“Mas, kenapa kamu ngomong kayak gini ke aku? Bukannya kamu harusnya di pihak keluarga Mas Arga?” tanya Nayara pelan. Mahesa tersenyum tipis. “Aku di pihak yang benar, Nay. Aku nggak tahan lihat kamu dihancurkan kayak gini. Arga itu adiknya istri aku, iya. Tapi kalau dia salah, aku nggak bisa pura-pura buta.” Nada suaranya tenang, tapi penuh muatan. Setiap kata seolah dirancang untuk membuat Nayara merasa sendirian di rumahnya sendiri. “Aku cuma mau kamu tahu satu hal,” lanjutnya. “Aku nyesel kenalin Shanaya ke Arga lagi. Tapi sekarang, semua udah terjadi. Dan kamu harus siap kalau ternyata Arga nggak sekuat yang kamu pikir.” Nayara menarik napas tajam. “Kamu bilang gitu seolah kamu tahu segalanya tentang dia.” Mahesa menatapnya, pandangannya tajam tapi lembut. “Aku kenal Arga sejak ke

