Aku keluar dari kamar mandi setelah mencoba mengatasi rasa sakit hatiku.
Aku memasang ekspresi natural, setelah mencuci mukaku tentunya, aku menuju ke ranjang lagi.
Sungguh aku tak ingin berbagi ranjang dengan pria yang mencintai wanita lain, tapi apa daya, kalau aku tidur di lantai bisa jadi aku sakit seperti dulu lagi.
Dira hanya menatapku dalam diam, kami membisu namun saling adu tatap.
Akhirnya aku memilih keluar dari kamar, aku mencoba berkeliling rumah yang luasnya puluhan kali lipat dibanding rumah orang tuaku.
Aku duduk di teras bagian belakang rumah Pak Bima ini, aku memandangi berbagai tanaman yang ditata rapi dan dirawat dengan sangat baik.
Tiba-tiba hujan turun, wajahku dan tubuhku terkena cipratan air hujan yang menetesi tanaman di hadapanku ini.
Aku tak pergi, kubiarkan air hujan menjadi temanku saat ini, teman saat aku sedang merasa tersakiti.
Aku memang tak punya siapa-siapa untuk kuajak bicara. Dulu, karena kesibukanku kuliah dan kerja sambilan, aku tak pernah punya waktu untuk dekat dengan siapapun.
Dan sekarang, aku bahkan tak punya seorang pun yang bisa kupinjam pundaknya ataupun telinganya walau hanya sekedar mendengar keluh kesahku.
Aku teringat Soni, selama ini dialah yang selalu mendekatiku.
Aku ingin sekali setidaknya satu orang saja yang bisa mendengar dan menjadi saksi betapa pahitnya hidupku ini.
"Kamu bisa sakit kalau hujan-hujanan seperti anak kecil seperti itu." ucap Dira yang tiba-tiba muncul, entah sejak kapan ia memperhatikanku.
Bajuku sudah basah semua, aku kemudian beranjak lalu pergi masuk ke kamar.
Aku hendak mengganti pakaianku, Dira mengikutiku masuk ke ruang pakaian.
"Keluarlah, aku mau ganti baju." kataku pelan, aku malas berdebat dengannya.
"Jadi syaratmu selanjutnya, aku tak boleh melihat tubuhmu? Itu artinya aku juga tak boleh menyentuhmu?" tanya Dira, aku menolehnya lalu menatapnya kesal.
"Aku bertahan jadi istri kamu demi Pak Bima dan demi Sera. Jadi jangan memintaku menjadi istri yang baik, karena kamu sendiri bukan suami yang baik." kataku tegas, aku akhirnya membawa pakaianku ke kamar mandi dan berniat berganti pakaian di kamar mandi saja.
Malam ini kulewati dengan banyak air mata, aku menangis dalam diam. Aku memunggungi Dira semalaman, walau rasanya tak nyaman aku tak merubah posisiku sama sekali.
***
"Ayah, ibu, Kila ingin pindah ke rumah mas Dira lagi. Kami kan sudah baikan, kami ingin menikmati masa-masa pengantin baru kami. Boleh ya bu, ayah.." rayuku ke ayah dan ibu mertuaku ketika kami sedang sarapan.
Ayah dan ibu saling tatap, Dira menatapku lekat tanpa mengucapkan apapun.
Wajahnya datar, aku sendiri gelisah, takut kalau rayuanku gagal kali ini.
Kalau gagal, artinya aku dan Dira harus satu ranjang setiap malam, yang ada aku akan mandi air mata setiap malam.
"Ayah ingin kalian tinggal di sini, apa kamu nggak suka tinggal sama ayah dan ibu?" tanya Pak Bima dengan sedikit gemetar, aku tak tega melihat ekspresi kecewa pada ayah mertuaku ini.
"Baiklah, kalau begitu Kila mau di kamar ada sofa, Kila suka belajar sambil duduk di sofa." kilahku, aku mencari alasan agar aku bisa membawa sofa ke kamar kami, kamarku dan Dira.
"Ya sudah, nanti ayah beliin sofa yang baru. Kamu mau yang bagaimana?" tanya ayah mertuaku antusias, aku lega akhirnya bisa membawa sofa ke kamarku.
Dengan begitu aku tidak perlu tidur seranjang dengan Dira.
"Kila mau yang apa aja yah, yang penting nyaman dipakai." jawabku girang karena akhirnya rayuanku kepada ayah mertuaku ini berhasil.
"Baiklah, nanti ayah suruh orang untuk membeli dan meletakkan sofa di kamar menantu ayah yang cantik ini." ucap Pak Bima dengan senyuman lebar di wajahnya.
Aku membalas senyuman ayah mertuaku karena akhirnya aku tak perlu berbagi ranjang dengan pria yang sudah mengkhianati pernikahannya denganku.
Selesai sarapan, aku langsung berangkat kuliah. Kali ini Dira mengantarku, aku menurut saja karena ayah dan ibu mertuaku tampaknya senang melihat kami pergi bersama.
"Bagaimana sertifikat kebunnya? Apa mas udah bicara sama ayah?" tanyaku ketika kami sudah berada di dalam mobil.
Mobil melaju cukup kencang, membelah keramaian jalanan dengan lincahnya.
"Aku belum bicara sama ayah, tunggulah. Apa kamu sedang berusaha mempersiapkan segalanya, agar kamu merasa aman ketika kita bercerai nanti?" tanya Dira, aku terkejut mendengarnya karena ia mengatakan masalah pribadi kami di depan orang lain, walaupun itu sopir pribadinya.
Bagaimana kalau sopir Dira ini mengadu pada mertuaku, bisa semakin runyam masalahnya.
Aku tak ingin dipandang sebagai wanita materalistis oleh Pak Bima dan istrinya.
"Kalau udah tahu, nggak perlu kujawab kan?" jawabku sinis, Dira sepertinya mulai kesal padaku.
"Kamu minta sofa sama ayah agar kita nggak perlu seranjang lagi?" tanya Dira dengan sedikit berteriak, sepertinya sifat aslinya mulai keluar. Selama ini memang Dira lebih sering membentakku, ia berbicara pelan padaku hanya karena aku memegang kartu Asnya.
Namun sepertinya kali ini Dira sudah tak peduli lagi dengan kartu As yang kupegang. Dira menatapku tajam, seakan ingin menerkamku bak hewan buas yang kelaparan.
"Tentu saja, syarat keduaku yaitu jangan ada kontak fisik di antara kita." jawabku tegas, Dira tampak semakin kesal atau bahkan mungkin marah karena sikapku.
"Selama aku belum menceraikanmu, kamu masih menjadi istri sahku. Aku berhak atas semua tubuhku!" teriak Dira, aku tertawa mendengar ucapannya.
"Kamu nggak usah gila mas, kita tahu kalau pernikahan kita biss bertahan karena aku peduli sama Pak Bima dan juga adikku, Sera." kataku sinis, Dira menyeringai sembari melirikku tajam.
Mobil kami sudah berhenti di halaman kampusku, aku hendak keluar dari mobil ini dan meninggalkan suamiku yang tak punya perasaan padaku ini.
Belum sempat aku membuka pintu, Dira menarikku lalu memegang tengkukku.
Secara mengejutkan Dira menciumku, di dalam mobil, di halaman kampusku, disaksikan oleh sopir pribadinya.
Aku berusaha melepaskan ciuman Dira, namun ia memegangku erat.
Aku memukuli Dira, mencoba mengatakan sesuatu namun yang terdengar hanya eranganku yang tak jelas.
Dira menciumku dengan kasar, menyesap bibirku sampai aku kesulitan bernafas.
Aku yang sudah pasrah akhirnya berhenti memukulinya, hanya air mata yang menjadi teman setiaku.
Dira akhirnya melepas ciumannya setelah air mataku semakin deras terjatuh.
Secara reflek aku menampar pipi suamiku, ia hanya tersenyum menyeringai.
Aku melihat bekas tanganku tampak merah di pipi kirinya.
"Kamu udah gila mas?" teriakku ke Dira, Dira tak menjawabku dan sibuk mengelus pipinya yang sudah kutampar itu.
"Apa ada aturan kalau suami tak boleh menyentuh istrinya sendiri? Aku hanya menciummu, kamu berani menamparku. Bagaimana kalau aku memintamu melayaniku di ranjang, apa kamu akan membunuhku?" teriak Dira, aku semakin kesal mendengarnya.
Kali ini Dira tampak seperti Dira yang kukenal, jahat dan mirip seperti iblis.
"Kalau sikap kamu seperti ini, aku akan menggugat cerai kamu secepatnya!" ancamku ke Dira, suamiku.
Namun sepertinya Dira tak takut dengan ancamanku, dia malah tertawa menanggapi ancamanku tersebut.
Bersambung...