakang. Dira kemudian menciumi pundakku dan leherku, bahkan rambutku yang masih basah.
"Kalau aku tahu kamu masih punya hubungan dengan Dista. Aku akan pergi dari hidup kamu, selamanya mas." ancamku,
"Hm..." sahut Dira malas, aku kemudian melepas pelukannya dan menatapnya sinis.
"Iya, aku serius kalau aku udah nggak ada hubungan apa-apa lagi dengan Dista. Aku bahkan udah blokir nomornya, cek aja HP aku kalau kamu nggak percaya." sahut Dira tegas, kali ini aku mencoba percaya pada ucapan Dira.
"Dan kamu, berhenti menemui Guna. Aku akan memecat Soni karena aku juga nggak mau kamu dekat dengannya." lanjut Dira, aku tak menerima keputusannya begitu saja.
"Aku nggak akan ketemu Guna lagi kalau aku udah yakin kamu beneran putus dari Dista. Tapi dengan Soni, jangan pecat dia, dia udah aku anggap sebagai temen aku. Dia yang selalu ada buat aku waktu kamu nyakitin aku selama ini." ucapku tegas, Dira tampak tak suka dengan keputusanku.
"Mas, kamu lihat sendiri aku masih perawan sampai hari ini. Aku nggak akan macam-macam sama Soni, aku bisa jaga diri." lanjutku meyakinkan Dira agar ia tak memecat Soni.
Soni adalah satu-satunya temanku, orang yang tahu kondisiku saat ini. Kalau Soni dipecat, aku tak punya lagi teman berbagi, sementara aku masih belum yakin kalau Dira benar-benar menyudahi hubungannya dengan Dista.
"Mas..." rayuku lagi dengan suara manja,
"Tolong percaya sama aku. Aku bukan tipe wanita seperti mantan kamu itu." lanjutku.
"Aku percaya sama kamu, tapi aku nggak percaya sama Soni." sahut Dira tegas.
"Mas, aku bener-bener kesepian waktu kamu nyakitin aku selama ini. Sampai Soni datang, aku merasa sedikit terhibur karena setidaknya aku punya teman mengobrol. Kamu tahu sendiri, aku selama ini sibuk kuliah dan bekerja, nggak ada waktu bagi aku buat punya temen." paparku, masih mencoba merayu Dira agar ia tak memecat Soni.
"Baiklah, tapi kalau aku lihat hubungan kalian lebih dari teman, aku akan memecatnya segera." sahut Dira yang tak lain hanyalah mengancamku, namun aku senang karena ia tak memecat Soni.
Dira kembali memelukku, menciumi pipiku, sampai aku geli dibuatnya.
"Aku laper..." ucapku manja pada Dira,
"Kamu mau makan di luar? Aku akan mengajakmu makan di restoran kesukaanku." ajak Dira.
"Jangan bawa aku ke tempat kamu pernah membawa Dista ke sana. Aku nggak mau." ucapku sambil mengerucutkan bibirku, menahan kesal.
"Enggak, kamu yang pertama." sahut Dira sambil tersenyum dan membelai rambutku yang masih basah.
"Awas aja kalau kamu bohong." ancamku, Dira mengangguk pelan sambil melempar senyum.
"Ganti baju sana, yang cantik." bisik Dira, aku mencubit pahanya, membuatnya meringis kesakitan. Aku kemudian mengganti bajuku, lalu mengeringkan rambutku, sementara Dira sudah turun duluan, meminta izin pada ayah dan ibu.
Aku mendekatkan wajahku di depan cermin, menoleh ke kanan lalu ke kiri, memeriksa keseluruhan wajahku, apakah make upnya sudah rapi atau belum.
Sudah puas bercermin, aku mengambil tasku lalu menyusul Dira yang sudah menungguku.
Sesampainya di lantai bawah, Dira, ayah dan ibu menatapku cukup lama, sambil memasang wajah ceria mereka.
"Aku aneh?" tanyaku sedikit terbata, Dira menggeleng, "Kamu cantik Kila sayang." ucap ibu mertuaku.
Aku tersenyum mendengar pujian ibu mertuaku, Dira kemudian memegang tanganku lalu berpamitan kepada orang tuanya.
Aku senang, akhirnya impianku selama ini terwujud, menjadi istri yang dianggap, disayang dan dicintai. Aku tak perlu lagi melihat suamiku bersama wanita lain karena dia sudah berjanji meninggalkan wanita itu demi aku.
Kali ini Dira kembali menyetir sendiri, tak mengajak sopir pribadinya.
"Kenapa nggak ngajak sopir?" tanyaku pelan, Dira sendiri dari tadi memegang tanganku sambil sesekali menciumnya, membuatku semakin tak rela berpisah darinya.
Dengan sikap Dira seperti ini, aku rela adu kekuatan dengan Dista jika wanita itu mengajakku berduel lagi karena aku merebut Dira darinya. Aku tak ingin Dira dimanfaatkan olehnya, aku akan membuat Dira menjadi milikku seutuhnya.
"Nggak apa-apa, aku cuma mau berdua aja sama kamu." jawab Dira yang kemudian mencium tanganku lagi.
Aku menoleh ke bangku penumpang di belakang, kulihat ada bucket bunga mawar merah, sangat cantik pikirku. Aku kemudian mengerucutkan bibirku, kesal, aku pikir bunga itu untuk Dista.
"Itu bunga buat kamu sayang, aku tadi beli waktu di jalan, pas pulang kerja. Aku niatnya mau kasih kamu kejutan, tapi malah kamu duluan yang ngasih kejutan sama aku." ucap Dira, aku melongo dibuatnya.
"Bunganya sekarang udah layu, besok aku beliin yang baru ya." ucap Dira ketika melihatku meraih bunga mawar yang dibungkus dengan sangat rapi dan cantik itu.
Ada kertas putih terselip di dalamnya, kubuka lalu k****a.
Jika ada manusia paling bodoh, itu aku. Karena aku menyia-nyiakan wanita secantik dan sebaik kamu. Aku mencintaimu, Shakila Dewi.
Entah kenapa aku tiba-tiba menangis setelah membaca surat dari Dira. Jadi Dira tak bohong kalau bunga ini memang untukku, dia benar-benar sudah menyiapkannya sebelum melihatku dengan Guna.
"Terima kasih, mas." ucapku, tangan kiri Dira langsung menyeka pipiku yang sudah basah oleh air mataku.
"Kok malah nangis, jangan nangis, nanti cantiknya luntur." ucap Dira.
Bersambung...