Aku bingung

1009 Kata
Aku masih mencoba menolak perlakuan Dira, suamiku. Walau ia masih menjadi suami sahku yang berhak atas semua tubuhku, aku tak rela melakukannya dengannya. Aku pernah sakit hati ketika melihat suamiku bersetubuh dengan wanita lain. Kemudian aku mencoba memaafkannya dan mempertahankan pernikahan kami. Nyatanya suamiku, Dira, masih saja memiliki hubungan dengan wanita itu. Bahkan sekarang secara terang-terangan ia hanya menginginkan anak dariku dan ingin menceraikanku jika aku sudah memberinya anak nanti. Saat ini Dira juga sudah tak mengenakan sehelai benang pun. "Mas, ampun, aku mohon jangan." ucapku, aku menangis dan memohon agar Dira tak merebut keperawananku malam ini. Namun sepertinya Dira sudah sangat emosi, mulutnya sudah membungkam mulutku yang mulai menangis meronta-ronta. Lama, Dira menikmati bibirku, melum*tnya dengan kasar. Aku masih mencoba memberontak, ruangan kamarku hanya terisi suara eranganku akibat ulah Dira. Setelah bibir, Dira menuju leherku, aku memanfaatkan kesempatan ini untuk berbicara dengan Dira. "Mas, ampun, tolong jangan sekarang. Kalau mas mau nunggu aku sampai aku siap, aku janji akan memberimu anak. Tapi tolong jangan paksa aku, tolong mas." ucapku di sela isak tangisku. Dira tak menghiraukanku dan masih menjil*ti leherku. Aku merasa sedikit sakit ketika Dira menciumi leherku. "Kalau mas nekat melakukannya sekarang, aku akan bilang ke ayah kalau mas masih punya hubungan dengan pacar mas itu." lanjutku, karena permohonanku ditolak, aku mencoba mengancam Dira kali ini. Berhasil, Dira akhirnya menghentikan aksinya lalu menatapku tajam. Walau tampak marah, setidaknya Dira menghentikan aksinya yang membuatku ketakutan setengah mati. "Kamu masih berani mengancamku?" ucap Dira yang terdengar menakutkan. Aku menatapnya dengan air mata yang terus keluar, meski pelan namun pasti.  "Tolong jangan lakuin ini sekarang, aku belum siap. Aku janji akan memberimu anak, aku akan berhenti meminum pil KB. Tapi tolong tunggu aku siap." ucapku merayu, isak tangisku mengisi ruang kamar kami. Dira akhirnya duduk di ranjang, tentu saja dengan deru nafas yang tak teratur. Mungkin Dira sudah bernafsu ingin menikmati tubuhku, namun tak jadi setelah melihatku menangis. Aku segera berlari menuju ruang pakaian dan memakai pakaianku, lengkap beserta jilbab. "Lepas jilbabmu!" teriak Dira ketika melihatku keluar dari ruang pakaian. "Kalau kamu berani memancing emosiku lagi, aku akan memaksamu melayaniku di ranjang. Bagaimanapun, kamu istriku dan aku berhak atas tubuhmu!" teriak Dira, aku yang sedari tadi hanya diam dengan terpaksa melepas jilbabku dan membiarkan rambutku tergerai indah. "Tidur di ranjang." lanjut Dira, kali ini ucapannya lebih nyaman didengar. Aku menurut saja dari pada harus melihatnya marah, aku sangat takut mas Dira benar-benar meminta haknya malam ini. Aku membaringkan tubuhku di ranjang, kulihat Dira sudah mengenakan pakaiannya lagi. "Geser sini." ucap Dira, ia memintaku tidur dekat dengannya. Aku masih terdiam, ragu bercampur takut. "Kamu mau buat aku emosi lagi?" tanya Dira setengah berteriak, akhirnya aku mendekat ke Dira. Untuk apa kamu memintaku mendekatimu? Bukannya kamu bilang kalau cuma Dista yang ada di hatimu. Dengan sikap Dira yang seperti ini sebenarnya membuatku bertanya-tanya. Untuk apa dia memintaku tidur di sampingnya? Mungkinkah Dira mulai menyukaiku? Atau hanya ingin menguasai tubuhku. Setelah aku berbaring tepat di samping Dira, ia kemudian menindih kedua kakiku dengan kaki kanannya. "Pijitin." ucap Dira pelan, aku akhirnya duduk dengan terpaksa. Setelah itu pelan-pelan aku memijat kaki Dira, kulihat ia mulai memejamkan mata. "Lebih keras! Apa kamu perlu aku kasih makan lagi agar bisa memijitku dengan keras?" teriak Dira, aku kemudian menambah kekuatanku demi memijit Dira. Tak lama kemudian aku mendengar deru nafas Dira yang terdengar teratur, aku yakin Dira pasti sudah tertidur. Aku mengangkat kaki kanan Dira, mencoba menurunkannya dari atas kakiku. "Kamu mau aku marah lagi?" ucap Dira pelan, aku tersentak lalu membiarkan kaki Dira menindih kakiku. Aku kemudian merebahkan tubuhku, pelan. Setelah beberapa menit, aku yang merasa Dira sudah tidur terlelap mencoba menurunkan kakinya lagi. "Kamu bener-bener mau aku marah?" ucap Dira, kali ini matanya terbuka lebar dan menatapku tajam. "Maaf, kakiku pegel." kilahku, "Kamu mau aku tindih pakai kakiku atau tubuhku?" ucap Dira yang membuat detak jantungku semakin kencang. "Tapi kakimu berat, kakiku bener-bener pegel." ucapku mencoba bersikap manja. Dira akhirnya mengangkat kakinya, namun setelah itu tangannya melingkari perutku. Aku membelalakkan mata tak percaya, ingin menolak tapi takut Dira akan marah lagi. Dira kemudian memelukku, aku memalingkah wajahku. Dira mendekatkan wajahnya ke leherku, aku dapat merasakan embusan nafasnya. Sedikit risi dan aneh, namun aku tak berani mengucapkan apapun. Setelah beberapa saat, aku dapat merasakan embusan nafas Dira sudah teratur. Dira pasti sudah tertidur dan aku masih tegang dan tak kunjung bisa memejamkan mata. Walaupun rasanya pegal, aku tak berani menggerakkan tubuhku karena takut Dira akan terbangun. Namun karena tak kunjung tertidur dan badanku semakin pegal, aku akhirnya memberanikan diri merubah posisiku. Yang awalnya kepalaku membelakangi Dira, kali ini aku menghadapnya. Aku dapat melihat wajah pria yang sudah menjadi suamiku ini dengan seksama. Alisnya yang tebal dan tegas menjadi salah satu hal yang paling aku sukai dari wajahnya. Selain itu, bentuk bibirnya yang tebal dan seksi juga membuatnya semakin tampan. Dari awal aku melihat Dira, aku memang mengakui kalau Dira adalah pria tampan. Bahkan ketampanannya membuatnya tampak lebih muda dari usia seharusnya. Ketika aku masih lekat menatap bibirnya, Dira tiba-tiba membuka matanya lalu mengerjapkan matanya beberapa kali. Setelah itu Dira menatapku, aku yang ketahuan menatapnya bingung tak karuan, akhirnya aku memejamkan mataku buru-buru. "Awalnya aku sangat membencimu karena aku menganggapmu seperti lintah darat." ucap Dira, aku masih memejamkan mata. "Namun semakin ke sini, aku sadar kalau aku memberimu banyak luka. Aku sungguh tak ingin menyakitimu lebih jauh. Itu sebbanya aku ingin segera kamu hamil, setelah kamu melahirkan, silakan cari pria yang benar-benar mencintaimu." lanjut Dira, aku akhirnya membuka mataku dan membalas tatapan Dira. "Kenapa kamu harus memelukku kalau aku tak berarti apapun untukmu?" tanyaku pelan. "Jangankan memelukmu, menikmati semua bagian tubuhmu, aku berhak." jawab Dira pelan. "Tapi untuk apa? Kenapa kamu harus memperlakukanku begini? Kamu tiba-tiba jahat lalu tiba-tiba baik." tanyaku yang masih bingung dengan sikap Dira. "Aku laki-laki normal, aku ingin memeluk dan menikmati tubuhmu, walau aku tak punya perasaan untukmu." ucap Dira. Ucapan Dira barusan membuatku merasa sesak di d**a. Jadi alasan Dira memelukku hanya untuk memenuhi hasratnya semata, bukan karena ada sedikit perasaan untukku. "Jadi maksud mas, mas melakukan itu bukan hanya dengan pacar mas? Tetapi juga dengan wanita lain?" tanyaku lantang. "Selama ini aku hanya melakukan itu dengan Dista. Tapi kamu sekarang istri sahku, aku berhak atas tubuhmu." jawab Dira. "Kalau aku melakukan dengan pria lain, apa kamu tak masalah, mas?" tanyaku pelan, aku dan Dira adu tatap, cukup lama. Dira tak kunjung menjawabku, namun embusan nafasnya terasa lebih cepat. Kalau Dira tak memiliki perasaan apapun padaku, tak seharusnya ia marah. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN