Di siang hari, setelah urusan dapur selesai, Nyonya Carissa memutuskan mengumpulkan para pekerjanya di taman. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi tentang hubungannya dengan Asih. Di awal mungkin ia benci dan tidak bisa menerima. Tapi semakin ke sini, Asih begitu mirip Fitri. Sama-sama keras kepala dan dingin hati. Mana mungkin ia bisa mengabaikan kenyataan kalau itu anak dari sahabat karibnya? Terlebih Asih sedang hamil. "Prita, saya akan membiarkan perbuatanmu yang terakhir. Tapi setelah ini kalau sampai kamu mengerjai Asih lagi, jangan harap saya menoleransi," kata Nyonya Carissa memperlihatkan serbuk gatal yang ia temukan di kamar pembantunya itu. Tempatnya memang tersembunyi, di laci bagian dalam. Tapi berkat kejeliannya, ia bisa menemukan siapa dalang di balik penderitaan menantun

