CHAPTER 6

1365 Kata
Cobaan kembali menimpa Tia dan keluarganya. Cobaan kali ini benar-benar membuat mereka sedih, terpuruk rapuh, marah, dan kehilangan. Naila, nama bayi cantik penyejuk hati dalam keluarga Febri, Naila sekarang sudah berumur satu bulan. Bayi gemuk menggemaskan dan sangat riang saat mereka menciumnya. Hari ini bayi kesayangan keluarga Febri itu menunjukkan gejala yang tak biasa. Biasanya bayi itu menyusunya kuat, tetapi hari ini ia malas menyusu dan badannya lemah serta sulit dibangunkan. Tubuh Bayi Naila kuning, mulai dari wajah, d**a, bahkan telapak kakinya. Bayi cantik yang baru sebulan ini, harus dirawat kembali di rumah sakit karena ikterus patologis yang dideritanya. Karena efek dari kelahiran BBLR sebulan yang lalu. Jika mereka tidak merawatnya dengan sangat hati-hati, dampaknya bisa membahayakan jiwa. BBLR pun terjadi karena nutrisi yang didapatkan ibunya saat hamil tidak terpenuhi. Terlebih lagi jika ibunya kurang memperhatikan tentang makanan bergizi seimbang. Bayi kuning pada bayi baru lahir adalah hal yang normal dan tidak membahayakan. Itu karena fungsi organ hati pada bayi belum mampu mengolah bilirubin dalam darah dengan sempurna. Tandanya pada sklera (bagian putih pada mata) bayi tampak berwarna kuning dan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 1-2 minggu. Istilah medisnya, ikterus neonatorum. Menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi bisa mengatasi bayi kuning. Waktu yang sehat untuk menjemur bayi, yaitu sekitar pukul 7-9 pagi dengan durasi 15-20 menit saja. Hindari menjemur di atas jam 9 karena sinar UV yang tinggi bisa menyebabkan luka bakar pada kulit bayi. Menjemur bayi sebaiknya dalam keadaan telanjang dengan posisi tengkurap di bawah sinar matahari langsung dan hindari sinar matahari dari balik jendela kaca. Saat menjemur si bayi alangkah baiknya mata bayi ditutup dengan kain tipis atau kaca mata khusus, dan jangan sampai bagian mata bayi terkena sinar matahari langsung. Sebelum dan sesudah dijemur, bayi disusui untuk mencegah kehausan dan dehidrasi pada bayi. Namun, lain halnya jika bayi kuning setelah usia bayi lebih dari 3 minggu kehidupan. Ini adalah salah satu tanda bahaya, sebaiknya langsung dibawa atau konsultasikan ke dokter. Tanda-tandanya, dari sekitar wajah kuning menjalar ke d**a dan perut, bayi malas menyusu, bayi tampak lemah dan sulit dibangunkan. Apabila peningkatan bilirubin berlebihan dan tidak tertangani, bayi berisiko tuli, lumpuh otak, kerusakan otak, atau bahkan kematian. *** "Kami sudah berusaha yang terbaik, tapi bayi Anda sudah tidak bisa tertolong," ucap dokter spesialis anak. Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan Bayi Naila. Namun, takdir berkata lain, Tuhan lebih sayang dengan Bayi Naila. Kebahagian yang sedang menyelimuti keluarga ini berubah drastis setelah kepergian Bayi Naila. "Buah hati yang kunantikan selama tiga tahun ini pergi tanpa pamit. Mama belum puas memeluk dan menciummu Sayang, tetapi Tuhan lebih sayang kepadamu. Tunggu Mama dan Papa di surga, Sayang." Rangkaian kata menyayat hati dalam buku itu. Memang kondisi Tia saat hamil sangat memprihatinkan, ia harus bekerja sedari pagi sekali bahkan kadang lupa untuk sarapan ditambah pula mual-mual yang dialaminya. Ia juga sampai dehidrasi dan malnutrisi karena hiperemesis yang ia alami. Ibu mertuanya yang garang membuatnya segan, sehingga kadang sungkan untuk makan. Febri yang sibuk kerja dan sering pulang malam kadang kurang memperhatikan istrinya. Intinya kejadian ini berawal ketika Tia jarang makan makanan bergizi, karena kadang memang tidak kebagian makan oleh ibu mertua dan adik-adik iparnya. Tia sangat kehilangan putrinya, bayi yang ia tunggu kehadirannya ternyata pergi meninggalkan mereka. Tia terpukul sekali, ia sudah berjuang berobat selama dua tahun lebih untuk mendapatkan keturunan. Namun, pada tahun ketiga pernikahan harus kehilangan seorang anak. Febri juga sangat sedih karena hal ini. Ibu mertua Tia pun menyalahkannya, karena dianggap tidak bisa mengurus anak. Adik-adik iparnya pun mendukung ibu mereka. Kesedihan berlanjut hingga membuat Tia mengalami depresi. Ia tak sanggup kehilangan sang penyejuk hati. Kehilangan harta paling berharga di dunia membuatnya terpuruk rapuh. Melihat kesedihan Tia yang berlarut-larut membuat Linda semakin muak melihatnya, ia selalu menyalahkan Tia atas kepergian cucu kesayangannya. "Makanya yang becus ngurus anak, anak sendiri aja sampai meninggal seperti itu." Kata-kata yang keluar dari mulut Linda membuatnya semakin merasa bersalah akan kepergian Naila. "Maafkan Mama, Sayang. Mama tidak bisa merawatmu dengan baik, sampai kamu harus menderita penyakit itu. Maafkan Mama, Sayang. Mama belum bisa menjadi ibu yang baik. Mama yang dulu sangat menginginkanmu, sangat ingin memelukmu, sangat ingin kamu ada di dunia ini. Setelah Mama mendapatkanmu, Mama malah tidak bisa merawatmu dengan baik. Mama malah menyia-nyiakan harta Mama yang paling berharga, anak baik Mama, Naila Febriana." Tulis Tia. Beberapa bulan berikutnya ia tersadar bahwa Bayi Naila sudah benar-benar pergi. Pergi dan tak akan pernah kembali. Saujana dalam derana, Tia harus menerima kepergian anaknya. Tia berusaha mengikhlaskan kepergian Bayi Naila. Tia harus bangkit dan meraih jiwanya yang semangat itu kembali. Kehilangan memang membuat hati hancur berkeping-keping, menangis darah pun tidak akan mengembalikan semua yang telah hilang. Kesedihan berlarut-larut hanyalah runtah. Tetaplah berdiri tegap demi yang masih ada. "Bagaimana mungkin aku berlarut-larut dengan kesedihan dan perasaan tidak terima ini," batin Tia. Tia pun kembali beraktivitas seperti biasa dengan begitu semangat, ia pun mencoba kembali mencari pekerjaan. Tumpukan koran di rumahnya sudah ia baca semua dan melingkari bagian-bagian lowongan pekerjaan. Ia mencoba untuk melamar pekerjaan di berbagai perusahaan. "Mohon maaf kami tidak menerima lulusan SMA." Namun, putus asa bukanlah jalan buntu, ia tetap mengirimkan lamaran pekerjaan untuk setiap lowongan pekerjaan yang masih berlaku. "Tuan, perempuan yang Anda bicarakan saat itu, ia melamar pekerjaan di perusahaan kita, Tia Agusnista." Seorang sekretaris melapor kepada atasannya. "Sampaikan pada pihak HRD, biarkan saya sendiri untuk mewawancarai perempuan itu, dan untuk yang lainnya masih tetap ditangani pihak HRD." Perintah atasan itu. Beberapa hari kemudian Tia mendapat telepon dari sebuah perusahaan ternama di bidang tekstil, Dirgantara Group—untuk panggilan interview. Tia pergi menuju Perusahaan Dirgantara Group yang memanggilnya untuk interview kemarin. "Selamat Anda diterima bekerja sebagai office girl untuk ruang direktur perusahaan," ucap pria yang mewawancarai. "Venny, tunjukkan padanya tentang pekerjaannya," ucap pria yang melakukan interview terhadap Tia kepada sekretarisnya. "Mba Tia mari ikuti saya." Tia mengikuti langkah perempuan paruh baya itu. "Ini ruangan direktur tempat Anda bekerja—" "Setiap sisi ruangan harus bersih, Tuan Direktur tidak bisa menoleransi masalah kebersihan ...." "Dan juga Tuan Direktur minum kopi setiap hari ...." "Jadi Anda harus menyiapkan kopi yang hangat saat beliau tiba di kantor dan saat akan pulang kerja ...." "Anda bisa mulai bekerja besok pagi, pakai seragam ini saat bekerja." Bu Venny memberikan seragam berwarna biru untuk Tia pakai saat bekerja. *** "Syukurlah, itu kan perusahaan yang sangat besar, meskipun jadi office girl pasti gajinya juga besar," ucap Linda yang ikut senang setelah mendengar menantunya itu sudah di terima bekerja. "Syukurlah akhirnya aku mendapatkan pekerjaan, pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya, pekerjaan yang gajinya lebih besar dibanding menjadi seorang ART. Aku bahagia sekali, Febri dan Mama juga ikut senang mendengar berita ini. Pagi yang cerah ini aku mengawalinya dengan Bismillah, hari pertama aku bekerja." Curhat Tia dalam bukunya. Tia pergi ke kantor lebih pagi dari pada staf lainnya, karena ia sebagai office girl harus membersihkan dan menata dengan rapi ruang direktur dan ia juga harus menyiapkan secangkir kopi untuk Tuan Direktur setelah ia tiba nanti. "Oh namanya Tuan Marko Dirgantara, berarti masih anggota keluarga Dirgantara Group," gumam Tia setelah membaca papan nama yang terletak di atas meja direktur. Ia menghalau semua debu yang menempel bahkan di sudut-sudut terpencil sekalipun. Ia ingat kata Bu Venny kemarin, bahwa Tuan Marko akan sangat marah jika masih ada debu yang menempel. Ia juga menata rapi ruangan tanpa mengubah tatanan sebelumnya. Ia juga sudah menyiapkan secangkir kopi yang masih hangat, dibuatnya ketika ia melihat Tuan Marko sudah tiba. "Maaf Tuan, ini kopinya," ucap Tia sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja. "Terimakasih," jawab singkat Marko kemudian langsung meminum kopinya. "Sama-sama Tuan." Tia permisi akan keluar dari ruangan Marko, tetapi langkahnya terhenti ketika Tuan Direktur itu menanyakan namanya. "Anda yang saya interview kemarin kan?" "Siapa namamu?" tanya Marko. "Tia Agusnista, Tuan." "Baiklah." "Saya permisi dulu Tuan," ucap Tia kemudian meninggalkan ruangan Marko. Marko sebenarnya sudah mengetahui bahwa yang di-interview olehnya kemarin adalah adik perempuan dari sahabatnya, Zaky Wardana. Hanya saja ia baru dua kali ini bertatap muka dengan Tia. Zaky pernah meminta bantuan kepada Marko untuk menggunakan namanya. Zaky menanggung biaya sekolah adik ipar Tia hingga kuliah, menawarkan beasiswa untuk Tia, hingga membayar biaya rumah sakit. Zaky menggunakan nama Marko yang membantu keluarga Tia. Karena kesibukan Marko di kantornya, ia memerintahkan sekretarisnya yang mengurus itu semua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN