Ayah Angkat?

1115 Kata
Malam Hari ... “Hah? Ayah angkat ... aku sudah punya ayah!” “Iya aku tahu, tapi ayah angkatmu akan memberimu banyak uang.” “Eh, tunggu dulu ... Kau menculikku ya?!” Aku panik. Sepanjang jalan menggelap seiring laju mobil bertambah, satu pun lampu jalan tak menampakkan sinarnya. Senyap dan gelap, hanya suara pukulanku yang terdengar serap. “Buka! Buka pintunya!?” teriakku, aku memukul seluruh benda di mobil. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, kipas kaca depan terus berderit, tak henti-hentinya tanganku memukul jendela mobil. Kupaksa pintu mobil agar terbuka, juga segala cara telah kuusahakan. Namun, satu pun usahaku tak ada yang berhasil. “Lili, jangan panik,” bisik lembut Leo di sampingku, ia menahan tubuhku. Lengan kekar Leo merangkul lenganku, hangat tubuhnya terasa begitu panas. Bokongku mendadak mengeras, aku sama sekali tak bisa berkutik karena bobot tubuhnya. “Aku belum bilang pada Ayah!” pekikku, bibirku terbuka lebar begitu juga mataku, menatapnya tajam. Mata redup Leo menatapku, telapak tangannya yang menggenggam tanganku tiba-tiba terasa dingin, mengelus-elus rasa panas yang mendadak memenuhi diriku. Leo pun berbisik di telingaku, “Jangan panik ... aku sudah bilang pada ayahmu.” Jantungku masih berdegup kencang, mendengar ucapannya aku hanya bisa mengejap-kejapkan mata. Beberapa detik kemudian, Leo melepaskan rangkulannya. Aku pun tercenung, mematung ke depan. Berusaha mengatur nafas yang amat mencekik, kutatap lamat-lamat mata redupnya seraya bertanya, “Kau tahu ayahku?” Ia terdiam, tak berbicara, dadanya bergerak begitu naik turun seolah jantungnya juga berdetak cepat. Hanya satu jawaban yang ia beri, yaitu anggukkan. Aku pun menghantamkan kepalaku ke senderan mobil, aku benar-benar terkejut dan takut. “Jangan takut, aku malaikatmu.” “Dari mana kau tahu aku memanggilmu 'malaikat'?” tanyaku, mataku terbuka lebar menatap Leo. “Entahlah ...,” sahutnya, mengangkat bahu lalu menatapku dengan seringai hebatnya lalu ia terkekeh seraya berucap, “Kamu boleh menjewer kuping atau hidungku jika aku berbohong, tapi pastinya kamu akan bersenang-senang dengan ayah angkatmu sebentar ... hm, aku juga akan membelikanmu pentol bakso jika kamu mau mengubah nama panggilanku. Aku tidak suka malaikat,” ucapnya lalu terkekeh, riang. Aku yang masih mematung menatapnya pun mulai tersenyum. Leo pun terkekeh melihat wajahku lalu kembali berucap, “Bagaimana dengan bidadari atau peri?” tanyanya, tersenyum sangat lebar dan unjuk gigi. Tanpa sadar, aku juga ikut terkekeh menatap giginya. “Tidak aku maunya malaikat saja,” ucapku seraya menggeleng lalu kuhantam kembali kepalaku pada sandaran mobil. Kutoleh kiri untuk melihat kaca jendela mobil, satu per satu embun mulai memburamkan pandanganku lalu kembali lagi menoleh ke depan untuk melihat kipas kaca depan yang tak henti-hentinya berderit. Kiri-kanan. Kanan-kiri. Berderit terus berderit, membuang bulir titik hujan yang terus menimpa kaca. Kuhembuskan nafasku saat mobil mulai menuruni lorong gelap, tak satu pun lampu terlihat, hanya lampu kuning langsat mobil lurus menusuk gerbang. Gerbang hitam, megah nan raksasa pun otomatis terbuka, mobil pun memasuki pelataran parkir yang begitu luas. Hanya satu lampu terang yang menggantung tinggi-tinggi di atas tiang, dataran lampu itu bertuliskan sesuatu yang tak bisa k****a. Leo pun menggenggam tanganku, bola matanya yang getir menatap tajam mataku. Karena menatap dirinya, aku jadi kelewatan membaca tulisan di dataran lampu itu. Mesin mobil mulai mati, Leo terus menggenggam tanganku lalu mengajakku untuk menuruni mobil, kulihat senyum getir yang menghiasi wajahnya. Tanganku yang masih menggenggam erat tangannya pun ditarik secara lembut untuk memasuki gedung tinggi nan putih. Setelah memasuki pintu megah di depan, aku pun terkesima melihat lampu-lampu terang, ukiran cantik di setiap pilar, lukisan indah menempel di sepanjang dinding, berhadap-hadapan lurus ke depan. Semakin melangkah ke depan, semakin aku terpukau lalu mataku juga tak bisa lepas dari bingkai foto seorang perempuan kecil cantik bersama kakeknya. Saking terpesonanya melihat foto perempuan kecil itu, aku baru sadar pintu di hadapanku tiba-tiba saja tertutup. “Selamat malam,” ucap suara berat, aku pun menoleh untuk mengetahui pemilik suara itu. Terlihat pria dengan jenggot putih yang sangat lucu, gusi merah muda dengan beberapa gigi dan yang sangat lucu terakhir adalah tahi lalat ukuran sedang di dekat hidungnya, menyempil seperti upil. Setelah melihat pria itu, rasanya detak jantungku mulai melambat, aku malah ingin tertawa melihat wajah pria yang mungkin berusia 70 atau 80 tahun itu. “Sambutlah ayah angkatmu,” ucap Leo tiba-tiba. Leo tersenyum getir, kelopak matanya seolah ingin tertutup, wajahnya harap-harap cemas. “Dia ayah angkatku ...?” tanyaku pada Leo seraya menunjuk calon ayah angkatku, telunjukku kembali menunjuk tegas seraya bergurau, “Dia ... dia lebih cocok jadi kakekku,” ucapku, menahan tawa dengan tersenyum getir, menatap Leo. Suara ketukan sepatu terdengar, aku pun menoleh lalu melihat calon ayah angkatku yang melangkah maju seraya mengangkat alis, menatap Leo. “Baik, Ayah,” ucap Leo. Leo pun dengan cepat membuka pintu lalu melangkah keluar, begitu juga dengan diriku. Aku juga bergerak cepat, menahan pintu dengan kaki bersandal jepit baru. Rasa sakit kuterima amat menyakitkan di punggung kakiku saat kakiku sendiri dijepit pintu oleh Leo. Terlihat wajah Leo yang sangat cemas dari sela-sela pintu seraya dirinya bergumam tanpa suara. Tiba-tiba saja tubuhku terangkat sangat tinggi, aku pun menoleh ke bawah seraya tak henti-hentinya memukul angin. Ayah angkatku lah yang mengangkatku, pinggangku dicengkeram keras lalu aku dilempar ke atas kasur berwarna putih. Leo tak menolongku, ia malah menutup pintu dengan mata redupnya yang terakhir kali kulihat. Aku berteriak-riak, melempar semua benda dari kasur seraya kuberlari ke depan pintu. Ketukkan keras telah kubuat seraya tubuhku mendobrak pintu, tetapi pintu malah tertutup sempurna. Tubuhku dijepit oleh ayah angkatku, tangan kasar nan raksasanya mencengkeram lenganku lalu tubuhku dibalik dengan begitu mudah, dirobek semua yang ada di hadapannya dengan sangat cepat. Aku hanya bisa menjerit sekuat tenaga seraya menganggit lehernya, tetapi ayah angkatku itu sangat kuat menahan gigitanku. Tanpa kusadari, seiring pita suaraku mulai terputus, kuku jemariku yang mencungkil setiap kulitnya, tubuhku mulai melemah, kalah. Tubuhku terus terketuk-ketuk pintu di belakangku. Gerakan cepat membuatku menangis hebat, mulutku terbuka lebar, kuhantam punggungnya dengan gumpalan jariku, tetapi aku tetap kalah. Tubuhku tak berkutik, lemas begitu saja bahkan jari kakiku seolah tak bernyawa, tak bisa berdiri dengan benar. Kaosku sudah terobek sempurna, begitu juga celanaku. Kakiku berdiri ketir saat ayah angkatku itu mulai menjauh. Saat ayah angkatku lengah seraya membuka celananya, aku berlari. Berlari menabrakkan tubuhku pada jendela kaca lebar di tengah ruangan terang. Kugetok berkali-kali jendela kaca dengan kepalaku juga tangan dan kakiku, tetapi kaca itu tak pecah-pecah. Satu yang mengambil perhatianku di luar jendela, lampu terang itu, aku benci menatap lampu terang itu. Kebencian itu makin membeludak saat benda tajam menusuk diriku terus menerus dari belakang, tubuhku melayang. Gerakan kencang, nafas menyesakkan, semuanya menghancurkan diriku. Wajahku menempel sakit di jendela, aku menangis. Ribuan titik air bahkan jutaan, menetes dan mengalir ke pipiku dengan sangat lancar. Aku menatap ke bawah lalu terihat titik-titik darah mengalir begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN