Ah, aku baru ingat, belum lama ini Soni mengakui perasaannya padaku dan memintaku untuk menjadi pacarnya.
Apa mungkin Soni mencari tahu kehidupan pribadiku setelah kutolak waktu itu?
Apakah dia tahu kalau Dira tak mencintaiku?
Betapa malunya aku, aku menolak perasaannya hanya demi pria yang tak pernah menganggapku.
"Siapa yang memberitahumu kalau aku menikah karena perjodohan?" tanyaku tanpa basa-basi, Soni menolehku beberapa detik.
"Pak Ali, sopir Pak Dira, dia saudara saya mbak." ucap Soni sedikit terbata.
Aku langsung membelalakkan mata, mungkinkah Pak Ali juga menceritakan bagaimana Dira memperlakukanku selama ini?
"Apa saja yang kamu dengar dari dia?" tanyaku setengah berteriak.
"Enggak banyak mbak, cuma soal perjodohan aja kok." sahut Soni tegas, entah dia berbohong atau jujur, aku merasa sedikit lega mendengarnya.
"Kamu udah nggak marah sama aku? Soal pacarmu itu?" tanyaku setelah kami terdiam beberapa menit.
"Aku nggak marah mbak, cuma kasian aja sama mereka karena dikeluarin dari kampus. Tapi sekarang aku ngerti kok, suami mbak orang berkuasa, sepertinya Pak Dira yang melaporkan mereka. Lagian, mereka bukan pacar aku mbak." jawab Soni tegas.
"Iya, mas Dira yang minta mereka dikeluarin." sahutku lirih.
"Pak Dira pasti sangat mencintai mbak, lihat aja, mbak terluka dan dia tanpa ampun menghukum orang-orang yang udah melukai mbak Kila." ucap Soni, aku hanya menyeringai.
"Jadi kamu nggak tahu apa-apa, syukurlah." ucapku sangat lirih, aku senang kalau Soni tak tahu kehidupan apa yang aku jalani sekarang, memalukan.
"Apa mbak?" teriak Soni,
"Nggak apa-apa, nyetir yang bener." ucapku malas.
"Mbak, nanti kalau udah kelar kuliahnya, telepon aja ya." ucap Soni ketika kami sampai di kampus.
"Iya, kamu ada kuliah nggak?" tanyaku setelah menutup pintu mobil.
"Ada mbak, tapi nggak penuh kok hari ini." sahut Soni.
"Ya udah, aku masuk kelas dulu." ucapku yang langsung pergi meninggalkan Soni.
***
"Mbak mau langsung pulang?" tanya Soni ketika kami sudah di dalam mobil.
Kuliah hari ini tidak sampai sore, aku segera menelepon Soni setelah kuliahku selesai.
"Aku mau beli buku, kita ke toko buku di jalan Merpati ya." pintaku.
Sampailah kami di toko buku yang aku inginkan, Soni setia menunggu di luar toko.
Sementara aku masuk dan mencari buku yang aku perlukan untuk menggarap skripsiku di semester depan.
Ketika aku hendak membayar buku yang ingin aku beli, aku tak sengaja bertemu dengan Dista, pacar Dira.
Mataku membulat seketika, sementara ia malah menyeringai menatapku.
"Hai..." ucapnya seperti mengejekku, aku hanya diam dan pura-pura tak mendengarnya ataupun melihatnya.
Namun jujur saja, aku ingin sekali menatap wanita yang sudah mencuri hati suamiku ini dengan seksama.
Aku ingin tahu, apa yang ia miliki sampai Dira cinta mati walaupun dia sudah ada yang memiliki.
"Nggak kuliah?" tanyanya lagi, aku kemudian memberanikan diri memandangi wajah Dista, yang ternyata memang sangat cantik.
Tak hanya wajah, tubuhnya juga sangat bagus. Bagian dadanya menyembul ke atas dan bagian belakangnya juga besar, sangat seksi.
Pria mana yang tak ingin memiliki wanita cantik seperti dia.
Tunggu, mungkinkah Dira bukanlah satu-satunya pria yang menjadi selingkuhannya?
Sungguh aku ingin menangis sekarang, mengetahui kalau aku mulai menyukai pria yang sudah berulang kali berbagi keringat dengan wanita di depanku ini.
"Bukan urusan kamu." jawabku ketus, aku kemudian meninggalkan Dista.
Dista mengikutiku, sampai di depan toko, Dista menarik tanganku.
"Heh, dasar lintah darat, nggak tahu malu. Aku tahu kamu menikah sama Dira cuma karena uang kan? Kamu minta uang berapa? Nanti aku kasih, tapi setelah itu pergi kamu dari kehidupan Dira. Kamu nggak pantas buat dia!" teriak Dista di depan banyak orang, membuatku menelan rasa malu yang teramat dalam.
Aku mencoba menghindarinya, Soni yang melihatku langsung menghampiriku.
"Heh, jangan kabur, dasar nggak tahu malu. Berapa kamu jual tubuh kamu sama Dira? Bilang! Aku akan kasih kamu!" teriak Dista lagi, kali ini semakin banyak orang yang melihatku dan sepertinya percaya begitu saja dengan ucapan Dista.
"Tolong jangan asal bicara." sahut Soni, aku segera memegang pergelangan tangan Soni guna menghentikannya.
Aku tidak ingin Soni terlibat dalam urusan rumah tanggaku yang memalukan ini.
"Ayo pulang." ajakku ke Soni, namun Dista menarik tanganku dan kali ini bahkan ia menahanku.
"Kamu malu? Malu karena udah jual diri demi uang? Kalau mau uang, kerja, bukannya godain laki orang!" teriak Dista lagi, kali ini aku sudah tidak dapat menahan emosiku lagi.
"Yah, kamu itu yang nggak tahu diri! Kamu udah menikah, udah jadi istri orang, masih aja godain suami aku. Kamu yang seharusnya malu? Atau mungkin urat malu kamu udah putus?!" teriakku yang sudah tak peduli dilihat banyak orang karena Dista yang memancing amarahku.
Dista kemudian menamparku, plak, sangat keras.
"Apa kamu bangga udah berzina dengan suami orang? Kamu mau aku kasih tahu suami kamu?!" teriakku lagi, aku bahkan tak peduli Dista telah menamparku.
Dista mungkin marah karena ucapanku, kali ini dia memukulku menggunakan tasnya.
Tidak hanya sekali, Dista bahkan memukul wajahku berkali-kali.
Soni dengan sigap menghentikan aksi Dista, setelah itu Dista pergi begitu saja.
"Mbak nggak kenapa-napa?" teriak Soni, aku masih menutupi wajahku, pelan-pelan aku membuka tanganku.
"Ya ampun mbak, berdarah, ayo kita masuk ke mobil." ucap Soni yang kemudian menggandengku masuk ke dalam mobil.
Aku hanya diam ketika Soni mengobati luka di wajahku, di dalam mobil.
"Mau ke rumah sakit mbak?" tanyanya sambil menempel plaster di pipiku.
"Enggak perlu." jawabku pelan,
"Emang nggak sakit?" tanya Soni yang menatapku lekat.
"Sakit, ayo pulang." pintaku ke Soni, ia mendekatkan wajahnya lalu meniupi lukaku, membuatku hatiku tersentuh.
Aku yang terdiam beberapa saat lalu mengalihkan pandanganku, aku tak mau memberi harapan pada Soni ataupun berharap padanya.
"Kenapa kamu diam aja?" tanyaku ketika Soni sudah melajukan mobilnya.
"Aku harus bagaimana memangnya mbak?" tanyanya lirih,
"Kamu nggak mau tanya wanita itu siapa?" tanyaku pelan, aku malu pada Soni.
"Aku udah denger semua mbak." jawabnya pelan,
"Denger apa?" tanyaku lagi.
"Ya denger kalau dia punya hubungan sama Pak Dira." ucapnya,
"Sekarang kamu tahu kan bagaimana kehidupan aku, mas Dira nggak cinta sama aku. Kami menikah hanya karena dijodohkan." ucapku lirih.
"Kalau sakit, mundurlah. Jangan menyakiti diri sendiri." ucap Soni yang terdengar seperti marah kepadaku.
Walaupun luka yang Dista beri untukku ini sakit, aku bahkan tak menangis.
Entahlah, mungkin aku sudah terbiasa menghadapi kehidupanku yang menyakitkan ini.
Akhirnya kami sampai di rumah, aku membulatkan mataku ketika melihat Dira juga baru turun dari mobil.
Ketika aku turun dari mobil, Dira menatapku tajam.
Ia kemudian berjalan ke arahku dengan tergesa.
"Kamu kenapa?" tanya Dira yang kemudian menyentuh pipiku, aku menepis tangannya kesal. Wajahku memang terdapat beberapa luka lebam karena dipukuli tas oleh Dista dengan keras.
Dira kemudian menghampiri Soni yang berjalan mendekati kami, tiba-tiba plak!
Dira menampar Soni, sangat keras, aku terkejut dengan sikap Dira.
"Aku udah bilang jangan sampai istriku terluka, seujung kukupun!" teriak Dira, Soni menunduk.
"Maaf Pak." sahut Soni tegas, sementara ini bukanlah kesalahannya.
"Mas, kamu apaan sih? Kenapa harus nampar dia?" ucapku kesal.
"Kenapa istriku bisa seperti itu?" teriak Dira pada Soni.
"Kamu mau tahu siapa yang buat aku begini? Pacar kamu, Dista. Puas?!" teriakku lantang.
Dira menatapku dengan deru nafas yang sangat cepat, begitu pula aku, menatapnya tajam.
Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan ketika tahu bahwa wanitanyalah yang membuatnya marah seperti ini, walau aku tak tahu kenapa dia marah.
Bersambung...