Berbohong soal pil KB

1009 Kata
Aku seperti manusia tak punya iman, ingin sekali rasanya aku bertanya pada Tuhan apa salahku. Aku merasa tak pernah menyakiti perasaan orang lain, tapi kenapa kehidupanku terasa begitu menyakitkan. Aku tak masalah hidup kekurangan, aku tak pernah mengeluh. Namun ketika harga diriku diinjak-injak seperti ini oleh suamiku sendiri yang memang tak mencintaiku, rasanya aku ingin lari. "Kalau sikap mas Dira ke aku masih seperti ini, aku akan mengadukan ke ayah kalau mas Dira masih berhubungan dengan jal*ng itu." ucapku pelan, namun penuh dengan ancaman. Dira tampak semakin marah, tangannya sudah ditarik ke atas, hendak mengayun menghampiri pipiku. Aku hanya diam, menatapnya dengan air mata yang mengalir pelan namun pasti. "Pukul aku, tampar aku, lalu siapkan pemakaman untuk ayahmu." ucapku yang sudah dikuasai api amarah, sungguh aku tak bermaksud mengharapkan kematian Pak Bima. Aku hanya ingin memberi pelajaran untuk suamiku yang kejam ini. Dira menggenggam tangannya erat lalu pergi meninggalkanku begitu saja, menuju kamar mandi. Ketika makan malam, aku memasang wajah ceria, sudah seperti aktris papan atas saja diriku ini. Aku pandai menyembunyikan lukaku akibat ulah suamiku, di depan mertuaku yang sangat baik padaku. "Gimana, Kila suka sama sofanya?" tanya ibu mertuaku dengan suaranya yang terdengar nyaring di telinga. "Suka bu, terima kasih ya." ucapku dengan senyum ceria di wajahku. Dira menatapku lekat, aku tak mempedulikannya sama sekali. Sampai selesai makan malam, aku masih memasang ekspresi ceria demi menjaga perasaan kedua mertuaku. Selesai makan malam, aku tak langsung masuk kamar dan memilih mengobrol dengan mertuaku, sampai larut malam. Dira sendiri sudah di kamar, entah apa yang dia lakukan, mungkin sedang teleponan dengan pacarnya itu. Yang pasti hanya Dista yang ada di pikiran dan hatinya, aku hanya istri yang tak dianggap. Ah tidak, aku hanya wanita yang ingin dia pinjam rahimnya demi memiliki keturunan. "Kila, udah malem, ayo tidur, besok lagi ngobrolnya." ucap ibu mertuaku, aku akhirnya dengan terpaksa masuk ke kamar. Tak lupa aku mengunci pintu, kulihat Dira duduk bersandar di ranjang, menatapku tajam. Aku tak peduli, aku memilih menjalankan tugasku sebagai muslim sendiri. Dira masih melihatku dengan tatapan dinginnya, tanpa berucap, sampai aku selesai sholat. "Percuma saja kamu sholat kalau kamu nggak mau melayani suami kamu di ranjang." ucap Dira yang melihatku berbaring di sofa. "Nggak ada yang namanya ibadah itu percuma, kita nggak tahu ibadah kita yang mana yang akan membawa kita masuk ke surga." jawabku santai, Dira menyeringai. Aku kemudian menghadap dinding sofa lalu memejamkan mataku, mencoba tidur. Namun aku tak kunjung tertidur, aku kemudian membuka ponsel dan berselancar di media sosialku. Aku mencoba membalik badanku, tanpa sengaja aku saling tatap dengan Dira. Aku tak menyangka ternyata dari tadi Dira belum tidur dan masih lekat menatapku. "Kenapa?" tanyaku pelan, risi rasanya ditatap seperti itu sedari tadi. "Kalau nggak nyaman, tidurlah di sini." ucap Dira dengan nada datar. "Aku cuma belum terbiasa aja, aku bahkan pernah tidur di lantai. Tidur di sofa jauh lebih baik." ucapku menyindir Dira, dia masih memasang wajah datar tanpa ekspresi. "Bukannya kamu udah tanda tangan di perjanjian kita kalau kamu akan memberiku anak." ucapnya datar, aku menatapnya lekat tanpa menjawabnya. "Entah sekarang atau besok, kamu tetap akan melayaniku di ranjang." lanjut Dira. "Kamu yang maksa aku buat tanda tangan, jujur saja, aku masih nggak mau memberimu anak, mas. Sekalipun aku hamil dan melahirkan anak, aku nggak akan rela kalau aku harus pisah dengan anakku." ucapku pelan. "Aku nggak akan melarangmu ketemu dengan anak kita. Aku cuma minta anak dari kamu, terus aku kasih kebebasan buat kamu untuk nyari suami yang baik buat kamu. Sampai kapanpun aku akan mencintai Dista, aku nggak akan bisa jadi suami yang baik buat kamu." ucap Dira yang bagaikan silet tajam, menyayat hatiku tak tersisa. Tanpa terasa air mataku terjatuh, apa mungkin aku mulai merasa cemburu? Entahlah. "Tolong beri aku waktu, jangan paksa aku untuk melayanimu di ranjang." ucapku pelan. "Aku nggak bisa, aku akan memintamu melayaniku di ranjang setelah haidmu itu selesai. Bukankah semakin cepat kamu hamil, semakin cepat pula kamu bisa lepas dari kehidupanmu di sini? Aku tahu kamu tersiksa menikah denganku, maka lebih cepat kamu hamil, akan lebih baik bukan?" sahut Dira tegas. "Aku udah minum pil KB, jadi percuma juga mas ngelakuin semau mas. Aku nggak akan hamil seperti apa mau mas." sahutku berbohong, aku sendiri tak tahu cara meminum pil KB. Dira tampak terkejut, ia membenarkan posisi duduknya. Jantungku berdegub kencang, takut kalau Dira akan main tangan denganku lagi. Walaupun baru sekali, namun tamparan Dira wakti itu masih membekas di hatiku, sakitnya masih terasa. "Kamu berani minum pil tanpa izinku?" ucap Dira yang terdengar gemetar, aku membisu, tak tahu harus menjawab apa. Aku hanya berbohong kalau aku meminum pil KB. Kalau Dira tahu aku bohong, dia pasti akan menertawakanku. Namun kalau aku diam seperti ini, sepertinya aku harus siap-siap dipukul Dira lagi. Dira beranjak dari kasur, ia menghampiriku lalu menarik tanganku. Aku yang sudah ketakutan hanya pasrah dan mengikuti Dira, ia membawaku ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, Dira menyalakan shower dan menyiramkan air ke tubuhku. Tubuhku yang masih memakai pakaian, lengkap dengan jilbabku, semuanya basah. Aku hanya berdiri dan menunduk menerima siraman air dari Dira. Kubiarkan saja apa maunya suamiku ini, asalkan ia tak memintaku melayaninya di ranjang. Dingin, aku sudah menggigil karena tengah malam harus diguyur air oleh suamiku sendiri, cukup lama. Aku masih diam, menatap raut wajah Dira yang tampaknya sudah dikuasi emosi. Dira masih terus menyirami tubuhku, tanpa ampun. Dira melempar shower sekuat tenaga, aku tersentak kaget. Dira kemudian melepas semua pakaianku, aku mencoba menolak namun Dira memaksa dan bahkan merobeknya. Aku sudah telanjang, tak mengenakan sehelai pun benang di tubuhku. Antara menggigil kedinginan dan takut, tubuhku rasanya gemetar tak karuan. Dira menggendongku lalu, menuju ke ranjang. Ah, apa yang akan Dira lakukan padaku setelah membuatku telanjang dan menggigil kedinginan seperti ini. Jangan bilang kalau ia akan memaksaku melayaninya di ranjang. Percuma saja aku berbohong soal pil KB, malah aku yang merugi sekarang. Yang ada aku bisa hamil kalau Dira melakukannya malam ini, sementara haidku sudah selesai tadi sore. Dira melempar tubuhku ke ranjang, kali ini aku sudah berbaring di ranjang. Aku ingin bangun, Dira mendorong tubuhku lalu duduk di atas tubuhku. Sungguh aku sangat malu ketika Dira memindai tubuhku dengan kedua matanya. Mungkin tubuhku tak sebagus tubuh pacarnya, Dista. Dira sudah terbiasa melakukan hal ini dengan pacarnya, Dista. Sementara aku menjaga hal ini seumur hidupku, ini yang pertama untukku. Dira mulai melepas pakaiannya, mulai dari kaos polos berwarna putih, lalu Dira mulai melepas kancing celana pendeknya. Aku masih mencoba menolak perlakuan Dira, mencoba mendorong tubuhnya sekuat tenagaku. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN