Pagar Dimensi Gaib

2024 Kata
(Kediaman Pak Ustad Rohim.) “Sebenarnya... Awal Ayah bertemu dengan Musafir muda bernama Raihan itu... Entah mengapa, Ayah yakin dia orang baik.” Ustad Rohim, menyeruput secangkir teh hangat di pagi hari. Menemani Sang istri duduk di ruang tamu usai jamaah subuh di masjid. “Iya sih , Yah... Tapi, kenapa polisi semalam datang kemari lagi dan menanyakan soal Raihan? Apa mungkin dia kabur saat diinterogasi di kantor polisi?” Wajah perempuan paruh baya tersebut curiga. “Bisa saja begitu... Tapi, jika para polisi kembali kemari, itu berarti dia juga mungkin pergi ke desa ini lagi.” Ustad Rohim menaruh cangkir berisi teh ke meja. Dok dok dok dok! Pintu di gedor. “Ustad! Pak Ustad!” seruan ramai orang-orang terdengar dari sisi luar rumah. Menoleh pada daun pintu yang digedor, Ustadz Rohim bangkit dengan raut penasaran. “Ada apa lagi ini?” gumamnya. “Pagi-pagi begini sudah ada pasien, Yah?” sang Istri turut bangkit, melangkah di belakang sang suami. “Sepertinya darurat.” Ustad Rohim berjalan lebih cepat ke arah pintu. Ia membuka slot kunci, terkejut melihat Pak Kepala Desa bersama seorang warga tiba membawa dua orang gadis muda. Mitha dan Asih. Keduanya, masih tak sadarkan diri.  “Subhanallah!” Ustad Rohim cekatan membopong Asih, mengajak Pak Kades membawa Mitha masuk. “Mari, Pak! Bawa dulu ke dalam!” Melihat dua gadis muda sudah berada di kediaman ustad ternama di desa, lima orang warga yang mengantar segera pamit pulang. *** Setelah beberapa puluh menit berlalu, Mitha dan Asih masih tergolek lemas di sofa ruang tamu. Tak kunjung sadarkan diri.   Ustadz Rohim, mengamati wajah Mitha. “Apa... Mereka di ganggu jurig lagi, Pak?” “Sepertinya begitu, Pak Ustad. Saya dan Mang tukang cangkul melihat mereka setelah jamaah subuh tadi. Mereka pingsan di jalan dekat hutan.” Lelaki berpeci putih menghela napas sebelum memerintah sang istri, “Bu... Tolong ambilkan air putih.” Ustadz Rohim, mendekati telinga Mitha. Setelah istrinya beranjak ke dapur, ia menyuarakan adzan di telinga kanan dan kiri bergantian. Bukan Mitha yang terbangun, namun justru Asih yang perlahan membuka mata. “Ya Allah...” sambatnya lirih. “Astaghfirullah hal adzim...” “Neng Asih?” Kades nampak lega. Ustadz Rohim, kini menatap Asih bingung. Sesekali menatap wajah Asih. “Assalamualaikum!” Riko segera memasuki rumah dari pintu yang sudah sedikit terbuka. Remaja itu, membopong Raihan yang lemah dengan jaket hitam bersimbah darah. “Innalilahi! Kunaon Kasep!” Ustadz Rohim menghampiri, membantu Riko menurunkan Raihan ke sofa empuk ruang tamu. “M-Maneh teh si dukun jawa mereun! (Itu si dukun jawa, kan!)” Raut sang Kades berubah merah padam. Memeriksa luka di punggung dan lengan Raihan, ustad Rohim berpikir. ‘Ini bukan luka tembak. Jelas bukan para polisi. Tapi ini lebih mirip seperti... Cakaran binatang buas... Apa yang terjadi padanya?’ Sang istri kembali membawa segelas air putih. “I-itu... Raihan kan, Ayah?” Ustadz Rohim mengangguk mengiyakan. Ia lanjut menerima gelas berisi air jernih, membacakan petikan ayat dari surat Alquran. Baru Ustadz Rohim mulai membaca, Raihan lirih membuka mata. Ia, menatap wajah Ustadz Rohim sejenak. ‘Pak Ustad?’ pikirnya bernapas lega. “Alhamdulillah…” “Mas Raihan! Kau tak apa?” Riko segera mendekati lelaki berjaket hitam. Kepala Raihan menoleh ke arah Asih. Ia kembali bernapas napas lega, seraya mencoba duduk di sofa empuk. “Alhamdulillah,” gumamnya meringis merasakan luka gores pada punggung. Melihat mimik Raihan yang kesakitan, Riko membantunya duduk. “A-apa yang terjadi di rumah Kepala Desa, Mas? Lalu... Mitha dan Asih, apakah... Mereka kembali di ganggu?” Sang Kepala Desa menatap Raihan jengkel seraya bangkit. “Pasti mereka berdua lari darimu, kan! Dasar dukun!” Ustadz Rohim dan istrinya, mencoba menenangkan. “Sabar dulu atuh Pak... Sabar... Istighfar... Tabbayyun dulu...” “Rukmini... Apakah rombongan kalian mengambil sebuah buku dari rumah tua dukun bernama Rukmini?” Raihan nyingir, memegangi lengannya yang terluka namun tak lagi mengalirkan darah.   Istri dari Ustadz Rohim, segera beranjak pergi. Berinisiatif mencari perban di kamar setelah melihat Raihan kesakitan. “Heula nya...” “Buku apa yang kau bicarakan?” Si Kades mencecar. “Kau yang mengobrak-abrik rumahku hingga hancur begitu, kan!” “Bukan!” Asih yang kini siuman, perlahan duduk. *** (Beberapa jam kemudian) Raihan masih dengan blangkon dan celana hitam, duduk di teras rumah Ustadz Rohim. Luka dibalik kaos putih pemuda bermata jeli tersebut, telah diperban. Sementara jaket hitamnya, sedang dijahit oleh istri sang ustad. Pemuda berblangkon coklat ditemani oleh sohhibul bait, dan Riko. Asih dan Mitha, tengah terbaring di kamar setelah Asih menjelaskan kejadian semalam pada Kades. “Beruntung Asih hanya pingsan. Hanya saja... Mitha sepertinya diculik,” jelas Raihan. Ia mengeluarkan sebungkus lisong setelah menyeruput kopi hitam dengan sedikit gula. “Diculik? Maksud Mas Raihan?” Ustadz Rohim tak mengerti. ‘Jelas-jelas Mitha sedang pingsan di kamar,’ pikirnya. “Yang ada di kamar itu, hanya raga Mitha. Sedangkan sukmanya... Telah diambil oleh siluman betina yang menyerang kami semalam...” “Ma-maksudnya?” Riko si pemuda berkulit gelap, terlihat bingung. “Nyawa Mitha dibawa pergi, dan kini tinggal jasadnya? Bukankah jika begitu... Dia sudah...” Menyalakan rokok, Raihan mengatur napas. Mencoba menenangkan diri. “Tidak. Yang dia ambil, adalah sukma. Bukan Ruh. Dengan kata lain, dia sekarang koma.” “Maksud Mas Raihan, bagaimana? Saya masih belum mengerti.” Ustadz Rohim menatap heran. “Ringkasnya, Sukma adalah kesadaran batin seseorang. Atau dalam asumsi saya, 80% dari kepingan ruh manusia. Ratu Siluman ular hijau, dia yang membawa Mitha.” Riko bertanya, “jadi... Apakah ini serupa seperti penumbalan di Pontianak dulu, Mas?” “Benar. Dan pelakunya, adalah seseorang yang mengambil kitab tua dukun wanita yang telah meninggal. Wanita bernama Rukmini.” Ustadz Rohim melirik ke kanan dan kiri. Ia masih memikirkan kejanggalan dari hal yang ia tahu dari cerita Raihan. Sebab, sepahamnya, makhluk halus akan pergi hanya dengan ayat suci. ‘Apa iya benar yang dikatakan dia?’ Mengerti bila Ustadz Rohim tengah berpikir keras, Raihan mengisap tembakau di tangan. “Ustad... Hal semacam ini mungkin tak banyak terjadi. Tapi, beginilah nyatanya. Sebagaimana manusia, mereka yang tak kasat mata pun, punya tingkatan berbeda. Ada yang seketika lenyap ketika si manusia membacakan petikan kitab suci, tapi ada juga sebagian makhluk gaib yang di lebihkan oleh-Nya.” Ustadz Rohim menghela napas. ‘Hmmm… Begitu ya…’ “Alloh tak akan memberikan beban melebihi kesanggupan hamba-Nya. Itu berarti... Kita yang ada di sini, dianugerahi kesempatan untuk menyelesaikan hal ini,” Tegas Raihan. “Meskipun... Entah bagaimana,” imbuhnya menggumam. Sedikit tersenyum, Ustadz Rohim mengangguk. “Andai kita bertemu di waktu saya masih dengan pemikiran kolot, mungkin kita tak bisa berbincang akrab seperti ini, Mas.” “Ahh... Iya... Mohon jangan heran pak Ustadz...” Raihan tersenyum lega. “Ngomong-ngomong... Aku tak melihat kawan youtrouber-mu. Dimana dia?” tanyanya menoleh pada Riko. Riko menatap cepat ke arah Raihan. “A-aku...” Riko menoleh ke arah Ustadz Rohim. “Pak Ustadz... Apakah Iyan tidak menginap di sini semalam? Maksud saya... Semalam saya dan dia... Diserang oleh makhluk halus... Mang Gumilar... Dia ikut dibawa oleh makhluk itu... Dan lalu... Saya minta Iyan untuk cari bantuan kemari. Sedangkan saya memeriksa keadaan Mitha...” Ustadz Rohim menggeleng lirih. “Henteu... Teu aya... Iyan teu kesini semalam... (Tidak, tidak ada yang kemari semalam.)” ‘Ciloko tenan!’ Raihan menahan napas. Pemuda berblangkon coklat mengheningkan diri meski kedua orang di sampingnya tengah bicara. Bibirnya, berkomat-kamit tanpa suara membaca doa. Setelah tiga menit terdiam, Raihan membuka mata. Ia menoleh ke arah ustadz Rohim. “Curug?” “Curug?” tanya Ustadz Rohim balik. “Curug naon? (Air terjun apa?)” “Adakah Curug angker di dekat desa ini?” Ustadz Rohim menyempitkan mata. ‘Dari mana dia tahu? A-aku pun tak merasakan kehadiran makhluk halus-jika dia menggunakan bantuan jin... Lalu... Bagaimana bisa dia menerawang hal gaib tanpa jin?’ pikirnya heran. Tak mendengar Sang Ustadz, Riko bicara, “iya, Mas. Ada curug keramat di ujung hutan. Curug itu... Adalah destinasi kami di awal datang kemari...” *** (Hutan ujung desa, malam hari.) Hawa mistis hutan, berbaur dengan angin malam. Ia, menerpa Raihan, Riko, dan Ustadz Rohim. Riko dan Raihan mengenakan jaket hitam, sedangkan Ustadz Rohim mengenakan seragam koko putih.  “Jadi maksud Mas Raihan... Siluman ular itu memanfaatkan perjanjian dengan salah satu warga desa ini untuk mencari tumbal?” Raihan menganguk. “Sejauh ini, begitulah asumsi saya, Pak Ustad. Sejujurnya... Di awal saya mengira bahwa Pak Gumilar sendiri yang melakukan perjanjian itu...” Ustadz Rohim mengernyit. “Kenapa Mas Raihan berpikir begitu? Dia sendiri justru korban dari Rukmini... Ibunya meninggal oleh dukun wanita itu.”   “Dan... Dia juga ikut di bawa oleh jurig... Jadi aku rasa mustahil kalau Mang Gumilar yang jadi pelakunya, Mas...” Riko menambah. Ia merogoh saku jaket di mana botol kecil plastik kosong berada di saku. Raihan menghela napas, menatap jalan setapak yang diterangi remang sinar rembulan. “Anggap saja... Saya yang khilaf karena berburuk sangka padanya, kar-” Hihihihih..... Ketiga orang tersebut diam serentak. Riko dan Ustadz Rohim, menoleh kesana-kemari mencari sumber suara yang memekikan telinga. Raihan si pemuda berjaket hitam, segera memejamkan mata, bermaksud menggunakan Ajna tuk melacak keberadaan sumber suara. Wusss…. Belum di antara ketiga manusia itu berbicara, suara gamelan serta seruling sunda, bergema di udara. Di malam dingin berhias suara jangkrik, Raihan merasakan tekanan angin hangat yang dating menerpa. “Tu-tunggu!” Riko kini terbelalak. Ia menatap rumah gubuk Rukmini tak jauh dari mereka berdiri. “Bu-bukankah kita sudah melewati rumah itu, tadi!”  Raihan berdiri tegap, membuang napas. Tangan kanannya, merogoh saku jaket. “Riko... Apa kau benar mau ikut sampai ke curug?” “Ma-maksud Mas?” Wajah Riko pucat. “Kau benar yakin untuk mencari teman-temanmu di sana meski nyawa jadi taruhannya, atau tidak?” tanyanya melirik pemuda berambut cepak. “Tentu saja!” jawabnya lantang. ‘Kalau begitu...’ Raihan menoleh ke arah Ustadz Rohim. “Pak Ustadz... Saya minta tolong...” Pria paruh baya menoleh pada pemuda berblangkon. “Ke-kenapa, Mas?” Raihan menempelkan telapak tangan ke tanah. “Ya Alloh... Dzatulloh... Sifatulloh... Wujudulloh... Nurrulloh... Sirrulloh...” Ia meremas tanah tersebut, kemudian memasukannya ke kantong jaket. “Pak Ustadz, Di sini terpasang pagar gaib penghalau yang memisahkan dimensi manusia dan dimensi gaib. Meskipun saya membukanya, tapi pintu dimensi gaib akan kembali tertutup. Karena itu, saya perlu bantuan Pak Ustadz disini.” “Kumaha? Bantu naon ieu teh? (Bagaimana? Bantu apa maksudnya?)” “Asmaul Khusna, Ya Fattah, Ya Ghoib, Ya Fattah, Ya Ghoib, Ya Fattah, Ya Ghoib... Mohon wiridkan disini berulang-ulang... Dan saya mohon, Pak Ustadz tidak menghiraukan sosok-sosok yang nantinya akan datang.” Raihan menusuk tanah-mengukir lingkaran besar untuk duduk sang Ustadz. “Hanya itu saja?” Ustadz Rohim mendekati Raihan. Mengangguk mantap, Raihan selesai menggambar lingkaran. “Duduklah di sini, dan jangan pedulikan apapun yang Pak Ustad lihat. Apa yang Pak Ustad Rohim saksikan di sini, semuanya hanya kepalsuan.”   “Bismillah….” Duduk bersila, Ustadz Rohim menarik tasbih dari saku baju koko. “Baiklah.” Raihan menjulurkan tangan pada mahasiswa berbadan padat. “Rik, tolong botolnya...” Memberikan botol pada Raihan, Riko mundur perlahan ketika Raihan menarik napas lewat kedua hidung. Perlahan, pemuda berblangkon coklat membelakangkan kaki kanan, sedangkan kaki kiri tertumpu menekuk ke depan. Tangan kanannya, ia belakangkan dengan posisi jemari terbuka. Suara tawa yang tadi samar terdengar, kembali menggema-makin keras. Juga makin banyak, saling bersahutan. “Innalloha wa malaikkatahu yu sholluna ‘alannabi, ya ayyuhaladzina’amannu shollu ‘alaihi wassalimmu tashlima...” Raihan, bibirnya bergerak membaca sholawat. Ia merasakan keluar masuknya napas pada hidung. Srek srek... Tangan kiri Raihan yang masih memegang botol, mulai meraba botol-berjalan naik ke kepala tutup dan membuka benda tersebut. Ia membiarkan tutup botol jatuh ke tanah. Tangan kanannya, bergerak pelan di udara hampa, gemetar seolah tengah menarik sesuatu yang berat, hingga... Dlup! Raihan tampak seperti memasukan angin ke dalam botol. Namun yang ustadz Rohim rasakan, pemuda berblangkon itu berhasil memasukan puluhan sosok astral ke dalam botol dalam sekejap mata. “Riko, tolong ambil tutupnya,” pintanya sambil menutup lubang dengan tangan. ‘Anak ini… Ke-kenapa bisa begitu… Memasukan bangsa jin ke dalam botol? Hal itu bukan isapan jempol semata!’ Sang Ustad tercengang pada apa yang Raihan lakukan. Baru kali ini ia melihat hal tersebut terjadi di depan mata kepala sendiri.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN