Dira semakin kejam

1089 Kata
Dira menatapku tajam, ia kemudian turun dari atas tubuhku lalu duduk di sampingku. Aku hendak berlari, memungut pakaianku lagi. Namun tangan Dira segera mencegahku, ia menarik tanganku sampai aku duduk di sampingnya. Lalu tangan kanannya segera memiting leherku, aku merasa sedikit tercekik. Tanganku secara reflek menyilang menutupi bagian dadaku. Dira kemudian mendekatkan wajahnya ke samping telingaku. "Kalau aku tahu kamu ngelakuin itu sama pria lain, aku akan hancurin pria itu sampai berkeping-keping." bisik Dira di telingaku, membuatku merinding tak karuan. Aku hanya diam, embusan nafas Dira masih meraba leher dan telingaku, membuatku semakin merinding. "Cuma aku yang boleh menikmati tubuhmu, ingat itu." ucap Dira lantang, tepat di samping telingaku, aku sampai meringis mendengarnya. Dira kemudian melepaskan tangannya dari leherku lalu ia mendorong tubuhku, aku hampir tersungkur karena ulahnya. Tanpa menunggu lama, aku segera menuju kamar mandi dan memakai kembali pakaianku. Aku memikirkan apa yang Dira ucapkan barusan, membuatku kesal bercampur senang. Bagaimana tidak, sikapnya jelas-jelas sedang posesif padaku. Mungkin saja ia mulai ingin memilikiku, mulai ingin menguasaiku. Namun ia tak mau mengakui kalau ia ada perasaan untukku. "Apa aku cuma barang buat kamu?" ucapku sendiri. Setelah berlama-lama di kamar mandi, aku keluar dengan langkah malas. Kamar ternyata kosong, tak ada sosok Dira di kamar yang sangat besar ini. Aku memutuskan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahku. Tepat ketika aku selesai mengerjakan tugas, Dira masuk ke kamar. Mata kami saling bertemu, namun mulut kami saling membisu. Dira berjalan menuju ranjang, ia kemudian duduk di tepi ranjang sambil menatapku lekat. "Apalagi mas?" tanyaku lirih, aku rasanya lelah, tak ada tenaga lagi untuk berdebat dengan suamiku itu. "Sampai kapan aku harus menunggu?" tanya Dira padaku, jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang karena mendengar pertanyaan Dira barusan. "Aku nggak tahu, tapi yang pasti bukan sekarang." ucapku lirih, mataku dan mata Dira masih beradu, bertahan dalam ketegangan ini. "Apa benar kamu nggak pernah ciuman sebelumnya?" tanyanya lirih, "Aku nggak pernah pacaran mas, jadi aku juga nggak  pernah ciuman. Kamu yang pertama." sahutku lirih. "Kamu menyesal karena aku yang menjadi suami kamu?" tanyanya, aku merasa seperti sedang berbicara pada orang lain, Dira saat ini seperti bukan Dira yang biasanya. Atau mungkin Dira punya kepribadian ganda? Kadang ia jahat seperti iblis, kadang ia baik seperti manusia pada umumnya. "Jelas saja mas. Siapa yang nggak menyesal menikah dengan orang yang tak mencintainya dan hanya menginginkan perceraian dengannya?" ucapku lantang, hatiku rasanya seperti teriris, ingin menangis tapi aku tak pandai menangis. Dira hanya diam, namun matanya masih saja beradu tatap dengan mataku. "Kalau begitu kita nggak perlu bercerai. Kalau kamu nggak mau kita cerai. Aku akan berikan apapun untuk kamu, aku akan turutin semua kemauanmu. Asalkan kamu mau menjadi ibu untuk anak-anakku." ucap Dira, aku serasa diterbangkan ke langit berkat ucapannya tersebut. "Dan asal kamu tidak pernah mengganggu hubunganku dengan Dista." Bug! Rasanya seperti ada yang memukulku sekeras mungkin. Baru saja aku merasa terbang karena terlalu senang mendengar ucapan Dira, namun tiba-tiba ia menjatuhkanku lagi. Rasanya malah semakin sakit karena aku sudah terlalu berharap pada suamiku yang mencintai wanita lain ini. "Cih, kamu bener-bener nggak punya hati mas. Kamu pikir aku hidup begini tanpa hati, tanpa perasaan?" ucapku setengah berteriak, menahan rasa kesalku. "Kamu nggak mau aku disentuh orang lain, tapi kamu maunya bebas menyentuh orang lain." lanjutku, Dira masih menatapku lekat. "Siapa yang tak ingin bercerai dari kamu? Dari awal aku tahu hubunganmu dengan jal*ng itu, aku ingin bercerai dari kamu. Dan aku ingatkan kamu mas, kalau kamu lupa, aku bertahan sebagai istri kamu karena aku peduli dengan Pak Bima. Kamu yang memaksaku untuk menandatangani perjanjian bodoh itu." ucapku lantang walau sedikit gemetar, Dira masih diam. "Tapi tenang aja, aku akan berikan kamu anak kalau kamu sabar menungguku siap. Dan kamu harus tepati janjimu, kelak kalau aku ingin bertemu dengan anakku, jangan sampai kamu mempersulitku." lanjutku, aku kemudian memilih tidur di sofa, memunggungi Dira. "Aku nggak akan memisahkan anakku dari ibunya, kamu nggak perlu takut." ucap Dira lirih, aku hanya diam. "Apa kamu nggak bisa bertahan menjadi istriku? Anggap saja aku melakukan poligami. Toh kamu nggak hidup seatap dengan Dista." lanjut Dira, emosiku memuncak mendengarnya. Aku kembali duduk lalu menatap Dira, lekat. "Kenapa? Bukannya kamu cuma anggep aku lintah darat? Kamu nggak takut aku menghabiskan duitmu?" teriakku dengan nafas tersengal. "Pakai saja uangku, sesuai keinginanmu. Aku nggak peduli." sahut Dira tegas, aku menyeringai. "Apa kamu mulai menyukaiku? Kamu nggak mau aku pergi dari hidupmu?" tanyaku dengan suara bergetar. Dira hanya diam, tatapannya seakan menusukku. "Kenapa nggak jawab? Kamu suka sama aku mas?" teriakku lagi. "Kalau aku bilang iya, apa kamu mau berjanji kalau kamu nggak akan meminta cerai dari aku?" tanya Dira, aku mengerutkan kening tak percaya. "Jadi kamu benar menyukaiku?" tanyaku meminta penjelasan, "Cih, aku udah bilang kan sama kamu. Jangan halu. Aku cuma mau kamu bertahan jadi istriku demi orang tuaku. Kalau dengan aku bilang aku suka sama kamu, kamu mau bertahan menjadi istriku, aku akan mengucapkan kalimat itu sesering mungkin, kapanpun kamu minta." ucap Dira. Tanpa sadar air mataku melesak begitu saja, setiap ucapan Dira bagaikan silet tajam yang mengiris hatiku. Tak ada kesempatan bagiku untuk bahagia jika aku bertahan dengannya. Lihat saja, betapa kejamnya ia barusan, aku tak percaya ada manusia sejahat Dira. "Kamu manusia paling kejam yang pernah aku temui, mas." ucapku sambil menyeka air mataku. "Kenapa? Kamu berharap aku menyukai wanita lintah darat sepertimu? Kamu nggak cuma mau uangku, tapi juga hatiku? Jangan halu!" teriak Dira, aku menyeringai. "Baiklah, terserah apa katamu, sampai di sini dulu perdebatan kita. Aku mau tidur, dan berhentilah mengatakan aku lintah darat, sampai kamu bisa ngasih aku sertifikat kebunku yang Pak Bima bawa." ucapku yang kemudian memilih berbaring lagi di sofa. "Tidur di ranjang." perintah Dira dengan volume suara tinggi, aku kemudian meliriknya. "Aku udah bilang kan aku mau tidur, perdebatan kita berhenti sampai di sini. Jangan mengajakku berdebat lagi, terserah aku mau tidur di mana. Kalau kamu masih mengajakku berdebat, persiapkan ambulan untuk ayahmu malam ini." ancamku, aku kemudian memunggungi Dira. Setelah beberapa menit aku tak mendengar suara Dira, aku pikir ia sudah tidur. Aku berpura-pura mengalihkan posisi tidurku, kali ini aku menghadap ranjang. Betapa mengejutkan, ternyata Dira masih duduk di posisi tadi dan sedang menatapku lekat. Jantungku berdegub kencang, aku yang sedari tadi hanya pura-pura tidur langsung beradu tatap lagi dengan suamiku yang kejam itu. "Nggak nyaman kan? Tidur di sini aja." ucap Dira lirih,   namun aku tak mengindahkan ucapannya dan memilih memejamkan mataku lagi. Dira tiba-tiba mendekatiku lalu menggendongku bak pengantin baru. Aku mencoba menolak perlakuan Dira, namun Dira dengan sekuat tenaga menahanku agar aku tak lepas dari gendongannya. Dira merebahkan tubuhku di kasur, pelan. Padahal biasanya dia selalu kasar, kenapa tiba-tiba seperti ini? "Tidurlah di sini, aku yang akan tidur di sofa." ucapnya yang langsung menuju sofa, tanpa banyak kata-kata, Dira langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Aku akhirnya memilih menurutinya, kubiarkan Dira tidur di sofa. Biarkan saja manusia kejam itu merasakan betapa tak nyamannya tidur di sofa. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN