Nusantara's Witchcraft

1032 Kata
(Beberapa minggu sebelumnya, kios martabak pinggir jalan raya.) 'Sudah beberapa hari ini, aku memimpikan orang itu.' Dewi yang sedari tadi duduk sendiri di bangku kayu sembari menanti pesanan martabak manisnya, menatap jalan raya. 'Meski wajahnya samar, tapi aku yakin kalau aku sama sekali belum pernah menemuinya.' Ia menghela napas.  "Pesanan saya sudah, Mang?" Gadis berseragam sekolah dengan rambut pendek, bertanya pada tukang Martabak. Memancing Dewi tuk menoleh. "Sebentar ya, Neng. Ini sebentar lagi," balas si pembuat martabak.  Ia mengangguk, lanjut duduk di sebelah Dewi. Siswi SMA tersebut curi-curi pandang pada gadis berambut panjang. Tatapan curiga gadis itu pada cincin akik biru yang ia pakai, seolah menyiratkan sesuatu.  Namun baru gadis berambut panjang hendak menanyakan, sang penjual makanan memanggil, "Neng, ini sudah." Gadis berseragam SMA di sebelahnya lebih dulu buka mulut, "kalau kau tak mau jatuh dalam marabahaya, relakan cincin itu pergi." Usai bicara seraya menundukkan wajah, gadis tersebut beranjak dari kursi kayu. Siswi berseragam tersebut, meninggalkan Dewi yang menatapnya bingung. Sesaat sebelum gadis berambut pendek bangkit, ia sempat membaca nama 'Shauqina Azzahra' di papan nama seragam putihnya. "Apa maksudnya?" Ia mengernyit, lanjut memandang cincin biru di jari manis tangan kanan. *** Langit malam, menyumbang temaram dari sang rembulan. Dewi jatuh terjerembap di antara rerumputan. Netranya fokus pada seorang gadis SMA yang tergeletak di dekatnya. 'Anak SMA?' Lirih mendekat, lirik netranya tertuju pada name tag di d**a sang siswi yang terpejam. “Tasya?” Ia menempelkan telunjuk pada lubang hidung Tasya, si gadis chubby berambut lebat. 'Dia hanya pingsan, kan?' pikirnya menatap iba. “Eh eh eh eheheh! Betapa beruntungnya diriku! Setelah bangkit, aku pun akan kembali awet muda dengan tumbal sebanyak ini!  Eheheheh!” Dewi menoleh ke belakang. Sosok wanita tua penuh keriput, terus melangkah. Busananya abu-abu lusuh bercampur noda tanah kuburan. Jaraknya berkisar dua puluh meter. “Si-siapa kau!” Raut sang gadis muda diselimuti takut yang teramat.  Mata nenek tua berbusana kemben lusuh, menyala kuning. “Aku Pinah! Dan aku, yang akan mengajakmu jadi pelayan setiaku, gadis manis...” ucapnya mengulurkan tangan pada pohon terdekat di sampingnya. "Shhhssssshh..." Seekor ular hijau muncul dari batang pohon, lanjut merayap, membelit tangan kiri Mbah Pinah. Kuku-kuku tajam, lambat laun tumbuh dari jemari tua penuh keriputnya. “Ini Cuma mimpi buruk! Tidak! Ini semua hanya mimpi buruk!” Dewi menggeleng. Ia lekas membalik badan hendak meninggalkan tubuh Tasya seorang diri. “Tidaak!” Blek! Baru beberapa langkah, gadis berambut panjang menabrak sesuatu yang empuk, tetapi berbulu. Masih dengan tubuh gemetar, ia mendongakkan kepala ragu. Matanya terbelalak, manakala menjumpai sepasang mata merah sesosok Genderuwo. Taring tajam nan kokoh makhluk itu berderet menghias senyuman lebar. “Cah ayu...” sebutnya bernada genit. "Gelem karo aku? (mau denganku?)" “Tidaak!” Dewi memutar haluan, membalik badan. Nahas, Mbah Pinah sudah berada tujuh meter darinya. Tepat di belakang Mbah Pinah, sudah berjajar lima sosok Genderuwo bermata merah lain. Salah satu diantaranya memanggul tubuh pria yang pingsan, Nizam. Suara tawa dari wanita setan menggema di antara bayang pepohonan hutan. Kelebatan para kuntilanak beserta sundel bolong, memekikkan telinga. Dewi yang hilang harapan, hanya berpasrah. Ia menangis, berlutut. Dagu lembutnya, diraih pelan oleh tangan keriput si Nenek tua. “Cah Ayu... Kau punya darah keturunan Abdi Pajajaran, ya? Cincinmu juga berasal dari jamanku dulu...” Dewi memejamkan mata. Ia terus menangis sesenggukan. Tak berani bergerak. Salah-salah, cakar Mbah Pinah mengoyak leher mulusnya. “Cah Ayu... Akan aku biarkan kau hidup. Tapi dengan syarat, kau jadi penerus ilmuku. Tinggalkan kehidupanmu, ya?” Mbah Pinah mengecup kening Dewi, lirih. Matanya tak lagi bersinar kuning. Dewi menangis memejamkan sepasang netra. Air mata tak berhenti mengalir menuruni pipi. 'Ini hanya mimpi buruk!' batinnya menyangkal meski aroma tanah kuburan tercium jelas. “Bagaimana Cah Ayu? Atau kamu mau kunikahkan dulu pada Genderuwo di belakangmu itu?” Mendengar tawaran sang Nenek tua, ia spontan meludahi wajah wanita berkemben abu-abu di hadapannya. Cuih! Mata Mbah Pinah, seketika menyala kuning. Ia sigap menampar wajah Dewi. Plak! Tak berhenti, sejurus kemudian ia mencekik leher gadis berusia belasan tahun, lanjut melemparnya ke sebatang pohon pinus. Blaag! Wajahnya geram tak memedulikan rintih kesakitan si gadis berambut hitam. “Dasar manusia kurang ajar! Tak tahu di untung! Akan aku makan daging sampai tulangmu tanpa sisa!” Mbah Pinah mulai melangkah. “Reget!  Pisahkan kepala dari badannya!” "Grmmmm..." Sang Genderuwo, melangkah mendekat. Tubuh Dewi terlalu lemas, tak lagi mampu bergerak. Tiap dentuman kaki besar dari sang makhluk gaib, kian menciutkan nyali. Air matanya terus berderai membasahi pipi. “Tidak...” Tlep! Jemari besar sang genderuwo, menjepit leher si gadis. Ia tak bisa bernapas. Rontaannya pun percuma. Selain karena tenaganya yang kecil, cengkereman sosok hitam besar bermata merah terlalu kuat. Tawa para kuntilanak dan sundel bolong, kembali pecah. Mereka keigirangan menyaksikan siksaan yang dipertontonkan. Hingga... “Qulhu Geni!” Blam!! Sesosok pemuda berblangkon melesat meninju keras tubuh sang Genderuwo. Makhluk hitam bermata merah, terlempar belasan meter. Bulu-bulunya terbakar oleh api yang menyala setelah tinju Raihan menyentuhnya. Semua dedemit terdiam. Sebagian melayang, sisanya berjalan tuk berkumpul di belakang punggung Mbah Pinah. “Mbah Pinah?” tanya Raihan menahan emosi. Tinju kanannya masih erat mengepal. “Siapa kau anak muda! Beraninya kau mengusik ritualku!” Ia menunjuk Raihan dengan telunjuk kanan berkuku tajam. “M-Mas Raihan?” Dewi memandang punggung Raihan dari belakang. “Kau menumbalkan nyawa para remaja di sini! Kau juga yang telah mengajarkan ilmu setan pada sanak saudaramu! Karenanya... Aku yang akan jadi wasillah pencabut nyawamu, Pinah!” teriak Raihan geram. Ia, merogoh seutas tasbih kayu berbutir besar dari saku jaket hitam. "Kau..." Mbah Pinah memejamkan mata, memiringkan kepala ke samping bawah. "Mustahil!" Ia balik menatap Raihan tajam. "Jiwamu terlalu tua! Darah Trah Majapahit dan Matarm, dengan aura leluhur Pasundan! Siapa kau sebenarnya!" Menarik napas lewat lubang hidung, Raihan membunyikan tulang jemari kanan dan kiri bergantian. "Aku perantara Malaikat Maut untuk mencabut kembali nyawamu, Dukun tua!" Dlap! Raihan melejit cepat menghampiri Mbah Pinah dan para dedemit. Wajah bersimbah darah para wanita setan dan senyum penuh taring gerombolan genderuwo tak sedikitpun menciutkan nyali lelaki beralis lebat.  Pandangan Dewi kian buyar seiring napas yang berat ia tarik. Detak jantungnya yang sempat tak beraturan, mulai melamban hingga akhirnya ia tak sadarkan diri. Hal terakhir yang ia ingat, adalah punggung pemuda berjaket hitam dengan blangkon di kepala. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN