"Bukannya kamu pernah bilang padaku kalau aku boleh pacaran seperti yang kamu lakukan, mas?" tanyaku pelan, Dira masih tak menjawabku dan deru nafasnya terdengar sangat cepat.
"Kenapa diam? Apa sekarang kamu mau mengaku kalau kamu mulai menyukaiku? Kamu mau melarangku memiliki hubungan dengan pria lain? Karena cemburu bukan?" lanjutku, Dira masih menatapku lekat, tak berkedip.
Setelah itu Dira mengalihkan pandangannya, kali ini ia berbaring dan menatap langit-langit kamar.
"Siapa yang cemburu? Kalau kamu mau punya pacar, silakan." ucap Dira yang kemudian memunggungiku.
"Udah malem, tidurlah. Jangan salahin aku kalau sampai adikku bangun lagi." ucap Dira yang membuatku merinding.
Sikap Dira sebelumnya membuatku merasa dia mulai menyukaiku.
Itu sebabnya aku bertanya apakah ia cemburu bila aku memiliki hubungan dengan pria lain.
Namun hal itu tak kan terjadi, jangankan berselingkuh, pacaran saja aku tak pernah.
Aku tak akan membuat dosa yang tak perlu aku lakukan hanya untuk membalas rasa sakit hatiku pada suamiku.
Biarlah rasa sakitku ini kutukar dengan pahala, atau mungkin karma.
Iya, karma mungkin akan menghampiri pasangan kumpul kebo yang memberikan luka pada banyak orang ini.
Malam ini aku memilih menutup hariku dengan berbagai macam pertanyaan yang masih bersarang di kepalaku.
Tentu saja pertanyaan mengenai Dira, apa yang sebenarnya ia rasakan padaku.
Benarkan Dira hanya menganggapku istri yang bisa ia sentuh kapan saja tanpa adanya cinta?
***
"Tolong siapkan pakaianku." ucap Dira sebelum ia masuk ke kamar mandi.
Beberapa hari ini aku memang tak lagi melayani Dira seperti ketika aku baru menjadi istrinya.
Setelah menelan rasa pahit berkali-kali, membuatku menjadi istri yang lebih berani.
Walau aku tahu aku melakukan kesalahan, namun aku masih memilih melawan Dira karena dikuasai rasa amarahku.
Ucapan Dira pagi ini terdengar merdu didengar, tak seperti biasanya dia yang selalu membentakku.
Aku kemudian mengambilkan pakaian Dira di ruang pakaian dan meletakkannya di kasur.
Ketika Dira keluar kamar mandi, aku segera masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi, kulihat Dira masih duduk di bibir kasur dan bertelanjang d**a.
"Nunggu apa? Kenapa nggak dipakai bajunya? Nggak suka? Mau yang apa?" tanyaku ketika melihat kemeja yang aku bawakan masih utuh di kasur.
"Pakaiin." ucap Dira pelan, aku mengernyitkan dahi.
"Kenapa tiba-tiba baik? Ternyata kamu bisa ngomong baik-baik, mas. Nggak pakai teriak-teriak, aku juga denger kan?" ucapku pelan, Dira menyeringai.
Aku kemudian membantu Dira memakai kemejanya.
"Kamu selama ini sengaja jahat sama aku?" tanyaku pelan sambil memakaikan dasi di leher Dira.
"Hm.." sahutnya malas,
"Kenapa?" tanyaku penasaran, Dira hanya diam dan tak menatapku.
"Kamu takut jatuh cinta sama aku?" tanyaku memancing Dira, ia masih diam membisu.
"Terus kenapa tiba-tiba kamu baik sama aku begini?" lanjutku,
"Supaya hubungan kita membaik dan kamu mau memberiku anak." jawab Dira tegas, aku menyeringai.
"Baiklah, aku akan memberimu anak. Tapi tunggu aku siap, jangan memaksaku." ucapku lirih, aku selesai memakaikan dasi.
"Apa kamu bener-bener nggak ada perasaan untukku?" tanyaku lagi, Dira hanya melirikku yang kini membantunya memakai jas.
Aku kemudian menarik jas Dira agar ia menunduk, aku kemudian mengecup bibirnya kilat.
Entah kenapa aku merasa ada yang berbeda di hatiku saat ini, untuk Dira.
Mungkin aku mulai menyukainya dan berharap ia akan mencintaiku dan meninggalkan Dista.
Dira masih menatapku lekat, aku yang malu kemudian berniat pergi.
Baru selangkah aku pergi, Dira menarikku lalu mencium bibirku, lembut.
Kali ini ciuman Dira terasa nikmat, berbeda saat ia menciumku di mobil waktu itu.
Aku membalas setiap gerakan bibir Dira, lidahnya mulai menerobos dan melesak ke mulutku.
Aku hanya diam, pasrah dengan apa yang Dira lakukan. Hati dan tubuhku mengakui kalau aku menyukai apa yang Dira lakukan saat ini.
Namun tiba-tiba Dira melepas ciumannya, lalu pergi keluar kamar begitu saja.
Aku yang merasa dicampakan olehnya, sadar diri kalau sekarang aku menjalani cinta bertepuk sebelah tangan.
Aku sadar kalau aku saat ini mulai menyukai suamiku yang menikahiku karena terpaksa.
Aku kemudian merias diri senatural mungkin, lalu turun ke bawah untuk ikut bergabung sarapan dengan suami dan mertuaku.
"Mulai hari ini kamu ke kampus naik mobil yang aku belikan, aku udah cari sopir untukmu." ucap Dira di sela sarapannya.
"Iya mas." sahutku santai, aku tak berniat melawan Dira karena perasaan sukaku padanya.
"Kalian bilang mau berbulan madu, kapan?" tanya ayah mertuaku tiba-tiba, aku melotot dibuatnya.
"Sebentar lagi, yah. Kila baru selesai haid, setelah ini kami akan pergi berbulan madu." jawab Dira tegas, ia masih fokus pada sarapannya.
"Ya sudah, katakan apapun yang kalian butuhkan." ucap ayah mertuaku sambil melebarkan senyumnya.
Selesai sarapan, aku pamit pada mertuaku untuk berangkat kuliah.
Sesampainya di halaman rumah depan, mataku melotot melihat pria yang tak asing bagiku, Soni.
Kenapa Soni bisa ada di sini? pikirku, namun aku memasang wajah datar seolah aku tak mengenal Soni.
Soni mengangguk pada Dira yang sedari tadi berjalan di sampingku.
"Hati-hati, aku akan langsung memecatmu kalau kamu sampai membuat istriku terluka, walau seujung kukupun." ucap Dira pada Soni, menyentuh hatiku, lagi.
Lagi-lagi sikap Dira membuatku bimbang, ah tidak, kali ini aku yakin aku menyukainya.
"Baik Pak." sahut Soni tegas, aku masih diam.
"Aku berangkat dulu." ucap Dira yang kemudian menyodorkan tangannya, aku menyambutnya lalu menyaliminya.
Setelah itu kulihat Dira pergi bersama sopir pribadinya.
"Sejak kapan kamu kerja jadi sopir?" tanyaku sinis pada Soni, ia hanya menyeringai lalu membuka pintu mobil untukku.
Aku masuk, Soni menyusul lalu melajukan mobilnya menuju kampus.
"Aku iseng aja nyari kerja sampingan yang mudah. Eh nggak tahunya aku jadi sopir wanita cantik, satu kampus lagi. Enak kan, jadi aku bisa kerja sambil kuliah." ujar Soni, aku mengernyitkan dahiku.
"Jangan berani-berani merayuku, kamu nggak takut sama suamiku?" kataku meledek, Soni tersenyum.
"Aku kemarin-kemarin penasaran seperti apa suami yang udah berhasil membuat mbak berhenti kerja di restoran. Ternyata mbak nikahnya sama konglomerat, pantes aja. Mobilnya bagus, rumahnya megah, pasti mbak bahagia." ujar Soni.
"Kalau kamu iri, menikahlah dengan wanita kaya. Tapi pilih juga yang cantik dan muda, jangan hanya kaya." lanjutku meledek Soni, ia tertawa mendengarku.
"Aku sukanya sama mbak." ucap Soni yang membuat suasana menjadi canggung.
"Bercanda mbak, aku nggak mungkin jadi pebinor. Tahu diri juga aku mbak, aku nggak ada apa-apanya kalau dibandingin suami mbak." lanjut Soni yang melihatku terdiam dan membisu setelah pengakuannya.
Sebenarnya ada sedikit rasa senang ketika mendengar Soni mengatakan kalau ia menyukaiku.
Tandanya aku tak jelek-jelek amat sehingga masih ada kesempatan bagiku untuk disukai oleh Dira, suamiku.
"Jangan menggodaku, aku bisa aja tergoda dan kamu akan mendapat masalah karenanya." ucapku lirih, sambil kutatap Soni dari belakang.
"Apa mbak bahagia, menikah dengan pria yang dijodohkan orang tua mbak?" tanya Soni, aku melotot karena tak percaya bahwa Soni tahu kalau aku menikah karena dijodohkan.
Dari mana Soni tahu? Betapa malunya aku kalau berita ini sampai menyebar. Kebenaran kalau aku menikah demi uang, pasti akan membuatku malu.
Siapa yang sudah memberi tahu Soni?
Bersambung...