Akhir dari perdebatan itu adalah rasa kantuk. Namun, baik Asih maupun Jarvis, keduanya tidak ada yang mau mengalah untuk beristirahat di sofa. Alhasil, mereka memutuskan untuk tetap satu ranjang dengan batasan kain panjang. Untung saja tempat tidur itu cukup besar, jadi masih cukup nyaman untuk tidur saling berdampingan. Tidak ada setengah jam kemudian, Asih sudah tertidur. Ia terlelap begitu saja, meninggalkan Jarvis yang masih terjaga. Mata coklat pria itu tidak mau terpejam meski seluruh badannya pegal-pegal. Konyol memang, di malam pengantin, bukannya bertempur hingga pagi, keduanya malah bertengkar dan berakhir dengan saling memunggungi. Jarvis tidak tahu, apa dia bodoh atau Asih yang terlalu pintar berkata-kata? Perdebatan mereka tadi kini terdengar seperti sebuah omong kosong bela

