Lima

1318 Kata
"Nak Juna." "Ya, Te." "Tante amati akhir-akhir ini nak Juna sepertinya tertekan banget." "Biasa aza Te." "Tante ngerasa sepertinya kamu punya beban yang berat, terlebih beberapa bulan terakhir ini. Tante yakin itu gak ada hubungannya dengan pekerjaan. Boleh Tante tau?" "Nak Juna gak harus memendamnya sendiri. Nak Juna bisa berbagi dengan Tante. Mengtasi masalah berdua jauh lebih baik daripada memendamnya sendiri lho." Tambahnya. Juna, berusaha untuk menyembunyikan sesuatu yang sangat berat menyangkut dengan pendamping hidup. "Te, Kalau Tante mengijinkan. Juna akan menjadikan Siska pendamping hidup Juna." "Jangan mengambil keputusan terburu-buru Nak. Bukan berarti Tante melarang." "Juna tlah pikir dan ini keputusan terbaik. Maafkan Juna Tante." "Boleh tau alasannya?" "Juna cerita dari awal ya Te?" Juna menceritakan awal menyukai seorang gadis, waktu dibangku kuliah. Untuk menyatakan cintanya dia memberikan setangkai mawar merah. Juna ditolak. Penolakan itu tak membuat Juna menyurutkan niatnya. "Selama enam tahun Juna tetap berusaha, memperhatikannya. Juna memang tak lagi berani mengungkapkan dengan kata. Namun Juna akan buktikan kesetiaan Juna." Mama Tannia, orang tua Siska menyimak kisah Juna dengan penuh kekaguman. "Suatu ketika, Juna berfikir akan memberikan sesuatu yang berharga. Bentuk kesungguhan Juna dalam penantian selama enam tahun lamanya." Sejenak Juna berhenti menceritakan kisah cintanya. Ternyata, dia yang Juna perjuangkan selama ini, sudah memiliki pilihan. Juna sempat bertemu di tempat Juna membeli cincin dan kalung. Ditempat lain Juna melihat mereka berdua mencari gaun pengantin. Bahkan Juna sering menjumpai mereka berdua." Mama Tannia hanya terdiam mendengar kisah Juna. "Tapi Juna tak pernah menyadari bahwa Tuhan tlah mengirimkan Bidadari buat Juna yang selama ini Juna abaikan begitu saja." "Bidadari itu tak pernah mengijinkan satu hati pun untuk mengisi hidupnya, Tak pernah memberikan kesempatan pria lain mencintai dirinya." Arjuna diam sejenak, menghela nafas panjang, membenahi duduknya kemudian melanjutkan. "Dan bodohnya. Juna, tak pernah menyadarinya. Juna hanya sibuk memikirkan orang yang tak pernah mempedulikan Juna." Mama Tannia, mendekati dan duduk disamping Juna dan memegang pundaknya. "Juna nggak salah nak. Justru karena perhatianmu yang tuluslah, Siska menambatkan pilihan hatinya. Sejak Awal Tante yakin Juna dikirim Tuhan buat Siska." "Makasih Te, bila Tante setuju dengan keputusan yang Juna ambil." "Met sore, Cay, nick Ciciz bawain kecukaan cay." Disayanginya pipi Juna dari belakang. Siska lupa kalau disitu ada Mamanya. "Heeeemm, anak Mama dah dateng ea? Pesenan Mama mana?" "Ciiiaah, Emang Mama pesen apa?, kok Siska waktu pamit tadi gak denger tuh Ma?" Dihampiri Mama, disayanginya, pipi kiri dan kanan. "O..iya, Mungkin Mama yang lupa kali, ea?!" "Tapi Siska gak pernah lupa kok, Ma. Ini kesukaan Mama." Mama Tannia tersenyum. Dan berkata: "Makaci ea tayank." "Tante, boleh Juna bilang sekarang." "Heeeemmmmm." Belum selesai Mama ngomong Siska menyela. "ea, Nak, silahkan, pasti mau bilang kalau Siska makin cantik ea., atau mau minta disuapin Siska?" Sambil nyengir. Junapun langsung mencubit kedua pipi Siska sambil berkata : "Heeeeem.. coba bilang sekali lagiiiiii." "Tatiiiit, tauuuuuuu?" Jawab Siska. Mama tersenyum melihat kemesraan mereka berdua, "Okeey, Nak Juna mau bilang apa tadi." Tanya Mama. "Gak jadi dech Te.... Nanti aza kalo Siska dah bobok." "iiiiiiiiiiiich, Jahaaaaat!!! Awas ya nanti gak tak beliin oleh-oleh lagi kalau Siska pergi," Siska berdiri, lalu mencubit lengan Juna dan pergi ke kamar. "Ngambek bareng-bareng yuuuuk.... satu...duaa... tiiii." "Maleessesssss." Teriak. Siska, sambil menjatuhkan diri di tempat tidur lalu menutup kepalanya dengan bantal. Hp Juna bergetar. Juna membukanya. Dan pesan itu dari Maia. "Gingapain?" "Tante. da pa?" *Gak. Pengin nanya za + nanya pa? * Da waktu gak +kapan? *tar sore, kita bertiga +bertiga ma capa? *ma Irma lah. +dah kuputuskan tuk gak ketemu dia lagi q gak mau ggu dia *mau tau kabar ter baru tentang dia? +gak!!! maaf. * ternyata Irma belum ada yang punya. dia tuh nunggu kamu. Juna menutup hpnya dan gak merespon apa yang dikatakan Maia. Disamping itu. Juna berjanji untuk fokus, saat dia bersamanya. Beberapa saat kemudian Mama dan Juna menyusul kedalam, takut si cantik ngambek. "Cie..cie..cieee.cieeeeeee, githzu azza ngambeeeek!" Rayu Juna "ntar cantiknya ilaaaang, yayank Juna berpaling ke lain hati lhooo.. hayo. Glmana?" Sambung Mama. Siska diam tak menjawab sepatah katapun. "Kalau kelamaan ngambek, cantiknya ilang lho. Terus kalau cantiknya ilang. Yayang Juna berpaling hati mencari yang lain gimana?" Tambah Mama. "Jangaaaaaaaaan." Kata Siska sambil meloncat dan memeluk kekasih hatinya. Didekapnya erat-erat, disembunyikan wajahnya di leher kiri Juna. Sesekali dicium pipi Juna. Mendengar apa yang Mama katakan, membuat Siska benar-benar ketakutan. Takut kehilangan pria yang tlah lama mengisi kesejukan dalam hatinya. "Jangan tinggalkan Ciciz ea cayank." "Enggak. Kakak janji tak akan pernah meninggalkan Bidadari kecil yang kini tlah tumbuh dewasa. Sampai Tuhan memanggil kita kembali kepadaNya." "iiiiich..ciuuuuus?" "He'emmm." Beberapa hari setelah Irma mendapatkan kalung dan cincin berlian yang dititipkan Juna ke Mia. Perasaan bahagia itu sering muncul. Namun, kabar tentang pertunangan Juna dan Bidadari kecil tlah tumbuh dewasa itupun membawa siksaan yang dahsyat baginya. Sama-sama saling menunggu, sama-sama gak berani mengungkapkan, sama-sama salah sangka itu yang membuat perjalanan cintanya berakhir dengan rasa pahit. "Seandainya waktu dapat diputar kembali." Kata Irma dalam hati, saat duduk didepan meja rias. Sambil memakai kalung pemberian Juna. Dipegangnya liontin berinisial I&A. Hari ini Irma mengambil cuti. Dia tak ingin melakukan aktifitas apapun. Yang dia inginkan hanyalah menikmati kenangan indah yang diukir sang Arjuna selama di kampus. Walau tanpa kata rayu, walau tanpa ungkapan cinta. Namun sikap dàn tindakan sang Arjuna, baginya merupakan ungkapan kasih tulus yang dia rasakan waktu itu. Baru saja dia mendapat kabar dari sahabat karibnya, bahwa sang Arjuna belum ada yang memiliki, karena cintanya hanya untuk dirinya dan dibuktikan dengan kalung liontin bertuliskan I&A dan cincin berlian, yang kini dipakainya. Tak lama kemudian datang berita, bahwa Arjuna tlah meminang seorang gadis. Ada rasa bersalah yang dalam, ada kekecewaan yang dalam, ada penyesalan yang dalam. Tapi dibalik semua itu, ada penghiburan buat dirinya. Bahwa, seseorang telah mengasihinya dengan tulus. Walau kini menjadi milik orang lain. Ini semua bukan kesalahan sang Arjuna, bukan pula kesalahannya. Namun Takdirlah yang tak menghendaki sang Arjuna menjadi miliknya. Diambilnya kunci mobil dan dompetnya. Diikat rambutnya seadanya. Irma berangkat, menuju danau buatan. Tempat biasanya Arjuna menyendiri. Hal itu dilakukannya, bukan supaya bisa bertemu sang Arjuna. Melainkan ingin menyendiri, seperti yang sering dilakukan oleh Arjun, yaitu mencari ketenangan. ***** Di Waktu yang sama, di tempat lain. Juna mulai bisa mengesampingkan cintanya kepada Irma. Baginya, perjuangannya selama ini bukan hal sia-sia. Jika hari ini dia tak menuai hasil dari perjuangannya untuk memiliki Irma. Itu bukan sesuatu yang harus diratapinya. Karena hidup adalah realita yang harus dihadapi. Bagi Juna, kenangan yang sesekali muncul dalam benaknya itu sebuah kewajaran. Faktanya adalah kini dia menjadi milik sang Bidadari yang tlah tumbuh dewasa. Setangkai Mawar Merah yang ditolak Irma, bukanlah pertanda, bahwa dia tak berjodoh dengan Irma sang pujaan angan. Kejadian waktu itu hanyalah sebuah spontanitas reaksi. Tiba-tiba Juna tersenyum sendiri ketika teringat kejadian waktu itu. Seharian memang hujan cukup lebat. Banjir menggenang hingga diatas lutut orang dewasa. Terpaksa mobil diparkir jauh dari rumah. Menunggu air tak kunjung surut. "Lapeeeeer." Rintih Siska kala itu. "Ya sudah kita tinggal mobilnya disini. Kita jalan za." Katanya. "Hiiiiiiiiiiii... ndak mau.. gak mauuuu.. ndak mauuuuu." "Teeruuuus?" "Gindoooooooong." "Ya dah ayuuuk." Disodorkan kedua tangan Juna. "Gak mau!!!! Siska maunya gindong beyakaaaang." Kata Siska Manja. Sepanjang jalan mereka berdua sambil bercanda. Jalannya agak perlahan karena melawan arus. Tak lama kemudian, Siska membisikkan sesuatu kepada Juna, yang membuat Juna ketawa cekikikan. Merasa dijadikan bahan tertawaan Siska Pun melonjak-lonjak diatas gendongan Juna. Kreeeeeek. bunyi sepan Siska. "iiiiiiiiiiich.. Kak Juna siiiich. Nick jadi robek dah seragam Siska. Hiek..Hiek..hiek heik." "Sudah gak usah nangis, ntar sampai di rumah lihat aza. Pasti bengkak gara-gara..... Aduuuuuuh... kok malah nyubit sih?" "Biariiiin, dah tau anuuuu.... malah diledekin!!!" "eaaaaaa, tapi tembusnya sampai dipunggung kakak nich." Juna akhirnya membopong Siska, karena dua hal tersebut. Saat sampai di depan rumah Siska Pun lari masuk. Banyak kenangan lucu yang muncul di benak Juna, yang membuat dia tersenyum sendiri. "Hayoo, inget apaaa? Kok senyum sendiri." Sapa Siska memecahkan keheningan. Juna cengar-cengir, lalu diceritakan kenangan lucu itu. Siska tertawa ngakak. "Kok diinget yang gituan siiich? Emang gak ada kenangan yang lebih manis apa? hahahahahaha." -Bersàmbung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN