Delapan

1450 Kata
Rumah milik orang tua Airien tidak bertingkat. Namun halamannya dan rumah sangat luas. di bagian depan halaman hanya rumput yang terhampar rapi. disamping kanan ada dua pohon mangga gadung yang cukup besar. Kebetulan saat itu musim mangga, sehingga terlihat pating gemrandul buahnya. Dibagian tengah halaman. berjajar tanaman Bonsai dengan berbagai jenis tanaman dan bentuknya. Di bagian belakang ada bonsai Cemara, yang usianya sudah mencapai ratusan tahun, hadiah dari temannya orang Jepang, yang konon dibawah sendiri oleh Papanya Airien dari sana. Disamping pojok depan dekat teras, bergantungan tanaman anggrek berbagai jenis. Dari yang lokal sampai anggrek import yang sedang berbunga. Sesampai di rumah Airien, Maia dan Irma disambut deng ramah oleh keluarga disitu. Ternyata Airien bukan berasal dari keluarga yang biasa. Putri kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya adalah mantan Bupati dua periode. "eeeeee,...ada tamu. Ayo silahkan masuk." Sambut Papa Airien, sambil menghentikan aktivitasnya. Saat itu, Papanya Airien sedang merawat tanaman di halaman depan dekat teras. Memangkas bonsai kesayangannya. Pria enerjik, ramah dan bersahaja itu menyambut kehadiran sang tamu. "Maia, teman Airien." "Tjipto. Papa Airien." "Irma." "Tjipto. Papanya Airien. Ayo masuk." Katanya. "Jam berapa tadi berangkat?" "Siang Om, tapi tadi sempat nyasar, karena kami bertiga asik bercanda." Kata Maia. "Teman Airien kerja ea?" "Kedepannya begitu Om." "Lho, kok begitu?" Tanyanya "Ceritanya panjang Om." Jawab Irma. "Waduh. kalau terlalu panjang, gimana kalau ceritanya dibuat 30 episode." Canda pak Tjipto. "heeeeeem. Ternyata suka bercanda juga." Pikir Maia. "Ayo silahkan duduk." "Iriiiien, ambilin minum temennya!" Teriak pak Tjipto. Maia, Irma dan tuan rumah asik bercerita. Walau baru pertama mereka berjumpa, namun tampak jelas keakrabannya. "Begini om. Kami ingin mengajak Airien menjadi satu tim ditempat kerja kami. Itulah sebabnya kami berdua kesini mohon izin sama om." Dipandangnya Maia dan Irma dengan penuh kehangatan, pak Tjipto menjelaskan. "Papa ini, selalu memberikan kebebasan kepada anak-anak Papa untuk menentukan arah hidupnya. Asal mereka dapat memberikan alasan yang tepat dan mau bertanggung jawab terhadap pilihan yang diambilnya. Dan tentunya melakukan yang terbaik terhadap setiap keputusannya." Maia dan Irma menyimak setiap yang dikatakan pak Tjipto. Begitu juga pak Tjipto memberikan nasehat kepada tamunya dengan cara yang berbeda, yaitu dengan sedikit candaan namun setiap kata yang keluar adalah sebuah pesan moral yang mengena dan dapat dipahami Maia dan Irma. "Papa ini, ada temen Airien baru datang kok sudah diceramahi." Kata Airien. Sambil meletakkan minuman. "Ayo, disambi. Biar lebih masuk materi ceramah Papaku." Tambah Airien, kemudian mencium pipi Papanya. "oooo, iya Pa, kalau pak Sofyan gak sibuk, Airien pinjam sebentar ea. Mobil Airien kemarin dibawa teman." Airien menceritakan semua kejadian yang hampir menimpanya. Dia juga menceritakan mengapa bisa bertemu dengan Maia dan Irma sang penolong. "Ya, kalo begitu Papa suruh teman Papa yg bertugas disana, biar mereka yang mengambil mobilnya, sekaligus biar si Gemblung sedikit shock, kalau aparat penegak hukum yang mengambilnya." "Papa ini memang hebat. Beri pelajaran sebagai shock therapy. Biar gak mempermainkan kaum hawa seenak perutnya." Kata Airien. "Coba kalau Airien gak ditolong kedua Malaekàt dua ini, waduh... anak Papa bisa dipakai kuda-kudaan tanpa ada perlawanan sedikitpun bahkan Airien dengan sadar menyerahkan diri sebagai obyek wisata dan taman bermain." Tambahnya. "Ya sudah. Yang penting anak Papa yang cantik selamat. itu yang penting." Malam itu mereka ngobrol ditemani oleh tuan rumah. Pak Tjipto bercerita tentang banyak hal, mulai kenangan-kenangan lucu, hingga saat menjadi kandidat satu-satunya yang tidak memiliki dana untuk maju sebagai bupati dua kali periode. "Papaku dulu itu terpilih jadi bupati hingga dua periode itu bukan karena programnya yang hebat. Bukan juga karena dananya yang besar. Tapi masyarakat memilih Papaku itu karena memang Papa orangnya paling ganteng diantara kandidat yang lain." Canda Airien. "Tuh. Betul kata anakku yang paling cantik. hahahaha." Jawab pak Tjipto. "Ya sudah, lanjutkan kalian ngobrol, kini saatnya Papa semedi dulu cari wangsit. o iya, nanti tolong ingetin Airien, kalau mau bobo, suruh dia pipis dulu. Supaya gak sampai ngompol kayak kemarin. Masalahnya dua pembantu Papa lagi pulang kampung. Jadi gak ada yang jemur kasur kalau nanti sampai dia ngompol." Lanjutnya. "iiiiiih, Papa jahaaat." Jawab Airen manja. Pak Tjipto pamit. Dikecupnya pipi Airien kiri dan kanan serta keningnya, lalu masuk ke kamarnya. Maia, Irma dan Airien melanjutkan perbincangan santai mereka. "Kita ngobrol di kamar aza yuk, sambil berbaring santai." Pinta Airien. Selama ini Irma selalu berusaha untuk membela dan mempertahankan agar Aldo tidak sampai dipecat dari perusahaan, bukan karena Irma jatuh hati padanya, melainkan masalah ketidak tegaan Irma terhadap Aldo. Irma berfikir, bahwa dengan dituntunnya maka Aldo bisa menguasai pekerjaannya, mengingat Aldo tergolong orang yang sangat rajin dan tak kenal menyerah. Walau sebenarnya dia tak memiliki ijazah SMA. Tapi setelah mendengar bahwa sahabat karibnya yang telah dipermalukan, dan dihancurkan masa depannya, kini Irma jadi berubah pikiran. Dalam benaknya hanya satu. Yaitu Aldo harus membayar semua yang ia perbuat. "Rien." Sapa Irma "Aku punya ide bagus untuk membuat Aldo menyesali perlakuannya terhadap kaum kaum kita, terutama kepada Maia." Lanjutnya. "Kira-kira apa?" "Kita harus bicarakan rencana ini kepada Papamu yang siap membantu kita." Kata Irma. Dari raut wajahnya, Irma sangat marah dan dendam. Rencana matang telah dipersiapkan, dengan satu tujuan. Yaitu, membalaskan sakit dan derita yang dialami Maia. "Begini." Lanjut Ima. Mrk berdua menyimak apa yang dikatakan Irma, yang menjadi rencana kedepan. "Pertama. Bilang sama Papamu, minta nomer ponsel anak buahnya yang akan menangkap Aldo. Beri penjelasan. Bahwa kita akan membuat si kadal itu mengakui kesalahannya dan tidak lagi melakukan hal yang sama terhadap kaum kita." Kata Irma. "Sip. Terus, Kita minta anak buah Papaku, langsung menitipkan di panjara, dengan tuduhan penipuan. Sampai aku datang mencabut perkara dengan satu sarat. dia mau menandatangani perjanjian, bahwa dia tidak akan mengulangi perbuatannya. Dan jika melanggar, maka kasus akan dibuka kembali" Tambah Airien. "Jangan cuma gitu! Keenakan dia." Kata Irma "Terus gimana?" Tanya Airin "Kita minta kepada sipir, untuk memasukkan sel yang ada napi kekar dan garang, pakai nama Papamu, agar sipir mengabulkan permintaanmu." Kata Irma. "Aku ngerti maksudmu Ir. Napi garang itu kita kasih uang agar Aldo dikerjain hingga gak berkutik kan?" Saut Maia. "betul sekali. Tapi bukan dengan kekerasan fisik, melainkan diteror secara mental. Napi itu kita suruh mengaku, saudaramu. Entah saudara apa terserah. tapi kalau kamu gak keberatan lho.” Maia mengangguk tanda setuju. "Itu ide yang cemerlang. Ada lagi satu ideku yang cukup menarik." Kata Airien. "Apa?" Tanya mereka berdua serentak. "Saat penangkapan, kita bertiga ada disana. Dengan demikian si Kadal itu bakal malu." Kata Airien tersenyum ceria. Siang itu, Aldo berada di ruangan Irma. Karena atasannya sedang cuti, maka tak ada hal berarti yang dikerjakan, kecuali duduk santai dan sesekali bermain game online. Ngobral janji, menebar rayuan pada calon mangsanya. Sambil menunggu jam pulang kantor. Dan hebatnya, dia tak pernah mengeluarkan uang untuk semua mangsanya, dan semua korban rata-rata berwajah cantik, imut, mempesona dan lugu. "Sayaaank, ntar kita ketemuan ya. Tapi Deddy hari ini sibuuuuk bingit, ada kerjaan kantor yang gak bisa Deddy tinggal. Nanti Deddy hubungi ea. Ini masih ada rapat sama relasi dan anak buah niich." Ditutupnya pembicaraan. Dan menghubungi yang lain. "Hai cantik. Apa kabar ?" "...................." "Iya. Mas jg sudah ngangen bingiiit. Sehari azaaa gak liat senyummu, Mas rasanya gak punya gairah hidup." ".............." "Beneran!!!! ntar kalau ketemu belah dadanya Mas Aldo. Kau akan melihat wajahmu disana." "..........." "okey... nanti malam Mas Aldo hubungi ea. ini Mas lagi ada rapat penting nich.. jangan telepon dulu ea." Senyum puas Aldo nampak terlihat. Kembali dia duduk di kursi tempat Irma saat ngantor, kedua kakinya diletakkan di atas meja. Selfie, lalu diunggahnya di sss dan di i********:. Telpon bergetar. Dilihatnya, ternyata dari seseorang yang...... . Dirijegnya. Lalu dibalas dengan WA "Jangan telp lagi rapat penting." Aldo berdiri dan bergegas keluar. Mungkin akan mencari makan siang, walau sebenarnya jam istirahat masih belum waktunya. Melihat, Maia, Irma dan Airien, Jantung Aldo gemeteran. Dan membatalkan untuk keluar. Lalu kembali ke ruang kerja. "Celaka !!!, kok mereka bertiga bisa kumpul begitu ea? Ada apa ini. Hatiku kok jadi gak enak begini?" Pikir Aldo sambil berjalan menuju ruang kerja. Sementara itu di lobi kantor. Irma, Maia dan Airien duduk di ruang tunggu. "Permisi, boleh tanya? Dimana ruang Direktur utama perusahaan ini yang namanya Pak Aldo ya mbak?" Dipandanginya wanita cantik, imut berambut panjang dan polos itu. "Wah, ini korban si Kadal juga rupanya." Pikir Irma semakin geram. "O, iya. Silahkan tunggu disini mbak. Pak Aldo masih ada rapat penting. Silahkan duduk." Jawab Irma. "Kenalkan nama saya, Andini. mbak mau ketemu Pak Aldo juga ya?" Tanya Andini kepada mereka bertiga. Saat mereka berempat ngobrol, ada beberapa polisi masuk. Rupanya ini yang diminta pak Tjipto untuk menangkap Aldo. Saat Airien menghubungi nomor ponsel yang diberi Papanya, ternyata salah satu polisi berpakaian preman mengangkatnya. Airien bergegas menghampirinya. Entah apa yang dibicarakan oleh mereka berdua. Airien berkumpul kembali dengan Irman, Maia dan Andini. Airien nampak tersenyum puas. Mreka berempat kembali ngobrol tanpa menyinggung sedikitpun tentang Aldo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN