Asih melangkahkan kakinya hati-hati. Bayangan Jarvis begitu pelan, sengaja menunggunya memasuki kamar. "Kenapa bajuku ada di kamarmu?" Asih bertanya dengan nada penasaran,"memangnya kamu siapa?" "Itu hal yang tidak penting sekarang. Lebih baik atasi ruammu dulu,"kata Jarvis mencoba mengabaikan perasaannya sendiri. Tatapan mata Asih membuat hatinya sakit. Ingin mengakui, tapi terhalang situasi. Sang Ibu sudah mewanti-wanti agar ia sabar untuk menunggu ingatan Asih pulih sendiri. Jarvis berbalik, menuju lemari di mana Asih menyimpan pakaiannya. Tak lama, ia sudah kembali dengan setelan baju tidur dan dalaman. "Ini, mandilah dengan air hangat. Kalau masih gatal aku akan mengolesinya dengan bedak menthol," kata Jarvis mengulurkannya pelan. Asih mengangguk patuh, menggaruki punggung tangan

