Bertahan demi Sera

1555 Kata
Dira POV Kila pergi dari kafe menggunakan taksi, ada banyak mata yang memperhatikan kepergiannya. Namun, aku tak mengejarnya dan malah fokus ke Dista. "Berhenti mengganggu rumah tanggaku dengan Kila. Aku udah capek jadi yang kedua, dan sekarang kamu bahkan main gila dengan pria lain. Maaf Dista, aku udah nggak bisa bertahan sama hubungan kita. Stop sandiwara kamu sekarang juga. Aku nggak akan maafin kamu kalau sampai Kila marah dengan perbuatanmu." ucapku menahan kesal, Dista perlahan meneteskan air matanya, membuatku sedikit goyah. Bagaimanapun Dista adalah wanita yang pernah menempati hatiku bertahun-tahun lamanya. Bahkan saat ia bilang akan menikah dengan Guna dan membatalkan rencana resepsi pernikahan kami, aku masih saja mengharapkannya. Sampai akhirnya aku menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka. Namun kali ini, aku serius untuk mengakhiri hubungan terlarang kami dan ingin memulai awal yang baru dengan Kila. Dan jujur saja, nama Dista perlahan luntur tergantikan nama Kila, di hati dan pikiranku. "Tapi ini bener anak kamu sayang. Tolong jangan tinggalin aku.." rayu Dista, seperti biasa dia merayuku dengan air matanya. Selama ini aku sering berdebat dengan Dista, aku hanya manusia biasa yang sering cemburu ketika melihat Dista bermesraan dengan Guna. Namun setiap kali Dista menangis, aku langsung saja luluh dibuatnya. Kali ini aku hampir saja dibuat luluh kembali oleh tangisan Dista. Namun aku mencoba meneguhkan pendirianku untuk setia kepada istriku dan tak memberi kesempatan Dista untuk merusak rumah tanggaku dengan Kila. "Maaf Dista, aku udah tahu dan kenal kamu selama ini. Dan aku yakin kamu cuma berusaha untuk menahanku agar aku nggak pergi kan. Lagian selama ini kamu juga melakukan itu dengan Guna. Bisa aja itu anak Guna." ucapku, aku sendiri tak tahu anak siapa yang Dista kandung jika ia benar-benar hamil. Dista terus-menerus menggelengkan kepalanya. "Guna udah tahu hubungan kita, sayang." ucap Dista dengan wajah memelasnya, aku sedikit tergoyahkan lagi. "Aku tahu, Guna bahkan mendekati Kila untuk membalas dendam padaku." jawabku tegas, Dista tampak terkejut. "Kamu serius?" tanyanya antusias, "Itu sebabnya aku ingin hubungan kita berakhir. Kembalilah sama Guna dan jadilah istri setia. Kalau kamu nggak puas dengan hubungan kalian, ngomong sama dia dan cari jalan keluarnya sama-sama." ucapku. Aku ingin Dista merubah sikapnya agar ia dapat menjadi wanita baik-baik yang menjaga kehormatannya. "Pantas saja Guna bersikap dingin padaku. Bagaimana kalau dia minta cerai? Aku nggak sanggup." ucap Dista yang kembali meneteskan air matanya. "Wajar kalau dia minta cerai, kamu udah duain dia selama ini. Atau mungkin tidak hanya aku yang jadi kekasih gelapmu. Kila juga meminta cerai karena hubungan kita. Yang salah kita Dista, berhenti menangis seolah kamu korbannya." ucapku lantang, kesal rasanya melihat Dista yang menangis dan bermain seakan dia korbannya. "Kalau Guna ceraiin aku, nikahi aku sayang. Kita bisa membina rumah tangga kita yang baru. Dengan anak kita, ya..." rayu Dista lagi, dengan suaranya yang selama ini membuatku jatuh cinta padanya. "Kenapa nggak dari dulu Dista? Kenapa kamu nggak cerai dari Guna sejak dulu? Sebelum ada Kila di hati aku. Sekarang apapun yang kamu lakukan dan ucapkan, tak akan mempengaruhi niatku untuk mengakhiri hubungan kita. Dan untuk anak yang kamu kandung, kita lihat apakah itu benar-benar anakku atau dari pria lain. Selamat tinggal." pamitku ke Dista, aku pergi begitu saja walau Dista terus memanggilku dan menangis karenaku. Jujur saja, mengingat perasaanku di masa lalu dengannya, aku masih tak tega untuk meninggalkannya. Namun aku terlanjur jatuh hati pada Kila dan Dista mungkin memang bukan tipe wanita yang puas hanya dengan 1 pasangan saja. Aku mencoba mencari Kila, aku ingin meyakinkannya kalau aku serius dengannya dan tak akan pernah mau menceraikannya. Kila POV Aku berlari keluar kafe, ada banyak mata memperhatikanku, menatapku dengan iba. Setelah aku masuk ke dalam taksi, aku memintanya mengantarku ke kampus. Aku berharap segera bertemu dengan Soni. Aku ingin setidaknya ada satu orang yang mau mendengarkan ceritaku, menawarkan pundaknya untukku. Di dalam taksi, aku tak berhenti menangis, entah apa yang membuatku menangis. Karena dibohongi? Bukannya sudah biasa. Kenyataan kalau Dira memilihku karena Dista selingkuh memang menyakitkan bagiku. Aku kira Dira memilihku karena ia benar-benar mencintaiku, namun kenyataannya aku hanya sebagai pelarian saja. Akan tetapi bukan itu yang membuatku menangis sesegukan di dalam taksi ini. Aku menangis karena kenyataan Dista hamil. Aku takut itu adalah anak Dira, hasil buah cinta mereka selama ini. Bagaimana kalau itu benar-benar terjadi, Dira mungkin akan meninggalkanku dan kembali pada Dista. Lalu bagaimana denganku? Aku terlanjur mencintainya, aku tak ingin berpisah darinya. Aku tak rela jika Dira menjadi milik Dista selamanya. Sesampainya di kampus aku segera menghubungi Soni, tak lupa kubersihkan wajahku dari sisa-sisa air mataku. "Kenapa mbak? Mbak diapain sama wanita itu?" tanya Soni antusias ketika melihatku duduk termenung, mungkin Soni melihat mataku yang sembab akibat menangis terlalu lama. "Anterin aku ke rumah sakit." pintaku ke Soni, aku ingin mengambil program KB. "Untuk apa mbak?" tanya Soni penasaran, "Ayolah, nanti aku jelasin di jalan." jawabku. Soni kemudian mengantarku ke rumah sakit, di jalan aku menceritakan satu per satu apa saja yang terjadi sejak Guna menemuiku kemarin sampai kehamilan Dista. "Jadi mbak Kila sama Pak Dira udah melakukan itu?" tanya Soni yang tampaknya terkejut mendengar pengakuanku. "Iya.." jawabku lirih, "Terus kenapa mbak mau ambil program KB? Bukannya wanita itu bilang hamil anaknya Pak Dira? Mbak Kila mau tetep ngelanjutin pernikahan kalian?" tanya Soni lantang. "Operasi Sera akan dilakuin bulan ini, aku harus bertahan sampai operasi itu dilakukan. Percuma saja kan semua pengorbananku selama ini kalau aku cerai sekarang? Sera mungkin nggak akan jadi dioperasi Son..." ucapku sedikit gemetar, aku malu karena sikapku sekarang yang seperti menjual diriku hanya demi uang. Soni diam, membisu, matanya fokus memperhatikan jalan. "Kenapa mbak ambil program KB? Mbak mau dengan suka rela melayani Pak Dira di ranjang?" tanyanya setelah beberapa saat kami saling membisu, aku terperanjat kaget dibuatnya. "Bukan begitu Son. Sekalipun aku nggak mau, mas Dira bisa aja memaksaku. Bagaimana kalau aku hamil? Dia mungkin nggak akan pernah menceraikanku, dan aku selamanya akan menjadi yang kedua baginya." jawabku lirih, Soni sesekali melirikku. "Baiklah, bertahanlah hanya sampai Sera dioperasi. Setelah itu bercerailah dari Pak Dira mbak. Mbak berhak bahagia dengan pria yang mencintai mbak tulus." ucap Soni tegas, aku hanya diam dan mengembuskan nafas panjang. Sesampainya di rumah sakit, aku segera mendaftar di meja depan. Tak lama, hanya sekitar 15 menit aku menunggu, namaku segera dipanggil oleh perawat. "Ibu mau suntik yang satu atau tiga bulan?" tanya dokter wanita, "Bagus yang mana dok? Saya baru kali ini mau suntik KB." akuku. "Apa ibu sudah memiliki anak? Atau pernah hamil sebelumnya?" tanya dokter, aku menggeleng pelan. "Kenapa nggak minum pil aja bu?" tanya dokter, "Takut lupa dok." jawabku, dokter itu malah tersenyum melihatku. "Kalau begitu yang satu bulan aja ya bu." ucapnya, aku hanya menurut saja. Selesai dengan urusanku, aku segera melunasi biaya administrasi lalu pulang. "Mbak bener mau pulang sekarang?" tanya Soni, "Emang mau kemana lagi Son? Mau kabur lagi? Aku nggak enak hati sama Pak Bima dan istrinya. Mereka pada dasar orang yang baik Son. Aku nggak mau buat mereka khawatir." ucapku malas. Ketika aku dan Soni hampir sampai di rumah mertuaku, aku melihat mobil Guna di depan gerbang. Guna menghadang mobilku dan memintaku turun, Soni sempat melarangku namun aku tetap menemui Guna. "Ada apa?" tanyaku penasaran, "Aku mau bicara sama kamu, aku coba telepon kamu tapi sepertinya nomorku kamu blokir." ucap Guna. Soni ikut turun dan mendengarkan obrolanku dengan Guna. "Iya, mas Dira yang blokir nomor kamu." akuku, "Bisakah kita bicara empat mata?" tanya Guna sambil melirik ke Soni, sesaat. "Kalau mbak Kila pergi, aku akan temenin." sahut Soni lantang, aku hanya diam. Aku memang ingin tahu apa yang ingin Guna katakan, apakah dia tahu tentang kehamilan Dista. Lalu apa rencananya ke depan? Tapi aku juga tak ingin hanya berdua lagi keluar dengan Guna, aku takut Guna sengaja memanfaatkanku untuk membalas dendamnya pada Dira. "Aku nggak akan macam-macam Kila." ucap Guna mencoba meyakinkanku, "Kalau begitu biarin Soni ikut, aku lebih nyaman kalau ada dia." ucapku. Guna menghela nafas panjang, lalu mengiyakan syaratku. Dia mengajakku pergi ke kafe yang tak terlalu jauh dari rumah mertuaku. "Apa yang mau kamu bicarain? Aku kira kamu akan berhenti menemuiku setelah mas Dira memukulimu kemarin." ucapku langsung to the point ketika kami bertiga sudah duduk manis di kafe. "Apa yang terjadi sama kamu kemarin? Apa Pak Dira memukulmu?" tanya Guna, "Enggak, dia cuma nggak mau aku ketemu sama kamu lagi." jawabku apa adanya. "Kamu nggak berubah fikiran kan untuk bercerai dengan Pak Dira?" tanya Guna lagi, "Memangnya kenapa? Apa sebenarnya rencana kamu?" tanyaku penasaran. "Aku mau nyeraiin Dista, tapi aku sedang mencari bukti tentang perselingkuhan mereka. Aku berniat menjebak mereka ketika mereka check in di hotel. Dengan begitu, aku bisa menghancurkan karir Pak Dira dan Dista secara bersamaan." ucap Guna. "Dista hamil, kamu tahu?" ucapku lirih, Guna tampak terkejut, matanya membulat seketika. "Apa? Hamil?" teriaknya, "Apa kamu tetep mau balas dendam dengan kondisi istrimu yang sedang berbadan dua itu? Mungkin saja itu anak kamu, walau aku tak yakin sebenarnya itu anak siapa." lanjutku lagi. Guna tampak frustrasi, ia mengacak-acak rambutnya berkali-kali. Ia bahkan menenggak habis minumannya, aku sedikit kasihan melihatnya. "Aku baru aja ketemu dia, dia bilang dia sedang hamil dan kemungkinan besar itu anak Dira." ucapku, Guna hanya diam mendengarku. "Aku akan melakukan tes DNA untuk anak itu." ucap Guna lirih. "Bagaimana kalau itu anakmu? Kamu mau maafin Dista?" tanyaku lagi, "Mungkin, aku akan beri dia kesempatan. Bagaimanapun aku udah menunggu lama agar dia hamil. Selama ini aku pikir aku yang nggak subur." ucap Guna. "Jangan pesimis, Dista melakukan program KB agar ia tak bisa hamil. Dengan begitu dia bisa melakukan hal itu dengan pria manapun yang dia sukai. Kamu tahu kalau bukan hanya mas Dira aja yang jadi kekasih Dista? Ehm.. Kalau nggak salah Danu atau Dani, mas Dira nyebut nama itu waktu mereka ribut tadi." paparku, Guna membuka mulutnya lebar-lebar dan mengernyitkan dahi secara bersamaan. "Apa aku menikahi wanita jal*ng seperti itu?" ucap Guna yang tampak syok dengan semua ucapanku. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN