bc

Sirrul Ajna 1, The Origin

book_age16+
83
IKUTI
1K
BACA
adventure
dark
tragedy
comedy
heavy
mystery
expert
demon
realistic earth
horror
like
intro-logo
Uraian

Apakah Ajna itu? Bagaimana cara mengaktifkannya?

Benarkah bila masyarakat Nusantara dahulu begitu lekat dengan segala rahasia-Nya?

Raihan, seorang "Pejalan" yang menerima tugas dari Sang Guru, kini bertemu dengan siswi SMA yang tengah diteror oleh sosok hantu wanita. Belum lagi, Shauqina Azzahra, gadis yang sejak lahir mendapat anugerah Sang Maha Kuasa menyaksikan berbagai hal tak kasat mata turut terlibat di dalam lingkar kematian.

Kenyataan bahwa segala teka-teki misteri yang Raihan ungkap mengerucut pada sekte penyembah Iblis yang juga diprakarsai penyihir dari luar Nusantara.

Mampukah Raihan membongkar kedok organisasi besar pencengkeram dunia?

Akankah para kekasih-Nya mempercayakan tanggung jawab besar padanya?

Seperti apakah kaitan Nusantara dengan sejarah dunia?

Sirrul Ajna, sebuah Novel sequel-digital yang akan mengantar Anda pada rahasia sejarah Nusantara.

chap-preview
Pratinjau gratis
Sang Musafir Hitam!
  ‘Meskipun dia aneh, bagaimanapun dia yang menyelamatkanku malam itu,’ batin Nizam seraya melirik ke arah pria berblangkon  dengan jaket hitam. Ia sebenarnya sudah keberatan ketika diminta lelaki beralis lebat tersebut, menuju rumah kosong berpenghunikan wanita jadi-jadian yang ia antar beberapa hari yang lalu. “Jika bukan karena Mas Raihan yang mengusir setan betina malam itu, saya tak akan mau datang ke sini lagi.” Pria berbulu mata lentik, berdengus beriring senyum. “Sampean ganteng. Ndak heran kalau ditaksir demit betina,” tanggapnya berdiri tegap di depan rumah kosong yang dituju. “Sebenernya, apa yang Mas Raihan cari? Mau tangkap setan itu?” Pemuda berkemeja biru menyapu pandangan ke sekitar. Tiada rumah maupun motor yang tampak. Hanya dingin dersik yang merayap membuat berdiri bulu roma. “Sampean bilang, kisah mengenai Tembuni itu... Adalah kisah nyata, kan? Dan Sampean bilang... Sosok Tembuni itu, masih berkerabat dengan seseorang dari Pulau Jawa, kan?” Nizam hanya mengangguk, matanya tertuju pada pohon besar di samping kanan rumah kosong. Tangannya, meraih lengan kiri Raihan saat aroma melati muncul, masuk ke dalam hidung. “Kok... Bau melati, Mas?” Raihan berkomat-kamit. Bibirnya samar melafalkan kalimat bahasa arab. Hingga mendadak, cengkeraman tangan Nizam mengerat. Di belakang pria berambut cepak itu, sesosok wanita berwajah pucat lengkap dengan daster putih, tengah asyik merangkul Nizam tanpa ia sadari. Raihan yang merasakan keberadaanya, bertanya tanpa menoleh. “Di mana?” Barulah saat wanita itu menangis, Nizam sontak menjerit histeris. “Huaaaaaa!”  Sejurus kemudian, sosok transparan berambut panjang, melayang masuk menembus pintu rumah yang tertutup. Nizam yang terkejut masih gemetar. Napasnya berat, dengan wajah pucat. Ia tak mampu berkata-kata. “Sampean benar mau ikut, atau tidak?” Raihan menoleh ke arah Nizam. “Ka-kalau saya tak ikut, Mas Raihan tega ninggalin saya di sini sendirian?” Pemuda berblangkon, mengacuhkan Nizam yang ketakutan dengan sedikit tawa ledekan. Ia melangkah bergegas menuju pintu rumah. Ponselnya ia nyalakan demi penerangan. Bunyi pintu tua yang lama tak terpakai, tak membuat nyalinya ciut. Nizam yang enggan melepas tangan Raihan, erat menggenggam lengannya. “Ma-Mas! Yang benar saja!” Teriaknya saat sosok samar si wanita gentayangan bermuka pucat, berdiri sembari menunjuk ke arah laci ruang tengah. Lantai rumah kosong, telah penuh oleh debu dan kotoran tikus. Lelaki berblangkon menyempitkan kedua mata saat sosok wanita berwajah dingin, menunjuk lurus ke arah pintu belakang. Blaaam! Tiba-tiba pintu tersebut terbuka. Dari sana, tampak sebuah sumur usang. Menarik napas dalam, Raihan paham. Ia tak memedulikan gumaman dan sumpah serapah Nizam. Tangan kirinya, mulai membuka laci ketika si kuntilanak lenyap. Raihan yang fokus pada tujuan, benar-benar mengacuhkan rengekan Nizam. Ia mengambil sepucuk kertas glossy. “Foto siapa?” Matanya, fokus pada wajah sosok wanita tua. “Duh, Gusti...” Raihan, menepuk pundak Nizam. Membuatnya diam. “Ji-jika hanya foto itu yang kau cari... Ayo lekas pe-pergi!” pintanya gagap. Wajahnya seperti bocah yang hendak menangis. “Kau pergilah.” Raihan melepas paksa tangan Nizam. “Aku... Ada yang harusku selesaikan!” Usai melepaskan tangan pemuda cepak, Raihan mengayuh kedua kakinya cepat ke arah sumur. Pemuda berblangkon itu berlari, dan tanpa ragu melompat masuk ke dalam sumur tua di halaman belakang rumah. Byuuurr! Nizam, gemetaran. Kakinya terasa berat untuk digerakkan. Pikirannya bercampur aduk. Ia tak habis pikir mengapa lelaki itu malah bunuh diri ke dalam sumur. “Ma-Mas Raihan!” jeritnya kaku. Blug! Mendengar suara dari pintu depan, Nizam mengambil ponsel dan menyalakan mode senter. Saat ia menyorotkan sinar ponsel ke arah pintu. Tak ada apa-apa di sana. Hendak memastikan, Nizam berjalan ke arah depan. Langkahnya yang berat dan gemetar, terhenti ketika ujung jempolnya menabrak sesuatu yang lembap. Duk... “Kalau jalan, lihat-lihat ya, Bang...” Menyorotkan senter ke kaki, dadanya lemas. Ia sejenak berhenti bernapas, saat tahu ibu jarinya masuk dan menembus dahi sesosok pocong dengan wajah tengkorak berlumur darah. “Haaaaa!” Ia membalik badan, berlari ke arah belakang. Tawa si pocong, menggema di ruangan. Makin memompa adrenalin. “To-tolong!” Bluk! Nizam, tersandung jatuh di halaman belakang. Ia terjerembap ke depan sumur. Beruntung, kepalanya tak membentur beton. “Tolooong! Toolong!” Keadaan seketika hening. Suara jangkrik dan angin, semua berhenti. Hingga... “Mas ganteng... Ndak ikut jalan-jalan? Atau mau temani saya di sini saja?” Menolehkan kepalanya ke belakang, Nizam berkeringat dingin melihat wanita bermata putih dengan rambut panjang kusut, tengah menyisir rambut menggunakan kuku-kuku panjang hitam. “Se-setan! To-tolong! Su-sudah! Ampun! Tolong!” Nizam yang terus berteriak, kini terpojok pada ujung sumur tua. Paha belakangnya, terpepet di beton pembatas sumur. “Tolong!” Blum! Sesosok makhluk hitam besar penuh bulu, dengan matanya yang merah menyala, melompat turun dari atas pohon beringin. “Woy! Berisik!” Teriaknya melotot. Nizam yang lemas, seketika jatuh ke dalam lubang sumur di belakangnya. Ia pingsan dengan tubuh terjun bebas. *** (Sebuah hutan di malam kelam.) “Jadi... Maksudnya, kau pingsan lalu jatuh ke sumur itu... Kemudian saat tersadar... Kau sudah terhanyut di sungai itu bersama... Mas Raihan tadi?” tanya sesosok perempuan berseragam SMA. Gadis mancung dengan mata yang lebar itu, menggigil dan duduk di sebelah Nizam. “Begitulah. Dia bahkan tidak menjelaskan apapun padaku.” Pria berkemeja biru basah, membuang napas menatap aliran sungai deras di depan mereka. Bunyi jangkrik dan burung hantu, memancing mereka menoleh sesekali. “La-lalu... Kau sendiri, bagaimana berada di tengah hutan malam-malam begini?” tanyanya melirik ke arah name-tag bertuliskan Dewi N. Gadis itu, menoleh ke arah jemari. Di mana sebuah cincin kebiruan, melingkar pada jari manisnya. “Sepulang sekolah tadi... Aku menunggu temanku yang hendak menjemput pulang. Tapi tak disangka, saat naik motor bersamanya... Cincin ini terlepas begitu saja ketika melewati jembatan. Cincinku ini menggelinding dan jatuh ke sungai.” Nizam mengerutkan kening. “La-lalu?” “Aku berlari turun dari motor untuk mengambilnya... Tapi aku malah terpeleset ke sungai. Dan aku, tersadar setelah nyaris kehabisan nafas di sungai itu.” ‘Aku tercebur ke sumur menyusul Mas Raihan... Dan gadis ini, hanyut sampai ke sini... Jika gadis ini berada di SMA itu... Itu berarti aku berada di Bandung! Tak masuk akal!’ pikirnya heran. “Gerbang gaib air.” Mendengar suara lelaki, Dewi dan Nizam terkejut. Mereka bersamaan menoleh ke belakang di mana Raihan berjalan mendekat. Pemuda berblangkon dan berjaket hitam, membawa sebatang dahan kering di tangan kanan. Nizam emosi. “Mas! Ucap salam dulu lah! Belum puas kau buatku jantungan!” “Kalian, diam di sini dulu, ya? Jangan keluar dari batas yang aku gambar.” Raihan dengan jaketnya yang basah, mulai menusuk tanah berlapis rumput di sekitar Dewi dan Nizam. Ia membaca lirih surat An-Nass, Al-Falaq, Al-Ikhlas, dan Al-Fatihah sembari membuat garis kotak. Pada tiap ujung garis, terdapat lekukan bak tali simpul. “A-apa maksudmu?” Nizam panik. “Kak Raihan... Mau ke mana?” Dewi turut cemas. “Jangan khawatir, aku hanya akan pergi sebentar. Aku akan segera kembali setelah semua selesai. Insyaalloh kalian aman di sini. Tapi ingat, jangan keluar dari garis ini, ya?” *** Nizam yang terjaga akibat rasa takut, menoleh ke samping ketika Dewi mulai tertidur dan bersandar di bahu kanannya. “Aih... Mas Raihan ke mana pula! Tega nian tinggalkan kami di sini!” “Tolooong!” Teriakan itu, menggema memecah sunyinya malam. Nizam, menoleh ke sekitar. Menyapu pandangan memperhatikan suara secara seksama. Sesekali, ia menatap langit malam yang mendung. “Toloong!” Lagi, suara itu menggema di udara malam. “Su-suara seseorang? A-atau jangan-jangan... Setan betina itu lagi!” “To-toloong!” Dewi, mengerjapkan kedua mata. Lirih ia terbangun, memandang bahu Nizam. Memerahlah wajahnya, hingga teriakan itu sekejap membuatnya membeku. “Jangan!” cegat Nizam saat Dewi hendak beranjak. “Ke-kenapa atuh! I-itu bukannya suara manusia?” Nizam, menaikkan alis kanan. “Dari mana kau tahu dia manusia?” “A-aku... Aku tahu!” Dewi berdiri. Menjelaskan pada Nizam bahwa dia indigo, hanya membuang waktu demi menghampiri suara itu. Gadis berambut panjang tersebut, mulai melangkah keluar batas. “Hey! Kau lupa sarannya tadi? Jangan keluar dari gar-” Tep! Sesosok tangan hitam, muncul dari dalam tanah dan menggenggam kaki Dewi yang tak beralas kaki. Sontak, gadis itu menjerit. Sedangkan Nizam, terjengkang merangkak mundur dengan kedua tangan ke belakang. “Tidaak!” Dewi, kini berlari menjauhi Nizam yang tercengang. Saat tangan itu kembali masuk ke dalam tanah, Nizam beistighfar. Napasnya kembang kempis. “Se-setan lagi?” Pemuda berkemeja biru, kini mendenguskan hidung sebab aroma yang menusuk. Ia tak bernapas sejenak. Nizam, terpaku merasakan aroma memuakkan. Hingga... Tes... Cairan berwarna merah, bertekstur kental, menitik berkelanjutan. Baru ia mengutus telunjuk untuk mengusap, bulu romanya berdiri. Tubuhnya gemetar. Sebuah langkah kaki yang terseok di antara rimbun semak belukar, memaksanya menoleh. Netra hitamnya, mencermati sesosok nenek bertongkat. Rambut sosok tersebut, putih penuh uban. “Eeeh eh eh eh... Cah bagus... Tengok ke atas!  Eh eh eh eh!” perintah sosok tersebut. Nizam yang mengecek jemarinya terlebih dulu, terpompa jantungnya. Darah! Pikirnya menoleh cepat ke atas. Sesosok wanita dengan punggung yang berlubang, duduk di atas ranting pohon. Kepalanya, lirih berputar menghadap ke belakang di mana Nizam kini membeku. Bahkan, belatung dari punggung wanita tersebut, jatuh menimpa wajahnya. “Setan!” Sang nenek, dan sang sundel bolong, tertawa bersama-sama. 

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sang Pewaris

read
54.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.6K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.3K
bc

JANUARI

read
49.1K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.2K
bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook