They want for the best for their child, with their own perception. They feel know better for their child than the child themselves. And they said, “It's love.” — Anonim. Seto termangu memandangi mobil yang ditumpangi Luna bergerak, berbelok, lalu hilang dari pandangan. Beberapa menit kemudian ia berjalan gontai menyusul ibunya ke dapur yang merangkap sebagai ruang makan. Perasaannya tidak enak. Ayahnya hanya melirik sekilas sambil menyeruput kopinya. Seto ikut duduk dan meminum kopi dalam diam. Enggan. Napasnya terasa sesak berada di ruangan yang sama dengan ayahnya. Tatapannya terkunci pada cangkir kopinya. Ia sedikit menyesal menolak tawaran Luna pulang bersama. Separuh jiwanya terasa kosong tanpa kehadiran istrinya. Tiba-tiba saja ia merindukan kopi buatan Luna. Hasil racikan ibunya

