Dira melangkah mendekatiku, aku ketakutan setengah mati. Masih kuingat dengan jelas tamparan Dira ketika aku memergokinya bersetubuh dengan Dista.
Kali ini tidak menutup kemungkinan Dira akan menamparku lagi kalau tahu aku mengangkat telepon dari wanita yang ia cintai itu.
"Apa yang kamu sembunyiin?" tanya Dira dengan suara datar, terdengar dingin, sangat menakutkan.
"Enggak ada." jawabku gemetar, Dira masih terus mendekatiku, sampai ia berada di depanku dan menarik tanganku yang sedari tadi kusembunyikan di belakang punggungku.
Dira merebut ponselnya dengan kasar, tatapan matanya seperti mengisyaratkan kalau ia bisa membunuhku sekarang juga.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya, membuatku semakin gemetar ketakutan.
Dira menyalakan kembali ponselnya, aku berusaha menghindarinya dan berniat menghindarinya.
Namun tangan Dira lebih dulu mencengkalku, menahanku agar aku tak pergi.
"Kamu berani menyentuh hpku?" tanya Dira lirih, namun seakan memberi ancaman padaku.
"Kamu bilang aku istri kamu. Apa salah kalau istri nyentuh barang suaminya?" ucapku lantang, Dira menyeringai.
"Kalau begini aja kamu ngaku jadi istri, giliran aku minta hakku sebagai suami kamu, kamu bilang kita bukan suami istri. Cih, dasar lintah darat, mau untung aja, nggak mau rugi." ucap Dira yang menusuk hatiku.
Aku mengerucutkan bibirku, namun sedikit lega karena Dira tak menamparku.
"Lepasin." pintaku sambil menatap tangan Dira yang masih memegang lenganku.
"Apa yang kamu katakan sama Dista?" tanya Dira yang masih belum melepaskan lenganku.
Aku hanya diam, Dira melempar ponselnya ke kasur lalu mendorong tubuhku sampai membentur dinding.
Dira mengangkat kedua tangannya dan menguncinya di atas kepalaku, hanya dengan tangan kanannya.
Tangan kiri Dira mencengkeram daguku, membuatku meringis kesakitan.
"Kamu ngomong apa sama Dista?" tanya Dira yang mendekatkan wajahnya, sangat dekat. Sampai embusan nafasnya terasa meraba pipiku.
"Aku bilang kalau.." ucapku terbata,
"Kalau apa?" tanya Dira yang semakin mendekatkan wajahnya.
"Kalau dia nggak perlu rawat kamu, karena aku udah rawat kamu. Kamu udah sembuh juga kan?" teriakku sambil menutup mata.
Walaupun aku sudah beberapa kali dicium Dira, namun rasanya aku belum terbiasa dengannya, apalagi mengingat kenyataan bahwa Dira tak mencintaiku.
Dira terkekeh kecil, ia akhirnya melepaskan tanganku.
Dira mundur selangkah, aku berniat pergi namun Dira mendorongku kembali dan menempelkan tubuhnya ke tubuhku.
"Kamu mau kemana? Aku udah sembuh, dan aku sekarang sedang ingin...." ucap Dira sambil meraba pipiku, membuatku merinding tak karuan.
"Kamu bilang mau nunggu aku mas?!" ucapku yang kebingungan bagaimana lagi caranya agar aku lolos kali ini.
"Aku tarik omonganku, aku enggak mau nunggu. Aku mau sekarang." ucap Dira yang mulai menciumi pipiku, aku mencoba mendorong tubuh Dira, namun ia bahkan tak bergerak sedikitpun.
"Kalau kamu mau sekarang, aku nggak akan mau hamil anak kamu mas." ancamku ketika Dira mulai menggigit daun telingaku dibalik jilbabku.
"Terserah, orang tuaku udah beli kamu, dan sampai detik ini aku masih belum bisa menikmati tubuhmu." bisik Dira, aku semakin ketakutan, kali ini aku mencoba menggigit d**a Dira.
Dira teriak kesakitan, "Aaaarrrrggggghhhhhhh...!!!", Dira yang tampak marah lalu menyeretku dan mendorongku sampai terpental di kasur.
Dengan kekuatannya yang jauh diatas kekuatanku itu, Dira mengekangku, mengunci tanganku dan menciumku.
Tiba-tiba, klek, pintu kamar terbuka seketika. Lagi, ibu mertuaku masuk, beliau menatap kami dengan mulutnya yang terbuka lebar.
Walaupun aku malu, setidaknya aku selamat lagi kali ini. Dira menatap ibunya kesal, ia melepas genggaman tangannya dari tanganku.
"Ibu!!!" teriak Dira lantang, sepertinya ia benar-benar marah.
"Maaf, tadi ibu denger kamu teriak, ibu kira kamu kenapa-kenapa." sahut ibu mertuaku, aku memanfaatkan suasana ini dan kabur, masuk ke dalam kamar mandi.
Entah apa yang Dira katakan pada ibunya, aku menyalakan kran dan mencuci mukaku berulang kali.
"Ampuni aku ya Allah, aku sungguh tak berniat menolak ajakan suamiku. Aku hanya nggak iklas karena dia masih memiliki hubungan dengan wanita lain." ucapku sendiri, menangis di kamar mandi.
Aku masih duduk di kamar mandi, mengurung diri karena tidak ingin bertemu dengan Dira.
Aku takut Dira akan benar-benar meminta haknya kali ini.
"Kamu tidur di dalam sana?" teriak Dira dari balik pintu, aku tersentak seketika.
"Iya." jawabku singkat,
"Mana ada orang tidur bisa jawab pertanyaan begitu." sahut Dira, aku hanya diam.
"Kamu nggak mau keluar?" tanya Dira lagi,
"Enggak." jawabku, lagi-lagi aku hanya mwnjawabnya dengan singkat.
Kami saling diam, cukup lama, mungkinkah Dira sudah pergi, ah entahlah.
"Keluarlah, aku nggak akan maksa kamu lagi." ucap Dira pelan, namun aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Bohong." sahutku singkat,
"Enggak." jawabnya tegas, namun aku ragu kalau Dira serius mengatakannya.
"Keluarlah, ayah sama ibu minta kita makan siang bareng." ucap Dira, aku masih terdiam.
"Kamu mau ayah yang kesini?" tanya Dira, sepertinya aku akan selalu kalah darinya jika dia selalu melibatkan ayahnya dalam perdebatan kami.
"Kamu nggak malu mas, ngancem mulu." ucapku kesal, Dira tak menyahutku.
Aku dengan terpaksa keluar kamar mandi, ketika aku membuka pintu kamar mandi, Dira berdiri dan bersandar di tembok, di depan pintu kamar mandi.
Dira menatapku dengan senyuman di wajahnya, membuatku curiga.
Aku semakin yakin kalau Dira punya kepribadian ganda, tiba-tiba baik dan tiba-tiba kejam.
"Ayo makan, udah ditungguin ayah sama ibu." ucap Dira sambil menggerakkan dagunya.
"Aku malu sama ibu." ucapku lirih,
"Yang salah ibu, kenapa kamu yang malu?" ucap Dira yang kemudian berjalan menuju pintu.
Aku masih terdiam, Dira menengokku, "Perlu aku gendong?" tanyanya, aku menggelengkan kepala cepat.
Aku turun ke lantai bawah, mengikuti langkah Dira yang tak terlalu cepat.
Sesampainya di meja makan, ayah dan ibu menyambut kami dengan tatapan hangat dan senyuman ceria.
"Ayo makan sayang." ucap ibu mertuaku, aku hanya menunduk karena masih malu.
"Kila malu bu. Jadi berhenti masuk ke kamar kami tanpa permisi. Kalau ibu masih asal masuk aja, aku sama Kila akan pindah ke rumah Dira." ucap Dira, aku hanya mampu melirik Dira dan kedua mertuaku.
"Iya, maaf, ibu nggak bermaksud ganggu kalian. Maafin ibu ya Kila sayang." ucap ibu mertuaku, aku mengangguk lemah.
Selesai makan, Dira mengajakku masuk ke kamar lagi, aku sungguh ketakutan.
"Ayo sholat, kita jamaah sholatnya." ajak Dira ketika kami berjalan menaiki tangga.
"Kamu mau jadi imam?" tanyaku penasaran,
"Jadi makmum!" jawab Dira ketus, aku berdecak kesal.
Dira menghentikan langkahnya lalu menolehku yang berjalan di belakangnya.
"Emang ada istri jadi imam suaminya? Yang namanya suami pasti imam! Bod*h!" teriak Dira yang tampaknya kesal.
Ini pertama kalinya aku menjadi makmum sholat dengan Dira sebagai imamnya.
Hatiku tersentuh ketika mendengar suara Dira yang terdengar merdu ketika menjadi imam sholatku.
Tak kusangka, pria yang berzina dengan istri orang ini pandai melafazkan ayat-ayat Alquran.
Baiklah Kila, benar apa kata Dira, tak ada manusia yang sempurna.
Selesai sholat, Dira mengulurkan tangannya, seperti memintaku mencium tangannya, aku hanya menurut saja.
"Itu yang dinamakan istri, jadi makmum yang patuh sama imamnya." ucap Dira, aku hanya menyeringai.
Dira langsung keluar kamar ketika aku sedang merapikan mukena. Segera setelah selesai, aku menyusul Dira keluar, jujur saja aku takut Dira pergi menemui Dista.
Tak kusangka, Dira mengajak ayahnya bermain catur. Ayah tampak senang, Dira sendiri terlihat seperti anak yang berbakti.
Siapa yang akan menyangka kalau pria setampan dan sesempurna Dira memiliki kekurangan yang fatal, mencintai istri orang.
Lihat saja, Dira tampan, punya pekerjaan mapan, anak orang kaya, anak satu-satunya pula. Tak hanya itu, Dira juga tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Sayangnya ia memiliki hubungan gelap dengan istri orang.
Aku menghampiri ibu mertuaku yang sedang berkebun di taman depan rumah.
"Dira udah sembuh, terima kasih ya Kila karena rela membolos kuliah untuk merawatnya." ucap ibu mertuaku, membuatku malu
Kalau ibu mertuaku tahu bahwa aku juga yang menyebabkan Dira sakit, mungkin ia tak akan mengucapkan kata terima kasih itu untukku.
"Iya bu, itu udah jadi tugas Kila sebagai istri mas Dira." sahutku asal, mencoba menyenangkan hati ibu mertuaku.
"Kila, coba jujur sama ibu, siapa yang udah mukulin kamu?" tanya ibu mertuaku yang kali ini sudah merangkulku, membuatku tegang dan bingung setengah mati.
Ternyata dugaanku benar, ibu mertuaku tak percaya begitu saja pada kebohongan yang Dira ucapkan. Dan bod*hnya lagi, aku ikut andil dalam membohongi ibu mertuaku.
Bersambung...