"Terima kasih mas, buat kejutannya." ucapku pada Dira yang saat ini sudah duduk manis di ranjang sambil bersandar di kepala ranjang.
Setelah makan malam romantis tadi, Dira langsung mengajakku pulang karena cuaca tidak mendukung. Suara gemuruh saling bersahutan, sebelum hujan lebat, Dira mengajakku pulang.
Aku menyandarkan kepalaku di pundaknya, sementara tangan kirinya membelai lembut daguku.
"Rencananya tadi hampir gagal kalau kamu marah dan minta pulang." ucap Dira lirih.
"Mas, buatku menghabiskan banyak uang untuk hal seperti tadi memang berlebihan. Aku senang, eh, sangat......senang, karena kamu udah kasih aku kejutan seperti tadi. Tapi lain kali jangan berlebihan seperti tadi. Aku juga bisa bahagia hanya karena hal-hal kecil yang sederhana." ucapku pada Dira.
Aku mendongakkan wajahku, berharap bisa melihat ekspresi Dira. Ternyata masih sama seperti di restoran tadi, Dira tak suka kalau aku membantahnya.
"Mas.." panggilku manja karena Dira hanya diam saja,
"Hm..." sahutnya malas.
"Jangan marah..." rayuku, Dira terkekeh kecil,
"Kalau begitu jangan buat aku marah." sahutnya, masih dengan senyum di wajahnya.
"Kenapa kamu putus dengan Dista?" tanyaku, Dira tampak terkejut dengan pertanyaanku.
Dira POV
Malam ini aku mengajak Kila pergi makan di luar, aku sudah mempersiapkan kejutan untuknya.
Aku ingin melamarnya, membuatnya istimewa dan melihatnya senyum bahagia.
Sampai akhirnya aku harus berdebat dengan Kila karena ia tak suka caraku membahagiakannya. Aku hampir putus asa dan mengajaknya pergi dari rumah makan yang sudah aku booking. Namun akhirnya Kila mau makan di tempat yang aku persiapkan khusus untuknya itu.
Semua berjalan lancar, aku tak menyangka Kila akan menangis karena terharu dengan semua kejutanku.
Sebelum berangkat, aku sudah mempersiapkan cincin yang aku beli ketika Kila terlelap tidur. Aku berharap cincin yang aku pilih secara dadakan tadi cukup untuk jari manis Kila.
Sayangnya cincin tersebut sedikit kebesaran, namun Kila seperti tak peduli dan memelukku dengan haru.
Aku senang bisa membuatnya bahagia, aku berharap Kila segera melupakan kesalahanku di masa lalu dan memulai awal yang baru denganku.
Malam ini, aku dan Kila menyempatkan pillow talk walaupun kami sama-sama lelah. Tentu saja agar hubungan kami semakin dekat.
Awalnya kami hanya berdebat kecil tentang apa yang sudah aku lakukan tadi. 'Sampai akhirnya aku terkejut ketika mendengar pertanyaan Kila mengenai alasanku putus dengan Dista.
"Kenapa kamu putus dengan Dista?" tanya Kila, aku sangat terkejut sampai melongo beberapa saat. Namun Kila masih diam dan menatapku, menunggu jawaban dari mulutku.
"Aku kan udah bilang kalau aku sadar dia bukannya mencintaiku, tapi cuma memanfaatkanku." jawabku berbohong.
Entah apa yang akan Kila pikirkan tentangku jika tahu Dista berselingkuh dengan Danu.
Kasihan? Atau malah marah? Atau mungkin dua-duanya.
Aku tak ingin hubunganku dengan Kila yang baru saja mulai ini harus terganggu dengan masalah Dista. Walau sejujurnya melupakan Dista tak mudah bagiku, aku akan tetap melakukannya.
Jika dulu, tak ada alasan bagiku untuk meninggalkan Dista selain karena dia sudah bersuami. Kali ini, ada banyak alasan kenapa aku ingin benar-benar mengakhiri percintaanku dengan Dista.
Mulai dari kecewaku karena Dista berselingkuh dengan Danu. Keinginan ayah dan ibu agar aku memiliki anak serta rasa cintaku pada Kila yang semakin hari semakin terasa.
Aku tak ingin Kila pergi dari hidupku, aku tak ingin menceraikannya. Walaupun aku harus berusaha keras agar terlepas dari Dista, aku akan mencobanya. Demi masa depanku, dan demi ayah dan ibu yang sudah lama menginginkan cucu.
"Bahkan sampai kemarin, kamu masih milih dia ketimbang aku, mas. Kenapa tiba-tiba sekali? Aku hanya ingin tahu." ucap Kila lagi,
"Udahlah, aku nggak mau bahas masa lalu. Sekarang kita bahas masa depan kita aja ya." pintaku.
Kila memasang wajah kecewa, walau dia tak mengucapkan apapun, aku tahu ia menuntut jawaban yang lebih dari mulutku.
"Kila, aku cuma nggak mau membahas Dista, yang ada cuma bikin kita ribut. Lagian aku juga nggak tanya kan gimana bisa kamu kenal sama Guna. Udahlah, sekarang kita tinggalin mereka dan fokus dengan hidup kita aja." ucapku mencoba meyakinkan Kila.
Aku tahu persis kalau Kila masih ragu akan apa yang aku lakukan sekarang. Namun aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan menggantikan ragu di hati Kila dengan keyakinan 100 persen. Aku akan membuatnya percaya padaku, karena pada dasarnya aku memang orang yang setia.
Aku sendiri tak habis pikir, kalau aku bisa beralih hati ke Kila, setelah semua yang aku lewati bersama Dista. Selama ini aku terlalu fokus mencintainya, sampai aku tak peduli ada banyak hati yang terluka. Termasuk ayah yang hampir saja meregangkan nyawa akibat kebodohanku.
"Kalau aku tahu kamu masih berhubungan dengan Dista, aku bener-bener nggak akan maafin kamu mas." ucap Kila lirih namun kali ini dia mengancamku lagi.
"Iya, sayang." sahutku mencoba menenangkan perasaannya.
Malam ini akhirnya kami tidur dengan saling berpelukan. Ingin sekali aku menikmati tubuhnya lagi, tapi aku tahu Kila pasti kelelahan dan ingin beristirahat. Dengan berat hati kutahan hasratku untuk mencumbunya malam ini.
Dan kubiarkan besok Kila mengetahui kenyataan bahwa hubunganku dengan Dista sudah berakhir. Dengan begitu, kami tak perlu menunda kehamilannya lagi.
***
Kila POV
Pagi ini aku mulai menjalani kehidupanku sebagai istri Dira yang sesungguhnya. Aku tak tahu apakah peranku ini akan berhenti di tengah jalan lagi atau tidak. Mengingat terakhir kali Dira berbohong padaku dan diam-diam menemui Dista di hotel.
Setelah semalam Dira memberiku kejutan romantis, aku semakin mengharapkannya. Namun aku masih saja ragu, aku bahkan sangat penasaran kenapa sikap Dira tiba-tiba berubah. Kalau benar Dira dan Dista putus, apa sebenarnya alasannya? Padahal baru kemarin Dira bersitegas mengatakan akan tetap mencintai Dista sampai kapan pun.
"Apa yang akan kamu lakuin hari ini?" tanya Dira padaku ketika aku membantu memakaikan dasi untuknya.
"Aku mau ketemu Dista." sahutku yakin, Dira tampak terkejut.
"Buat apa?" tanyanya antusias,
"Kan aku udah bilang mas, aku mau mastiin kalau hubungan kalian udah berakhir." sahutku tegas.
"Tapi kamu nggak perlu ketemu sama dia kan?" ucap Dira,
"Terus aku harus tanya sama siapa? Tanya dinding kamar hotel yang pernah jadi saksi percintaan kalian? Atau tanya pada langit yang mungkin tak mendengar?" teriakku kesal, Dira malah tertawa mendengarku.
"Kamu seneng?" teriakku lagi,
"Tahu dari mana kalau langit tak mendengar?" tanyanya, Dira malah semakin tertawa terbahak-bahak.
"Ya udah kalau kamu maksa mau ketemu Dista. Siang ini, jam makan siang, aku akan ajak kamu ketemu dia. Aku nggak mau kalian cuma berdua aja, aku takut dia main pukul lagi. Aku nggak mau kamu terluka karena dia." ucap Dira lantang, kali ini aku tersentuh oleh ucapannya, membuatku semakin berharap kalau cinta Dira padaku bukan sandiwara lagi.
"Ya udah, hp aku mana?" jawabku lirih, aku meminta ponselku yang sejak kemarin sore ditahan olehnya. Dira tak langsung memberikan ponselku padaku, ia menatapku tajam seperti hendak memangsaku.
"Jangan coba-coba kamu hubungan lagi sama Guna. Kalau kamu masih mau kuliah, jangan pernah deket dengan pria lain. Dengan Soni pun, dia cuma sopir kamu, nggak lebih." ucap Dira dengan suaranya yang terdengar dingin.
Aku hanya mengangguk lemah, Dira kemudian memberikan ponselku. Ketika aku menghidupkan ponselku, Dira meninggalkanku sambil berkata,
"Nomor Guna udah aku blokir.".
Aku menyeringai, ternyata Dira sangat posesif, bagaimana bisa ia bertahan dengan Dista selama ini? Bagaimana bisa Dira melihat Dista dan Guna dalam satu lingkungan kerja?
Ah, terserah, aku berharap siang ini dapat menemukan kebenaran mengenai hubungan Dira dan Dista. Dengan begitu aku bisa memutuskan apakah aku akan lanjut dalam hubungan pernikahan ini, atau mundur sebelum perasaanku semakin dalam. Salah, perasaanku sudah terlanjur dalam, aku ralat, aku akan mundur sebelum tumbuh janin di dalam rahimku.
Bersambung...