Sebuah Pusaka

1040 Kata
   Air di dalam bejana tanah liat di hadapan Jajang, berubah jadi darah yang mendidih setelah ia memasukan boneka-boneka di tangan kanan. Bibir lelaki berbusana lusuh tersebut bergerak-gerak membaca mantra bahasa sunda kuno. Tangan kanan kirinya mengadah ke atas, wajahnya khidmat menjiwai kalimat-tak mempedulikan ular-ular hitam nan panjang di sekitar. “Hoy tukang gali kubur! Apa kau ingin dikubur dalam keadaan menyembah iblis?” Pemuda berjaket hitam basah kuyup, sudah berdiri di tepian sungai, menghadap pada Jajang yang berdiri di bawah naungan batu besar. Pada tangan kanan lelaki berblangkon coklat, sebilah keris tajam berluk lima, berhiaskan motif harimau, ia acungkan pada sasaran. Jajang yang mendengar suara lantang Raihan, memejamkan mata-melanjutkan rapalan mantra. Sementara ular-ular hitam di sekitarnya, mulai melingkar bersiap mematuk Raihan sembari menjulur-julurkan lidah. Pemuda berjaket hitam nan basah kuyup mulai bergerak memasang kuda-kuda silat. “Kalau kau berhenti, maka akku juga tak akan ragu menyerangmu!” gertaknya keras. “Shhhhssss!” Satu persatu ular hitam di sekitar sana meluncur, sebagian melayang menyambar mengarahkan deret taring tajam. Srrak! Srrak! Srraak! Srraak! Sraakk! Slaakk! Sraak! Gerakan Raihan yang begitu lentur saat mengayun berhasil memotong belasan kepala ular yang menerjang sekaligus mengelak dari gigitan mematikan mereka. Sedikit demi sedikit ia maju, sembari sesekali melompati beberapa ular kobra yang mematuk dari belakang. Saat dua ekor binatang melata jadi-jadian dari sisi kanan kiri melayang bersamaan guna menancapkan taring tajam, Raihan meliukkan badan-memenggal habis leher ular yang melesat menyerang. Netra pemuda bercelana hitam panjang menyipit dikala Jajang hendak mencelupkan tangan ke dalam kuali berisi darah mendidih. “Raimu budeg ya! (Kau ini tuli, ya!)” Raihan yang baru saja membelah sesosok ular jadi dua bagian, lekas-lekas melempar keris berluk lima di tangan ke punggun Jajang. Meski beberapa sosok ular melesat menerkam keris yang melayang tuk mencegahnya menusuk Jajang, tetapi semuanya gagal-berakhir jadi serbuk serupa abu bakar tatkala mereka bersentuhan dengan pusaka tersebut. Beberapa jin dalam wujud binatang melata yang melihat hal itu, memutuskan pergi menjauh dari sana, merayap ke arah sungai jernih yang mengalir deras. Jleepp! “Hoookhkh!” Meski tertikam oleh keris luk lima Raihan sampai-sampai memuntahkan darah, Jajang lebih dulu menyentuh-meraup darah mendidih menggunakan sepasang telapak tangan. Ia melumuri wajah dengan cairan merah panas, sisanya ia teguk habis hingga menjilat tangannya sendiri. Deg! ‘Ealah Gusti!’ tekanan gaib dari tubuh pria paruh baya berbadan kurus, terasa mencolok. ‘Aku telat?’ Raihan menarik napas dalam-dalam, bersiaga dalam kuda-kuda. Wajahnya tegang. Kulit dan daging Jajang yang kurus keriput, perlahan-lahan kembali awet muda. Berawal dari bagian wajah, leher, lantas menyeluruh pada sekujur anggota badan. “Ahahahhahah!” “Berapa banyak nyawa manusia yang kau tumbalkan!” bentaknya pada laki-laki berusia tiga puluh delapan tahunan, tetapi berwajah dua puluh lima tahunan. Ia memandang jijik darah pada badan lawan. “Nyai Ratu tak pernah meleset! Beliau bilang kau memang bakal jadi penghalang!” Jajang meraih keris di punggung, mencabut pusaka tersebut meski tapak tangannya mulai melepuh saat memegang. “Huuuurgh!” Setelah senjatta tajam tersebut tercabut, ia cepat-cepat melemparnya pada lelaki berblangkon coklat di depannya. Swusss! Raihan meliukkan badan, menangkap gagang keris tuk kemudian bersiap. Wajahnya sontak terkejut manakala Jajang sudah melesat begitu cepat tuk menyambar. ‘Aaannnnncoookk!’ Blaaag! Bogem mentah Jajang telak mendarat mengenai perut pemuda berjaket hitam, membuatnya terguling di tanah berlapis kerikil dan batu-batu padat. “Urghhh....” Raihan meringis kesakitan, kembali berdiri perlahan dengan keris tajam di tangan kanan. “Anu ngandalikeun diri kuring, lain diri kuring, tapi Nyai Laut Kidul! Dukun remeh siga maneh lain lawan Ibu Ratu Kidul! (Yang mengendalikan diriku bukanlah diriku, tapi Nyai Laut Kidul! Dukun ingusan sepertimu bukanlah tandingan bagi Ibu Ratu Kidul!)” “Lahh ngomong apa rika! (Lah bicara apa kau!)” Ia menarik napas, mengacungkan keris pada lJajang. ‘Yang mengendalikan orang itu saat bertarung bukan dirinya sendiri, melainkan sosok siluman betina yang mengaku-aku sebagai utusan laut selatan!’ suara telepati sang raja siluman harimau menggema di kepala Raihan. Netra pemuda berblangkon menyipit, ia mengankat alis kanan nan lebat. ‘Aku tak merasakan keberadaan siluman betina itu dalam dirinya. Dari mana dia mengendalikan badan orang ini?’ “Hoy Dukun leutik! Timana anjeun boga keris eta! (Hoy Dukun cilik! Dari mana kau dapatkan keris itu!)” Jajang mengacungkan tangan pada pusaka yang Raihan pegang. *** (Beberapa saat sebelum Raihan berhadapan dengan Jajang.) Cet! Raihan mengepalkan bogem kanan tatkala sang harimau jingga raksasa bercula satu melesat ke arah mereka. “Riko! Ming-” Ia berhenti berucap saat tubuh sang harimau jingga besar justru masuk menembus tanah. Riko yang terkejut, terjengkang jatuh ke belakang dengan wajah ketakutan. Mulutnya menganga, gagap tuk berbicara. “A-apa... B-barusan i-itu, M-Mas?” “Aku tertarik pada keteguhan hatimu, kisanak! Aku tawarkan diriku untuk menuntaskan masalahmu yang juga merupakan masalahku, tanpa mengharap imbal apapun padamu. Hanya saja, kau harus benar-benar mengusir si siluman betina itu dan memastikannya tak akan mengganggu wilayahku lagi! Karena jika tidak, maka aku yang akan mencarimu dan melampiaskan murkaku padamu!” Gema suara sang harimau tanpa rupa, membuat buluku Riko dan Raihan berdiri. “Hmmm... Jare ora njaluk apa-apa... Tapi aban nggolet nek nyong ora ngusir demite, (Hmmmm... Katanya tidak minta apa-apa... Tapi akan mencariku kalau aku gagal mengusir si siluman itu,) gumamnya tersenyum seraya melangkah maju menghampiri tanah bekas sosok harimau gaib masuk ke dalam tanah. “Sakarepmu bae wis Mbah.... Toh nek sampean nggoleti nyong, nyong sing ora gamang manjingne sampean marang njero botol! (Terserah kau saja... Toh kalau kau memburuku, aku juga tak segan-segan mengurungmu ke dalam botol!”) Bluuuuuuum.... Asap pada tanah yang ada di depan Raihan mendadak mengeluarkan asap panas nan lebat, disusul dengan tanah yang retak-retak. Dari dalam perut bumi, sebilah keris berluk lima dilengkapi ukiran motif harimau, timbul ke atas dalam posisi tajam di bawah dan gagang di atas, ibarat memperbolehkan Raihan tuk memilikinya. ‘Masyaalloh! Keris Pak Kyai!’ batinnya seraya tersenyum. *** Tak mendengar sahutan, Jajang bersiap meluncur. “Eta teu penting! Anu penting sim kuring dek nyabut nyawa sia! (Itu tak penting! Yang terpenting aku mencabut nyawamu sekarang!)”  Cengkaman pada gagang keris ia kencangkan penuh keteguhan. ‘Allohuma ya Alloh, hamba hanya bermaksud melumpuhkannya. Tapi jika dalam prosesnya tangan hamba jadi perantara malaikat maut, maka mohon ampunkan hamba!’ Raihan yang usai memantapkan hati, segera melesat maju tuk menyambut Jajang. Manusia yang telah menumbalkan puluhan nyawa manusia demi kesaktian dan keabadian.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN