Aku kemudian meninggalkan Dira begitu saja, masuk ke dalam rumah dengan sedikit berlari.
Ibu dan ayah mertuaku kebetulan tak ada di ruang tamu ataupun ruang keluarga.
Aku jadi lebih leluasa masuk ke kamar tanpa harus menjawab pertanyaan mereka.
Aku melemparkan tasku lalu duduk di bibir ranjang, mencoba mengatur nafasku yang sudah tak karuan.
Aku sadar, tak seharusnya aku marah pada suamiku, aku memang bukan siapa-siapa untuknya.
Aku menutup wajahku menggunakan kedua tanganku, malu mengingat kejadian di toko buku tadi.
Belum lagi pada Soni, aku tak enak hati karena aku, ia akhirnya ditampar Dira.
Tak lama kemudian Dira masuk ke kamar, namun aku mulai bisa mengatur rasa amarahku.
Aku tak perlu takut dengan reaksi Dira, apapun yang akan ia katakan.
Kalaupun Dira lebih membela Dista, aku akan sadar diri siapa aku untuknya.
"Kamu mau ke rumah sakit?" tanya Dira yang kemudian duduk tepat di sampingku, aku mengembuskan nafas panjang.
"Nggak perlu." jawabku singkat, lihatlah, aku bahkan tak menangis, mungkin hatiku terbuat dari batu.
Sesakit apapun yang aku rasakan saat ini, air mata tak ingin berteman denganku.
Dira menarik daguku, melihat wajahku dari dekat.
Wajahnya semakin dekat, semakin dekat, lalu Dira mengecup pipiku, pipiku yang lebam akibat ulah Dista.
Lagi, Dira mengecup di tempat yang sama, berulang kali. Lalu bibirnya turun, menyentuh bibirku lalu mengul*m lembut bibirku.
Apa ada yang lebih bodoh dariku saat ini? Pasrah dengan apa yang Dira lakukan, walaupun aku tahu dia hanya mencintai Dista.
Bodohnya aku hanya menerima begitu saja Dira menciumku, menikmati bibirku yang tak pernah disentuh siapa-siapa kecuali dia, Dira.
Tidak hanya tubuhku yang merespon baik, hatiku rasanya bertekuk lutut, ingin sekali aku dicintai pria di hadapanku ini.
"Jangan keluar kamar, aku akan bawa makan malam kesini nanti. Kamu mandi ya sekarang." ucap Dira setelah menghentikan aksinya menikmati bibirku.
Aku memandangnya lekat, aku semakin dalam terjatuh, iya, aku jatuh cinta padanya.
Semakin ia baik padaku, semakin aku menginginkannya.
Ingat Kila, Dira hanya mencintai Dista. Kalau kamu memaksa hadir di antara mereka, kamu akan terluka. Semakin dalam kamu mencintai Dira, semakin dalam kamu akan terluka nantinya.
Aku kemudian masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhku dan menenangkan pikiranku.
Aku mencoba menampik perasaanku pada Dira, namun semakin aku menolak mengakuinya, semakin aku memikirkannya.
"Kenapa kamu harus baik padaku? Harusnya kamu tetap jahat sama aku. Kalau aku jatuh cinta padamu seperti ini, aku harus apa?" ucapku sendiri di depan cermin di kamar mandi.
Aku masih berlama-lama di dalam kamar mandi, hanya duduk bersimpuh dan melamun.
Aku tak ingin menemui Dira sekarang, yang ada perasaanku untuknya semakin berkembang jika berlama-lama dengannya.
"Kila..." panggil Dira,
"Iya." jawabku pelan, aku dengan terpaksa keluar kamar mandi.
"Apa kamu tidur di sana?" ucap Dira, aku hanya diam dan tak menatapnya.
"Aku beliin obat untuk kamu, pakai tipis-tipis aja." ucap Dira yang kemudian masuk ke kamar mandi.
Mataku tertuju pada kasur, ada bungkusan plastik kecil berwarna putih.
Kubuka, ternyata berisi obat salep, segera kuoleskan ke luka-lukaku, semoga cepat menghilang luka lebam di wajahku ini, pikirku.
Aku mengganti plaster pada lukaku yang tergores tas Dista, aku berharap mertuaku tak melihat lukaku ini.
Apa yang akan aku bilang pada mereka, yang ada kondisi Pak Bima akan memburuk lagi kalau tahu anaknya masih berhubungan dengan istri orang.
Selesai mandi, Dira menghampiriku yang masih duduk di depan meja rias.
"Lain kali pergilah, kalau kamu ketemu sama dia lagi." ucap Dira pelan, sambil menggosokkan handuk pada rambutnya.
Aku hanya diam, jelas saja aku sedang menahan rasa sakit hatiku.
Aku yakin kalau Dira tak ingin aku membalas perbuatan pacarnya itu.
"Aku akan ambil makanan, kamu di sini aja." lanjut Dira sambil melempar handuk ke kasur.
"Aku nggak mau makan, mas. Tadi udah makan sama Soni." ucapku lirih, tentu saja aku berbohong.
Aku mengambil handuk yang barusan dilempar Dira lalu menyimpannya di keranjang baju kotor.
"Besok aku yang akan antar dan jemput kamu." ucap Dira, membuatku menolehnya dan menatapnya penuh tanya.
"Kenapa? Kan sekarang ada Soni." sahutku lantang, mungkinkah Dira memecat Soni, di hari pertamanya bekerja?
"Aku udah pecat dia." ucap Dira, aku melotot dibuatnya.
"Kenapa?" teriakku tak percaya, Dira hanya diam dan bahkan tak menatapku.
"Mas.." panggilku, Dira kemudian menoleh dan menatapku.
"Kenapa kamu mecat dia?" tanyaku sedikit gemetar, Dira masih tak mau menjawabku.
"Aku mau dia jadi sopir aku." ucapku, Dira mengalihkan pandangannya.
"Aku suka sama Soni." entah apa yang barusan aku katakan, jauh dari dalam lubuk hatiku, aku ingin Dira merasa cemburu padaku.
Namun aku tak sadar kalau aku menyeret Soni masuk dalam urusan rumah tanggaku yang dari awal sudah kacau balau ini.
Aku tak ingin Soni kena imbas dari kebohonganku ini, maafkan aku Soni.
Dira menatapku lekat, ia kemudian berjalan mendekatiku, tangannya mencengkeram daguku.
"Kamu berani suka sama sopir? Dia jaga kamu aja nggak becus, apa yang kamu sukai dari dia?" ucap Dira sambil mengetatkan dagunya.
"Karena dia menyukaiku." jawabku singkat, aku berharap Dira juga merasakan apa yang aku rasakan sekarang, cemburu.
Dira kemudian menarik tubuhku lalu mendorongku sampai terpental di atas kasur.
Dira menindihku, mengukungku dengan posesif, kedua tanganku dikunci, ia mendekatkan bibirnya, aku hanya diam dengan tatapan tajam.
Dira menciumiku dengan kasar, kali ini aku tak merespon, menolakpun tidak.
Dira yang menyadari tanggapanku seperti tak peduli padanya, menatapku dengan tajam.
"Untuk apa kamu marah mas? Bukannya aku tak berarti apa-apa bagimu? Bukannya kamu bilang kalau aku boleh bahagia dengan pria lain? Apa sekarang kamu mulai mencintaiku?" tanyaku lantang, Dira bangkit lalu berdiri dengan deru nafas tak beraturan.
"Jawab! Kamu punya perasaan kan mas, sama aku? Kalau iya, tinggalin Dista!" teriakku,
"Jangan halu kamu!" balas Dira dengan berteriak padaku, bagai silet tajam mengiris hatiku.
"Kalau begitu, biarin aku pacaran sama Soni. Bukankah kita impas?" ucapku dengan gemetar, Dira kemudian meninggalkanku begitu saja, keluar kamar.
Aku tak tahu apa arti sikap Dira padaku. Kenapa ia harus marah ketika aku bilang aku menyukai Soni? Kalau ia tak menyukai atau bahkan mencintaiku.
Aku sendiri tak akan mungkin pacaran dengan Soni. Masih lajang saja aku memilih tak pacaran, apalagi sekarang aku sudah menikah.
Aku tak perlu melakukan dosa untuk menyembuhkan luka di hatiku, biar Tuhan yang membalasnya.
Selesai sholat magrib, Dira masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi makanan, minuman dan camilan.
"Makanlah." ucap Dira sambil meletakkan nampan tersebut di meja di depan sofa.
"Hubungi Soni lagi, aku mau dia tetap jadi sopirku." ucapku, Dira tak mengindahkan kata-kataku.
"Kalau kamu mau pecat Soni, aku akan menganggap kalau kamu menyukaiku. Jadi sebagai gantinya, tinggalin Dista." lanjutku,
"Jangan mimpi, aku akan menyuruh Soni datang lagi besok. Kalau perlu aku akan membayarnya lebih karena udah mau jadi pacar kamu." sahut Dira.
Lagi, aku terluka oleh apa yang suamiku katakan. Aku sadar aku memang bukan siapa-siapa baginya.
Dilihat dari manapun, aku tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Dista.
Selain cantik, Dista juga kaya raya, tak seperti diriku yang hanya memiliki wajah pas-pasan dan dari keluarga miskin pula.
Bersambung...