Bab 15 : Setiap Langit Punya Cerita

4367 Kata

Hening. Lampu bohlam di langit-langit ruangan itu bersijingkat disapa angin, sinar jingga keemasannya meredup—memberi kesan lembut sekaligus romantis pada sepasang mata gadis yang tengah dipandanginya. Saif menahan diri untuk tak menurunkan cadar hitam itu, mencoba bersikap lebih tenang. “Min hum?” Bisikannya serak meruntuhkan pilar-pilar udara, tatapannya menyihir dan menawan. “Ada darah di atas alismu—kamu, terluka.” Arab yang kedengaran tak pas menempatkan logat, atau memang, semua itu karena pengaruh dari bibir yang bergetar oleh rasa takut? “Min hum ya easal fatat aleinina?[1]” Ucapnya dengan marah. Sebab ketika Saif bertanya, maka ia hanya ingin dengar jawaban, bukan pertanyaan kedua yang tak penting. Alih-alih menjawab, gadis itu malah menjulurkan telunjuk, hendak menyentuh luka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN