Arga menatap pantulan wajahnya di cermin. “Kamu bodoh, Ga …,” gumamnya pelan. Ia ingin menyalahkan siapa pun—Mahesa, Shanaya, bahkan takdir—tapi yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa semua ini karena dirinya sendiri. Ia yang tak tegas, ia yang membiarkan Shanaya datang terlalu dekat, ia yang membuat Nayara merasa dikhianati. Air mandi tak mampu meredakan pikiran yang berputar. Setelah berganti pakaian, Arga kembali ke ruang keluarga. Shaila sudah duduk bersila di lantai dengan popcorn di pangkuan, sementara Dharma sibuk mengatur remote. “Ayah duduk di sini,” kata Shaila ceria, menepuk sofa di sebelahnya. Arga duduk di antara mereka, berusaha tersenyum. Lampu ruang tengah diredupkan. Film animasi dimulai. Tapi pikirannya melayang jauh, ke tempat lain—ke wajah Nayara, ke saran M

