Aku pulang setelah Dira membelikanku pakaian, entah dari mana.
Tentu saja karena pakaianku tadi sudah tak bisa dipakai lagi akibat ulah Dira.
"Aku akan memberimu banyak syarat, kamu harus menyiapkan itu semua. Akan aku katakan nanti malam, di rumah." kataku sebelum meninggalkan suamiku di kamar hotel.
Aku pulang menggunakan jasa taksi online lagi, namun aku tak langsung menuju ke rumah mertuaku.
Aku memilih pulang ke rumah orang tuaku, setelah menikah aku baru sekali pulang ke sana. Itupun ayah tak menyukai kedatanganku karena aku ingin meminta cerai dari Dira.
Selebihnya aku hanya bertukar pesan demi menanyakan kabar orang tuaku dan juga Sera.
"Kila, kamu sendiri?" teriak ibu yang langsung memelukku ketika aku tiba di rumah orang tuaku.
Aku yakin ibu sangat ingin bertemu dengan Dira, menantunya, anak dari bos bapak, Pak Bima. Dan aku sangat yakin ibu ingin mengambil hati Dira. Aku takut ibu akan bersedih kalau tahu sebenarnya sikap Dira padaku tak lebih baik dari sikap ibu tiri yang lebih sayang pada anak kandungnya.
"Iya bu, mas Dira masih kerja." jawabku berbohong, aku melempar senyum ke ibuku, wanita yang paling kusayangi.
"Ya udah ayo masuk, ibu buatkan makanan ya." ucap ibuku yang langsung menuju dapur.
"Bapak dimana bu?" kataku yang saat ini sudah duduk di meja makan.
"Biasalah, di kebun. Bapak sekarang dibantu sama Joko, anaknya Pak Juki. Bapak kuwalahan mengurusi kebun sekarang, Pak Bima memberi 5 hektar kebun atas nama kamu. Sebagai hadiah pernikahan kalian." terang ibuku sambil memasak untukku.
Jadi Pak Bima memberiku banyak kebun, atas namaku? Syukurlah, jadi ancaman mas Dira akan membuat keluarga miskin hanya sekedar ancaman, pikirku.
"Sertifikatnya? Apakah udah ada di tangan bapak? Atau masih di tangan Pak Bima?" tanyaku penasaran.
"Kayaknya masih di tangan Pak Bima, ibu juga nggak terlalu paham." sambung ihu.
Kalau begitu aku harus meminta Dira agar menyerahkan sertifikat atas kebun-kebun yang sudah Pak Bima belikan untukku sebagai salah satu syaratku.
Aku akhirnya makan setelah ibu selesai memasak untukku.
Aku sangat merindukan ibuku, namun aku harus segera pulang karena sudah sore.
Aku tak enak hati kepada ayah dan ibu mertuaku karena yang mereka tahu aku pergi kuliah.
Aku tak bertemu dengan ayahku karena ayah biasa pulang kalau hari sudah mulai petang.
Sementara Sera sendiri sedang belajar kelompok di rumah temannya.
Aku memberikan ibuku uang yang kuambil dari uang sakuku setiap bulan dari mertuaku.
Awalnya ibu menolak, tapi aku memaksa dan akhirnya ibu menerimanya.
Sesampainya di rumah, mobil Dira sudah terparkir di halaman rumah.
Aku masuk ke dalam rumah setelah menarik nafas panjang lalu memasang wajah ceria.
"Assalamualaikum." sapaku melihat ibu dan ayah mertuaku sedang mengobrol di ruang tamu. Dira juga ikut bergabung, ia sudah mengenakan pakaian kasual.
Dira menatapku lekat, tak sedetikpun ia melepas pandangannya dariku.
Aku mencium tangan ayah mertuaku, ibu mertuaku lalu suamiku secara bergantian, sesaat setelah mereka menjawab salamku.
"Udah pulang sayang?" tanya ibu mertuaku, aku mengangguk lalu ikut bergabung duduk bersama mereka di ruang tamu ini.
"Bagaimana kuliahnya? Capek ya?" tanya ayah mertuaku yang tampaknya terlihat fresh sore ini.
Aku senang melihat Pak Bima yang terlihat segar bugar, bagaimanapun Pak Bima adalah orang yang baik.
"Biasa aja yah, ayah sepertinya kelihatan seneng hari ini. Ada apa?" tanyaku berbasa-basi, aku melirik ke Dira yang masih menatapku lekat.
Mungkin Dira takut kalau aku akan membahas soal perceraianku dengannya.
Tenanglah, aku tak akan menceraikanmu kalau aku belum bisa mengamankan posisiku.
Bukan karena aku matrealistis, hanya saja ancaman Dira yang akan membuat keluarga sengsara yang membuat aku berpikir sejauh ini.
"Ayah seneng, tadi Dira bilang kalian akan pergi berbulan madu." ucap Pak Bima yang membuatku terkejut.
Aku membulatkan mataku seketika, apa yang sedang Dira rencanakan kali ini?
"Aku bilang ke ayah dan ibu soal keinginan kita berbulan madu. Ya walaupun kita belum menentukan tanggal pastinya." sahut Dira, wajahnya masih tampak datar.
Aku melirik Dira tajam, aku tak mengerti kenapa ia harus berbohong. Atau mungkin sebenarnya ia akan pergi dengan Dista dan aku yang ia jadikan umpannya?
"Kita kan belum merasakan apa itu bulan madu. Aku minta maaf mengenai kesalahanku di masa lalu. Tapi mari kita mencoba memulai membangun keluarga kita dari awal." lanjut Dira, aku masih terdiam mendengarkannya.
"Bagaimana sayang, kamu suka kan?" tanya ibu mertuaku, aku langsung memasang senyum ceria di wajahku lalu mengangguk menyetujui rencana Dira tersebut.
"Kila nurut aja kok bu, Kila seneng kalau ibu dan ayah juga seneng." aku berbohong lagi demi tujuanku menyelamatkan keluargaku dari Dira.
Selesai mengobrol, aku masuk ke kamar lalu mandi.
Ketika aku selesai mandi, kulihat Dira sudah duduk bersandar di ranjang.
"Terima kasih." ucapnya dengan santai, aku menatapnya beberapa saat.
"Serahkan sertifikat kebun yang baoakku kelola. Bukankah itu kebunku, hadiah dari ayahmu karena kita menikah?" ucapku yang saat ini berdiri di dekat ranjang dan menatap pada Dira, suamiku.
"Ayah yang punya." sahutnya singkat,
"Baiklah kalau begitu, aku akan menggugat cerai kamu sekarang juga." ancamku.
"Baiklah, aku akan berusaha mendapatkannya dari ayah." sahut Dira yang tampak takut dengan ancamanku.
"Aku beri waktu 2 kali 24 jam, kalau sampai waktu kamu habis dan sertifikat itu belum ada di tanganku, lihat apa yang akan kulakukan." ancamku lagi, sepertinya Dira mulai geram kepadaku.
"Baiklah. Apalagi syaratmu?" tanya Dira dengan lantang.
"Nanti aku pikirkan lagi." jawabku santai.
Aku kemudian naik ke ranjang dan tidur dengan memunggungi suamiku, Dira.
"Maafkan aku." ucap Dira tiba-tiba yang membuatku membelalakkan mata.
Apa Dira serius meminta maaf padaku? Kenapa? Bukankah selama ini sikapnya padaku lebih kejam dari ibu tiri?
Aku hanya diam, aku bingung harus menjawabnya apa.
"Aku masih mencintai Dista, walaupun dia sudah menikah dan aku hanya dijadikan simpanannya. Aku nggak bisa membohongi hatiku." terang Dira, entah kenapa rasanya hatiku sakit mendengar ucapannya barusan.
Selama ini memang belum ada rasa cinta yang hadir dalam pernikahan kami.
Namun karena Dira milikku, rasanya aku sakit hati mengetahui hatinya sudah untuk orang lain.
Aku terdiam, mencoba memejamkan mata, namun yang ada bulir bening menetes dan membasahi bantalku.
Rasanya aku seperti bermimpi, bisa menikah muda, dengan anak orang kaya pula. Namun mimpiku ini adalah mimpi buruk, karena suamiku sudah melabuhkan hatinya pada wanita lain, wanita yang sudah bersuami.
Semakin banyak air mata yang membasahi bantalku, aku sungguh ingin bangun dari mimpi buruk ini, segera.
"Aku sungguh tak ingin melibatkan siapapun masuk ke dalam hubunganku dengan Dista. Itu sebabnya aku tak ingin menikah, namun kondisi ayah semakin memburuk setelah tahu aku memiliki hubungan dengan Dista." ucap Dira, aku semakin menangis mendengarnya.
"Tolong mengerti keadaanku, cinta tak bisa dipaksa. Aku hanya mencintai Dista." lanjut Dira, aku bangkit lalu menuju kamar mandi untuk menutupi tangisanku.
Aku menghidupkan kran di wastafel agar tangisanku tak didengar oleh Dira.
Kenapa rasanya sakit sekali, padahal selama ini aku tak mencintai Dira.
Atau, apa mungkin aku sudah mulai mencintai suamiku itu? Entahlah, aku hanya ingin menangis saat ini.
Bersambung...