CHAPTER 19

1290 Kata
Dalam sebuah ruang keluarga yang luas dan nyaman, tetapi suasana dingin menyelimuti ruangan itu, tak ada kata, canda, dan tawa. Hanya terdengar kebisingan dari suara televisi yang menyala, tersiar berita pagi tentang koruptor di Indonesia yang tak ada habisnya. Sang ayah sedang fokus menyimak warta pagi ini bahkan tak sesekali berkedip, ah mungkin karena pria paruh baya itu kenal dengan si koruptor dalam berita itu. Tak lama berselang setelah itu, jeda iklan ditayangkan, wajah serius dari pria paruh baya itu tampak sedikit santai, ia merebahkan kembali punggungnya ke sandaran sofa dan sang anak mencoba mencairkan suasana. "Ayah, suami Tia sudah meninggal," ucap Zaky kepada Hendra. "Begitukah?" tanya Ayahnya. "Iya Ayah, Febri sudah meninggal lima bulan yang lalu karena kecelakaan kerja—" ucap Zaky menggantung. "Dan mertua Tia pun sudah meninggal karena sakit sejak satu setengah tahun yang lalu Ayah," lanjut Zaky "Apakah Tia masih mau tinggal di rumah itu Zak?" tanya Hendra. "Tia sedang KKN di desa Ayah, minggu depan dia kembali ke Jakarta," kata Zaky. "Tia pasti akan pulang ke rumah ini, sesuai janjinya dengan Ayah dulu, kamu nggak usah khawatir Zak," ucap Ayahnya menenangkan anaknya. "Iya Ayah, Tia sudah sangat menderita Ayah," ucap Zaky. Ia prihatin dengan apa yang dialami oleh adik kesayangannya itu selama ini. "Ayah tahu Zak," tutup ayahnya. Percakapan antara anak dan Ayah dalam rumah mewah yang sudah bertahun-tahun sunyi karena anak perempuan yang meramaikan rumah itu sudah pergi sangat lama. *** Pada hari Minggu siang Marko memanfaatkan kesempatan karena ia tahu betul jika hari Minggu mahasiswa KKN itu lebih banyak waktu istirahat dan diperbolehkan untuk keluar posko seperti halnya minggu kemarin. Marko pergi ke posko Tia dengan alasan yang logis, ia ingin menjemput Tia, meskipun sebenarnya ia berbohong. Marko ingin teman-teman Tia mengizinkannya membawa teman mereka pergi. Tentu saja mereka percaya pada pria dewasa yang berwibawa, penuh tanggung jawab dan cool itu. Marko pun membawa Tia ke sebuah rumah yang tidak jauh dari desa yang Tia tinggali. "Ini rumah siapa Kak?" tanya Tia sembari melihat-lihat dinding rumah itu. "Saya tinggal disini," ucap Marko. "Kak Marko nyewa rumah ini," tanya Tia lagi. "Iya ..." jawab Marko singkat. "Tuh kan benar, Kak Marko membuntuti aku." "Saya khawatir dengan dirimu Tia," ucap Marko. "Kak Marko nggak usah mengkhawatirkanku, aku sudah dewasa, bahkan aku sudah menikah," ucap Tia. "Sekarang kamu single, Tia!" tegas Marko. "Meskipun begitu Kak, Kak Marko nggak boleh membawaku seperti ini dan hanya berdua dalam rumah ini." "Saya melakukan semua ini bukan tanpa alasan Tia." "Terus alasan Kak Marko apa?" "Setelah kamu pulang KKN, saya akan membawamu–" "Membawaku ke mana Kak?" tanya Tia heran. "Bertemu seseorang …" jawab pria itu. Marko berjalan ke arah pintu, ia mengunci pintu itu dan melepas anak kuncinya kemudian ia masukkan ke dalam saku celananya. Melihat tingkah Marko membuat Tia merasa takut setengah mati. "Kak buka pintunya aku mau kembali ke posko," teriak Tia. "Saya sudah izinkan kamu kepada teman-temanmu. Saya akan antar kamu ke posko nanti sore ya," ucap Marko sambil senyum sumringah. "Kenapa pintunya Kak Marko kunci?" ucap wanita itu dengan nada tinggi. "Karena saya nggak mau ada orang yang mengganggu kita," ucap Marko pelan. "Kak Marko mau ngapain?" ucap Tia ketakutan karena Marko mendekatinya. Marko memeluk Tia yang gemetaran itu. "Tia, nggak ada yang perlu kamu takutkan. Saya tidak akan macam-macam kepada kamu. Saya hanya minta kamu menemaniku sebentar dalam rumah ini." "Apa bedanya Kak Marko?" Tia memberontak dari pelukan Marko tetapi tidak bisa. Marko membawa Tia ke kamarnya dan mendudukkannya di pinggir tempat tidur dan Marko pun duduk di tempat tidur. "Huh" Marko membaringkan tubuhnya sembari tangannya menarik tangan Tia sehingga mereka terbaring bersebelahan dalam satu tempat tidur. "Tia ada yang ingin aku ceritakan kepadamu …" ucap Marko kemudian menghentikan ucapannya. "Dahulu sekali, saat aku masih anak-anak, saat itu aku masih berusia 11 tahun, aku melihat dengan kepalaku sendiri, ibuku sedang tidur bersama dengan paman kandungku, adik bungsu dari ayahku sendiri." Mendengar perkataan Marko membuat Tia terkejut dan ia menoleh ke arah Marko seraya penasaran dengan cerita pria itu. Marko juga menoleh ke arah Tia hingga akhirnya mereka bertatapan dan ia melanjutkan ceritanya. "Sejak saat itu, aku sangat membenci ibuku, terlebih lagi ibu sedang mengandung anak dari paman karena hubungan terlarang mereka. Sejak saat itu, ibu diceraikan oleh Ayah, dan ibu menikah lagi dengan pria b******n itu–" "Sejak saat itu pula, karena rasa sakit hati yang kualami membuatku sangat dingin dan tidak tertarik sama sekali terhadap perempuan." "Hingga … suatu hari aku dimintai bantuan oleh sahabatku untuk memperhatikan perempuan itu. Setelah lama sekali, akhirnya aku bisa bertemu dengannya, bisa bertatap muka dengan perempuan cantik itu. Setelah pertemuan tersebut membuat sikapku berubah." "Sepertinya aku tertarik untuk menikah …. Apa aku boleh menikah dengan perempuan itu, Tia?" tanya Marko setelah ia menceritakan nestapa yang ia alami selama ini. "Tentu saja Kak Marko harus menikah jika sudah menemukan perempuan yang sangat dicintai dan dia benar-benar mencintai Kak Marko," ucap Tia. "Tapi perempuan itu sepertinya tidak mencintaiku …" ucap Marko pelan sambil menatap langit-langit kamarnya. *** "Setelah sebulan lamanya kami KKN akhirnya sekarang sudah waktunya berpamitan dengan warga desa ini. Desa ini sangat nyaman, sejuk dan indah. Ada pantai juga dekat desa ini membuatku sangat nyaman sekali di sini. Pria dingin itu sudah menjemput paksa, supaya aku bisa melihat sunset. Aku bahagia sekali saat itu, pria itu ramah, tak seperti biasanya. Tapi aku bersyukur sekali akhirnya dia menemukan perempuan yang bisa menggugah hatinya, aku harap mereka bisa menikah. Dengan penampilan Kak Marko yang keren itu dan kadang suka memaksa sehingga tidak ada yang tidak mungkin baginya, pasti dia bisa menaklukkan hati perempuan yang dicintainya itu." Tercatat rapi dalam buku harian Tia yang baru terisi dua lembar itu. Tia dan teman-temannya berpamitan kepada Ketua RT, Kades dan juga tetangga dekat tempat tinggal mereka sewaktu KKN di desa itu. Marko yang akan ke Jakarta juga menjemput Tia dan akhirnya Tia ikut kembali ke Jakarta bersama Marko. "Gimana KKN di desa itu?" tanya Marko memecah kesunyian di dalam mobilnya. "Menyenangkan Kak, orang-orangnya juga ramah kepada kami," ucap Tua sambil senyum sumringah. "Ada hal mistis nggak, kayak cerita-cerita anak KKN gitu?" tanya Marko. "Nggak kok Kak, kita pulang malem waktu itu biasa aja kan?" tanya balik Tia kepada Marko. "Hm, kamu teringat saat di pantai ya?" goda pria itu kepada Tia. "Maksudku bukan begitu, Kak Marko …" ucap Tia terbata. "Kalaupun nanti kamu pengen ke sana lagi, ayolah kita pergi sama-sama." "Bolehkah?" tanya Tia. "Bolehlah, rame-rame ke pantai juga gak apa-apa." Mendengar ucapan Marko itu wanita jelita itu tersenyum. "Benar, Kak Marko sudah berubah sekarang, sudah tidak dingin lagi. Semoga dia cepat menikah dengan perempuan itu," gumam Tia dalam hati. Karena perjalanan yang sangat jauh itu membuat Tia mengantuk dan tertidur di kursi depan mobil itu, tepat di samping Marko yang sedang mengemudi. "Tia, apa kamu tahu, perempuan biasanya suka dikasih hadiah apa?" tanya Marko kepada Tia, tetapi tak ada jawaban sama sekali. "Tia ...." "Tia ...." "Ooo, tidur rupanya," ucap Marko setelah melihat Tia yang duduk rapi dengan safety belt terpasang itu ternyata sudah tidur pulas. "Adik Zaky ini pasti lelah sekali, setelah dilihat-lihat saat tertidur seperti ini, anak ini cantik sekali. Tapi mengapa kamu malah memilih menikah muda dengan anak dari Linda dan Atmaja itu?" gumam Marko sembari membelai rambut Tia yang sedang tertidur pulas itu. "Sepertinya aku tidak salah lagi, sekarang saatnya aku menikah. Umur sudah 35 tahun, bagaimana mungkin aku akan menundanya lagi. Tapi bagaimana caranya aku mencuri hati Adik Zaky ini? Perempuan ini tidak mudah–" "Bahkan aku sudah dengan romantisnya menceritakan masa lalu yang menjadi rahasiaku, Adik Zaky ini masih saja menganggapku seperti Zaky, seperti kakaknya sendiri. Adik Zaky ini sangat tidak peka dengan perasaanku ini. Pertama kalinya aku jatuh cinta, akan gagal pula. Sepertinya aku harus memikirkan cara lain," gumam Marko sambil menyetir. Setelah lima jam perjalanan, tibalah di Jakarta pada malam hari. Tia masih dengan pulasnya tidur di kursi samping kemudi, Marko membawa Tia ke rumah barunya yang ia tinggali sendiri beberapa bulan terakhir. "Kayaknya kalo Adik Zaky ini langsung pulang ke rumahnya pasti melelahkan sekali. Udah berjam-jam duduk dalam mobil dari desa tadi, tiba di rumah mesti masak untuk Sinta dan semuanya, belum lagi besok Adik Zaky ini harus bekerja. Sepertinya malam ini, dia lebih baik istirahat dulu di rumahku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN