"Baiklah, kamu harus bayar Soni lebih, kalau perlu 3 kali lipat dari gaji yang kamu janjikan. Dia juga perlu menraktirku makan kalau kami jalan berdua." ucapku setengah berteriak.
Karena rasa cemburuku pada Dira, aku semakin ingin membuatnya mengakui kalau dia menyukaiku, walau aku tahu itu adalah hal yang mustahil.
Aku sadar kalau aku ini hanya wanita miskin, yang Dira anggap tak lebih dari lintah darat.
Dira menatapku tajam, "Makanlah." ucapnya dingin.
Aku tak menjawabnya, tak juga mengindahkan permintaannya untuk makan.
"Baiklah, aku akan beri gaji 3 kali lipat buat pacar kamu itu. Aku juga akan kasih kamu kartu kredit tanpa limit. Pakai aja duit itu buat senang-senang sama dia." ucap Dira, aku menyeringai.
"Makanlah, aku nggak mau kamu sakit. Merepotkan." ucap Dira ketus, aku akhirnya menuju sofa lalu memakan makanan yang Dira bawa.
"Apa kamu bener-bener menyukai Soni?" tanya Dira yang saat ini duduk di bibir ranjang.
Aku masih mengunyah makanan, tak menjawabnya, menatapnya pun tidak.
"Kalau kamu cuma mau bikin aku cemburu, kamu nggak perlu ngelakuin itu. Aku nggak akan cemburu, carilah pria yang benar-benar menyukaimu." ucap Dira yang terdengar tulus, aku meliriknya lalu menyeringai.
"Kamu pikir Soni menggodaku karena aku istrimu?" tanyaku, Dira hanya terdiam dan menatapku lekat.
"Kami sudah kenal lama, dia memang menyukaiku, bahkan sebelum dia tahu kalau aku ini istri kamu. Lihat saja room chatku dengannya, jangan terlalu percaya diri." sahutku kesal, Dira tampak mengetatkan dagunya, entah kenapa.
"Jangan berani kamu melakukannya dengan dia terlebih dahulu." ucap Dira yang terdengar seperti ancaman.
"Kamu saja melakukan dengan pacar kamu berulang kali, kenapa memang kalau aku sama Soni melakukannya?" ucapku kesal, aku bahkan sudah meletakkan sendokku, hilang sudah nafsu makanku.
Bodoh, kamu pikir aku wanita apa? Bahkan ciumanpun, hanya kamu yang pernah melakukannya denganku. Aku tak akan melakukan dosa besar itu hanya untuk membalas kejahatanmu.
Dira menatapku lekat, sedari tadi, kami memang lebih sering adu tatap dari pada adu mulut.
"Kamu nggak mau dapet bekas? Kamu sendiri udah bekas, mas." kataku tegas, Dira sepertinya mulai emosi mendengar kata-kataku yang memprovokasinya.
Dira berdiri lalu mendekatiku, sekali lagi, ia memegang daguku kuat.
"Sepertinya di sini ada yang lupa diri. Kamu nggak lebih dari lintah darat yang hanya menginginkan uang, jangan sok suci." ucapnya yang lalu melempar wajahku.
Aku terkekeh kecil, lihatlah, seperti itulah aku bagi Dira, mana mungkin Dira akan mencintaiku.
Sia-sia aku perjuangkan perasaanku yang hanya bertepuk sebelah tangan ini.
"Ah iya, lintah darat ini minta janji kamu. Mana? Kamu bilang kamu bakal ngasih aku sertifikat kebun yang ayah kasih buat aku?" aku menagih janji Dira, saat ini Dira masih berdiri di depanku.
"Kamu bener-bener nggak tahu malu ya?" ucap Dira yang sebenarnya melukai harga diriku, namun aku berpura-pura kuat di depannya.
"Aku cuma minta hakku, aku nggak butuh kartu kredit kamu, beri aku sertifikat itu." ucapku lantang,
"Aku udah bilang kan kalau sertifikat itu ada di tangan ayah. Aku juga udah beliin kamu kebun yang lebih banyak dari yang ayah beri ke kamu!" teriak Dira, namun aku seperti tak takut akan teriakannya.
Tiba-tiba, tok tok tok, terdengar suara ketukan pintu yang membuatku dan Dira seketika langsung menatap pintu kamar.
"Yah, sini." Dira menarikku ke kasur lalu membuka paksa jilbab dan bajuku.
Aku ingin menolaknya namun tak bisa menolaknya, entah apa yang ia rencanakan, aku tak tahu.
Dira membuatku telanjang d**a lalu menutupi tubuhku dengan selimut.
Tidak hanya sampai disitu, Dira membuka bajunya dan ikut bertelanjang d**a.
"Dira.. Kila..." panggil ibu dari luar pintu, membuatku ketakutan tanpa alasan.
Ah tidak, aku takut kalau ibu mertuaku melihat luka lebam di wajahku dan mendengar pertikaianku dengan Dira.
Yang ada Pak Bima akan tahu semua sandiwaraku dengan Dira yang akan memperburuk keadaannya.
"Iya bu, bentar." ucap Dira yang kemudian turun dari kasur.
Baru beberapa langkah berjalan, Dira kembali lagi lalu mengacak-acak rambutku, aku hanya pasrah padanya.
Dira kemudian berlari membukakan pintu untuk ibunya.
Sementara aku duduk di kasur dengan menutupi sebagian tubuhku dengan selimut, tentu saja dengan rambut acak-acakan.
"Ada apa bu?" ucap Dira yang terdengar gugup, aku tak menyangka kalau Dira yang sudah berusia 30 tahun itu akan bersikap ketakutan seperti itu.
"Kenapa Kila nggak makan malam bareng?" tanya ibu mertuaku, kepalanya tampak menengok ke arahku.
Dira yang sebelumnya hanya membuka sedikit saja pintu kamar kami, kali ini ia membukanya lebar-lebar.
"Ibu nggak mau punya cucu cepet-cepet? Ganggu aja." ucap Dira ketika ibu tampak kaget melihat penampilanku, aku hanya bisa menunduk.
"Maaf, ibu kira Kila sakit." ucap ibu yang tampak tersenyum malu.
"Udah sana pergi, jangan ganggu lagi. Atau ibu nggak akan gendong cucu dalam kurun waktu dekat." ucap Dira yang kemudian mendorong tubuh ibunya, lalu menutup pintu kamar dan menguncinya.
Aku bernafas lega karena akhirnya ibu percaya pada apa yang diucapkan Dira.
Tiba-tiba saja aku tersadar kalau Dira menatapku dengan tajam, membuatku merinding ketakutan.
Aku segera memungut pakaianku dan jilbabku yang dilempar Dira di bawah kasur.
Aku hendak masuk ke kamar mandi, namun tiba-tiba tangan Dira sudah menarik lenganku dan merebut pakaianku dari tanganku.
Dira melempar pakaianku lagi, membuatku melotot.
Mata Dira menatap ke arah dadaku, aku secara refleks langsung menyilangkan tanganku ke depan dadaku.
"Kamu mau kemana?" ucap Dira yang membuatku semakin merinding.
Dira maju selangkah, membuatku mundur selangkah, begitu terus sampai akhirnya kakiku terpentok pada ranjang.
Dira mendorong tubuhku lalu menindihku, lagi.
"Mas, kamu bilang bakal nunggu aku." ucapku terbata, Dira mengunci tanganku lagi.
Dira mendekatkan bibirnya ke bibirku, aku mengalihkan pandanganku sampai akhirnya bibir Dira meraba telingaku, membuatku semakin merinding.
Seperti ada yang mengalir aneh pada tubuhku, aku ingin menolak perlakuan Dira ini, namun sepertinya tubuhku menerima begitu saja.
Lidah Dira menyapu leherku, "Mas!!!" teriakku, Dira terkekeh kecil.
"Aku nggak akan biarin orang lain menyentuhmu, sebelum aku." ucap Dira yang kemudian mengul*m leherku.
"Nggak akan mas, aku nggak akan melakukan itu dengan Soni. Aku bahkan nggak pernah ciuman selain sama kamu, mana mungkin aku berani melakukan itu dengan pria lain?!" teriakku, berharap Dira melepaskanku.
Dira akhirnya melepas tanganku, namun kedua tangannya masih mengekangku di samping tubuhku.
Mata Dira menuju ke dadaku lagi, aku menutupinya dengan menyilangkan tanganku di d**a.
Dira tersenyum melihatku, lalu ia kembali lagi menarik dan mengunci kedua tanganku.
Kali ini bibir Dira sudah bermain di dadaku, tanpa sadar keluar desahan lembut dari mulutku.
Ketika aku menyadari aku terhanyut pada permainan Dira, sementara aku masih belum siap melakukannya, aku mencoba mengancam Dira.
"Kalau mas nggak berhenti sekarang, aku akan bilang sama ayah dan ibu, semuanya. Termasuk perbuatan Dista tadi yang udah mukuli aku." ancamku, Dira menghentikan aksinya lalu menatapku tajam.
Semoga saja kali ini aku berhasil lolos dari hal yang masih belum kupersiapkan ini, lagi.
Aku masih tak rela jika harus melakukan tugasku sebagai istri di saat Dira tak mencintaiku.
Bersambung...