Rencana

1313 Kata
Pagi hari ... “Dicabulli Om-om sejak usia 15 tahun lalu aku berkerja menjadi b***k s(e)ks sejak usia 16 tahun karena diancam ayah angkatku,” jelasku. “Diperkos(a) dari usia 16 tahun selama 5 tahun sampai sekarang ... berati usiamu sekarang 21 tahun?” Aku mengangguk. “Baiklah ... apa saja yang bisa aku bantu?” tanya Antonio yang duduk di sebelahku, di trotoar. “Aku ingin balas dendam ... Hm, bisakah Leo dipenjara?” lirihku bertanya seraya mengangkat alis, menatap Antonio. “Siapa Leo?” tanya Antonio, penasaran. “Pria yang dulunya kuanggap malaikat karena menyelamatkanku lalu Leo lah yang mempertemukanku dengan ayah angkat.” “Woah ... apa kau menyukainya?” tanya Antonio, ia menaikkan salah satu kakinya ke trotoar. Aku terdiam, kesal. “Tentu saja ... kamu harus melakukan sesuatu kalau begitu,” ucap Antonio seraya mengangguk. Aku mengangkat alis, begitu juga Antonio. “Hm ... Kamu punya bukti?” Aku menggeleng pelan lalu tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Aku pun mengeluarkan lembaran dari saku celanaku. “Itu lembaran ceritaku, aku selalu menulisnya dulu ... awal lembarannya sudah hilang karena ayah angkatku merobek celanaku, lembaran terakhir kutulis saat aku merasa sangat kesal di usia 18 tahun.” Aku pun menyerahkan tulisan tanganku pada Antonio. Antonio melihat lembaran tulis tanganku. “Apa yang kamu tulis ..?! bahasa kalbu?!” tanya Antonio, terkejut. “Apa bahasa kalbu?” lirihku. “Acak-acakkan, ck ... ck .. ck” ujar Antonio lalu mencecak. Aku mematung. “Bagaimana dengan bersetu—,” ucap Antonio terhenti seraya ia mengerutkan keningnya, “Eh, jangan ... hm, bagaimana dengan menjebak Leo itu. Kau bisa membuat bukti, jebak Leo dengan kasus pedophillia?” tanya Antonio, menyeringai. “Pedophillia?” tanyaku, bingung. “Kamu harus membawa ini,” ucap Antonio seraya mengeluarkan sebuah benda berkabel hitam dari ranselnya lalu Antonio pun kembali berbicara, “Ini namanya alat penyadap suara. Kamu punya misi membawa ini saat bertemu dengan Leo itu lalu kamu harus bertanya pada Leo ‘Apakah kamu mencintaiku sejak aku berusia 15 tahun?’ ... Intinya paksa dan buat Leo mengatakan ‘iya’. Oh, iya jangan sampai kamu mengatakan ‘aku mencintaimu. Jangan lakukan yang aneh-aneh, sembunyikan alat penyadap ini dan lakukan itu saja,” tutur Antonio seraya memberikan benda berkabel hitam itu padaku. “Bukankah itu penipuan?” tanyaku, menggeleng heran. “Iya ... penipuan akan diperbolehkan jika ada hak untuk keadilan,” ucap Antonio, mengangguk-angguk lalu tiba-tiba saja Antonio terkejut dan bertanya, “Kamu tidak ingin ayah angkatmu dipenjara?” “Tidak, aku punya rencana ... aku ingin ayah angkatku menderita—“ ucapku, terhenti. “Nak ... Nak!” teriak pedagang bakso seraya berlari-lari dan mendorong gerobaknya. Aku pun terkejut lalu berdiri. Terlihatlah pedagang bakso dengan luka memenuhi tubuhnya bahkan matanya lebam. Aku pun menghampiri pedagang bakso di pinggir jalan. “Apa yang terjadi?” tanyaku, khawatir. “Uangmu dicuri, Nak .... dicuri kakek tua beruban bersama sekongkolan kutu kupretnya,” ucap pedang bakso. “Sial(a)n predator s(e)ks itu! Berani-beraninya kep(a)rat itu mengganggu sahabatku!” umpatku, membeliak menatap pedagang Bakso. “Hah?” Pedagang bakso membelakan mata lebamnya. Aku pun langsung berlari, kuraih tangan Antonio seraya berucap, “Ayo, lakukan misi!” teriakku. Aku pun berlari dan menarik Antonio, kutinggal tumpukan kardus dan kaleng bersama pedagang bakso di pinggir jalan. Antonio pun cepat-cepat membunyikan mobil dan langsung masuk ke mobilnya, begitu juga dengan diriku. Aku langsung duduk di kursi depan mobil milik Antonio. “Jalannya lurus saja lalu masuk ke lorong gerbang besar!” tuturku menuturkan alamat kediaman ayah angkat. Antonio langsung mengemudikan mobilnya di sepanjang jalan lurus lalu Antonio bertanya padaku, “Kita mau ke mana?” “Ayah Angkat!?” pekikku. “Hm, kamu tahu ... hm, sebenarnya aku ragu jadi pengacaramu karena lawanmu punya relasi kuat dengan kehakiman ... tapi aku akan berusaha, lumayan pengalaman. Kamu santai saja, aku nanti yang akan mengajukan gugatan sidangnya.” Aku menatap kaca depan mobil. “Sebenarnya, ada satu hal yang harus kukatakan padamu,” ucap Antonio seraya mengemudi. Aku menatap jalan, tatapanku gawat, tangan kananku memegang erat benda berkabel kabel hitam. Antonio pun berkali-kali menoleh pada jalan dan pada diriku seraya berucap, “Sebenarnya aku kasihan padamu ... tapi kamu harus tetap menggajiku sebagai pengacara ya?” “Aku tidak punya uang, uangku dicuri manusia k(e)parat!?” “Iya ... kamu bisa cicil nanti setelah sidang. Jika kamu yang dipenjara, kamu boleh bayar setelah bebas,” ucap Antonio masih mengemudikan mobilnya yang memasuki lorong kediaman ayah angkat. Antonio pun memarkirkan mobilnya di lorong. Cepat-cepat aku keluar dari mobilnya, kututup pintu mobil dengan keras lalu aku pun masuk ke gerbang raksasa yang terbuka lebar. Berlari melewati pelataran parkir yang luas lalu aku terhenti di hadapan pintu megah karena nafas yang tersengal. Kukeluarkan kartu anggota keluarga dengan sangat lambat karena benda berkabel hitam milik Antonio melilit di tanganku, lalu kutempelkan kartu itu di pemindaian pintu. Pintu pun terbuka otomatis, segera aku memasuki gedung putih itu. Nafasku amat tercekik, aku masih berdiri mematung di ruang panjang penuh lukisan. Waktu yang sangat tepat terjadi begitu saja, Leo baru saja keluar dari ruangan ayah angkat. Leo berdiri mematung menatapku. Jarakku dan Leo sangat jauh walaupun jarak itu hanya tinggal berjalan lurus, jantungku malah berdetak ragu. Aku pun melangkah ke depan, kulewati lampu-lampu terang yang menempel berhadapan-hadapan di dinding. “Bukankah kau mencintaiku sejak aku berusia 15 tahun?” tembakku langsung setelah melangkahkan kaki sebanyak 20 langkah. Jarakku dan jaraknya terasa dekat, tetapi kedekatan itu tak tergapai-gapai. Leo diam. Dia menjadi dingin seperti biasanya seolah ada bongkah es raksasa yang memisahkan jarak antara aku dan dirinya padahal saling berhadap-hadapan. “Kau mencintaiku kan sejak aku berusia 15 tahun?” tanyaku lagi. Suaraku tiba-tiba tercekik, mungkin karena efek kelelahan berlari. Dia diam. Aku muak sekali dengan jawaban diamnya. “Kau mencintaiku kan sejak aku berusia 15 tahun, sejak pertemuan pertama di pinggir jalan itu?” Aku tergugu lama. Leo menggeleng dengan mata redupnya menatapku. “Katakan bahwa kau mencintaiku sejak aku berusia 15 tahun ... sejak aku dic(a)buli di pinggir jalan, sejak kau menyelamatkanku dan tersenyum padaku dengan seringai hebat, dengan mata berbinarmu, aku tak ingin menatap mata redupmu sekarang,” ucapku dengan nada tinggi, nafasku tersengal. Leo menggeleng lagi hingga membuatku muak. “Kau tidak mau mengakuinya ...?” pekikku, aku pun mengusap wajahku dengan tangan kanan masih terlilit kabel, aku pun kembali menyambung seraya membelalakkan mata, “Kau mencintaiku kan sejak aku berusia 15 tahun ... jika tidak lalu kenapa kau menjadi malaikatku, menyelamatkan anak kecil dekil sepertiku, rela duduk di tumpukan kardus bersamaku, menemaniku menatap lampu terang ibu kota. Katakan padaku!?” teriakku. Nafasku benar-benar tersengal. Aku merasa kesal sekarang. Leo berhenti menggeleng, tangannya mengusap wajahnya. Ia menatap tangan kananku. “Katakan kau mencintaiku walau hanya sekali saja ...,” ucapku dengan nada melambat seraya menunjuknya dengan tangan kanan terlilit kabel, aku pun kembali menyambung, “Karena—karena aku mencintaimu ... katakan walau hanya sekali saja ...,” telunjukku melemah, lirihku menusuk d**a. Aku menunduk dengan perasaan berdebar-debar, kepalaku mendadak pusing sekali, badanku panas dingin seakan mau muntah. Kupegang kepalaku saat mataku kunar-kunar. Semua sinar dan suara mendadak hilang dan lantai di bawahku terlihat seperti berputar-putar, lalu tiba-tiba saja aku mendengar suara langkahan kaki. Aku pun menatap kedepan. Kudapati Leo telah berdiri di hadapanku lalu memegangi kepalaku dengan kedua tangannya, tepatnya menutupi kedua telingaku dan seketika aku mendadak terkejut. Dor! Suara tembakan mengejutkanku. Dadaku naik turun, nafasku di ujung tanduk, dan aku tetap mematung menatap mata Leo. Jaraknya hanya beberapa senti dariku. Benar-benar beberapa senti, tetapi mataku belum siap matang-matang menatap matanya. Mataku bergerak ketir sekarang. Nyatanya aku lebih terkejut menatap sepasang mata redupnya. Leo pun menjauhkan tangannya dari telingaku lalu ia semakin mendekat padaku dan tangan itu mendekap begitu saja, mendekap kedua bahuku seraya ia berbisik. Berbisik di dekat telingaku, hanya berbisik. Desah yang menggetarkan gendang telinga, aku tak ingin mendengar. Kupilih untuk meninggalkannya dari terang mentari mencengkam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN