Enam

2402 Kata
"Lebih tenang dari yang kubayangkan." Pikir Irma, saat dia duduk di pinggir danau buatan itu. Pandangan mata tak henti-henti menikmati suasana sekelilingnya. Walau ramai dikunjungi, namun suasana hening tanpa suara. Tarian rimbunan disapa angin. Bunga-bunga mekar dikerumuni lebah. Semut hitam berlarian di batang dan daun seperti tak pernah merasa lelah. Kicau burung yang kasmaran meliuk, tebar pesona. Riak air danau sesekali tampakkan gairahnya, terkadang juga diam,. sesekali terusik dan bergerak ikuti candaan ikan menghirup udara dipermukaan. Rupanya handphone sengaja di mode pesawat, mungkin Irma tak mau ada yang menghubunginya. Irma duduk tepat di bibir danau, kakinya menyapa air dan menggerak-gerakkan, dilihatnya ikan berkeriapan, berkejar-kejaran. Berebut makanan yang Irma lempar, kemudian menjauh. Saat Irma mencoba melempar sesuatu yang bukan makanan, tak satupun ikan. Saking asiknya menikmati indahnya pemandangan di sekitar danau, Irma tak menyadari. kalau dibelakangnya ada seseorang yang memperhatikan. Dering handphone membuyarkan lamunan Irma, dicarinya sumber suara. Ternyata suara bukan dari hpnya. Maia, gak tahan untuk gak tertawa. Melihat Irma sahabat karibnya, seperti kebingungan mendengar suara dering handphone. Melihat Maia, Irma langsung meloncat. Dirangkulnya Maia erat. Dipegang kedua tangan sahabat karibnya, kemudian meloncat-loncat berputar kekiri, balik ke kanan. Berpelukan lagi dan saling mendekap erat. "Kok kamu disini? sendiri?" "Kok kamu juga disini?" Balas Irma. "Entahlah, tiba-tiba saja aku pengen bingit mampir kesini.... eeeeeee.. Ternyata. Sahabat terbaikku lagi berada ditempat ini." "Emangnya, kamu mau kemana? n dari mana? ada keperluan apa? sama siapa, sekarang kamu tinggal dimana, sudah punya pacar belum, terus....s." "DOR!!! Satu, satu donks nanyaknya... tapi semua pertanyaanmu gak penting. yang penting itu, bisa ketemu sahabat lamaaaa.. itu jauh lebih penting" Jawab Maia. "Aku dah punya anak satu. Sekarang Tinggal sama Oma, Opanya." "Emang kumu tinggal dimana sekarang?" "Tetep di Jogja Non." "Berarti kamu kesini sama suamimu? mbok ea dikenalin tho?" "Hem, gak perlu kenal Non, BAHAYA, ntar kamu kena rabies" Kelakarnya. "Gila. Suami kok dikatain gitu!" "Aku, kesini itu sendiri. Nyetir sendiri. tau. Suamiku kabur. Entah kemana." Maia dan Irma duduk berdampingan. Kedua kakinya sama-sama memainkan air danau. "Mungkin aku terlalu polos, mungkin juga aku memang bodoh. Yang jelas aku terjebak oleh keluguan, perhatian dan keromantisannya." Irma menyimak dengan penuh perasaan, dari awal cerita sepertinya Irma sudah mengerti arah yang bakal Maia ceritakan, namun Irma hanya berusaha untuk menjadi pendengar yang baik. "Karena perutku membesar sebelum rencana pertunangan, makanya kami segera dinikahkan. Hal yang membuat kedua orang tuaku tercoreng. Sehari sebelum pesta pernikahan itu dia pergi hingga saat ini.” Cerita Maia. Tak terlihat sedih sedikitpun di rautnya saat menceritakan hal itu. Maia, sepertinya menyadari, bahwa yang terjadi pada dirinya memang kenyataan pahit yang harus dia jalani. "Aku memang tak berusaha untuk mencarinya. Bagiku, apa yang dia lakukan itu sebuah pilihan yang dia ambil. Jadi untuk apa aku mencari orang yang memang sejak awal sudah berniat jahat dan memang tak mau bertanggung jawab. Mendingan aku jalani saja kenyataan pahit ini dengan tulus. Bagiku, masa depan anakku Shanti lebih penting." "Kamu dah maem lom, yuk kita cari tempat yang sip, sambil ngobrol." Kata Maia. "Mending rehat di tempat kost q za yuk, biar capeknya ilang n kita bisa cerita lebih asik." Kata Irma. "Okeeey." "Ikuti aku ea, tapi jangan ngebut." ****** Sesampainya di kost Irma. "Kamu pengen makan apa? tak pesenin. Aku gak pernah masak. Maklum, aku ini jomblo permanen." "Asal bukan makanan kucing okey azalah." "Jam segini enaknya Pangsit Mie Ayam. Tar malem kalo laper kita pesen yang lain. Kalo mau minum tuh di sono ambil sendiri." Usai Irma pesan makanan, dia dapat kiriman video dari Aldo. Yang isinya acara ultah teman kantornya. Maia terkejut, ketika lelaki yang membuat malu keluarganya ada disitu. "Itu yang cakep keren siapa namanya?" "Tertarik ea, jatuh hati pada pandangan pertama ea?" "Pengen tau ajjaaaa, siapa namanya?" "Cie..cieeeee..cieeeee...cieeeeee. Terpesona pada pandangan pertama niiiiii yeeeeee!" "Itu namanya Aldo. Kebetulan enam bulan terakhir ini satu tim dengan aku. Ke luar kota berdua. eeeeiiiiiiiissss... tapi dia bukan tipeku lho, walau dia berusaha mengambil hatiku." "Untung!" Gumam Maia "Apa katamu? untung? berarti bener dong kataku, kau jatuh hati pada pandangan pertama?" "Dunia ini memang sempit ea?" "Maksudmu?" "Aldo itu, yang aku ceritakan tadi." "Kurang ajaaar!!! awas ea!! lihat aza nanti !!!" Nampak sekali bahwa Irma sangat emosi mendengar bahwa Aldo adalah orang yang menghancurkan masa depan sahabat sejatinya. "Sebenarnya, nasib karirnya ada ditanganku. Kalo aku bilang gak suka sama kinerjanya, hari ini juga boss pasti pecat dia." Wajah Irma semakin geram, rasanya gak sabar menunggu esok. "Sayang aku lagi ngambil cuti dua minggu. kalau gak. Besok pagi dah hengkang dari kantor tempatku bekerja". Emosi itu semakin tampak di wajah Irma. Rupanya, kali ini Irma gak bisa diajak kompromi. Satu yang dia inginkan bahwa Aldo harus keluar dari kantor itu. "Sudah, aku yang jadi korban kok kamu yang emosi." "yaaaa iyaaaaalah, siapa yang rela Sahabat sejatinya, dipermalukan, bahkan direnggut masa depannya?" "ssssssst. Jangan keras-keras. Malu sama tetangga." Bel rumah berbunyi. Pesanan tiba. "Ini Non pesanannya." "Makaci bang. Ini uangnya. Kembaliannya buat abang dah." "Kata boss, uang yang kemarin juga masih sisa kok Non." "Ya sudah, ambil ajja. tuh berarti rejekinya abang." "Gak Non, abang jadi gak enak nich, tiap pesen kok uangnya lebih?" "Ya sudah, kalo gak mau, uangnya kasih pengemis, ato buang aza di tong sampah." "Ah, enon. abang jadi serba salah. Makasih ya Non. Semoga Gusti Allah melimpahkan rejeki buat eneng. Kalo gitu abang pamit ya Neng!" "Okey bang, kalo nginep sini bahaya bang. bisa ditangkap hansip. ati-ati di jalan ea bang. eeee.. jangan lupa tutup pagar baaaang!" Saat mereka berdua menikmati pangsit mie ayam. Dilihatnya, wall papper hp Irma adalah kakak misan yang dua besok adalah hari pertunangannya. "Waduh !!!!. Cerita apalagi ini? jangan-jangan kakak misannya juga punya wanita lain niiich? gak beres ini dunia kok dipenuhi pria gak setia begini?" Kata Maia dlm hati. Irma tau kalau Maia sedang melihat foto wall papper dihpnya. "Dia adalah Arjuna, waktu kuliah enam tahun yang lalu memberikan setangkai mawar merah, memintaku untuk menjadi kekasihnya. tapi ku buang. Kemudian dia ambil kembali. Kau tau kan? Aku belum pernah jatuh cinta." Cerita Irma. "Tak lama kemudian, aku jatuh hati padanya dan dia pun masih suka padaku. Tapi kami berdua tidak ada yang berani mengungkapkan rasa cinta itu." "Saat aku dekat Aldo, yang memang kami tim dalam pekerjaan. Kemana-mana aku selalu bersamanya. Juna mengira bahwa dia adalah calon suamiku. Begitu sebaliknya. Juna sangat akrab dan mesra dengan Siska. Aku menganggap dia adalah calon istri Juna. ternyata dia adalah gadis cantik yang sudah dianggap adik sejak SD kls 5." "Awalnya Juna ingin mengungkapkan cintanya kepadaku dengan kalung yang aku pakai ini ada namaku dan namanya. serta cincin berlian ini." "Karena Juna menganggap aku sudah mau menikah. makanya dia menitipkan kalung ini kepada temanku untuk diberikan kepadaku setelah aku menikah dengan Aldo. lalu Arjuna menerima cinta Siska, yang dianggap adik sejak kecil itu." Maia jadi meneteskan air mata, saat mendengar cinta rumit Irma dan Juna. Sedangkan dia datang ke kota ini juga undangan acara pertunangan Arjuna dan Siska. "Non kowe pasti kecewa ea?" Tanya Maia dengan tatapan penuh empati. "Kecewa itu pasti Enam tahun kami sama-sama saling memendam rasa, tapi yah, mau apa lagi. Cinta tak harus memiliki" Irma berusaha menghibur diri. "Naaaah.. sekarang makin jelas. Bahwa kau cuti terus ke danau buatan itu. Pasti sedang menghibur diri kan kan kan?" Irma hanya mengangguk. "Lebih tenang dari yang kubayangkan." Pikir Irma, saat dia duduk di pinggir danau buatan itu. Pandangan mata tak henti-henti menikmati suasana sekelilingnya. Walau ramai dikunjungi, namun suasana hening tanpa suara. Tarian rerimbunan disapa angin. Bunga-bunga mekar dikerumuni lebah. Semut hitam berlarian di batang dan duan seperti tak pernah merasa lelah. Kicau burung yang kasmaran meliuk, tebar pesona. Riak air danau sesekali tampakkan gairahnya, terkadang juga diam, sesekali terusik dan bergerak ikuti candaan ikan menghirup udara dipermukaan. Rupanya handphone sengaja dimode pesawat, mungkin Irma tak mau ada yang menghubunginya. Irma duduk tepat di bibir danau, kakinya menyapa air dan menggerak-gerakkan, dilihatnya ikan berkeriapan, berkejar-kejaran. Berebut makanan yang Irma lempar, kemudian menjauh. Saat Irma mencoba melempar sesuatu yang bukan makanan, tak satupun ikan yang datang. Saking asiknya menikmati indahnya pemandangan di sekitar danau, Irma tak menyadari. kalau dibelakangnya ada seseorang yang memperhatikan. Dering handphone membuyarkan lamunan Irma, dicarinya sumber suara. Ternyata suara bukan dari hpnya. Maia, gak tahan untuk gak tertawa. Melihat Irma sahabat karibnya, seperti kebingungan mendengar suara deringnya Melihat Maia, Irma langsung meloncat. Dirangkulnya Maia erat. Dipengang kedua tangan sahabat karibnya, kemudian meloncat-loncat berputar kekiri, balik kekanan. Berpelukan lagi dan saling mendekap erat. "Kok kamu disini? sendiri?" "Kok kamu juga disini?" Balas Irma. "Entahlah, tiba-tiba saja aku pengen bingit mampir kesini.... eeeeeee.. Ternyata. Sahabat terbaikku lagi berada ditempat ini." "Emangnya, kamu mau kemana? n dari mana? ada keperluan apa? sama siapa, sekarang kamu tinggal dimana, sudah punya pacar belum, terus.... "DOR.....!!!!. Satu, satu donks nanyaknya... tapp semua pertanyaanmu gak penting. yang penting itu, bisa ketemu sahabat lamaaaa.. itu jauh lebih penting." Jawab Maia. "Aku dah punya anak satu. Sekarang masuk TK. Tinggal sama Oma, Opanya." "Emang kamu tinggal dimana sekarang?" "Tetep di Jogja Non." "Berarti kamu kesini sama suamimu? mbok ea dikenalin tho?" "Hem, gak perlu kenal Non, BAHAYA, ntar kamu kena rabies." Kelakarnya. "Gila. Suami kok dikatain gitu!" "Aku, kesini itu sendiri. Nyetir sendiri. tau. Suamiku kabur. Entah kemana." Maia dan Irma duduk berdampingan. Kedua kakinya sama-sama memainkan air danau. "Mungkin aku terlalu polos, mungkin juga aku memang bodoh. Yang jelas aku terjebak oleh keluguan, perhatian dan keromantisannya." Irma menyimak dengan penuh perasaan, dari awal cerita sepertinya Irma sudah mengerti arah yang bakal Maia ceritakan, namun Irma hanya berusaha untuk menjadi pendengar yang baik. "Karena perutku membesar sebelum rencana pertunangan, makanya kami segera dinikahkan. Hal yang membuat kedua orang tuaku tercoreng. Sehari sebelum pesta pernikahan itu dia pergi hingga saat ini." Cerita Maia. Tak terlihat sedih sedikitpun di rautnya saat menceritakan hal itu. Maia, sepertinya menyadari, bahwa yang terjadi pada dirinya memang kenyataan pahit yang harus dia jalani. "Aku memang tak berusaha untuk mencarinya. Bagiku, apa yang dia lakukan itu sebuah pilihan yang dia ambil. Jadi untuk apa aku mencari orang yang memang sejak awal sudah berniat jahat dan memang tak mau bertanggung jawab. Mendingan aku jalani saja kenyataan pahit ini dengan tulus. Bagiku, masa depan anakku Kaila lebih penting." "Kamu dah maem lom, yuk kita cari tempat yang sip, sambil ngobrol." Kata Maia. "Mending rehat di tempat kost q za yuk, biar capeknya ilang n kita bisa cerita lebih asik." Kata Irma. "Okeeey." "Ikuti aku ea, tapi jangan ngebut." Sesampainya di kost Irma. "Kamu pengen makan apa? tak pesenin. Aku gak pernah masak. Maklum, aku ini jomblo permanen." "Asal bukan makanan kucing okey azalah." "Jam segini enaknya Pangsit Mie Ayam. Tar malem kalo laper kita pesen yang lain. Kalo mau minum tuh di sono ambil sendiri." Usai Irma pesan makanan, dia dapat kiriman video dari Aldo. Yang isinya acara ultah teman kantornya. Maia terkejut, ketika lelaki yang membuat malu keluarganya ada disitu. "Itu yang cakep keren siapa namanya?" "Tertarik ea, jatuh hati pada pandangan pertama ea?" "Pengen tau ajjaaaa, siapa namanya?" "Cie..cieeeee..cieeeee...cieeeeee. Terpesona pada pandangan pertama niiiiii yeeeeee!" "Itu namanya Aldo. Kebetulan enam bulan terakhir ini satu tim dengan aku. Ke luar kota berdua. eeeeiiiiiiiissss... tapi dia bukan tipeku lho, walau dia berusaha mengambil hatiku" "Untung!" Gumam Maia "Apa katamu? untung? berarti bener dong kataku, kau jatuh hati pd pandangan pertama?" "Dunia ini memang sempit ea?" "Maksudmu?" "Aldo itu, yang aku ceritakan tadi." "Kurang ajaaar!!! awas ea!! lihat aza nanti !!!" Nampak sekali bahwa Irma sangat emosi mendengar bahwa Aldo adalah orang yang menghancurkan masa depan sahabat sejatinya. "Sebenarnya, nasib karirnya ada ditanganku. Kalo aku bilang gak suka sama kinerjanya, hari ini jg boss pasti pecat dia." Wajah Irma semakin geram, rasanya gak sabar menunggu esok. "Sayang aku lagi ngambil cuti dua minggu. kalau gak. Besok pagi dah hengkang dr kantor tempatku bekerja." Emosi itu semakin tampak di wajah Irma. Rupanya, kali ini Irma gak bisa diajak kompromi. Satu yang dia inginkan bahwa Aldo harus keluar dari kantor itu. "Sudah, aku jadi korbannya kok kamu yang emosi." "yaaaa iyaaaaalah, siapa yang rela Sahabat sejatinya, dipermalukan, bahkan direnggut masa depannya?" "ssssssst. Jangan keras-keras. Malu sama tetangga." Bel rumah berbunyi. Pesanan tiba. "Ini Non pesanannya." "Makaci bang. Ini uangnya. Kembaliannya buat abang dah." "Kata boss, uang kemarin juga masih sisa kok Non." "Ya sudah, ambil ajja. tuh berarti rejekinya abang." "Gak Non, abang jadi gak enak nich, tiap pesen kok uangnya lebih?" "Ya sudah, kalo gak mau, uangnya kasih pengemis, ato buang aza di tong sampah." "Ah, enon. abang jadi serba salah. Makasih ya Non. Semoga Gusti Allah melimpahkan rejeki buat eneng. Kalo gitu abang pamit ya Neng!" "Okey bang, kalo nginep sini bahaya bang. bisa ditangkap hansip. ati-ati di jalan ea bang. eeee.. jangan lupa tutup pagar baaaang!" Saat mereka berdua menikmati pangsit mie ayam. Dilihatnya, wall papper handphone Irma adalah kakak misan yang dua besok adalah hari pertunangannya. "Waduh !!!!. Cerita apalagi ini? jangan-jangan kakak misannya juga punya wanita lain niiich? gak beres ini dunia kok dipenuhi pria gak setia begini?" Kata Maia dalam hati. Irma tau kalau Maia sedang melihat foto wall papper di hpnya. "Dia adalah Arjuna, waktu kuliah enam tahun yang lalu memberikan setangkai mawar merah, memintaku untuk menjadi kekasihnya. tapi ku buang. Kemudian dia ambil kembali. Kau tau kan? Aku belum pernah jatuh cinta." Cerita Irma. "Tak lama kemudian, aku jatuh hati padanya dan diapun masih suka padaku. Tapi kami berdua tidak ada yang berani mengungkapkan rasa cinta itu." "Saat aku dekat Aldo, yang memang kami tim dalam pekerjaan. Kemana-mana aku selalu bersamanya. Juna mengira bahwa dia adalah calon suamiku. Begitu sebaliknya. Juna sangat akrab dan mesra dengan Siska. Aku menganggap dia adalah calon istri Juna. ternyata dia adalah gadis cantik yang sudah dianggap adik sejak SD kls 5." "Awalnya Juna ingin mengungkapkan cintanya kepadaku dengan kalung yang aku pakai ini ada namaku dan namanya. serta cincin berlian ini." "Karena Juna menganggap aku sudah mau menikah. makanya dia menitipkan kalung ini kepada temanku untuk diberikan padaku setelah aku menikah dengan Aldo. lalu Arjuna menerima cinta Siska, yang dianggap adik sejak kecil itu" Maia jadi meneteskan air mata, saat mendengar cinta rumit Irma dan Juna. Sedangkan dia datang ke kota ini juga undangan acara pertunangan Arjuna dan Siska. "Non kowe pasti kecewa ea?" Tanya Maia dengan tatapan penuh empati. "Kecewa itu pasti Enam tahun kami sama-sama saling memendam rasa, tapi yah, mau apa lagi. Cinta tak harus memiliki" Irma berusaha menghibur diri. "Naaaah.. sekarang makin jelas. Bahwa kau cuti terus ke danau buatan itu. Pasti sedang menghibur diri kan kan kan?" Irma hanya mengangguk. ……………………..Bersambung......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN