Aku sangat bahagia

1186 Kata
Aku mencoba menghentikan tangisanku, namun sulit rasanya, aku terlalu bahagia saat ini. Dira kemudian menepikan mobilnya, melepas sabuk pengamannya lalu membersihkan wajahku yang penuh dengan air mata menggunakan tisu. "Udah, jangan nangis, aku bener-bener mau memulai awal yang baru dengan kamu. Aku minta maaf buat luka yang pernah aku ukir di hati kamu." ucap Dira sambil membelai lembut pipiku. Dira kemudian mengecup pipiku, aku benar-benar merasa bahagia dengan perubahannya yang tiba-tiba ini. Baru kemarin Dira bilang kalau Dista akan selalu menjadi prioritasnya, namun sore ini tiba-tiba Dira bilang kalau hubungan mereka berakhir dan mengakui kalau dia mencintaiku. Aneh. Tak ada kata lain yang bisa aku berikan untuk perubahan sikap Dira saat ini. Namun aku seperti tak peduli dengan alasan dibalik perubahan sikap Dira, aku hanya ingin menikmati kebahagiaanku ini. "Aku akan menjambak rambut Dista, memukulnya dan kalau perlu menginjak-injak dia kalau kalian masih berhubungan lagi. Awas aja." ancamku, Dira tersenyum lalu mengangguk. "Enggak akan, aku sadar kalau selama ini dia nggak pernah cinta sama aku. Aku sekarang aja jijik sama dia. Tolong percaya sama aku kali ini." ucap Dira tegas, aku menatap kedua matanya, lekat. Aku melihat ketulusan pada tatapannya, rasanya aku ingin sekali mempercayainya, namun tak kuingkari kalau ada sebongkah keraguan di dalam dadaku. Bagaimanapun, aku pernah terluka terlalu dalam, Dira juga pernah membohongiku. Aku mungkin sama seperti Dira, menjadi b***k cinta walau tahu ada orang lain yang mungkin tak akan terganti. Namun aku berharap kali ini Dira tak membohongiku lagi, tak menemui Dista secara diam-diam di belakangku lagi. Dan yang pasti, tak ada lagi nama Dista di hatinya. "Kalau aku hamil, aku akan pergi bawa anak kamu, selamanya." ancamku lagi, Dira tertawa. "Kamu nggak akan hamil sayang, kan tadi nggak... Ah, pokoknya kamu nggak akan hamil untuk sekarang. Tapi nggak tahu kalau besok.." ucap Dira sambil melirikku dengan tatapan licik, aku mengernyitkan dahi karena kebingungan. "Maksud mas?" tanyaku, "Enggak..." jawab Dira sambil tersenyum kecil. "Ngomong apa sih?" gerutuku. Dira kemudian memakai sabuk pengamannya lagi dan kembali menyetir, membawaku ke tempat yang ia bilang spesial untukku. Setelah menghabiskan waktu sekitar 30 menit perjalanan, Dira akhirnya memarkirkan mobilnya di rumah makan bertema modern dengan banyak lampu yang menghiasi pohon-pohon kecil. Aku sempat memandang takjub karena rumah makan ini terlihat bagus, luas dan satu lagi, sepi. Dira membukakan pintu untukku, menggandeng tanganku dan menuntunku masuk. "Kenapa sepi amat mas? Tutup kali ini restoran." ucapku, masih dengan mata yang mengedarkan pandangan. Kudengar Dira terkekeh, aku kemudian menatap aneh padanya. "Kok malah ketawa sih?" ucapku kesal, "Aku udah booking ini tempat, khusus buat kamu. Jadi nggak akan ada orang dateng, kamu nggak lihat di depan sana tadi udah ada tandanya?" tanya Dira sambil menunjuk arah pintu gerbang, aku menengoknya sesaat lalu menggeleng, Dira tersenyum melihatku kebingungan. "Udah ayo masuk." ucap Dira, "Kamu pesen 1 tempat ini? Semuanya? Buat apa?" teriakku, aku melepas gandenganku pada Dira dan menghentikan langakahku. Aku masih tak percaya kalau Dira memesan tempat sebagus dan seromantis ini hanya untukku. Tapi menurutku ini semua berlebihan, membuatku merasa tak nyaman. "Aku mau berdua aja sama kamu, menikmati suasana ini." ucap Dira pelan, "Tapi kan nggak perlu sampai begini sih mas. Kalau mau berdua, di rumah aja kita udah berdua kan? Percuma aja dong kita keluar kalau sama, cuma berdua aja." ucapku kesal, Dira menatapku aneh. "Aku berusaha kasih kejutan buat kamu, aku mau kamu seneng, aku..." ucap Dira terputus, "Jadi usahaku kali ini salah? Atau memang aku nggak pernah bener di mata kamu?" lanjut Dira. "Bukannya gitu mas, aku cuma nggak mau berlebihan. Baiklah, kali ini aku terima. Tapi tidak untuk lain kali, sayang kan uangnya bisa digunain buat hal yang lebih bermanfaat." aku terpaksa menerima kejutan dari Dira ini walau sebenarnya aku merasa tak nyaman. "Aku kerja keras selama ini biar bisa bahagiain orang yang aku sayang. Terus sekarang kamu malah nolak hasil kerja kerasku." ucap Dira, aku terkejut dibuatnya. Bagaimana bisa ia menghabiskan uang dengan begitu mudah, sementara orang lain mungkin banyak yang membutuhkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat ketimbang makan berdua di tempat yang sangat indah ini. "Bukannya aku nolak hasil kerja kerasmu mas. Kamu kan tahu aku cuma anak orang nggak punya, selama ini semua uang yang aku pakai semuanya untuk hal-hal yang bermanfaat aja." ucapku mencoba memberi pengertian pada Dira. "Jadi maksud kamu, aku begini, ngasih kejutan buat kamu, pengen buat kamu seneng begini, nggak bermanfaat?" tanya Dira lantang, sepertinya Dira marah karena aku tak menerima kejutannya seperti apa yang ia harapkan. "Dan lagi, sekarang kamu bukan lagi anak orang nggak punya. Kamu sekarang bagian dari keluarga Sudrajat, istri Dira Sudrajat. Jadi kamu harus terbiasa hidup dengan kemewahan yang keluarga Sudrajat miliki." lanjut Dira, aku membisu, seperti tak bisa membantah omongan suamiku. Baru tadi sore Dira mengatakan cinta padaku, dan malam ini sepertinya aku sudah merasa terbebani dengan rasa cintanya. "Ya udah kalau kamu nggak mau nerima pemberian aku, ayo kita pulang atau cari makan di tempat yang kamu mau." ajak Dira yang semakin marah dengan sikapku. Dira hendak masuk ke dalam mobil, aku segera memegang lengannya. "Jangan, kan udah terlanjur dibayar.." ucapku lirih dan terdengar manja, "Kamu bilang nggak mau, sebenernya kamu maunya gimana sih?" ucap Dira sinis. "Kamu marah sama aku?" teriakku, aku kemudian melepas tanganku dari lengan Dira sambil mengerucutkan bibirku. "Kamu bilang mau mulai awal yang baru sama aku. Awalnya aja udah begini, gimana selanjutnya?" lanjutku, Dira kemudian mengembuskan nafasnya panjang. "Maafin aku." ucap Dira yang kemudian menarikku sampai tubuh kami saling bertabrakan. Tangan kanan Dira memegang kepalaku bagian belakang, tangan kirinya membelai lengan kananku dan bibirnya mengecup keningku. "Ya udah, ayo masuk." ucap Dira lirih, aku tersenyum kecil karena merasa menang. Dira kemudian menggenggam tangan kananku menggunakan tangan kirinya. Setelah itu ia menarikku dengan pelan, masuk ke dalam restoran yang sangat indah dan romantis ini. Baiklah, aku mengaku Dira tak bersalah sepenuhnya. Dira punya uang yang cukup untuk melakukan apapun yang ia mau, aku sebagai istrinya seharusnya mengimbangi gaya hidupnya yang memang sudah mewah sejak ia lahir. Namun aku tetap berharap, Dira sedikit berubah dan tak perlu menghamburkan uang demi hanya bisa makan berdua denganku. Dira mengajakku duduk di meja yang sudah disiapkan, meja dengan lilin-lilin yang sudah menyala. Dira menarik bangku untukku, mempersilakan aku duduk. Setelah itu Dira memanggil pelayan, tak lama kemudian pelayan membawa beberapa piring yang berisi daging panggang, udang goreng dan masih banyak lagi menu enak lainnya. Dira tersenyum padaku, aku membalasnya walau aku sedikit malu, ada banyak pelayan yang menatap kami. Aku dan Dira makan dengan nikmat, tak banyak kata. Sampai kemudian aku dan Dira selesai makan, pelayan restoran mengambil piring-piring di meja kami. Ketika meja sudah bersih, Dira menyodorkan sebuah kotak beludru, kecil, dan berwarna merah. "Bukalah." ucap Dira, aku kemudian membuka kotak yang kuduga isinya adalah sebuah cincin, benar saja. Cincin berwarna silver tampak indah, tersemat di dalam kotak itu. Aku tersenyum seketika, tak dapat kusembunyikan rasa bahagiaku sekarang. "Maukah kamu menjadi istriku?" ucap Dira, aku tertawa, kemudian menangis karena terharu. Dira sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk melamarku, menyediakan tempat makan romantis, memberiku cincin, dan kali ini Dira menyambar cincin yang sedari tadi hanya kutatap, Dira menyematkannya di jari manisku dengan berjongkok di depanku. Semua proses yang biasanya dilakukan orang sebelum menikah, Dira memberinya padaku setelah menikah, setelah banyak air mata yang keluar dariku. "Maafin aku Kila, karena ada banyak luka yang aku torehkan di hatimu. Kali ini izinkan aku untuk membahagiakanmu, menjadi imam untuk keluargamu." lanjut Dira. Aku yang tak kuasa menahan gejolak di d**a, langsung saja memeluk Dira, aku sangat, sangat dan sangat bahagia. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN