Menikah usia muda adalah pilihan Tia Agusnista, sekarang usianya 22 tahun dan empat tahun sudah ia membina rumah tangga. Sekarang ia juga sebagai seorang mahasiswi semester tiga yang sedang akan menghadapi ujian semester.
Akhir semester memang sangat sibuk, menyelesaikan materi-materi dalam silabus, mengejar target SKS, menyelesaikan tugas-tugas yang menumpuk, menyelesaikan syarat-syarat ikut ujian semester, dan lagi harus belajar ekstra untuk mempersiapkan diri menjawab soal-soal ujian semester.
Malas, santai, dan berleha-leha. Selamat! Anda akan menjadi senior semester sembilan atau bahkan lebih di kampus. Seperti itulah dunia perkuliahan.
Tia tahu betul, jika ia santai-santai saja ia pasti akan telat wisuda. Meskipun sibuk bekerja dan di rumah juga repot, ia harus bisa sama seperti anak-anak muda di kelasnya yang memang hanya fokus untuk kuliah saja.
Bulan depan adalah ujian semester. Sehingga bulan ini Tia sering sekali pulang kuliah pada malam hari. Fokus pada hari Sabtu dan Minggu saja untuk jam kuliah sangatlah kurang, bahkan yang mengikuti kelas reguler Senin sampai Jumat pun kadang ada mahasiswa yang mengulangi di semester delapan.
"Aku nggak boleh ngeluh, aku yakin bisa wisuda tepat waktu," ucap Tia dalam hatinya. Sabtu ini Tia tiba di rumah pukul 20.45 WIB.
"Dari mana saja kamu Tia?" tanya Linda.
"Aku dari kampus Ma."
"Kuliah kok malem-malem?"
"Tadi kelarnya jam delapan Ma, mana tadi nunggu busnya juga lama."
"Kalau saja kamu bohong, awas saja kamu Tia!"
"Nggak kok Ma, aku nggak bohong, aku beneran baru pulang kuliah," ucap Tia jujur.
Ibu mertuanya selalu bertanya "dari mana" kepada Tia, kerena memang beberapa minggu ini Tia selalu pulang malam.
"Sinta ... Sinta ...." Linda memanggil anak perempuannya.
"Iya, ada apa Ma?" jawab Sinta dari kamarnya.
"Sini bentar!"
"Iya Ma." Sinta keluar dari kamarnya dan menghampiri Linda.
"Kenapa Ma?" tanya Sinta.
"Kamu kan satu kampus sama kakakmu ini ..." ucap Linda sambil menunjuk Tia.
"Apa benar kuliah sampe malem?" tanya Linda.
"Kayaknya memang iya Ma. Soalnya Sinta aja kuliahnya pulang sore terus Ma, apalagi Kak Tia yang kuliahnya cuma hari Sabtu dan Minggu Ma. Kan bulan depan kita ujian semester Ma."
"Oh, jadi gitu," ucap Linda.
"Ya sudah, sekarang aku percaya sama kamu Tia."
Ibu mertuanya akhirnya mengerti mengapa Tia selalu pulang malam.
Sinta Atmaja adalah anak kedua dari Linda dan Atmaja. Sekarang ia sudah duduk di bangku kuliah semester satu, ia kuliah karena mendapat beasiswa dari Marko. Sinta dan Tia melanjutkan di kampus yang sama, hanya saja Sinta mengambil kelas reguler yaitu kuliah dari hari Senin sampai Jumat.
Sinta bercita-cita menjadi guru sejarah, sehingga ia masuk FKIP dan mengambil jurusan sejarah. Karena Sinta dan Tia memiliki waktu kuliah yang berbeda sehingga mereka sangat jarang bertemu di kampus.
Namun, adakalanya Sinta juga mengambil kelas tambahan saat hari libur, sehingga ia berangkat bersama kakak iparnya untuk pergi ke kampus.
***
Marko baru saja ada urusan di kampus Tia, kebetulan secara tak sengaja melihat Tia yang sedang duduk di cafe—sedang beristirahat sambil duduk termenung.
"Hey, Kamu!" Marko memanggil Tia, tetapi perempuan itu tidak mendengar bahwa ada yang memanggilnya. Akhirnya Marko menghampiri Tia yang sedang duduk seorang diri itu.
"Tia," ucap Marko sambil menarik kursi di depan Tia untuk ia duduki.
"I ... iya" ucap Tia terkejut melihat Marko.
"Tuan ada apa ke sini?" tanya Tia.
"Ada yang perlu saya urus."
"Oh begitu Tuan."
"Sekarang sudah mau malam lho, Kamu belum mau pulang Tia?" tanya Marko.
"Iya, ini sebentar lagi mau pulang Tuan."
"Nanti saya antar kamu pulang," ucap Marko.
"Nggak usah Tuan, aku naik bus saja," tolak Tia.
"Kenapa? Kamu takut suami kamu marah?"
"Ah nggak kok Tuan," ucap Tia terbata.
"Emang dasar perempuan. Perempuan semuanya bucin. Aku cuma mau bantu dia doank, kasian perempuan pulang sendirian, udah mau malem lagi. Bagaimana kalau diapa-apain orang jahat di jalan? Nolak kebaikan orang, cuma karena takut suaminya marah. Dasar bucin. Aku juga bantu karena atas dasar kemanusiaan saja kok." Tegas Marko dalam hatinya.
Marko merasa heran melihat perempuan di depannya itu. Tia selalu saja menolak bantuan Marko.
"Kamu tahu, aku tidak suka dengan penolakan!" tegas Marko.
"Maaf Tuan saya tidak bermaksud menolak."
Mau tidak mau, akhirnya Tia menyetujui tawaran dari pria dingin itu yang tidak lain adalah atasannya sendiri. Tia mengikuti Marko dan masuk ke mobilnya.
"Nanti kita mampir ke Restauran Belleza dulu," ucap Marko.
"Aku nggak lapar kok Tuan."
"Aku yang lapar. Terserah nanti kamu mau makan atau tidak."
Marko meminggirkan mobilnya ke arah restoran, Marko memilih meja dengan dua kursi berhadapan.
"Saya pilih yang ini, ini, sama ini juga, minumannya air putih saja," ucap Marko kepada pelayan restoran itu sambil menunjuk menu-menu yang ia pilih.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Marko kepada Tia dengan buku menu masih di tangannya.
"Nggak usah Tuan, aku sudah makan." Tia tidak memilih menu apapun karena ia masih kenyang.
Kruk ... kruk ... kruk ....
Ucapan Tia ternyata berbeda dengan kondisi perutnya. Perut Tia berbunyi menandakan bahwa ia belum makan. Tia memegang perutnya dengan kencang tetapi masih terdengar oleh Marko. Marko tersenyum miring seakan meledek Tia karena suara perutnya yang keroncongan itu.
"Mba, menunya samakan saja dengan punya saya," ucap Marko kepada pelayan restoran.
Marko dan Tia menikmati hidangan itu dengan nikmat. Ini pertama kalinya bagi Marko makan berdua dengan seorang wanita. Ia bahkan mengantarnya pulang dengan mobil yang ia kendarai sendiri. Biasanya Marko tak akan sepeduli itu dengan perempuan.
Andaipun ia bertemu ibu-ibu ataupun nenek-nenek seorang diri ia akan memesankan taksi untuk mereka. Bahkan jika itu perempuan yang dikenalnya pun ia akan pesankan taksi, ia tak akan pernah memberi tumpangan kepada perempuan dengan mobil yang ia kendarai. Malam ini, Marko menikmati makan malam berdua dengan seorang wanita yang bahkan sudah bersuami.
Tia tiba di rumah dengan selamat, diantar oleh atasannya yang tak sengaja bertemu di kampus tadi sore. Marko juga langsung pulang ke rumahnya, sekarang ia sedang terbaring di tempat tidur empuknya sambil memikirkan sesuatu.
"Adik perempuan Zaky itu berbeda sekali. Ia berbeda dari wanita-wanita yang pernah kutemui. Wanita-wanita itu hanya bisa membuatku jijik melihatnya. Pantas saja, Zaky sangat mengkhawatirkannya. Dia bahkan ingin selalu menolak tawaranku. Aneh sekali. Dia memang sangat mencintai suaminya. Dia rela banting tulang demi keluarga suaminya. Dia bahkan rela bekerja jadi Asisten Rumah Tangga. Sekarang di kantor, jadi office girl. Padahal orangtuanya orang terkaya nomor satu di kota ini. Sungguh perempuan yang langka. Dasar perempuan yang sungguh keras kepala. Oh iya, tadi aku makan malam bersama Adik Zaky itu. Apa itu dinner romantis? Ini pertama bagiku."
Lamunan Marko dalam kamarnya. Ia sangat tak percaya dengan kepribadian adik perempuan dari sahabat karibnya itu.
Marko yang terbangun dari lamunannya dan langsung berdiri dari tempat tidur serta berbicara sendiri sambil mondar-mandir di kamarnya.
"Dia, dia, dia."
"Ngapain aku memikirkan anak itu? Anak itu kan Adik Zaky. Aku membantunya karena Zaky memintaku untuk mengawasinya. Dinner? Dinner apaan?"
"Kebetulan saja aku sedang lapar, dia juga sedang lapar. Lagian anak itu sudah bersuami. Sekali lagi, ini atas dasar kemanusiaan, tidak lebih."
"Atas dasar kemanusiaan," ucap Marko lagi.