Tiga

1345 Kata
Senyum ceria yang Siska miliki sebelumnya, kini tlah kembali. Entah obat mujarab apa yang diberikan Mama. "Kak, diminum tehnya, mumpung masih hangat. Nich, Siska belikan jajan kesukaan. Awas gak dimaem, ntar Siska Jewer." Katanya, sambil tersenyum. Walau sedikit canggung dan terlihat kaku. "Aduuuuh, makin manis aza kamu Sis". Kata Juna dalam hati. "Makasih ea cantik, Kak Juna jadi makin sayank dech." Ungkap Juna tulus. “Maaaak pleeeeeng.” Mendengar kalimat yang terakhir. Jantung Siska jadi berdebar tak menentu, membuat hatinya semakin berdebar kencang. "Apa? Siska gak denger." Kata Siska untuk menutupi salah tingkahnya. "oooooo, Kakak tadi bilang apa ya? lupa." Jawab Juna sambil menatap mata Siska dan tersenyum. Juna merasakan ada perubahan yang mendasar, dan dia tau bahwa yang Siska lakukan ini benar-benar sebuah perubahan yang dia inginkan. "Gimana kerjaan Kakak? ada kesulitan gak? Tapi Siska 1000% yakin.. gak ada kesulitan yang tak terselesaikan buat Arjunaku... e..... Sorry salah.. maksud Siska buat kak Juna gak ada yang sulit." Wajah Siska semakin memerah padam. "Ternyata, memberi perhatian itu sangat sulit. Lebih muda itu, Manja dan bawel." Kata Siska dalam hati. "O, ea kak, tadi Siska belajar masak, sama Mama. Habis istirahat kita maem bareng yuk. Tapi kalo gak enak gak usah dimaem okey." Tambahnya sambil menunjukkan jari telunjuk yang ditempel ke Jempol dan jari yang lain tegak berdiri. "Okeeeey. Kebetulan niich kak Juna lapeeeeeeeeeeeer bingit. Tadi di kantor, kakak gak sempat keluar maem. Heeeeeem.. Makasih ea Bidadari kakak yang cantik." Jawab Juna sambil mengacungi jempol. Apa yang Juna katakan itu memang benar, bahwa dia belum makan. Dan itu disebabkan oleh rasa bersalahnya terhadap Siska, saat pikirannya mengembara ke tempat lain, sedang Siska dicuekin. Ngambeknya Siskalah sebenarnya yang membuat Juna gak enak makan. "Ea sudah ayo kita maem bareng." Kata Siska. "Maaaaaaa, yuk kita maem." Teriak Siska, sambil menoleh ke kamar mama. "ssssssssst, kok teriak gitu? disamperin donk Mama, masak pake teriak gitu. Kayak anak pramuka aza dech." Kata Juna. Entah mengapa, kedua anak manusia ini tidak seperti biasanya. Sama-sama canggung, disetiap pembicaraannya. "Aiiiiiiiiis...satu aza... Kali ini kakak pengen maem sepiring berdua sama Ciska. Karena sudah bersusah payah masak. Sekarang kakak yang suapin Ciska." Seandainya ada yang punya indra ke 7 di ruangan itu, maka mereka akan melihat, Tebaran gambar merah hati, bertebaran di atas kepala Siska. Mama menghargai usaha Bidadari kecilnya untuk merubah sikap kearah yang lebih dewasa. "Rasanya, baru kemarin Juna menggendong putrinya, saat Siska jatuh dari sepeda ke selokan depan rumah." "Rasanya baru kemarin Siska menjerit kesakitan akibat luka berdarah dilututnya, dan Juna merawatnya hingga sembuh." "Rasanya baru kemarin Juna menggendong siska, pulang sekolah, karena Siska takut luka dilututnya berdarah kalau dipakai jalan." Kata Mama dalam hati, saat melihat mereka berdua tlah tumbuh dewasa. "Yeeeee, kakak curaaaaaaang, masak cuman adik aza yang disuapin teruuuuuus.... kakak juga maem donk." "ea..ea..ea... ini lihaaaat.... aaaaaaaaaa .. nambah lagi?" "Perut adik dah nduuut niich, entar kalo adik gendut, Kak Juna malu, sama temennya. Dikira jalan sama Gajah bengkak." "Ea sudaaaah, kalo gitu kak Juna yang maem sendiri aza. kan kakak juga belum maem sehari." Kata Juna, menghibur, agar Usaha Siska merasa dihargai. "Aku tak ingin mengulang kesalahan untuk kedua kalinya. Saat bersama Siska aku berjanji akan sepenuh hati, pikiran, perhatian, kasih cuma untuk dia. Gak boleh mikirin yang lain." Janjinya dalam hati. "Mungkin hari ini kak Juna harus pulang malem, tapi kalau Siska perlu kak Juna. Tinggal telpon aza. So pasti kakak dateng gak pake lama". Kata Juna selesai sarapan. "Siska boleh tanya gak?" "Selama kakak bisa, pasti kak Juna jawab. Ciciz mo tanya apa?" "Hmmm. Gak jadi dah. Malu." "??????????" "Siska sayank kak Juna." Bisik Siska memberanikan diri. "Sama. Tapi ini rahasia kita berdua." Bales Juna berbisik di telinga Siska. Juna berusaha membuat Siska bahagia. Dia gak mau mengecewakannya. Juna sadar, bahwa semua ini tak lepas dari kesalahannya. Malam itu di sebuah tempat dimana Juna selalu datang kesitu saat dia ingin menyendiri. "Seandainya waktu itu aku tak memberikan kasih, perhatian yang lebih. Mungkin ceritanya tak akan seperti ini." Katanya dlm hati. Sejak duduk di bangku SMP, hingga kini, Siska selalu menceritakan kepada Juna, siapa-siapa Cowok yang berusaha mendekatinya. Dan itu tak bisa dihitung dengan jari, karena Siska memang bisa dikatakan Gadis Sangat Cantik, lugu. ceria, pandai bergaul, pintar, tidak sombong dan masih banyak predikat yang disandang. Juna baru menyadari. Kenapa sejak dulu tak satupun pria yang mampu mengisi hatinya? Kenapa sejak dulu dia menutup cinta buat pria yang berusaha mendekatinya? Kenapa sejak dulu dia tak pernah menceritakan pria yang pernah mengisi hatinya? Awalnya Juna hanya menganggap cinta Siska padanya, hanyalah cinta monyet. Mulanya Juna hanya berfikir bahwa Siska mencintainya karena seringnya mereka bersama. Kini Juna tak lagi mampu membendung cinta Siska padanya. Juna juga tak lagi mampu untuk menolaknya. Karena dengan penolakan itu, berarti Juna telah menyakiti hati Bidadari Kecilnya, yang kini telah menginjak dewasa. Disisi lain, ada seseorang yang telah mengisi hati Juna. Walaupun faktanya gadis yang dia cintai kini menjadi milik orang lain. Faktanya, bahwa gadis yang telah lama dia dambakan, ternyata tidak mencintai dirinya. Setiap kali Juna menjumpai Irma pujaan hatinya, bersama pria lain. Dia teringat Kejadian yang tak terlupakan. Kala itu Juna memberikan setangkai mawar merah kepada Irma, tapi mawar merah itu dibuang di depannya. Dan waktu itu Juna berkata: " Mungkin dia bukan jodohku." Kini Juna diperhadapkan dua pilihan yang sama-sama Sulitnya. Cintanya kepada Irma tak mungkin bisa lenyap begitu saja, hanya karena pujaan hatinya memilih mencintai orang lain. Sementara itu, ditempat berbeda di waktu yang sama. "Seandainya waktu itu, aku menerima permintaan cintanya. Seandainya, waktu itu aku tak membuang bunga pemberiannya, sebagai bukti cintanya padaku. Mungkin ceritanya akan beda." Kata Irma dalam hati. Dinginnya Malam itu begitu terasa menusuk. Embun bertebaran nyata turun menyapa riang. Angin jalang leluasa menerpa apa saja. Irma berdiri diluar, kedua siku tangannya dipercayakan pada pagar tembok di Gedung lantai tiga di luar kamar tempat dia menginap. Gemintang gemerlap berserakan diatas sana. Irma memandang atap gedung-gedung di bawahnya. Dia merasa kedinginan, namun tak memperdulikannya. Irma lebih memilih untuk larut dalam lamunannya. Teringat sang Arjuna pujaan angannya. Senyumnya yang membuat dia seakan tak mampu berdiri. Bila dia menatap matanya, ada getar Cinta yang membara, dan Irma sangat menikmati getaran di dadanya. Sapanya menyejukkan hati Irma berasa hingga berhari-hari lamanya. Irma teringat. Waktu itu dalam sebuah acara bazar di kampusnya. Malam itu begitu dingin seperti saat ini, dia tak membawa jaket untuk melindungi diri dari sapaan angin. Datang sang Arjuna, menyelimuti dirinya dengan melepas jaketnya. Walau Irma telah menolak cintanya dengan cara membuang setangkai mawar merah yang diberikan padanya, Juna gak pernah merasa kecewa dan sakit hati padanya. Seiring berjalannya waktu. Cinta Irma pada Juna bukannya terkikis. Namun sebaliknya. Bertumbuh dan membara. Walau dia sadar, banyak wanita yang selalu berada disisi Juna. Hal yang membuat cintanya semakin dalam pada Juna adalah, bahwa sepanjang pengamatannya. Tak satupun ada wanita spesial disisinya dan itu yang menumbuhkan sebuah harapan. Hingga detik ini, Juna tak pernah mengungkapkan cinta pada nya. Padahal kini Irma benar-benar menanti nya. "Mungkin dia takut jika aku menolaknya lagi." Kata Irma dlm hati. Tapi kini sungguh sangat berbeda, beberapa bulan terakhir ini, sang Pujaan angannya telah memiliki pilihan hati. Kemana-mana selalu berdua. Berulang kali Irma mendapati Juna bersama wanita pujaannya. Irma sadar, bahwa dirinya bukanlah pilihan hati Juna. Namun dia tak bisa dengan mudah untuk membuang cinta yang bersemi itu. Walau faktanya Juna tidak memilih dia. setidaknya itu yang ada dalam pikiran Irma. "heeeem, dingin begini kok di luar." Sapa Aldo. Sembari memberikan selimut. Dan mencoba untuk menyelimuti Irma. Namun Irma mengelak. Dia mengambil selimut itu dan memakainya sendiri. Aldo berdiri di samping Irma. Mencoba untuk mengajak irma bicara. "Maaf. Malam ini izinkan aku sendiri disini. Terimakasih untuk selimutnya." Aldo mengangguk. kemudian masuk kedalam. Tak lama kemudian dia keluar membawa secangkir kopi panas, menyerahkan pada Irma, kemudian masuk kembali. Disruputnya kopi panas itu. Dan angannya kembali pada khayalan yang sempat buyar, akibat kedatangan teman tak diundang Irma teringat, saat dimana setiap kali ada acara di kampusnya. Arjuna selalu menggoreskan kenangan indah dihatinya. Tak banyak kata, namun tindakan nyata membuatnya makin cinta. Tapi sayang, kini menjadi milik orang lain. Setidaknya itu yang Irma yakini, berdasarkan fakta yang dia lihat. …………………………Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN