Di dalam ruangannya, Marko mengobrol dengan seseorang via telepon.
"Adik perempuanmu sudah mulai bekerja di kantorku," ucap Marko.
"Syukurlah, sekarang aku merasa sedikit tenang."
"Aku menerimanya untuk kerja di sini atas dasar kemanusiaan saja," canda Marko.
"Jangan kau macam-macam sama adikku."
"Aku hanya tidak ingin kau membuatku babak blur karena mengusir adik kesayanganmu," timpal Marko lagi sambil tertawa
"Woy Jomlo!" teriak seseorang dari ujung teleponnya.
"Aku berbaik hati padamu karena dia adalah adik kesayanganmu," ledek Marko.
"Makanya kau masih saja jomlo padahal sudah tua, lihat perempuan saja seperti melihat ulat bulu, setan saja gagal menggodamu, apalagi perempuan," ejek seseorang itu sambil tertawa.
Tok ... tok ... tok ....
"Masuk," ucap Marko di sela-sela percakapan via telepon dengan sahabatnya.
"Maaf Tuan, ini kopinya," ucap Tia sambil meletakkan secangkir kopi yang baru saja dibuatnya ke atas meja Marko.
"Terima kasih."
"Sama-sama, saya permisi dulu, Tuan."
Tia meninggalkan ruangan Marko. Marko yang sedang menelepon Zaky melanjutkan percakapan mereka.
"Adikmu barusan membuatkan aku kopi," ucap Marko.
"Aku minta tolong, jangan sampai dia mengetahui bahwa aku menggunakan namamu untuk membantunya," ucap Zaky
"Santai ... rahasia aman," ujar Marko.
Penutup dari percakapan via telepon antara dua sahabat ini. Marko memang sangat dingin terhadap wanita. Bahkan di umurnya yang sekarang, sudah usia 34 tahun belum pernah sekalipun mengencani seorang wanita.
Ia memang baik memperlakukan perempuan namun hanya untuk kemanusiaan, tetapi sangat dingin sekali bak gunung es jika ada wanita yang menggodanya. Ia sangat benci melihat wanita yang menunjukkan perasaan mereka kepadanya.
Pernah suatu kali, sekretarisnya terdahulu menggodanya, ia bahkan akan menyerahkan tubuhnya pada Marko. Melihat sekretaris yang sedang menjebaknya, ia bukannya bahagia sebagai pria. Ia justru menyuruhnya memakai pakaiannya kembali, kemudian mengusirnya keluar. Sekretaris itu pun diberhentikan dari perusahaan secara tidak hormat detik itu juga. Sejak saat itu ia lebih memilih ibu-ibu paruh baya yang menjadi sekretarisnya. Marko tampak alergi dengan wanita yang cantik, menarik dan menggoda.
Kejadian beberapa tahun silam saat ia masih berumur 11 tahun itu, membuatnya merasa tidak ingin sekalipun mengencani perempuan. Pengkhianatan ibu terhadap ayahnya yang ia saksikan di depan matanya. Ibunya selingkuh dengan pamannya sendiri.
Dahulu, Marko sangat menyayangi ibunya, tetapi setelah kejadian itu, ia jadi sangat membenci ibunya yang menikah terpaksa dengan pamannya. Ayah Marko menceraikannya detik itu juga.
Marko yang sedang menikmati kopi itu berpikir kenapa adik dari sahabatnya itu tidak bersama orang tua dan kakak-kakaknya, ia lebih memilih hidup sederhana bersama suami dan keluarga suaminya.
"Bukankah Zaky bilang dulu, saat masih kecil ia adalah anak kesayangan dari orangtuanya?"
"Bukankah ia anak bungsu dan anak perempuan satu-satunya?"
"Kenapa harus saya pula yang disuruh Zaky untuk mengawasinya?"
"Apakah dia diperlakukan buruk oleh keluarganya?"
"Bukankah dia juga terlihat seperti perempuan baik-baik?" gumam Marko bertanya-tanya tentang Tia.
Ini kali pertama baginya untuk mengawasi perempuan. Karena Zaky adalah sahabatnya dari kecil yang bahkan sudah ia anggap sebagai saudara. Ia bersedia mengawasi adik perempuan kesayangan Zaky itu.
"Tugas apaan ini, mengawasi perempuan lagi?"
"Zaky kan tahu, aku anti banget sama perempuan—"
"Baiklah. Ini hanya atas dasar kemanusiaan—"
"Iya. Atas dasar kemanusiaan ...."
"Tidak lebih."
Ia berbicara sendiri dalam ruangannya. Gumamannya terdengar oleh sekretarisnya tetapi kurang jelas.
"Maaf Tuan Marko, ada apa Tuan?"
Marko terkejut dan terbangun dari lamunannya, karena Bu Venny menghampirinya.
"Oh, tidak, tidak ada apa-apa. Silahkan lanjutkan pekerjaan Anda."
Beberapa bulan kemudian.
"Aku butuh bantuan darimu kembali, pastikan kau melaksanakannya," ucap Zaky kepada Marko.
Setelah lima bulan bekerja di Perusahaan Dirgantara Group, Bu Venny memberinya sebuah amplop untuk Tia.
"Mba Tia, ini pesan dari Tuan Marko."
"Ini apa ya Bu?" tanya Tia sambil menerima amplop dari Bu Venny.
"Bukalah!" ucap Bu Venny.
Tia membuka isi amplop yang berisi sebuah surat, ia membacanya.
"Tawaran untuk melanjutkan kuliah dengan beasiswa?" tanya Tia kepada sekretaris dari Marko Dirgantara. Perempuan paruh baya itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Kenapa Tuan Marko memberiku beasiswa untuk kuliah? Kenapa Tua Marko sampai sebaik ini padaku? Tuan Marko memang baik, tapi kenapa dia harus membiayai kuliahku?" gumam Tia. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dalam kepala Tia.
"Tuan Marko berpesan, pastikan Anda menerima tawarannya," ucap Bu Venny.
"Kenapa Tuan Direktur memberi saya beasiswa untuk berkuliah?"
"Kalau masalah itu, Mba Tia silakan tanya sendiri dengan Tuan Marko," ucap Bu Venny kepada Tia, bahwa ia tidak tahu apa alasan Marko memberinya kesempatan untuk kuliah.
Pada sore hari, seperti biasa Tia membuatkan kopi untuk Marko.
"Maaf Tuan, ini kopinya."
"Terima kasih."
"Anu Tuan. Maaf ..." ucap Tia terbata. Kemudian dia melanjutkan ucapannya.
"Tadi siang saya menerima amplop dari Bu Venny."
"Anda sudah menerimanya, berarti Anda sudah membacanya."
"Kenapa Tuan akan membiayai saya untuk kuliah?"
"Jangan banyak tanya! Terima saja tawaran itu."
"Maaf Tuan saya tidak pantas menerimanya."
"Apanya yang tidak pantas? Ini bukan masalah pantas atau tidak pantas. Yang bisa Anda lakukan, hanya menerima tawaran dari saya, dan jangan pernah menolak," tegas Marko.
"Maaf Tuan."
"Silakan keluar jika sudah selesai."
"Baik Tuan, saya permisi dulu Tuan."
Tia keluar dari ruangan itu. Marko bingung dengan tanggapan Tia setelah ia menawarkan kesempatan untuk kuliah.
"Bahkan tidak semua orang bisa melanjutkan kuliah. Kenapa ia malah menolaknya? Adik perempuan Zaky ini benar-benar keras kepala. Dia sangat berbeda dengan perempuan lain seumurannya. Bahkan dia masih sangat muda untuk menikah dan punya anak."
Marko bergumam dalam hati sambil menikmati secangkir kopi buatan Tia.
"Venny," panggil Marko. Sekretarisnya berjalan menghampiri Marko.
"Iya Tuan."
"Pulang kerja nanti, kamu antar anak itu ke rumahnya."
"Maksudnya Mba Tia, Tuan?"
"Iya, siapa lagi? Bilang kepada keluarganya bahwa ia harus kuliah dan semua biayanya sudah ditanggung oleh perusahaan."
"Baik Tuan."
"Jangan bilang kalau itu karena kemauan pribadi saya."
"Baik Tuan."
"Kamu urus semua sampai selesai."
"Baik Tuan," ucap Bu Venny
Sepulang kerja, Tia sedang menunggu angkutan umum di halte. Ia ditawari tumpangan oleh Bu Venny.
"Mba Tia, ayo saya antar pulang."
"Makasih Bu, saya nggak mau merepotkan Ibu. Saya naik angkutan umum saja."
"Ayolah Mba Tia, ada yang perlu saya bicarakan denganmu dan keluargamu."
Setelah mendengar itu, Tia akhirnya menerima tumpangan dari sekretaris direktur, ia masuk ke mobil Bu Venny.
"Maaf Bu, apa boleh saya bertanya?" tanya Tia kepada Ibu Venny yang sedang fokus menyetir.
"Iya silakan."
"Tadi Ibu bilang, ada yang akan dibicarakan denganku dan keluargaku?"
"Iya, Tuan Marko bilang kamu harus menerima tawarannya. Kamu harus kuliah."
"Maaf Bu, apakah tawaran beasiswa kuliah yang aku terima tahun kemarin, juga dari Tuan Direktur?" tanya Tia. Ia mulai curiga bahwa yang selama ini ia sebut sebagai manusia berhati malaikat adalah Marko.
"Iya. Dia memaklumi penolakan darimu saat itu, karena kamu sedang hamil," jelas Bu Venny.
Tia menjadi bingung kenapa Marko melakukan itu semua. Ia bahkan memberinya kesempatan kedua untuk kuliah lagi.
"Maaf Bu, apakah Tuan Marko juga yang membayar biaya rumah sakit saat aku melahirkan?"
"Iya, Tuan Marko yang melakukan itu semua."
"Biaya rumah sakit dan juga menyekolahkan adik-adikmu," lanjut Bu Venny.
Mendengar itu semua membuat Tia sangat terkejut. Akhirnya ia mengetahui siapa yang sudah berbaik hati memberikan uangnya untuk memudahkan urusan keluarganya.
"Ternyata manusia berhati malaikat itu adalah Tuan Marko. Mengapa ia melakukannya? Bahkan aku tidak tahu siapa itu Tuan Marko. Aku hanyalah orang biasa, kenapa dia membantuku? Aku harus berterima kasih kepadanya." Batin Tia.