“Nona? Hei, anda bisa mendengar saya?” Lengan itu pun melambai-lambai di hadapan Nobelia yang terpana bukan main—diikuti kernyitan di dahi, mungkin pria muda bernama Galatama itu mengira Nobelia tunarungu. “Nona, apakah ada bagian tubuh anda yang terasa sakit?” Ada, hatinya. Nobelia mengusap keringat di atas dahi, luruh pada apa yang dipandangnya. Manik mata Galatama persis sama seperti milik Pandjie. Hitam kebiruan, cerah dan penuh humor seolah-olah beban dunia seberat apapun sanggup ditanggung seorang diri. “Tidak apa-apa, hanya agak kaget saja karena tiba-tiba terjatuh.” Bisiknya, menatap Galatama yang terasa bagai sosok Kharisma Pandjie. Dari wajah, rambut, tulang hidung yang meninggi dan sudut bibirnya yang manis. Semuanya serupa. “Well, jika anda merasa demikian. Sekali lagi saya

