Empat

1581 Kata
"Kita, mampir nyari oleh-oleh buat yang di kantor yuk," Pinta Aldo usai menyelesaikan tugasnya. "Tugas seperti ini akan sering kita jalanin. Jadi, sebaiknya kita ke Hotel untuk mengemasi barang kita. Aku lagi gak enak badan. Sebaiknya kita langsung pulang aja." Pinta Irma. "heeeem, kalau gitu kita ke dokter aza. Biar dapat obat. Daripada ntar sakit di perjalanan. Atau kalau perlu nginep lagi sehari. Setelah sehat baru pulang. Gak perlu takut, perusahaan yang nanggung semua kok." "Gak, langsung pulang." Dipegangnya kening Irma, namun dia menepisnya. "Sudah, kita pulang, sekarang juga." Kata Irma dingin. Perjalanan itu memakan waktu kurang lebih 4 jam. Tak sepatah katapun terdengar dari mereka berdua, karena Irma memintanya. Tiba-tiba terlintas dibenak Irma. "Hari ini adalah tahun keenam. dimana, aku membuang setangkai mawar merah, tanda permintaan padaku untuk menjadi kekasihnya." "Danau buatan di kota ini, adalah tempat dia menenangkan pikirannya. Mungkin hari ini Arjuna ku sedang berada di sana saat ini." Pikirnya Irma. "Tolong mampir ke danau buatan, tidak jauh dari sini. Ikuti tanda arah di setiap perempatan." Kata Irma, memecahkan keheningan. Aldo tak berani berbicara, hanya menganggukkan kepala. Sepanjang jalan, setiap kali Irma memejamkan mata, Aldo selalu mencuri pandang lewat spion didepannya. Sementara itu di tempat yang berbeda. Juna duduk di pinggir danau buatan. Setiap kali pikirannya gundah, tempat inilah yang selalu dia tuju. Sesekali Juna melempar sesuatu ke danau itu, entah apa maksudnya. Antara wajah Bidadari kecilnya dan wajah Irma, bermunculan dalam angannya. Sama-sama dia sayangi, sama-sama dikasihinya, hanya bedanya satu diantaranya, ingin dijadikan pendamping hidupnya. Tapi...... Irma sudah sampai ditempat parkir. Dilihatnya mobil Juna di antara mobil yang terparkir disitu. Irma tak berusaha mencari, agar Aldo tak mengetahui tujuan Irma ke sana. "Bisa tunggu di mobil?" Tanpa menunggu jawaban dari Aldo, Irma langsung pergi. Benar seperti yang diperkirakan. Juna ada di tepi danau buatan itu. WA *Maafkan aku, yang pernah membuang setangkai mawar merah yang kau berikan saat itu. hari ini tepat 6 thn. aku menyakiti hatimu. MAAFKAN AKU. ingin rasanya aku menebus kesalahan itu. tapi kini sudah tak mungkin lagi. Juna membaca pesan di WA. Kemudian dia menengok ke semua arah. Juna meyakini pengirim pesan di WA ada disekitarnya. Usai mengirim pesan Irma segera kembali ke mobil. Juna mendapati Irma, saat pintu mobilnya dibukakan Aldo. Kini Juna semakin yakin dengan apa yang dia lihat. Bahwa pujaan hatinya, sudah ada yang memiliki. Juna menenangkan hatinya. Dia membuang semua impiannya. Impian tentang bersatunya dia dan Irma. Diambilnya batu kecil, dilemparkannya ke danau itu. Berharap masalah yang ada tenggelam di danau itu bersama batu yang dia lemparkan. Kemudian pulang. Hp berdering, dilihatnya. Telepon dari Bidadari kecilnya. "Kakak, hari ini pulang kan? Siska masak hari ini." "Ea tayank, ini kakak gi otw." "Hati-hati di jalan ya kak. GBU." "OK, Thanks." "Irma habis mandi keramas, di depan kipas angin dia mengeringkan rambutnya. Masih memakai kimono, tanpa dalaman lengkap. Kamar kost masih berantakan, selimut, bantal, guling serta pakaian yang ia kenakan semalam masih berserakan, bagai lukisan abstrak. Pemandangan seperti ini tak pernah ditemukan sebelumnya. Dan ini kali yang pertama. Diambilnya Hp dibukanya WA. Berharap Juna segera membaca, dan membalas. Bila ada waktu, kita ketemuan yuk Berulang kali Irma melihat namun belum ada balasan. Dilemparkannya hp ke atas tempat tidur. Ada rasa gelisah yang terus menghantui pikirannya. "Mungkin Arjunaku, kecewa gara-gara kemarin aku menolaknya, saat mengajak ketemuan." "Mungkin dia sedang bermesraan dengan boneka barby kekasih hatinya." "Mungkin........ "Mungkin... anu "Mungkin.... mungkin.... Mungkin.... mungkin..... Mungkin.... Dan banyak kata mungkin yang menari dalam pikiran Irma. Hp bergetar... Irma bergegas mengambilnya.. Segera dibuka.. Hadoooow... kenapa mesti diaaaa? Ternyata Aldo, mengajaknya untuk jalan-jalan. Dilemparnya kembali hp ke tempat tidur. Karena gak dijawab, maka Aldo menelpon Irma. Berkali- kali dia menelpon namun Irma tak menjawab. Karena Irma merasa jenuh, ia pergi ke rumah Mia sahabat dekatnya. Dalam waktu kurang dari setengah jam, ia telah sampai di rumah Sonya. karena sudah terbiasa, Irma Pun langsung masuk ke kamar Mia, dan membaringkan diri. Hingga terlelap. ***** "Heeeem, dah bangun?. Nyenyak sekali tidurmu Ir?... ada masalah apa? Pasti masih masalah Juna ea?" Irma berdiri, menghampiri kulkas dan membukanya, kemudian diambilnya minuman, diteguknya lalu dia menjawab : "He'em. Kali ini aku benar-benar tak punya harapan untuk memiliki dia." "Karena dia sudah ada yang punya maksudmu?" Potong Sonya. "Tul!" Jawab Irma. Diteguknya minuman di tangannya, lagi..lagi dan lagi.. Sunyinya malam ini Sepi tiada berbintang Ku dengar sayup-sayup Engkau memanggil namaku Jauhnya kini kau dariku Entah kapan kita bertemu Nasibmu dan nasibku begini Biarlah Ku tahu engkau Masih sayang pada diriku Kau Pun tahu aku Sayang hanya padamu Walau kita tak mungkin bersatu Biarlah saling bercumbu Nasibmu dan nasibku begini Biarlah Kau tanya rembulan Apa kata hatiku Kau tanyalah sang bintang Rindunya hati Walau langit takkan runtuh sayang Walau bumi jadi dua sayang Hatiku dan hatimu tak mungkin Berpisah "Heeeemmmm... siapa yang menyanyikan lagu ini Ndok? enak didengar" Tanya Irma. " ooooo..itu lagu lama, mungkin jaman itu. kita masih jadi telinganya aza. atau bisa jadi waktu ngetopnya lagu ini, Emak kita masih belum pernah disenggol." "Bisa copy lagu ini Ndok?" ,"Beres... O iya. Gimana kabar Juna?, sempet ngerasain belum?" "Huuuuz!!!!..... Emang parmen?!" "Ada perkembangan baru?" Sepertinya aku harus menyerah. Enam tahun aku berjuang, tapi gak ada hasil. Sekarang dia malah diambil orang." "Emang kamu sudah pernah mengungkapkan perasaanmu?" Irma cuman bisa geleng kepala. Melihat Irma geleng kepala "Heedeew.. lok gitu kamu mirip kayak sapi menarik gerobak penuh muatan...Hahahhhahha." Ledek Sonya "Nona cantik. Emang Arjuna itu malaikat? yang bisa mengerti perasaanmu? Ya jangan nangis kayak nenek-nenek kehilangan susur, kalau Arjuna mu disambar orang lain." "Ndok!! Bantu aku dapetin dia donk... gimana kek caranya. Terserah." "Sebentar." Sonya mengambil mangkuk berisi air. "Buat apa itu Ndok?" Tanya Irma penasaran "Sssssssssssst!!!!" Diletakkan mangkok berisi air itu di atas meja. Sonya, bardiri. Diambilnya coklat, sisa gigitan tadi. Dikunyah Nya, hingga habis. Irma memperhatikan Sonya dengan penuh tanda tanya. Sepertinya Dia serius banget. Kemudian Sonya mengambil botol berisi air dingin dan diteguknya, hingga tinggal separuh dan duduk tepat di depan mangkok berisi air. Sonya memejamkan mata, sambil komat-kamit. Tak lama kemudian. "Coba kau lihat di mangkok itu Non. Pandang beberapa saat." Irma pun menurut apa yang dikatakan Sonya. "Apa kau lihat, wajah Juna?" Irma menggelengkan kepala. "Terus pandang lagi." "Ada?" Tanya Sonya ulang. "Ya gak bakalan ada tho neeeeng... neeeeng." Kata Mia sambil tertawa terbahak- bahak. "Iiiiiiiiih..... Sialaaaalan.” Didekapnya Sonya..diangkat dan dijatuhkannya di kasur, kemudian digelikitik.... "kapok mu kapan.. heeeem... heeeem.. "ampuuuuuun" "heeeeeemm" "ampuuuun... aampuun.. ampuuuun" "Biariiiiin.... heeeeem.." " ....ampuuun" "Cukuuuuuup... ampuuuuuun" "Makanyaaaa, Udah tau temennya lagi Kasmaran dan bertepuk sebelah tangan.. Tangannya sampai bengkak begini... eeeeeeee malah diledek!!!" "Haruskah aku menangis?.... Haruskah aku berkata... Kaciaaaaan dweeeh lhoooooo?" Hahahahhhahaha... "Serius dikiiit donk Ndok." Pinta Irma. "Okey. Sorry," Irma hanya tersenyum. "Aku dapet bocoran kalau kamu deket sama cowok kece?" "Fitnah." "Aldo, si Jago menggaet cewek itu, sepertinya mulai pasang aksi." "ooooooo, cowok setengah botak itu tho?" "he'em. INGET.. dalam waktu seminggu kau pasti bertekuk lutut dibawa gairah romantisnya." Mendengar kata itu, Irma cuma tersenyum dalam hati. Lalu meringis. "Bahkan tiap hari sekarang aku selalu bersamanya lho." "Waduh. Gawat !! Berarti Bener apa yang dikatakan Juna." Kata Sonya dalam hati. "Aku satu tim kerja dengannya. Tapi selama. 7 bulan bersamanya, belum ada tanda-tanda kearah itu?" "Play boy tobat." Gumam Sonya "Kok jadi ngomongin dia sich. Tenang aja, dia jinak di tanganku". Kata Irma meyakinkan Mia. "Ini ada hubungannya dengan Arjuna." "Haaaaaaa? Kok bisa?" "Terakhir kamu sama Aldo di Danau buatan kan?" "He'em. kok kamu tau?" "Kau bilang tugas luar kota, tapi makan di Restoran cepat saji sama Aldo kan?" "Kau ke toko perhiasan, cari kalung dan cincin berlian sama dia juga kan?" "Kau, juga ke plaza berdua, ke pantai berdua, ke butik berdua, ke penyewaan gaun pengantin berdua, sering makan bareng berdua sama Aldo kan kan kan?" "iya. maksudnya apa? Kamu memata-matai ku ya?" "Semua yang kuceritakan ini, kebetulan Juna yang liat dengan mata kepalanya sendiri." "Saat dia mengambil pesanan kalung bertuliskan namamu dan namanya, dan membeli cincin berlian dari hasil kerjanya. hanya untuk kamu. Ternyata, kamu dan Aldo membeli kalung dan cincin ditempat yang sama. Saat itulah dia memutuskan untuk tidak mengganggu kebahagiaanmu dengan Aldo." Irma terdiam. Tak keburu menjelaskan yang sebenarnya. "Berarti kamu tau siapa yang bersama Juna, di Ultah Risma yang kemana-mana selalu mesra berdua?" Tanya Irma. "Ya, jelas taulaaaaaah." "Kamu Jahat Ndok !!!!, benar-benar tega sama aku. Kenapa kamu gak pernah cerita sama aku?" Irma Memandang Sonya dengan sorotan tajam. Tampak dia kecewa dan marah terhadap Sonya. "Terus apa istimewanya? apa untungnya diceritakan? Lagian mesra sama adiknya, kenapa dimasalahkan?!" Kata,Sonya. Santai dengan memegang pundak Irma. "Jadi?" "Yaah, dia memang adiknya." Lanjut Sonya Emosi Irma mereda. Sesaat pikirnya mengembara. Irma sudah gak bisa berfikir. "Jadi selama ini aku telah salah menilai Arjuna ku. kukira dia telah berpaling ke lain hati." Lama Irma terdiam. Sonya gak mau mengganggu dan membuyarkan pikirannya. Diambilnya sebuah kotak kecil, diletakkannya di depan Irma. Pikir Irma sepertinya ini titipan dari Juna. "Sebenarnya, dia berpesan agar kotak ini diberikan kepadamu, setelah kau punya anak, minimal setelah kau menikah nanti. Dibukanya, kotak itu. sebuah cincin berlian dan kalung berliontin I&A. (Irma & Arjuna) bukan. Irma & Aldo. "Aku dan Aldo, tim dalam pekerjaan. kami tak ada hubungan spesial." Jelas Irma. "Memang tiga bulan terakhir ini dia berusaha mendekatiku. Tapi aku sama sekali tak menanggapinya. Karena Cintaku hanya untuknya." Lanjutnya. Sambil mengenakan kalung pemberian Juna "Seandainya, Juna memang gak memilihku, dan menikah dengan gadis pilihannya, maka aku lebih memilih untuk hidup sendiri." Mendengar cerita Irma, dia jadi ikut sedih. Tapi harus dia ceritakan juga agar Irma segera mengetahui yang sebenarnya. Seperti yang diceritakan Juna kepadanya. -BERSAMBUNG-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN