Sulit rasanya mataku ini diajak kompromi, aku tak kunjung tertidur.
Sementara Dira, embusan nafasnya terdengar teratur, terasa meraba pundakku walau masih terhalang jilbabku, rasanya panas.
Sepertinya Dira benar-benar tidur, mungkin karena efek obatnya. Karena aku tak biasa tidur pagi, yang ada aku terjaga dengan menahan hawa panas dari tubuh Dira.
Karena aku merasa lelah, kupikir aku sudah bertahan cukup lama, hampir setengah jam berlalu.
Aku mencoba mengangkat tangan Dira yang memelukku, sangat pelan, tentu saja agar ia tak bangun.
Kacau kalau akhirnya ia terbangun, aku mungkin harus berada di dekapannya sampai nanti siang, argh, tak sanggup aku.
Dengan sangat pelan aku mengangkat tangan Dira lalu pelan-pelan aku bangun.
Baru satu kaki aku menurunkan kakiku dari ranjang, tangan Dira sudah menggapai tanganku.
"Kamu mau kemana?" ucap Dira, terdengar serak.
"Aku kepanasan mas, lihat, keringetku bercucuran." ucapku lirih, menahan kesal.
Dira kemudian duduk, ia memegangi kepalanya lalu menggeleng-gelengkannya pelan.
Dira kemudian turun dari ranjang, dengan sempoyongan ia berusaha berdiri.
"Mau kemana?" tanyaku ketika melihat Dira berjalan menuju pintu kamar,
"Cari ayah." ucapnya pelan, namun mampu membuatku membulatkan mataku sempurna.
Aku segera menghadang Dira, mencoba mencegahnya mengadukanku lagi pada ayahnya.
"Mas, kamu nggak akan ngadu sama ayah lagi kan?" tanyaku,
"Iya, aku mau bilang kalau kamu nggak peduli sama aku." ucapnya yang kemudian mendorong tubuhku.
Ketika Dira hendak memegang gagang pintu, aku segera menghadangnya lagi.
"Mas, kamu bukan anak kecil lagi, nggak perlu kamu ngadu-ngadu begitu? Kamu nggak malu sama umur?" tanyaku kesal, Dira mencoba mendorongku lagi, namun aku bersikeras, menghadangnya.
"Minggir." ucapnya lirih, aku menggelengkan kepala, berkali-kali.
Dira mengembuskan nafas panjang, menatapku tajam dengan matanya yang sayu itu.
"Apa susah banget ya, aku cuma mau meluk kamu. Kamu cukup diem." ucapnya pelan, Dira kembali memegang kepalanya, membuatku tak tega, apalagi demamnya belum turun.
"Baiklah, tapi jangan peluk aku, aku aja yang peluk. Panas, terus tangan kamu juga berat." kilahku, sepertinya aku sudah menjadi b***k cinta untuk Dira.
Hanya dengan melihatnya kesakitan saja sudah membuatku tak tega.
Aku kemudian berjalan menuju ranjang, tanpa menunggu jawaban Dira.
Aku duduk di ranjang, Dira masih berdiri di dekat pintu dan hanya menatapku sayu.
"Ke sinilah, aku nggak akan kemana-mana lagi." lihatlah, aku benar-benar wanita tak berprinsip, tak punya harga diri pula.
Dira akhirnya berjalan mendekatiku, lalu merebahkan tubuhnya seperti tadi.
Kali ini Dira terlentang, membuka lengannya agar aku menggunakannya sebagai bantal.
Aku memeluk Dira, melingkarkan tanganku di dadanya yang bidang itu.
"Apa aku boleh minta sesuatu sama kamu?" tanya Dira lirih,
"Enggak!" jawabku singkat dan tegas, Dira terkekeh kecil.
"Baiklah." sahutnya pelan, aku mendongakkan kepalaku agar dapat melihat wajahnya.
"Kamu mau minta apa?" tanyaku penasaran,
"Kamu bilang nggak boleh." jawabnya lirih.
"Ya memang, aku cuma pengen tahu aja." ucapku, Dira terkekeh lagi.
Entah apa yang sebenarnya diinginkan suamiku ini, kami akhirnya tertidur setelah membisu sekian lama.
Ketika aku terbangun, Dira sudah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Yang sakit siapa? Yang tidur siapa? Apa kamu memang seperti ini? Biasa bermalas-malasan?" ucap Dira lantang, dilihat dari perangainya, sepertinya Dira sudah sembuh.
"Kamu udah sembuh mas? Pastilah, lihatlah iblis di dalam hatimu udah muncul lagi." sahutku kesal, aku kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Tanpa melihat Dira, aku pergi begitu saja untuk membasuh wajahku.
Ketika di kamar mandi, aku terkejut melihat guratan merah di leherku, kecil namun dapat kulihat jelas.
Aku membuka jilbabku, lalu memperhatikan seluruh leherku, aku tak mendapati yang lain, hanya satu.
Aku melirik ke arah pintu kamar mandi, memajukan bibirku lalu bernafas lebih cepat.
Aku keluar kamar mandi setelah memakai jilbabku lagi, lalu menatap Dira dengan kesal.
"Mas, kamu yang ninggalin bekas ini?" teriakku kesal, Dira bahkan tak menatapku, padahal aku sudah membuka sedikit jilbabku demi menunjukkan tanda merah di leherku.
"Mas!!!" teriakku lebih lantang, Dira akhirnya menengokku yang masih berdiri tak jauh dari pintu kamar mandi.
"Apa?" tanyanya sinis,
"Kamu kan yang buat ini?!" teriakku tak terima.
"Kalau iya kamu mau apa?" Dira balas meneriakiku, membuatku semakin kesal.
"Kamu nggak minta izin sama aku mas." teriakku,
"Suami mana yang butuh izin cuma buat nyentuh istrinya?" balas Dira, masih dengan volume suara tinggi.
"Tapi kita nggak bener-bener suami istri mas, kamu tahu itu dengan pasti. Aku cuma wanita yang ingin kamu manfaatin demi bisa ngasih cucu buat ayah dan ibumu." teriakku.
"Maksud kamu status kita palsu? Aku mengucapkan ijab qabul di depan penghulu, sesuai syariat agamaku. Pernikahan kita sah dan sakral, apa kamu pikir aku mengucapkan ijab qabul itu demi shooting film?!" teriak Dira, aku dibuat membisu oleh ucapannya.
"Kalau kamu tahu pernikahan kita sakral, seharusnya kamu tahu, hukumnya berzina dengan istri orang, sementara kamu sudah beristri." ucapku lirih, mencoba menahan air mataku yang berebut ingin keluar.
"Nggak ada manusia yang sempurna, Kila." sahut Dira pelan, aku terkekeh mendengarnya.
"Aku bener-bener nggak ngerti jalan pikiran kamu mas, kamu seperti punya kepribadian ganda." ucapku kesal, aku memilih duduk di sofa.
Kalau aku keluar dari kamar ini, aku mungkin akan bertemu dengan ayah mertuaku. Yang ada aku akan disuruh kembali ke kamar demi menjaga putranya yang saat ini sudah segar bugar itu.
"Aku mencintainya." ucap Dira lirih, namun bagiku seperti petir yang menyambar disambung dengan suara gemuruh yang sangat mencekam.
"Nikahi dia, ceraikan aku." jawabku yang kali ini sudah disusul oleh air mataku.
"Kamu yang minta ya, jangan salahin aku kalau suatu hari kamu aku ceraikan." ucap Dira yang kemudian pergi keluar kamar, air mataku akhirnya melesak keluar, sangat banyak.
"Kamu minta aku mengurusmu dari tadi pagi, menyuruhku bolos kuliah, balasanmu apa? Kamu bilang mencintainya? Kenapa ada manusia sekejam kamu mas?" ucapku sendiri sambil memukuli dadaku agar rasa sakit di dalam sana sedikit berkurang.
Belum selesai aku menangis, kulihat gawai milik Dira menyala, sepertinya ada telepon masuk.
Aku segera menyeka air mataku lalu menghentikan aksi cengengku.
Aku menuju nakas di samping ranjang itu, mencoba melihat siapa yang menghubingi Dira.
Aku terkekeh ketika melihat nama kontak yang tampil di layar gawai milik suamiku itu, siapa lagi kalau bukan Dista.
Kalian tahu apa yang membuatku semakin sakit hati, nama Dista diberi emoticon hati berwarna merah.
Aku langsung saja menggeser icon berwarna hijau lalu menempelkan gawai milik suamiku itu di telingaku.
"Halo, sayang, kamu sakit? Aku baru tahu kalau kamu nggak kerja hari ini karena sakit. Kamu mau kita ketemu sekarang?" ucap Dista di seberang sana, aku hanya tersenyum mendapati perhatiannya yang luar biasa pada suamiku itu.
"Mas Dira udah aku rawat, dia nggak butuh kamu lagi." kataku datar,
"Yah! Kenapa kamu yang ngangkat telepon Dira?" teriaknya yang tiba-tiba merubah suaranya yang tadinya terdengar manja, kali ini lebih mirip suara macan betina.
"Dira suami aku, jadi aku berhak buat ngangkat teleponnya." sahutku sinis, mencoba membuat Dista semakin marah.
"Yah!!!! Jangan sombong kamu! Dira cuma milik aku, cuma aku yang dia cintai! Dia menikah sama kamu karena orang tuanya!" teriak Dista yang membuatku bersorak di dalam hati, puas rasanya membuatnya marah-marah.
"Kita tunggu aja tanggal mainnya, pelan-pelan Dira akan ninggalin kamu. Bukannya akhir-akhir ini kalian jarang ketemu?" sekali lagi, aku ingin membuat Dista marah.
Tanpa menunggu jawaban Dista, aku mematikan telepon darinya.
Aku mematikan ponsel Dira agar Dista tak dapat menghubunginya lagi.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, klek, aku menyembunyikan ponsel milik Dira ini di belakang punggungku.
Dira masuk, ia menatapku aneh, aku pun takut Dira marah karena aku berani menyentuh ponselnya dan bahkan mengangkat telepon dari kekasihnya itu.
Bersambung...