CHAPTER 8

1052 Kata
"Saya Venny Darmawan, Sekretaris Direktur Perusahaan Dirgantara Group. Kedatangan saya ke sini untuk memberitahukan bahwa Mba Tia akan dipromosikan dan akan diberi jabatan di kantor direksi perusahaan dengan syarat minimal berpendidikan S1. Karena kami menilai potensi dan kecakapan Mba Tia sangat bagus. Sehingga kami sangat menyayangkan jika kesempatan besar ini diabaikan begitu saja." Mendengar apa yang dikatakan Bu Venny membuat Linda merasa senang sekaligus kesal. “Tapi sepertinya tidak mungkin Bu, karena keadaan ekonomi kami yang pas-pasan seperti ini,” sanggah Linda. Kami tidak punya cukup uang untuk membiayai kuliah Tia,” ucapnya lagi. “Karena ini tugas belajar jadi kami akan memfasilitasi Mba Tia untuk kuliah. Biaya kuliah akan ditanggung oleh kantor. Jika kalian mengizinkan, cepat atau lambat Mba Tia akan dipromosikan.” “Tentu saja sangat boleh Bu,” ucap Linda mengerti dan menyetujui. "Mau tidak mau, aku harus menerima tawaran Tuan Marko karena Mama sudah menyetujuinya. Tapi aku tidak mengenal persis siapa Tuan Marko, bagaimana jika dia ada maksud tersembunyi dengan membiayai kuliahku dan memberiku jabatan?" ungkap Tia dalam tulisannya. Tia yang awalnya menolak tawaran Marko, terpaksa menerimanya. Tapi ia masih bingung kenapa Marko melakukan itu semua. Keesokan harinya, Tia menemui Marko di ruangannya saat jam istirahat. “Maaf Tuan, saya mengganggu waktu istirahat Tuan,” ucap Tia. “Bagaimana? Kamu sudah berubah pikiran?” “Tapi mengapa Tuan melakukan ini semua untukku?” “Melakukan apa?” tanya Marko bingung. “Tahun lalu, Tuan mengirimkan surat ke rumah bahwa akan menanggung biaya pendidikan adik-adikku hingga menjadi sarjana, kemudian Tuan juga menawarkan kepadaku kuliah dengan beasiswa. Tuan juga membayar biaya rumah sakit setelah aku melahirkan, dan sekarang Tuan memaksaku untuk kuliah lagi?” “Pertanyaan kamu sangat banyak. Kamu hanya perlu menerimanya. Saya tidak suka dengan penolakan!” “Maaf Tuan saya tidak bermaksud untuk menolak,” ucap Tia. “Kamu pernah menolak saya sekali, saya masih bisa maklum karena saat itu kamu sedang hamil.” “Tuan saya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah membantu keluarga kami.” “Saya tidak butuh ucapan terimakasih. Yang saya butuhkan adalah kamu menerima tawaran saya.” “Baik Tuan saya menerima tawaran Tuan.” “Oke kalau begitu sekarang ganti seragam kamu. Kamu pakai baju biasa saja. Kamu ikut saya!” “Maaf Tuan bagaimana dengan pekerjaan saya?” “Nanti Venny akan menyampaikan kepada pengawas bahwa kamu sedang bersamaku.” Marko membawa Tia ke Universitas Swasta di mana ia akan melanjutkan kuliah. “Dulu kamu kuliah sampai semester berapa?” tanya Marko. “Sampai semester tiga, Tuan.” “Kalau begitu kamu langsung masuk semester tiga saja. Nanti kamu pilih sendiri mau ngambil kelas malam atau kelas weekend.” “Sepertinya saya lebih baik mengambil kelas pada hari libur Tuan.” Tia akhirnya menyetujui tawaran Marko. Karena yang mengurusnya adalah Marko, sehingga Tia bisa melanjutkan kuliah langsung semester tiga di Fakultas Hukum. Tia tak menyangka bahwa apa yang ia impikan bisa terkabul, ia akan meraih gelar sarjana nantinya. "Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam. Aku bisa melanjutkan kuliah lagi. Tuan Marko memaksaku untuk menerima kebaikannya. Sebenarnya aku takut Tuhan, kenapa ada orang sebaik Tuan Marko di dunia ini. Bahkan aku yang bukan siapa-siapa ini, dia mau membantuku." Batin Tia. *** Zaky Wardana sangat ingin sekali melihat adiknya bahagia, ia ingin adiknya bisa mencapai cita-citanya. Setelah pernikahan adiknya empat tahun lalu, ia diam-diam mencari tahu keseharian adiknya. Zaky ingin sekali membantu adiknya, tetapi hal ini sangat berbahaya jika ayah mereka tahu bahwa ia ikut campur membela Febri. Karena bagi ayah mereka ikut campur dalam urusan Febri, ia akan sangat membencinya. Zaky harus meminta bantuan Marko yang sama sekali tidak dikenal oleh Tia, sehingga rencananya bisa berjalan lancar. Dengan kekuasaan Marko dan orang-orangnya Marko, ia bisa dengan mudah membantu adiknya itu. Ia tak sanggup melihat adiknya jadi bulan-bulanan Febri dan keluarganya. Hidup memang tentang pilihan. Seorang wanita berhak menentukan dan memutuskan pilihan dalam hidupnya. Memilih kuliah setelah menikah dan harus bekerja sebagai karyawan. Tia mulai menjalani dunia kampus. Ia sangat merindukan suasana di mana ia berkumpul, berdiskusi, dan belajar bersama teman-teman. Jika ia tetap kuliah saat itu, tahun ini ia sudah wisuda, sudah jadi sarjana. Namun, jalan hidupnya berbeda, sehingga ia harus putus kuliah. Menjadi seorang istri, ibu rumah tangga, karyawan swasta, dan mahasiswi. Itulah beberapa pekerjaan Tia saat ini. Memang tidak mungkin dan tidak mudah untuk menjalankan beberapa pekerjaan sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Tia harus pandai dalam manajemen waktu untuk hal urusan rumah tangga di rumah, pekerjaan di kantor, dan tugas kuliah yang harus selesai tepat waktu, itu semua harus imbang. Mungkin sebagian orang berpikir menikah adalah titik akhir dari segalanya, akhir dari kesenangan masa muda, dan akhir dalam menentukan untuk memilih jadi ibu rumah tangga atau bekerja demi perekonomian keluarga. Padahal masih banyak pilihan lainnya, salah satunya melanjutkan pendidikan setelah menikah. Karena bagaimanapun juga pendidikan sangatlah penting, selain untuk menggali dan mengembangkan potensi diri dengan mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Pendidikan untuk wanita juga sangat penting untuk kemajuan suatu bangsa karena wanita-wanita yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas pula, yang mungkin saja kelak akan jadi petinggi dalam suatu negara. Sebenarnya, banyak perempuan di luar sana yang menjadi mahasiswi setelah menikah, salah satunya dalam hal ini adalah Tia Agusnista. Tia adalah manajer yang baik bagi dirinya sendiri. Tia tahu betul dalam membagi waktu dan mana yang jadi prioritas. Keseharian Tia seperti biasa bangun pagi sekali untuk membereskan rumah dan memasak untuk sarapan mereka pagi ini, ia akan pergi ke kantor setelah sarapan, karena ruangan Marko harus bersih dan rapi sebelum sang empunya tiba. Febri dan ayahnya pun berangkat pagi untuk bekerja, serta kelima adiknya berangkat ke sekolah pagi-pagi. Setelah tiba di kantor Tia membersihkan dan menata rapi ruangan, serta menyiapkan secangkir kopi untuk Direktur. Di sela-sela istirahat siang di kantornya, adakalanya ia mengerjakan tugas kuliahnya, ia sengaja selalu membawa materi dan tugas kuliahnya dalam tas, sehingga jika ia sempat dan ada waktu luang saat istirahat ia bisa mengerjakannya. Sepulang kerja, sore hingga malam hari ia harus menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dan sebagai seorang istri. Hari-hari weekend, Sabtu dan Minggu saatnya ia pergi ke kampus dan juga ini adalah waktu yang luang dan panjang, apabila ia harus belajar atau mengerjakan tugas kuliah. Membayangkan pekerjaannya saja membuat lelah, apalagi seorang ibu rumah tangga seperti Tia yang bisa menjalani semuanya. Ibu-ibu muda yang memilih melanjutkan kuliah setelah menikah yang juga mempunyai anak memang luar biasa. Wanita-wanita tangguh, berani dan pekerja keras. Mereka biasanya tak memikirkan lelah yang mereka rasakan mereka hanya ingin suami dan anak mereka tetap terurus, rumah tetap rapi, kuliah juga harus sampai wisuda, dan kerja juga lanjut serta jika ada acara-acara keluarga atau kondangan pun harus hadir. Mungkin ini yang sering kita dengar sebagai the Power of Emak-Emak. Wanita-wanita tersebut pantas menyandang gelar Kartini-nya Keluarga. Karena memang mereka adalah Kartini-kartini Muda Indonesia yang berjuang untuk masa depan dan masa depan keluarga mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN