Di bagian ruang gedung stasiun kereta, Raihan duduk bersama lelaki berjaket biru. Gadis muda kerabat wanita berbaju merah, turut berada di sana dengan wajah sendu. Ketiganya menghadap Jono, sang anggota TNI.
Pria berbadan lebar berjaket biru, buka mulut lebih dulu, "detak jantung dan nadinya sudah tak ada, sebelum dibawa oleh petugas kereta Api. Jika Bapak tak percaya, tanyakan saja pada gadis itu."
Wajah Jono penuh dengan ketidak-percayaan sembari menoleh. "Apa benar begitu, Nona?"
Menahan tangis, gadis bertinggi badan seratus lima puluh lima sentimeter mengangguk. Ia menutupi bibir menggunakan tapak tangan. Air mata kepedihan masih menetes membasahi pipi.
'Dia pasti masih terguncang.' Raihan menghela napas usai melirik ke arah si gadis. "Apakah botol hijau itu benar mengandung racun, Pak?" tanya Raihan.
"Benar. Dan Dari mana Anda tahu bila ada botol di sana?" Jono memajukan badan, menatap serius netra Raihan.
Tersenyum simpul, pemuda berblangkon coklat menoleh kecil ke arah pria berjaket biru. "Saya dukun."
Berdengus kesal, pria berambut lebat buka mulut, "intinya, percaya tak percaya, wanita itu mati suri. Entah setan mana yang merasukinya. Faktanya demikian. Jadi saya tak ada hubungannya dengan ini."
"Hmmmm... Yah, baiklah. Saat ini kalian masih berstatus sebagai saksi. Saya akan tetap minta KTP kalian. Jika saya meminta kalian datang ke Polsek maupun koramil setempat, segerakan datang. Jika tidak, maka kami akan menetapkan kalian sebagai terduga!"
Laki-laki berjaket biru bangkit tuk protes. “H-hey, Pak! Mana bisa begitu!”
***
Bulan purnama menyinari bumi pasundan. Raihan bersedekap kedinginan memandang lalu lalang kendaraan di jalan raya. Angin di alun-alun kota Bandung, menerjang menembus jaket parasut hitamnya. Merasa perlu berdiam sejenak, ia memutuskan duduk di pinggiran alun-alun kota Bandung.
Perut keroncongan, membuatnya sempat membeli roti dan kopi dari Alfimart usai melaksanakan sholat isya tadi. Garis kanan bibirnya naik, memperhatikan rombongan manusia yang bercanda ria. Matanya bukan tertuju pada mereka, melainkan pada para wujud makhluk tak kasat mata.
'Begini, ya? Meski kerajaannya telah dikenal sirna, tetapi masih banyak prajurit Pajajaran yang berjaga,' batinnya memejamkan mata. Tampak gambaran manusia yang berbaris rapi di sepanjang pinggiran alun-alun. Entitas gaib berwujud manusia dengan pusaka dan busana bak kerajaan tua sunda.
Tak sedikit pula rombongan tentara dan gadis belanda yang mengamati Raihan dari gedung-gedung pada kejauhan. Tepatnya, di bangunan alun-alun Bandung. Makhluk-makhluk tersebut berdekatan dengan para manusia.
Sang pemuda berjaket hitam segera mnegerjapkan netra saat seorang pria gondrong dengan kaos kuning dan celana jeans, berjalan mendekat. Di samping kanan pemuda berkulit putih, seorang pemuda berkumis tipis dengan pipi chubby, sibuk memainkan ponsel. Raihan yang baru menyalakan sebatang rokok, menoleh pelan saat si pemuda menyapa.
"Kang, boleh pinjem koreknya?" tanyanya lirih.
Raihan sontak memberikan korek merah pada pria berkaos kuning. "Silahkan..."
"Kang... sampean wong jowo, kan? (Kang, Anda orang Jawa, kan?)" terka si pemuda berkumis tipis dengan mata belo.
Raihan tersenyum mengangguk. "Iya. Sampean wong ndi? (Ya, kalian orang mana?)" balasnya.
"Noh kan bener, Wan! wong jowo! Blangkone wae jowo! (Nah benar kan terkaanku, Wan! Dia orang Jawa!)" tanggap si pria chubby seraya menyenggol siku kanan rekannya. "Kami dari Jogja, Kang," jawabnya.
"Maturnuwun, Kang." Pria gondrong memberikan korek tersebut. Kedua pemuda itu, duduk di sebelah Raihan.
"Mahasiswa, ya? lagi nunggu seseorang?" tanya Raihan.
"Hooh, Kang. Nunggu... Temen. Ada sedikit kendala," sahut si pemuda berkulit cokelat. "Aku Wicaksono," ujarnya menjabat tangan Raihan.
"Iwan, Kang." Pria bertubuh jangkung turut menjabat tangan.
Raihan, turut memperkenalkan diri. Tanpa memberitahukan tujuannya, ia berbincang akrab. Dua batang rokok, telah habis jadi abu. Hingga, fokus Raihan makin terpusat ketika Iwan menceritakan alasannya menunggu di alun-alun.
"Tunggu... jadi, teman kalian yang bernama... Aniva itu... masih berada di stasiun kereta? Apakah... gadis itu, mengenakan kerudung hitam, dan datang bersama.... bibinya?" terka Raihan yakin usai mendengar cerita ringkas dua pemuda yang baru dikenal.
"Wadoh, joss tenan iki Kang Raihan! Dukun sejati! Hahaha!" celetuk Wicaksono.
"Sampean, ketemu di kereta? Atau bagaimana, Kang?" Iwan mengernyitkan dahi.
"Sebentar. Kalian sedang study tour, kan? Apa tak ada yang memberitahu bila, bibinya meninggal di kereta?"
"Innalillahi! Me-meninggal?"
Belum Raihan menjelaskan lebih lanjut, ponselnya bedering. Kontak bernama TNI Jono memanggil. "Halo, Ndan... Bagaimana?"
'Kau masih di sekitar stasiun? Segera kemari, ya? Ada yang menunggumu."
***
Stasiun Kereta Api, Bandung.
Iwan dan Wicaksono menunggu di luar ruangan. Sedangkan pemuda berblangkon, tengah menghadap Jono, anggota TNI yang memanggilnya. Jono si pria cepak berkulit sawo matang, menoleh ke arah ponsel jadul. Ia melihat sebuah pesan yang masuk. "Saya ada panggilan mendadak. Kamu, tunggu atasan saya di sini, ya! Beliau sudah sampai di depan."
Raihan yang ingin tahu, menatap dalam mata sang TNI sebelum ia keluar ruangan. Dalam tiga detik, bisikan hati yang ia dengar adalah kata, Rumah sakit. 'Sepertinya ada banyak hal janggal yang terjadi, ya? Beliau tapi belum balas pesanku... Apa aku harus bertindak dan memutuskan semuanya sendiri?' Ia membuang napas berat.
"Assalamualaikum!" Lelaki berkulit cokelat dengan potongan cepak, yang juga berbalut jaket biru, tiba memasuki ruangan. Matanya sedikit sipit, dengan hidung mancung yang tumpul di ujung.
"Weeeeh! Waalaikumsalam!" Raihan tersenyum menyambut seseorang yang ia kenal. Sosok yang pernah membantunya dalam beberapa kasus. "Pak Andi! Lama tak berjumpa!"
Mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, Pak Andi mulai duduk menghadap Raihan. "Heran saya... Setiap hadapi hal-hal berbau mistis... pasti ketemu sama Mas Raihan terus..."
Raihan terkekeh, lirih melepaskan genggaman tangan. "Sehat, Pak Andi?"
"Halah... Dukun kok bertanya. Sudah pasti langsung tahu hanya dengan menatap raut muka..." sahutnya meledek.
"Mana bisa terawang-terawang, terlebih kalau yang diterawang orang yang spiritualnya lebih mumpuni."
"Ahh, bisa saja. Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Pak Kyai? Sudah jadi, bangun pesantren di Jawa Timur?" Pria bersepatu TNI, kini membuka tas yang sedang ia bawa. Tangannya, mengeluarkan sebuah berkas.
"Beliau baik. Insyaalloh sedang dalam tahap pengerjaan," tanggapnya memandang berkas-berkas berisikan keterangan orang-orang hilang di hadapan Pak Andi.
"Mas Raihan, kali ini saya sedang menangani kasus besar yang janggal." Lelaki berjaket hitam tebal menarik napas. "Apa, sampean tahu sesuatu?"
"Orang-orang hilang? Apa mungkin berkaitan dengan..."
"Bisa jadi. Tapi kami belum menemukan bukti lagi untuk saat ini. Semua, justru mengarah pada orang-orang pribumi. Dalang, motif, dan langkah yang mereka punya... Kita belum tahu." Pak Andi, menyodorkan secarik kertas.
Pemuda berblangkon mencermati wajah yang ia lihat hari ini. Wanita berambut panjang dengan busana merah. "I-ini kan…"
"Benar. Dia adalah wanita yang tadi membuat keributan di kereta. Saya juga bingung. Tapi petugas loket tidak mendapatkan data diri wanita itu."
"Bisakah kita meminta semua data atau foto orang-orang yang melakukan perjalanan di kereta tadi?" Raihan menarik napas dalam.
"Itu yang saya mau, mumpung Mas Raihan di sini, saya mau minta bantu penerawangan Mas Raihan sekalian. Hahahaha!"
***
Rumah sakit Restu Ibu, Bandung Selatan.
Belasan ranjang penuh pasien berjajar di ruang Rumah sakit. Ada beberapa gelintir orang yang juga menunggui sanak famili yang tak sehat. Di ujung ruangan dekat jendela, Iwan duduk menemani seorang gadis-Aniva.
"Rombongan mahasiswa sudah berada di penginapan. Aku dan Wicaksono yang akan menemanimu sampai Irna dan Rara datang." Iwan, menatap gadis yang terbaring di ranjang rumah sakit. 'Dia masih trauma, sepertinya.'
Wicaksono memasuki ruang rumah sakit. "Wan, Irna sama Rara sudah di bawah. Kita tukar jaga sekalian saja apa?"
Bangkit, Iwan mengangguk. "Div, kamu tunggu sini ya? Aku langsung on the way penginapan buat jelasin ke Asdos. Tahu sendiri si botak kalau ngamuk kaya apa."
Memaksakan senyum, gadis berkerudung hitam mengangguk. "Iya... terimakasih, Iwan, Bejo."
Melihat kedua pria beranjak pergi, Aniva terbesit ingatan ketika sosok yang ia sayangi, berubah jadi monster. Sosok bibi yang begitu ia kenal, kini lekat dengan predikat pembawa trauma.
Lima menit berselang. Teman dekat yang ia tunggu, belum kunjung tiba. Aniva, menarik napas dalam. Sesekali meraba leher yang jadi biru sebab cekikkan wanita setan. Hingga...
Tek!
Lampu ruangan, padam. Gadis itu terkejut dengan bibir bungkam.
Tek!
Lagi, lampu ruangan menyala. Kini, ia tak melihat para pasien dan penunggu rawat inap lain.
Tek!
Sebuah suara familiar membisik entah dari mana, memanggil dengan nada berat, "Aniva..."
Gadis berkerudung hitam, melirik ke kanan dan kiri. Bisikan lirih itu membuatnya gemetar hebat. Bibirnya bungkam, tak bisa dibuka.
"Aniva... Sini ikut bibi..."
Netra si gadis terbuka lebar, tatkala menyaksikan sosok wanita berbaju merah dengan usus yang menjuntai berlumur cairan merah kental. Mata sosok berambut panjang tersebut putih sepenuhnya, beriring seringai mengerikan.
***
(Stasiun Kereta Api, Bandung Kota.)
'Dari tadi kenapa batinku tak tenang, ya? Apa ada yang terjadi lagi?' Empat puntung tembakau berada di asbak kayu. Raihan menyeruput kopi hitam panasnya, berdengus kesal sebelum ber-istighfar. "Aku tak yakin kalau tersangkanya ada di antara orang-orang ini," ujarnya memandang Pak Andi yang melangkah memasuki ruangan.
"Menurut kesaksian keponakannya, Sarlita hilang ingatan dan memang sudah berada di kereta. Gadis itu membawanya untuk pergi ke ruang pengobatan dalam kereta. Lalu, wanita itu tak membawa barang apapun." Pak Andi duduk menghadap Raihan, menaruh sebungkus lisong penuh, di dekat tangan pemuda berblangkon.
"Terus soal racun yang ditemukan itu... Jenis racun apa, Pak?" Raihan, membuka bungkus rokkok.
"Jono sedang di rumah sakit guna memastikan hasil otopsi. Jenis cairan yang ada di botol yang kau maksud... Toluena. Anehnya, warna cairannya merah dan berbau bangkai."
"Tapi harusnya... Aromanya itu seperti benzena? Atau ada campuran darahnya, kah?" Raihan menyeruput kopi hitam usai bicara.
"Dokternya saja bingung. Tak ada kandungan darah. Dan warna merahnya itu, dari kandungan air biasa."
Ia mengeluarkan sebuah tasbih kayu, berpikir sembari ber-dzikir. 'Pastinya ada campur-tangan hal gaib jika janggal begini. Kalau begitu, tak penting dari bahan apa racun itu, kan? Siapa pelakunya dan apa motifnya? Ya Allah Gusti... Kenapa batinku tak tenang begini?'
"Apa di antara orang-orang ini, tak ada yang kau curigai?" Pak Andi mengamati tumpukan kertas di depan Raihan.
Raihan menggeleng usai meniup asap lirih. "Tidak. Kendalanya, KTP bisa mudah dipalsukan. Bisa saja orang yang memasukan Sarlita-Sarlita ke dalam kereta secara diam-diam itu, masuk dengan KTP orang lain." Raihan berdengus. "Siapa yang kiranya berani nekat melakukan hal itu?"
Pak Andi melirik ke kanan dan kiri. "Mereka, maksudmu?"
Raihan memandangi puntung tembakau di asbak. "Tapi... Menurut laporan Raden Ronggo Jati sendiri... Mereka tak lagi menampakkan diri di Indonesia, semenjak kita menjumpai mereka di gedung itu."
Ponsel Pak Andi, berdering. Melihat nama Jono memanggil, ia menekan tombol jawab. "Halo, Jon! Bagaimana?"
'Ndan! Jasadnya hilang!' suara Jono panic dari seberang telepon.
Deg!
Raihan lekas-lekas mengisap keras rokok di tangan kiri. "Batinku memang tak tenang dari tadi. Sebaiknya kita menyusul ke sana, Pak!"
"Onde Timur Wilis , Jon! Kau Solo Bandung!" perintahnya mematikan telepon bergegas meninggalkan ruangan.
***
(Ruang pasien, Rumah sakit.)
"Tidaak!" Aniva berteriak usai membuka kedua mata yang berkaca. Ia baru tertidur. Di samping kanannya, dua orang gadis berambut panjang, mencoba menenangkan. Di antara para pengunjung rumah sakit di ruangan, seorang pria paruh baya berbusana abu-abu, memandangnya kesal.
"A-aku..." Gadis berkerudung hitam, menatap bingung dua gadis kuning langsat. Telinganya mendengar, tetapi akalnya sibuk. 'Barusan cuma mimpi? Bibi... Bibi sebenarnya kenapa? Apa mungkin Bibi belum tenang?'
"Niva... kamu baik-baik saja, kan?" Salah satu gadis di sebelahnya bertanya dengan raut cemas.
"Tidak..." Gadis itu menggeleng lirih. "Barusan bukan Bibi! Bibi tidak mungkin begitu!"
Gadis berbusana hijau sontak memeluk tuk menenangkan. "Niva... Kami di sini, tak apa-apa."
Tiga menit setelah gadis itu didekap, Raihan yang masih berbalut jaket hitam memasuki ruangan. Kedatangannya yang terburu-buru, membuat seisi ruangan menoleh. Sebagian sinis memperhatikan blangkon di kepala Raihan.
Menarik napas dalam, Raihan memandang tiga mahasiswi di ujung ruangan. 'Syukur, tidak terjadi apa-apa.' Ia melangkah mendekat. Tangan kanannya, merogoh ponse dari saku jaket hitam parasut. Ia menelepon Pak Andi. "Halo, Pak. Saksi masih berada di tempat. Dia baik-baik sa-"
Dlap!
"Graaaaa!" Sesosok wanita berwajah hancur, melesat menerjang Raihan dari pintu masuk ruangan. Darahnya menghitam, sebagian menetes dari usus ke lantai. Datangnya sosok itu, membuat semua pasien berteriak histeris.
Raihan reflek melompat mundur, tapi karena langkahnya yang masih kurang jauh, tangan kanannya tergapai. Pemuda berblangkon, pasrah tatkala tubuhnya dihempaskan keluar jendela rumah sakit lantai tiga.
Praaal!
"Aniva saying, katanya kangen Bibi? Ayo ikut Bibi!" ucapnya parau. Tangan kanannya, menutupi dahi yang hancur oleh timah panas sore tadi.
Salah seorang pria paruh baya yang sedari tadi mengamati Aniva, memberanikan diri menerjang sosok mayat hidup.
Crass!
Sekali ayun, leher lelaki tersebut sobek. Darah menyembul deras darinya. Ia ambruk, suaranya tergagap sembari memegangi leher.
Wanita itu, tersenyum. Melanjutkan langkah menuju ranjang Aniva. Ia tak memedulikan para manusia yang berlarian keluar. Bahkan nenek-nenek yang terinfus, susah payah merangkak keluar dari sana.
"Aniva... Kamu... Tak mau kesepian, ya? Kalau begitu, bagaimana jika... dua gadis manis ini menemani kita juga?" Ia, menolehkan kepalanya pada dua kawan Aniva. Mereka bertiga, menjerit minta tolong.
Rara, memilih menjauh dari Aniva. Ia berlari memutari wanita mengerikan yang berdiri memandangnya. Kepala wanita tersebut, berputar seratus delapan puluh derajat bak burung hantu. Pandangannya mengikuti laju kaki Rara. "Kau mau ke mana, sayang?" Wanita berbaju merah mengacungkan telapak tangan kanan pada si gadis.
Blak!
Angin begitu kuat menerpa tubuh si gadis, membuatnya terjungkal dan bersimpuh di hadapan wanita setan. "Sayang... apa kau tak mau menemani Aniva?"
Gadis malang itu hanya menangis sesenggukan. Wajahnya pucat, ketakutan. Gemetarlah sekujur badan. Ia tak mampu menggerakan anggota tubuh.
Memutar kepalanya ke belakang, wanita itu tersenyum pada Aniva dan Irna. "Bibi buat cepat, kok! Teu sakit..."
Jlaab!
Tangan wanita bercakar tajam tersebut, menusuk menembus tengkorak Rara. "Ahahahahahahah!"
"Tidaak!" Aniva histeris, kawan di sebelahnya, seketika pingsan dan jatuh ke lantai. Terlalu shock melihat kekejian wanita setan.
Tlap...
Wanita berbaju merah, membalik badan menyesuaikan kepala dengan tubuhnya sejajar untuk kemudian kembali berjalan. Cucuran darah segar milik Irna, masih saja menetes dari ujung runcing cakarnya. "Aniva... Aniva sayaang..."
"P-pergi! Kau bukan Bibi!" Teriaknya histeris menutupi wajah.
Wajah hancur si wanita berbaju merah, berubah. Senyumnya, raib. Berganti raut kesedihan. Ia, lirih mulai menangis. "Aniva tega..."
"Pergi! Kubilang pergi!" Gadis berkerudung hitam, makin keras menangis. Wajahnya ditutupi bantal, dengan kedua lutut yang tertekuk.
"Ya sudah... Bibi pergi!"
Gadis itu, menangis makin keras. Meski samar, kedua telinga dibalik hijabnya mendengar derap langkah yang makin jauh. Hatinya kalut, teringat pada Irna yang mati sekejap mata oleh cakar Bibinya. Atau mungkin sosok yang mengambil alih raga Bibinya.
Aniva, tangisnya mereda. Lirih, ia memberanikan diri membuka bantal. Benar, sosok itu tak lagi tampak dalam pandangan mata. Sontak, matanya terpaku pada jenazah Irna, sahabat kuliahnya.
Tangisannya yang sempat mereda, lirih jadi terisak.
"Tapi bohong!" Menoleh cepat ke arah kanan, Aniva mendapati sosok wanita jadi-jadian, tengah memegangi tubuh Rara.
Rara yang pingsan hanya terdiam, manakala tangan kanan bercakar sosok tersebut menempel erat di ubun-ubun, sedangan tangan kirinya menempel di dagu. Sosok itu, menekan erat. Hingga...
Kraaataak!
"Hahaahahaha!" Sang Wanita jadi-jadian, menggeser paksa rahang dan tulang Rara. Ia membunuh gadis itu dalam sekejap.