Baiklah, sebelum ini aku memang tidak mengenalmu. Kamu adalah serpihan wajah asing yang memaksa untuk selalu dikenang oleh benakku. Tapi aku suka melihat senyummu, entah mengapa serupa mengagumi kunang-kunang; yang mengantongi titik cahaya di belakang ekornya. Hingga sepekat apapun malam—aku akan begitu mudah menemukan di mana pun kamu bersembunyi. Galatama tersipu mendengar isi hatinya, salah satu suara paling murni yang pernah ia dengar seumur hidup; tanpa kebohongan. Gadis sendu itu jelas-jelas menempati ruang di salah satu sudut hatinya. “Bagaimana kalau aku saja yang mengantarkan sarapan untuk mereka, Bibi?” Nobelia sibuk hilir mudik di dapur umum, memakai celemek, memegang spatula. Kebagian tugas membikin bubur merah dan laban. Sementara Bibi Suhaida lesehan, wanita itu memarut jag

