CHAPTER 10

1268 Kata
Apa pun mimpi dan harapan mereka, semestinya tidak ada yang menghalanginya karena setiap perempuan itu istimewa dan luar biasa. Perempuan pun punya mimpi, target, dan tujuan yang ingin dicapai semasa hidupnya. Mimpi itu gratis, andai kita masih ingin bermimpi setinggi-tingginya itu tidak salah sama sekali. Karena selagi mimpi dan harapan ada dalam sukma, tentu kita akan lebih bersemangat dalam menjalani hari. Terutama jika mimpi itu kita berusaha untuk mewujudkannya. "Apa aku sudah merasa cukup puas dengan kehidupan yang begini-begini saja, apa aku tidak ingin keluar dari zona nyaman? Kapan aku kuliah lagi? Bagaimana caranya biar aku bisa kuliah lagi?" Kata-kata itu yang selalu Tia tanyakan pada dirinya sendiri kala itu—saat ia belum mendapatkan kesempatan untuk kuliah lagi. Sekarang Tia bersyukur sekali pertanyaan-pertanyaan itu perlahan ia temukan jawabannya. Ia sudah berani keluar dari zona nyaman—zona nyamannya seorang istri. "Sayang kamu kuliah hari ini?" tanya Febri kepada Tia. "Iya Sayang, hari ini aku ada ujian semester—" "Tapi mungkin nanti pulangnya lebih cepat Sayang," ucap Tia. "Ya sudah kamu hati-hati ya Sayang. Aku berangkat kerja dulu ya." Febri mencium kening Tia dan langsung berangkat kerja bersama Atmaja. Tia yang berkuliah semester tiga ini sedang menghadapi ujian semester. Sebagai seorang istri, ibu rumah tangga, karyawati dan mahasiswi sangatlah tidak mudah bagi Tia. Ujian semester untuk hari ini sudah selesai. Mahasiswa mulai keluar dari gerbang kampus itu. Ada yang pulang dengan kendaraan pribadinya. Ada pula yang berjalan kaki menuju halte kampus. Dan ada yang langsung pulang ke rumah dengan jalan kaki karena rumah mereka yang tidak jauh dari kampus atau bisa dikatakan bertetangga dengan kampus tempat mereka berkuliah. Tia tampak pucat, entah apa penyebabnya. "Syukurlah aku bisa mengikuti ujian semester ini. Aku harap 2,5 tahun lagi aku akan mengenakan toga di kepalaku," batin Tia. Tia yang sedang menunggu bus di halte itu terkejut karena suara klakson mobil mengagetkannya. Kaca mobil itu diturunkan perlahan oleh sang empunya, ternyata Marko ada di dalam sana. "Hey, ayo naik!" ucap Marko kepada Tia. "Nggak usah Tuan, saya naik bus saja." "Cepat naik!" ucap Marko dengan ekspresi kesal. "Iya Tuan." Tia masuk ke dalam mobil Marko, sementara Marko duduk di belakang kemudi. "Maaf Tuan kita mau ke mana?" tanya Tia bingung karena jalan untuk ke rumah Tia beda arah. "Saya mau antar kamu pulang." "Tapi Tuan, jalan ini bukan arah jalan ke rumah saya Tuan?" "Benar, kita mampir dulu ke pusat perbelanjaan sebentar ya. Ada yang ingin saya beli." Sebelum mengantarkan Tia pulang ke rumahnya. Ia membawanya ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu. Tia yang sedikit pucat itu mengikuti Marko. Marko ingin membelikan Tia sesuatu. Ketika mereka masih berjalan dan melihat-lihat apa yang ingin mereka beli. Tia pun jatuh pingsan. Marko dengan paniknya menggendong Tia di lengannya untuk membawa Tia ke rumah sakit. "Anak ini sedang sakit, tapi ia pura-pura sehat. Ini pun salahku, aku tak begitu memperhatikan wajahnya yang pucat ini. Aku malah membawanya ke tempat keramaian begitu." Batin Marko. Setelah tiba di rumah sakit, Tia langsung dibawa ke IGD dan terbaring lemah di atas bed pemeriksaan. "Hey, Adik Zaky cepatlah bangun! Melihatmu terbaring lemah seperti ini membuatku khawatir. Adik Zaky ...." Gumaman Marko. Ia yang sedang duduk di samping tubuh Tia yang terbaring tak sadarkan diri. Marko pun tak bisa memindahkan pandangannya dari wajah Tia yang semakin memucat. Siang itu, Tia langsung diperiksa oleh dokter yang bertugas di rumah sakit itu. Marko pun masih setia mendampingi Tia di sebelahnya, ia terlihat begitu khawatir. Setelah satu jam tak sadarkan diri akhirnya Tia terbangun. Dokter yang memeriksanya tadi memberitahukan Marko dan Tia tentang apa yang dialami Tia. "Dokter bagaimana hasilnya Dok, apa Tia baik-baik saja?" tanya Marko. "Mba Tia jangan beraktivitas yang melelahkan dulu, sempatkan diri untuk selalu beristirahat pada siang hari, karena ibu sedang hamil—" "Karena Mba Tia sedang hamil jadi jangan beraktivitas berlebihan dan nutrisi juga harus tercukupi. Selamat ya Mas, Anda akan menjadi seorang ayah," ucap dokter itu kepada Marko. Sontak Marko terkejut bahwa iya akan menjadi seorang ayah. Padahal Tia adalah istri orang lain. Ia hanya membantu Tia dan membawanya ke rumah sakit. Marko menganggukkan kepalanya, ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia adalah orang lain dalam hal darurat seperti itu. "Baiklah, terima kasih Dokter. Apakah Tia sudah boleh pulang Dokter?" tanya Marko. "Sudah boleh Mas." Tia tak perlu dirawat secara intensif di rumah sakit, Tia boleh rawat jalan dan beristirahat yang cukup di rumah. Marko mengantarkan Tia ke rumahnya dan Marko menuntun Tia hingga masuk ke dalam rumahnya. Di rumah hanya ada Sinta dan Meilani yang baru saja pulang dari sekolah. Yang lainnya masih belum pulang. Linda yang biasanya selalu berada di rumah, sekarang ia mungkin sedang berbelanja di pasar. "Assalamualaikum," ucap Marko sambil mengetuk pintu "Waalaikumsalam." Ada sahutan dari dalam rumah. Sinta dan Meilani langsung membukakan pintu mendengar suara orang asing yang sedang mengucapkan salam itu. "Kak Tia?" Mereka berdua terkejut melihat kakaknya yang lemas dan pucat. "Terima kasih banyak Tuan Marko," ucap Tia kepada Marko. "Sama-sama Tia," jawab Marko Sinta pun langsung menuntun Tia ke kamar. Sementara Marko duduk di ruang tamu rumah itu. "Kakakmu sedang sakit, dia tadi pingsan dan sudah berobat ke rumah sakit, dan ini obatnya harus diminum tepat waktu ya," ucap Marko kepada adik Tia yang lebih kecil. "Terima kasih banyak Om," ucap Meilani kepada Marko. "Om mau minum apa?" tawar Meilani. "Tidak usah, terimakasih, saya langsung pulang saja." Marko pun meninggalkan rumah mereka. Sedangkan Tia masih terbaring di kamarnya karena masih lemas. Tak lama setelah itu ibu mereka tiba di rumah, benar saja Linda tadi sedang ke pasar. "Ma, Kak Tia tadi pingsan, sekarang lagi tidur di kamar," ucap Meilani kepada Linda. "Pingsan di mana?" tanya Linda. "Nggak tahu Ma, tadi Om itu yang mengantarkan kakak pulang. Om itu juga abis bawa Kak Tia ke rumah sakit," ucap belia itu menjelaskan. "Om siapa Mei?" tanya Linda. "Mar ... iya Marko namanya Ma," sambung Sinta. "Marko?" tanya Linda. Mendengar itu membuat Linda gemetar. "Marko? Apa dia Marko anakku? Bagaimana mungkin dia bisa kenal dengan Tia?Apa Tia bekerja di kantor Marko? Bu Venny yang ke sini waktu itu juga kerja di Dirgantara Group. Iya benar itu Marko Dirgantara. Apa mungkin Marko adalah atasannya Tia?" Lamunan Linda buyar, ia terkejut ketika anak-anaknya memegang tangannya. "Ma ... Ma ... Mama kenapa?" tanya Sinta dan Meilani kepada Linda. "Ah enggak Sayang, Mama kayaknya nggak enak badan juga deh. Mama ke kamar dulu ya. Kalian berdua jagain kakakmu ya," ucap Linda kepada anak-anaknya sembari meninggalkan mereka dan menuju kamarnya. "Baik Ma," ucap mereka berdua kemudian menuju kamar kakaknya. Linda masih terpikir dengan nama Marko yang mengantarkan Tia tadi. Linda tak bisa percaya apakah itu benar-benar anaknya. Linda yang sedang berbaring di kamarnya itu terbayang-bayang akan kesalahannya puluhan tahun silam. Ia sudah melukai hati anaknya, sehingga Marko sangat membencinya. "Marko, maafkan Mama Nak? Mama benar-benar menyesal sudah membuatmu membenci Mama. Apa kabar kamu sekarang Nak? Mama sangat merindukanmu. Kamu sudah memiliki enam orang adik Nak, apa kamu mengetahuinya? Marko kapan Mama bisa memelukmu lagi?" "Marko anak Mama, pasti kamu sudah dewasa sekarang, tampan, dan gagah. Mama di sini selalu merindukanmu." "Penyesalan Mama ini mungkin tak akan bisa berakhir hingga akhir hayat Mama." Linda berkata sendiri sambil menangis tersedu-sedu di kamarnya. Ia sangat menyesali perbuatannya di masa lalu. Ia sangat menyesali perselingkuhannya dulu dengan Atmaja. Atmaja, adik iparnya sendiri yang kini sudah menjadi suaminya. Sejak hari itu—hari di mana Marko menginjakkan kaki di rumah Tia, Linda sering mengurung diri di kamar, sehingga membuatnya jadi sakit-sakitan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN