Namun, tidak dengan Marko, pria itu kesal dengan kejadian hari ini. Ia merasa sangat dijebak, ia tak mencinta gadis muda itu, karena selama ini ia hanya menganggap Bianca sebagai adiknya, tetapi hari ini terlanjur sudah, nasi sudah menjadi bubur yang tak bisa berubah lagi. Dalam pelukan itu, pikiran Marko melanglang buana, ia hanya memikirkan Tia—wanita pujaan hatinya. Hanya Tia yang boleh menyentuh hati dinginnya itu, hanya Tia yang berhak untuk dicintai oleh Marko. “Tia, maafkan aku,” ucap Marko pelan. Namun, ucapan Marko terdengar oleh Bianca. Ia bingung mengapa pria dewasa dalam pelukannya itu memanggil namanya dengan sebutan ‘Tia’. Bianca melepaskan pelan pelukannya. Ia menatap lekat wajah Marko sambil kedua telapak tangan Bianca menyingkup kedua pipi Marko. “Mengapa kamu memanggil

