"Yank......Kenapa kau datang kepadaku, masuk dalam hatiku...
namun bukan menjadi milikku?
Mengapa kau hanya hadir untuk menjadi kenangan sepanjang yg tak ku tahu..." Rintih Irma dalam hati.
"Dalam keheningan malam ini, kuingin kau hadir
dalam mimpi indahku.
Rayu aku sepuas hatimu. Lenakan aku dengan gairah asmaramu, hingga aku lemas lunglai tak berdaya.
Mainkan jemari tanganmu dengan kehebatanmu.
Menarilah di perbukitan, di hutan belantara, singgahlah di lembah yang penuh madu. Mainkan hingga desahku memporak-porandakan kesunyian sepi hariku.
Agar, kala ku terjaga, ada bayang indah untuk menyibakkan jeritan hati yang penuh rindu.
Panggil aku dgn manjamu, dekap aku dalam kehangatan cintamu
itu cukup bagiku" Kata Irma dalam hati kala menuju pembaringan tuk mengundang lelap
"Non, anter aku belanja. Pengen masakin kamu."
"Duh, berdua za ribet! kamu pengen apa? tak pesenin."
"Pengen masak. Gak pengen beli."
"Besok za masak."
"Lagi gak pengen pergi nich." Kata Irma. Ditariknya selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Irma. Sayank. Masak tamu istimewanya, malah ditinggal tidur? Gak sopan itu!"
Irma meloncat dibuangnya selimut yang menutupinya, hingga terlempar di lantai. Kemudian menghampiri Maia dan dipeluknya.
"Maaf." Bisiknya.
Diciumnya pipi Maia kiri dan kanan dengan gemas.
"okey, mau kemana. Ayo kuantar."
Diikatnya rambut yang berantakan. Lalu menarik Maia keluar.
"Iiihhh...Jorok. Masak gak mandi atau cuci muka, gak gosok gigi. Aduuuuuh.... amit- amiiiiit dech Bidadari Jomblo permanen satu ini. Gimana bisa laku? kalo modelnya kayak gini?"
"Tuh.. liat model kayak begini niiih? Tambah Maia. Sambil menarik celana gemes yang dipakainya tidur.
Irma meringis, sambil garuk-garuk kepala.
"Tunggu bentar. q ganti dulu!"
Dilepasnya celana gemes dilempar dan dikenakan celana jean. Dilepasnya kaos tanpa lengan yang ukuran besarnya segajah lagi hamil itu. Dilemparnya lalu dipakainya kaos berlengan gambar setangkai mawar merah.
"Dah. yuk berangkat." Katanya.
Maia memandangi di atas tempat tidur. Berserakan segala macam ada disitu.
"Kayak Urap- urap Non tempat tidurmu. Ini karya seni abstrak, yang belum pernah kulihat sebelumnya."
"Udah Jeng. Jangan cerewet kayak nenek-nenek kehilangan pacar simpanan gitu aaaah. Jadi pergi gak?"
Ditariknya tangan Maia keluar. Sesampainya di depan, mau membuka mobil tiba- tiba Irma berlari.
"Bentar Jeng, kunci dan dompetku ketinggalan." Teriaknya. Melihat tingkah Irma, Maia hanya geleng-geleng kepala. Dia sangat prihatin melihat sahabatnya seperti ini.
"Untuk meluapkan kekecewaannya, makanya dia jadi seperti ini." Pikir Maia.
Saat di perjalanan banyak hal yang diceritakan Irma. Maia ikutan tertawa. Untuk mengalikan rasa kecewa yang mendalam, Irma bersikap seakan dia tegar dan menganggap tak pernah ada masalah dalam hidupnya, terlebih saat ini. Tapi gestur tubuh berbicara lain.
"Ir, aku pernah merasakan seperti yang kau rasakan. kekecewaan yang sangat dalam. Tapi aku sadar, bahwa kita manusia hanya bisa berusaha. Mungkin seperti yang sering kita dengar. Jodoh, rejeki, dan hidup kita sudah ada yang mengatur."
"Hari ini, kamu mau masak apa?" Irma berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kau bisa masak sop buntut gak?" Tambahnya.
"Bisa!. Kau pengen itu tho?"
"Gak. aku pengen Rawon, empal dan babat, sambal terasi."
"Hahahahahahahahaha... Gak nyambung Non dengan pertanyaanmu." Kaya Maia.
"Emang harus nyambung ea?" Tanya Irma sambil meringis.
Sesampainya di pasar tradisional, mereka berdua belanja yang dibutuhkan. Tanpa mampir kesana-sini langsung pulang setelahnya.
"Mau denger pengalamanku pertama kali aku masak gak non?"
"Tanya dulu masak apa waktu itu, kalau sekedar masak, kare,soto, rawon, gule, sup, rica-rica, plecing kangkung, pecel, nasi goreng, iga bakar, iga goreng." Maia terus ngomong gak menyadari kalau si Irma lagi menawar sesuatu di pintu masuk pasar itu.
Ketika Maia, menoleh dan tidak ada Irma di sampingnya. Baru sadar kalau dia bicara sendirian.
****
"Semua sudah pada dateng. Nampaknya kita terlambat.” Bisik Maia.
Saat mereka mencari pasangan yang berbahagia, mata Maia tertuju pada Aldo dan teman wanitanya.
"Penyakit itu datang juga rupanya." Bisik Maia kepada Irma.
Saat mereka berbisik, tampaknya Aldo tau, bahwa Maia ada disini.
"Celaka!! Maia ada disini. Kok bisa?" Pikirnya.
Melihat Maia, dia kebingungan. Tak tau harus berbuat apa.
"Sayang, aku ke mobil dulu ea, ada sesuatu yang ketinggalan." Bisiknya pada kekasihnya. Lalu Aldo bergegas pergi.
Melihat Aldo terburu-buru. Irma dan Maia segera menghampiri wanita cantik yang bersama Aldo.
Maia dan Irma berkenalan dengan wanita cantik itu.
"Airien"
"Irma"
"Airien"
"Maia"
"Yang pergi tadi kekasihnya ea?”
Airien mengangguk dan berkata:
"Kami berdua sebentar lagi bertunangan."
"Sudah berapa lama kenal sama dia?" Tanya Irma tanpa basa-basi.
"Baru sebulan, tapi ortu mas Aldo katanya ingin kami cepat menikah." Jawab Airien.
"Pintar sekali kecoa Aldo menjebak gadis yang polos." Kata Irma lirih. Namun didengar oleh Airien.
"Bukan cuma kenal, tapi kami berdua korban nafsunya. Maia ini sampai punya anak satu dengan nya. tapi ditinggal sampai sekarang. Makanya saat melihat kami berdua, dia langsung pergi."
Mendengar penuturan Irma, Airien sedikit emosi dan mau marah.
"Sssssssst...Tahan emosi. Jangan sampai merusak acara yang berbahagia ini, hanya krn kita." Kata Maia.
"Kalau aku nurutin emosi, maka sudah tak lempar kursi dia. Kareka meninggalkan aku sehari sebelum acara pernikahan." Tambahnya.
Airienpun menerima, saran mereka berdua.
"Terima kasih, kakak berdua telah menyelamatkan Airien. Sebelum berangkat kami menyewa Hotel, tadi Aldo hampir saja merenggut ........tapi...
"Tapi bengkak ea?"
"Kok kakak tau sampai sejauh itu ?" Tanya Airien penasaran.
"Ea... semalam kami berdua yang membuatnya seperti itu, di rumah Irma." Jawab Maia.
Airien semakin percaya kepada mereka berdua dan apa yang dikatakan tidak bohong dan Airien bersyukur selamat dari perangkap Aldo.
Merk bertiga pun akhirnya bersama. Arjuna dan Siska menghampiri merek bertiga.
"Ayo, mari menikmati hidangannya." Kata Arjuna.
Merk bertiga memberikan ucapan selamat. Hanya Maia yang memeluk Juna, mencium pipinya dan merangkul tanpa canggung. Karena Maia dan Juna adalah saudara misan.
Perasaan Irma ketika melihat sang Arjuna bahagia bersama Siska, ikut bahagia. Terpancar dari wajahnya yang bersinar berkilau.
"Cinta Tulus yang Irma miliki, sungguh tak pernah kudapati selama ini." Pikir Maia saat melihat Irma bertemu pujaan hatinya menjadi milik orang lain.
Acara pesta pertunangan ini tergolong sangat sederhana, tak ada kata sambutan, acara pemasangan cincin dan sejenisnya. Walau dihadiri lebih dari lima ratus orang.
"Gak perlu sungkan. Anggap rumah sendiri." Kata Irma pada Airien.
Bertiga, mereka duduk santai di ruang tamu. Tumben. Akhir-akhir ini Irma gak pernah menerima tamu, paling yang dateng cuma nganter pesenan. Itupun gak lama. Duduk sebentar nunggu uang, terus pulang.
Irma dan Maia saling bergantian bertanya pada Airien, sampai masalah yang paling pribadi.
Airien memang polos dan lugu. Juga bisa dibilang cantik dan imut. Setelah mendengar semua tentang Airien, Irma menawarkan pekerjaan yang mungkin lebih layak dan punya potensi untuk memiliki penghasilan yang dibilang sangat bagus, yang penting kinerja dan prestasinya bagus.
Maia sudah pasti akan menggantikan posisi Aldo untuk mendampingi Irma.
Awalnya, Irma ketemu Aldo secara kebetulan. Mobil Irma mogok di tempat parkir. Seorang ganteng, bersih penampilan lumayan. Tak kalah dengan manajer di perusahaan besar. Menawarkan diri untuk memperbaiki mobil Irma yang mogok. Dalam hitungan menit mobil Irma sudah nyala.
Karena penasaran Irma memperkenalkan diri. Singkat cerita, sebagai balas jasa Aldo ditawari pekerjaan, kebetulan memang dia lagi cari kerja.
Sejak saat itulah Aldo menjadi asisten Irma. Walau tak terlalu menguasai bidang pekerjaan yang digelutinya, namun Aldo memang sosok yang rajin. Hal itu pula yang membuat Irma tak segera menggantikan dengan yang lebih profesional.
Kini ceritanya menjadi lain, sejak mendengar bahwa Maia sahabat karibnya adalah korban penghianatan Aldo, kini Irma menjadi sakit hati dan dendam pada Aldo.
"Dingin begini, jadi pengen bakso. Jam segini masih ada gak Ir?"
"Masih. Pesen aza. nope ada di hpku."
Melihat Airien bingung gak bawa ganti Irma Pun menawarkan diri.
"Pake aza tuh, disituuu tuuuh banyak baju. Pilih aza." Kata Irma kpd Airien sambil menunjuk Almari.
"Jadi tambah ngrepotin ini namanya." Jawab Airien, sambil menatap Irma sedikit sungkan.
"Selama aku bisa, kenapa enggak. Nyante aza. Dan mulai hari ini kita tinggal bersama. Ntar lusa kita pindah ke rumah yang baru." Kata Irma, sambil menepuk pundak Airien.
Mereka bertiga, menikmati bakso yang dipesannya, sambil ngobrol kesana kemari.
"Mbak, besok pagi Airien pulang dulu, pamit sambil mengemasi pakaian dan barang yang diperlukan. Mungkin agak malam baru sampai disini."
"Bawa mobil kakak za, ....ooooo.. gak gak gak... kita bertiga kesana,. aku dan Irma pengen kenal ortumu."
"Ide cemerlang." Kata Irma.
Pagi ini mereka bertiga sudah selesai mandi. Wajah merek bertiga begitu cerah, secerah mentari pagi yg menebarkan pesonanya.
"Mampir sarapan dulu, Kamu pengen sarapan apa Jeng? Ah, mendingan kita sepakat, sarapan bubur ayam okey?"
"gaaaaaaaaaak... sudah tak siapin roti bakar sama telor titik." Kata Maia.
"Sak karepmu lah.. aku ngalah wae!." Jawab Irma.
Mendengar mereka berdua ciat ciut, Airien cuma tersenyum. Melihat senyum menggemaskan Airien, Irma berkata lirih.
"Selera bunglon itu memang berkelas tinggi."
"Ngomong opoooo? ... dah gak usah ngomongin dia. Perutku jadi mual." Saut Maia.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Airien tak henti-hentinya mereka bercanda. Menceritakan tentang pujaan hati yang mereka dambakan, hingga masa tua nanti jadi nenek seperti apa.
Saking asyiknya bercerita, hingga kota yang dituju telah terlewat hingga puluhan kilometer. Menyadari kenyataan seperti ini membuat mereka semakin tertawa ngakak.
"Supirnya lagi patah hati, jadi maklumi aza." Kata Maia.
"Berhenti makan dulu Jeng. Aku gak bisa konsentrasi kalo laper."
"Nanti di tikungan ada depot enak. Boleh ngutang kok, asal mobil ditinggal disana." Kata Airien. Sambil ketawa.
"ea...ntar kita pulang jalan kaki aza. Siapa tau ada sang Arjuna yang lewat, terus ngeliat kita dan rela mengantar."
"Terus, tertarik sama salah satu diantara kita, terus diajak kawin."
"Dan saat acara pernikahan berlangsung, yang punya suami datang membawa lima anaknya. Jadi gagal pernikahannya..hahahahah."
Mereka bertiga saling sahut-menyahut menyambung cerita, dan terasa seperti tak sedang mengalami masalah.