Kecewa lagi

1153 Kata
Aku dan Dira sarapan seperti biasa dengan kedua mertuaku. Namun ada yang berbeda dengan kedua mertuaku, senyuman mereka tak luntur sejak aku duduk di meja makan. "Ayah, ibu, apa yang membuat kalian begitu senang?" tanyaku pelan, "Ayah dan ibu seneng karena hubungan kalian semakin membaik. Itu cincin yang Dira kasih buat kamu?" tanya ibu mertuaku, aku kemudian tersenyum malu. "Iya bu, mas Dira semalem melamar Kila. Aneh ya bu.." tanyaku lirih sambil menatap cincin yang tersemat di jariku. "Tidak, cantik, baguslah kalau Dira memberimu apa yang seharusnya ia beri sebelum pernikahan kalian berlangsung. Ayah sama ibu berharap yang terbaik buat kalian." sahut ibu mertuaku. "Kalau hubungan kalian semakin membaik, ayah akan izinin kalian tinggal di rumah kalian sendiri." sambung ayah mertuaku. "Nggak perlu, jaga Kila kalau aku lagi sibuk kerja. Kalau di rumahku, Kila akan sendirian dan kesepian." sahut Dira, aku dan kedua mertuaku terbengong dibuatnya. Apa benar kalau Dira sudah tak memiliki hubungan dengan Dista? Entahlah, aku akan mencari tahu kebenarannya nanti siang. "Baiklah, apapun keputusan kalian, ayah dan ibu akan selalu mendukung." sahut ibu mertuaku. "Kila, ayah sudah bilang sama bapakmu, kalau operasi Sera disa dilakukan secepatnya bulan ini, nggak perlu nunggu 2 bulan lagi." ucap Pak Bima, ayah mertuaku, aku senang sekali karena akhirnya Sera dapat segera dioperasi. Dengan begitu Sera dapat berjalan normal lagi, tanpa malu dengan kondisi fisiknya, seperti yang sudah alami beberapa tahun terakhir. "Benarkan ayah? Terima kasih. Terima kasih banget ayah, ibu." ucapku antusias, ayah dan ibu mertuaku tersenyum melihatku. "Ayah kamu terus-menerus minta temennya buat nyari dokter agar bisa mengoperasi Sera secepatnya." ucap ibu mertuaku. Entah kenapa rasanya aku merasa tak enak hati. Ketika aku sibuk membenci Dira dan orang tuanya serta sibuk mencari cara agar lepas dari keluarga Sudrajat, malah keluarga ini sibuk mencari cara untuk membantu keluargaku. Mataku berkaca-kaca, sampai akhirnya aku meneteskan air mata. "Kenapa malah nangis?" tanya Dira lantang yang langsung menyeka pipiku yang sudah basah oleh air mataku. "Maafin Kila ayah, ibu, Kila pikir kalian jahat sama Kila karena bohong soal mas Dira dan Dista. Kila marah dan mikir kalau kalian nggak peduli sama Kila dan keluarga Kila. Kila malu..." ucapku, masih dengan meneteskan air mata. Dira kemudian memelukku, setelah itu ia mengecup keningku, lembut. "Aku sama ayah dan ibu memang salah karena maksa kamu hadir di tengah keluarga yang bermasalah ini. Tapi kami sayang sama kamu Kila. Bahkan sekarang, aku merasa bersyukur karena ayah dan ibu jodohin aku sama kamu. Tolong maafin kesalahan kami semua ya.." ucap Dira lirih, aku melirik ayah dan ibu mertuaku yang menatapku sendu. "Kami minta maaf sayang kalau kami banyak berbohong sama kamu dan keluarga kamu." ucap ibu mertuaku, aku mengangguk pelan. "Kila juga minta maaf bu, ayah." ucapku. Aku tak menyangka kegiatan sarapan pagi ini akan terasa begitu mengharukan. Kegiatan yang biasanya hanya diisi dengan aktivitas makan tanpa banyak mengobrol. Kali ini aku merasa sudah menjadi bagian dari keluarga Sudrajat. Semoga saja hubungan Dira dan Dista benar-benar sudah berakhir sehingga kebahagiaanku ini tak pupus begitu saja. Selesai sarapan, aku pamit pada kedua mertuaku untuk pergi kuliah. Di halaman rumah, mobilku sudah terpakir rapi dan Soni berdiri bersandar di pintu mobil. Soni langsung berdiri tegak ketika melihatku dan Dira mendekat, tak lupa ia mengangguk, memberi hormat pada Dira. "Hati-hati, nanti siang aku kabarin di mana kita bisa ketemuan." ucap Dira yang kemudian mengecup bibirku, di depan Soni, membuatku malu setengah mati. Dira melirik sinis pada Soni, setelah itu ia masuk ke dalam mobilnya. Sementara aku yang malu karena ulah Dira, langsung saja masuk ke dalam mobil. Sampai beberapa saat mobil yang dikendarai Soni ini meninggalkan kediaman Sudrajat, aku dan Soni saling membisu. Aku tahu Soni ingin menanyakan banyak hal padaku, namun dia mungkin sungkan atau takut. "Tanyalah Son, kalau ada yang mau kamu tanyain. Jangan diem aja." ucapku lirih, "Mbak sama Pak Dira baikan? Mbak nggak jadi nyeraiin Pak Dira?" baru saja aku menyuruh Soni bertanya, Soni langsung bertanya antusias. Aku menyeringai, "Aku sama mas Dira memutuskan untuk lanjut, dia bilang dia udah nggak ada hubungan sama Dista." ucapku. "Mbak percaya begitu aja?" tanya Soni lantan, "Nanti siang, aku mau ketemu sama Dista. Aku mau cari tahu apa benar semua yang dikatakan mas Dira." sahutku. "Kalau wanita itu bohong, mbak nggak akan tahu." ucap Soni, aku menyeringai. "Dia nggak akan bohong, aku akan bersikap manja dengan mas Dira nanti. Dia nggak akan bisa nahan emosinya kalau mereka hanya bersandiwara. Kamu lihat sendiri kan kalau Dista itu pemarah?" sahutku. "Jadi nanti mbak sama Pak Dira akan ketemu sama wanita itu?" tanya Soni, "Hm..." sahutku malas. "Aku akan ikut, nemenin mbak ketemu sama wanita itu." ucap Soni tegas, "Nggak perlu Son, nanti ada mas Dira juga. Mas Dira mulai nggak suka sama kamu, dia bahkan mau mecat kamu kalau kita terlalu deket. Jadi mending kita jangan deket-deket, aku nggak mau kamu dipecat, aku nggak punya temen lain." ucapku lirih. "Jaga diri mbak baik-baik, jangan hanya diam kalau wanita itu mukulin mbak lagi." ucap Soni, "Iya Son, aku nggak akan diem lagi kalau dia berani nyentuh aku sedikit aja." sahutku tegas. *** Ketika jam makan siang tiba, Dira mengirimkan lokasi tempat di mana aku bisa bertemu dengan Dista. Aku datang lebih dulu, tak lama kemudian Dira datang dan menghampiriku, sendirian. Soni sudah kusuruh kembali ke kampus setelah menurunkanku di kafe yang dipilih Dira. "Udah lama?" tanya Dira yang langsung mengecup keningku sebelum ia duduk di sebelahku. Aku malu karena kami ada di tempat umum, tapi ada juga perasaan senang karena Dira memperlakukanku seperti wanita paling berharga untuknya. "Malu mas..." bisikku sambil mencubit perut Dira, dia mencoba menghindar sambil tersenyum. "Kenapa kamu ngajak dia sayang?" teriak wanita yang tak lain adalah Dista. Aku dan Dira menoleh ke arahnya secara bersamaan. "Duduklah." ucap Dira santai, sementara aku mulai kesal karena Dista masih memanggil suamiku dengan sebutan sayang. Dista duduk tepat di depanku, aku menatapnya tajam. "Dista, aku cuma mau bilang sama kamu kalau aku akan serius membina rumah tangga dengan Kila. Hubungan kita udah berakhir kemarin, jadi tolong berhenti menghubungiku lagi." ucap Dira santai, aku terbengong mendengar ucapan Dira barusan. Jadi benar kalau Dira sudah memutuskan Dista kemarin. Wajah Dista tiba-tiba memerah, ia sepertinya naik darah mendengar ucapan Dira. "Aku udah curiga waktu kamu ngajak aku ketemu di tempat seperti ini. Tapi Dira, kamu nggak bisa mutusin aku begitu aja. Kamu akan selamanya menjadi milikku." ucap Dista dengan percaya diri, aku terkekeh. "Aku hamil, Dira. Ini anak kamu." lanjut Dista, aku membuka mulutku lebar-lebar. Dista melempar alat tes kehamilan di meja di depan kami, ada 2 garis merah yang dapat kulihat dengan jelas. Dira mengambil alat tersebut lalu melemparnya sekenanya, membuatku dan Dista ketakutan. "Kamu jangan bohong! Sekali pun kamu hamil, belum tentu itu anak aku!" teriak Dira, mengundang perhatian para pengunjung lain di kafe ini. "Kamu lupa, kita ngelakuin waktu aku bilang lupa belum ambil program KB bulan lalu. Kalau kamu mau tahu ini anak kamu apa bukan, ayo kita lakuin tes DNA!" teriak Dista, Dira kemudian menggebrak meja. "Kamu pikir aku bodoh? Bisa aja Danu atau pria lain yang buat kamu hamil. Bahkan kemarin aku lihat dengan kedua mataku sendiri kalau kamu dan Danu selingkuh di belakangku." teriak Dira, aku melongo dibuatnya. "Jadi kamu putus sama Dista bukan karena aku? Tapi karena dia selingkuh? Bodohnya aku..." ucapku yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN