Bukan namanya Hira jika gadis itu tak punya tekad kuat. Setelah kembali berdebat dengan sang ayah, Hira memilih kabur, lebih tepatnya ia menenangkan dirinya. Gadis itu nekat untuk pergi ke Jogja seorang diri, tanpa siapapun. Dan hanya bermodalkan nekad.
Baginya Jogja seperti kota Semarang yang begitu mudah ia jelajahi. Tanpa rasa takut, Hira datang ke kosan Rumi. Semua pelariannya ia bawa ke Jogja. Bukan maksud untuk membangkang, tetapi ke arah untuk menepi sejenak dari perdebatan yang tiada ujungnya itu jika dibumbui ego yang sama besarnya.
*****
"Darimana saja kamu?" setelah dari goa Kreo, Hira diantar pulang oleh Barata, laki-laki itu memang gentle dengan berani untuk mengantarkan Hira sampai depan rumah, bukan di depan gang. Hira awalnya menolak karena takut sang ayah akan mengetahuinya, tetapi dengan tenang Barata mengatakan bahwa,
"Laki-laki itu diciptakan untuk melindungi, menghormati, dan memuliakan perempuan, Ra. Dan bila ada yang menyakiti maupun membuat perempuan itu meneteskan air matanya walau hanya setetes, sama aja dia pengecut. Untuk kali ini dan seterusnya, biarkan aku menjadi laki-laki sejati untukmu.”
Tanpa sepatah katapun Hira berjalan mengikuti Barata menuju parkiran motor. Gadis itu terlalu shock atas pernyataan Barata.
Kemudian Barata benar-benar mengantarkan Hira pulang dengan selamat. Sebelum itu bahkan laki-laki itu mengajak makan Hira di sebuah warung makan yang cukup enak dan banyak pengemarnya. Cukup sederhana tapi lebih bermakna.
"Jawab pertanyaan ayah Hira! kenapa nggak di antar Ari atau Gagat?" tanya Damar kembali. Beliau paling tidak suka jika Hira pergi tanpa pengawasannya.
Hira diam sambil menunduk. Tangannya memilin baju berbahan katun tersebut. Hira tak berani untuk sekedar menegakkan kepalanya.
Damar menghembuskan nafasnya kasar, setelah sempat kalang kabut mencari keberadaan Hira yang tiba-tiba menghilang sejak pagi, membuatnya hampir memarahi satu barak di sana. Laki-laki itu bahkan hendak menghajar para ajudannya yang tak bisa menjaga Hira. Sebegitu protektifnya kepada putri semata wayangnya itu.
"Menjaga satu gadis kecil saja kalian nggak bisa! kalian prajurit atau bukan hah!?!"
Marahnya Damar benar-benar menakutkan. Laki-laki itu juga sudah mencari bersama yang lain, sebegitu cemasnya ketika sang putri pergi tanpa pamit.
Kadang memang Damar keterlaluan dalam memarahi seseorang, tanpa pandang bulu lebih tepatnya. Amarahnya bagai lava yang baru erupsi dari gunung berapi. Begitu panas dan menghancurkan.
"Maaf yah, Hira tadi cuma keluar sama temen." cicit Hira pelan.
"Keluar? kenapa nggak izin ayah atau mama? jawab Hira!" Hira berjenggit kaget mendengar bentakan dari Damar. Seumur umur ia baru mendapat bentakan dari sang ayah. Tak pernah Damar semarah itu padanya, apalagi membentak. Paling parah ia di ceramahi panjang lebar dan berakhir mendapat hukuman untuk membersihkan halaman dan rumah setiap hari.
"Ayah sudah bilang sama kamu kalau mau pergi itu izin sama ayah atau mama dulu nak. Kenapa kamu sulit sekali di beri tahu? hmm?" Kini nada Damar melembut, ia sadar jika salah setelah membentak sang putri. Namun ternyata Hira sudah menumpahkan air matanya. Ia kesal lantaran masih saja di nasehati ketika keluar main. Ia sudah besar dan bisa menjaga diri, begitu pikirnya. Ia keluar juga bukan untuk bermacam-macam diluar sana, tetapi tetap saja sang ayah tidak bisa memahaminya.
"Ayah jahat! nggak pernah tahu apa kebahagiaan Hira. Selalu saja mengekang Hira. Pergi main saja harus di antar, Hira sudah besar ayah! Hira sudah besar!" Gadis itu berkata dengan nada tinggi hingga Damar menatap putrinya itu tak percaya. Tak pernah sekalipun Hira membentak dirinya atupun Kencana dan baru sekali ini membentaknya.
Kemudian Kencana datang dengan masih membawa seragam polisinya. Ia kaget di beri tahu sang suami jika Hira pergi tanpa pamit. Kencana yang sebenarnya sedang berada di Batang langsung saja kembali lagi ke Semarang. Sebegitu khawatirnya Kencana pada sang putri.
Lalu Hira menatap terluka ke arah Kencana dan langsung berlari ke kamarnya. Tak tahan rasanya berada di situasi tersebut.
"Mas,"
Damar lantas menatap sang istri, "kamu saja tak tahu keberadaan putrimu, lantas mengapa kamu memilih tugasmu? Seharusnya kamu paham." Ucap Damar sarkas kepada sang istri.
"Mas kita bicarakan baik-baik. Hira sudah besar mas, biar dia mengekspresikan apa yang dia inginkan!" Mendampingi Damar selama hampir 20 tahun membuatnya paham dengan sifat Damar yang kadang membuat Kencana harus ekstra sabar. Sisi buruk sang suami terkadang muncul dan membuat ujian untuk hatinya.
"Nggak ada yang perlu di bicarakan. Keputusan mas buat Hira sudah bulat! Hira harus dalam pengawasan!"
"Mas nggak gitu caranya kamu mengekspresikan sayangmu kepada Hira! nggak semua yang Mas lakukan berdampak baik untuk putri kita! Mas kali ini dengarkan ucapan Kencana sebelum semuanya terlambat!"
Sementara itu di dalam kamar Hira tambah menjadi jadi dalam menangis ketika mendengar pertengkaran orang tuanya. Sekali lagi ia menyalahkan dirinya untuk keributan yang telah terjadi. Benar, dirinya memang harus patuh kepada orang tua bukan malah mengingkari janji dan membantah orang tua. Tapi ia juga butuh pelarian, lantas kemana? ia sudah muak dengan situasi ini!
*****
Rumi menatap kesal sang sepupu yang justru memakan habis makanan ringannya. Bukannya pelit atau apa, tetapi ia belum gajian dan jatah snack tersebut untuk beberapa hari ke depan. Namun dengan tidak berdosanya Hira datang dan memakan dengan lahap jajanannya itu.
"Lain kali kalau kabur bawa uang banyak, biar nggak kelaperan kayak orang gembel gini." Sarkas Rumi. Sedangkan Hira nampak cuek dan memilih menonton televisi yang berada di kosan Rumi. Gadis itu juga dengan santai menyabotase tempat Rumi tanpa memperdulikan sang empu yang sudah ingin mencak-mencak.
"Aku bukan kabur mbak, aku cuma butuh ketenangan." sahut Hira kemudian dengan santai. Ternyata setelah ia kabur, perasaannya perlahan membaik, tak seburuk beberapa waktu yang lalu.
Lalu Rumi berdecak, "kalau butuh ketenangan ya ibadah ke Tuhan. Sebut firmanNya, shalawat kepada kekasihNya. Bukan malah kabur-kaburan nggak jelas kayak gini."
Lalu Hira menghentikan makannya. Ternyata benar, ia mengambil langkah yang salah dengan memilih kabur. Ia seperti anak kecil yang masuk ke usia pubertas, bukan seperti remaja yang menginjak dewasa.
Pagi tadi, Hira bukannya berangkat sekolah justru kabur setelah di antar oleh ajudan ayahnya. Berbekal baju bebas yang ia pakai, Hira nekat naik bus trans Jateng dan langsung pergi ke terminal Ungaran. Gadis itu lalu menaiki bus jurusan Jogja. Hanya nekat yang ia punya. Tak pernah sekalipun gadis itu berpergian jauh sendirian. Selalu saja ada yang mengantar. Dan itulah pengalaman pertama kalinya pergi seorang diri.
"Terus Om Tante ini gimana Ra? kasihan Om dan Tante yang nyariin kamu."
"Biarin! sekali-kali Hira bebas menentukan nasib Hira. Hira capek diatur-atur dengan aturan mencekik.”
Rumi yang sudah gemas dengan sang sepupu lalu langsung melempar dengan kulit kacang. Tak habis pikir dengan bocah yang sok-sokan menjadi dewasa itu.
"Dasar ya bocah baru kemarin! kamu pikir ini bakal nyelesain masalah? seharusnya kamu berpikir panjang nduk!" Rumi memang terkenal keras jika masalah menasehati seseorang. Ia akan berkata apa adanya untuk sebuah kebenaran dan kebaikan.
Hira lalu terdiam. Ia tiba-tiba dilingkupi rasa bersalah yang amat dalam. "Ada alasannya pasti kenapa Om udah nentuin masa depan kamu." lanjutnya.
"Tapi itu nggak adil Mbak! dari bayi ayah selalu andil penuh dalam hidup Hira. Nggak kayak abang yang bebas milih. Dari bayi mulai merk popokku pun mereka yang atur. Sampai masa depan Hira juga ikut di atur, aku benci Mbak aku benci!" Gadis kecil itu sudah menangis di hadapan Rumi, tetapi Rumi tak sedikitpun berniat menghentikan tangis Hira. Biarkan saja Hira menangis dan menumpahkan air matanya. Rumi akan tetap memberikan pengertian kepada Hira yang sayangnya keras kepala itu.
"Kamu coba sekali kali mikir mengapa om bisa seperti itu." Rumi memberi jeda.
"Kamu pernah tau kalau mamamu dulu keguguran anak pertama?" Hira menggeleng pelan, namun kemudian menatap sepupunya itu.
"Ayah dan Mama nggak pernah cerita." Lirih Hira. Gadis itu juga kaget mendengar jika mamanya dulu pernah keguguran. Yang ia tahu abangnya adalah anak pertama sang mama. Kedua orang tuanya tidak pernah membahas mengenai hal itu.
"Perjuangan Om dan Tante itu sulit dulunya nduk. Nggak semudah seperti sekarang. Dulu mereka melewati banyak cobaan, mulai dari Mamamu yang hampir kehilangan nyawanya pas operasi, hingga Ayahmu yang sudah di vonis gugur ketika melawan kelompok bersenjata. Kemudian juga Mamamu sedang hamil waktu itu, tetapi gara-gara cobaan waktu itu, Mamamu keguguran anak pertamanya. Itu pukulan telak bagi Om dan Tante. Lalu kalian hadir dan menjadi penghibur lara mereka. Pantas jika kamu di perlakukan seperti itu. Mereka nggak mau kehilangan lagi. Intinya mereka itu sangat sayang sama kamu nduk. Tapi mungkin terlalu berlebihan dalam mengekspresikannya.”
"Ke-kenapa mbak bisa tahu?"
"Mbak sendiri yang diceritain sama Mamamu. Mbak banyak mengambil kisah dari orang tuamu. Tolong, bersikaplah sedikit dewasa, Ra."
"Mungkin orang tuamu nggak pernah cerita gara-gara nggak mau membuka luka lama. Selain itu juga kamu cukup menjadi alasan mereka bahagia."
"Tap-tapi, kenapa ayah begitu ngotot memasukkan Hira ke Kedokteran?"
"Kalau itu silahkan tanya pada Om sendiri. Pasti Om punya alasan kuat untuk itu."
"Mbak sudah menghubungi Om dan Tante, kemungkinan sejam lagi akan sampai. Mbak nggak mau lagi ada drama begini. Kamu udah besar, nggak seharusnya main kabur-kaburan. Kasihan prajurit yang sudah jadi sasaran ayahmu karena tidak bisa menjaga dirimu."
"Perlu kamu ingat, hidupmu, hidup kita, jauh lebih beruntung ketimbang orang di luar sana. Syukuri nduk, selagi kamu masih bisa membuka mata hatimu."
*****
Benar, sejam kemudian Damar dan Kencana sampai di kosan Rumi. Pasangan tersebut langsung masuk dan memastikan anak bungsu mereka aman di sana.
"Tante minta maaf ya nduk udah direpotin sama Hira. Tante juga berterima kasih sudah memberikan pengertian kepada Hira. Memang terkadang anak lebih mudah di nasehati oleh orang lain ketimbang orang tuanya sendiri."
Lalu Kencana masuk dan melihat Hira yang sedang terlelap. Setelah di nasehati Rumi, gadis itu menangis dan akhirnya tertidur seperti bocah yang kekenyangan setelah meminum s**u.
Kencana menatap lembut sang putri. Memang Hira sedikit berbeda dengan sang kembaran yang cenderung penurut. Hira itu agak pemberontak jika keinginannya tak terpenuhi. Namun begitu Kencana tetap menyayangi anak bungsunya itu. Hira tetap menjadi intan kebanggannya.
Sementara Damar menunggu di luar atas permintaan Kencana. Laki-laki itu awalnya emosi mendengar Hira yang kabur ke kosan Rumi. Ia tak menyangka jika putrinya itu mampu berbuat nekat, padahal selama ini Hira selalu dalam pengawasannya. Namun setelah di beri pengertian Kencana di sepanjang perjalanan, Damar sadar bahwa selama ia terlalu mengekang sang anak. Bahkan Damar terlalu egois hanya untuk sekedar memberikan kebebasan untuk Hira memilih masa depannya. Damar juga terlalu larut dalam menjalankan peran ayah sehingga terkesan berlebihan.
"Nak, Hira, ayo bangun. Kita pulang yuk." Kencana membangunkan Hira dengan lembut. Sebagai seorang ibu ia tahu apa yang dirasakan oleh sang anak. Sebisa mungkin ia merangkul sang putrid an memberikan pengertian sedikit demi sedikit.
Hira lantas menggeliat kecil, kemudian mengerjap pelan dan pandangan pertamanya ialah sang mama. Namun gadis itu justru menangis, "Mama, hiks… maafin Hira. Hira udah bertingkah kayak anak kecil. Hiks, maafin Hira. Hira juga udah mengecewakan Ayah."
Kemudian Kencana langsung memeluk sang putri dan menenangkannya. "Udah jangan menangis sayang, mama maafin kok. Kamu jangan kayak gini lagi ya. Kasihan ayahmu mencari kemana-mana. Kasihan orang-orang yang jadi sasaran kemarahan ayah." Dalam pelukan Kencana, Hira mengangguk.
Lalu, Hira mencuci mukanya atas perintah Kencana. Kemudian mereka langsung berpamitan kepada Rumi, "maaf ya Rum. Makasih udah nemenin Hira." Ucap Kencana sambil tersenyum. Ia bersyukur setidaknya Hira kabur bukan ke tempat yang aneh-aneh.
"Iya tan. Maaf Rumi terpaksa bercerita pada Hira." Ujar Rumi tak enak. Kencana sudah faham dengan apa yang dimaksud oleh keponakannya itu.
Kencana tersenyum memaklumi, "nggak papa. Lambat laun juga mereka tahu. Terima kasih sekali lagi buat pengertiannya." Rumi tersenyum manis dan mengangguk.
"Tante sama Om pamit dulu. Assalamu'alaikum."
"Iya tan, nggak papa kok, wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan."
Kemudian mereka keluar kosan Rumi dan menuju mobil. Damar menunggu di dalam mobil. Hira menunduk, tak berani menatap sang ayah. Ia takut.
Damar pun tak berbicara, laki-laki itu memilih diam dan menunggu momen yang pas. Ia melihat sang putri yang nampaknya habis menangis dan membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya hanya sekedar untuk menyapa.
Kemudian setelah perjalanan sekitar 3 jam, akhirnya mereka sampai di rumah. Kencana langsung menggiring Hira masuk ke dalam rumah, begitupun Damar ikut masuk ke dalam. Laki-laki itu masih diam, tak terburu-buru untuk bertanya lebih. Namun, Damar yang hendak masuk ke dalam kamar, tiba-tiba mendapat pelukan dari belakang.
"Hiks... maafin Hira Ayah, maafin Hira. Hira salah, Hira udah nyusahin Ayah sama Mama.. Hiks… maafin Hira,"
Lalu Damar membalikkan tubuhnya, laki-laki itu tak marah tetapi membiarkan sang putri untuk menumpahkan emosinya. Mungkin setelah ini ia harus menghapuskan keegoisannya untuk sang anak. Ia harus belajar untuk bisa mengerti keinginan sang putri yang sebenarnya sederhana itu.
"Hira, tatap ayah." Ucap Damar pada sang putri.
Hira yang menenggelamkan wajahnya di d**a sang ayah menggelengkan kepalanya, "nggak mau, takut ayah marah lagi sama Hira." ujarnya.
Di belakang, Kencana tersenyum geli mendengar jawaban sang putri. Perempuan itu tak menyangka jika putrinya masih saja seperti anak kecil padahal sebentar lagi sudah masuk kuliah. Namun perlahan Kencana rindu. Ia rindu dimana ia masih kerepotan mengurusi dua anak sekaligus. Rindu dengan Raksa dan Hira kecil yang tentunya amat menggemaskan itu. Kencana rindu dengan masa kecil putra putrinya yang memberinya banyak kesan yang luar biasa.
Lalu perlahan Hira mengangkat wajahnya, menatap sang ayah yang justru nampak tak ada raut wajah marah. Ia kira ayah akan kembali memarahinya.
"Kamu marah sama ayah? Ayah minta maaf ya?" ucap Damar. Damar lalu menatap geli sang putri yang nampak kacau. Tak kuasa laki-laki itu melihat sang putri menangis seperti itu.
"Sini duduk sama ayah." Kemudian Damar menarik sang putri untuk duduk di sofa.
"Kamu tau kenapa ayah ngotot milihin kamu ke FK?" Hira menggeleng lemah. Ia lelah untuk sekedar berpikir sebentar.
"Semua itu ada alasannya nak. Ini semacam wasiat dari kakekmu agar salah satu cucunya menjadi dokter. Tapi waktu itu kakekmu nggak memaksa, tetapi akan bahagia jika keinginan itu terwujud. Ayah pun juga punya keinginan sama seperti kakek, ayah ingin melihat salah satu anak ayah menjadi seorang dokter.”
"Kalau itu permintaan kakek dan ayah, Hira mau yah."
Damar menggeleng, "maafin ayah, ayah nggak tahu apa keinginan putri ayah ini. Kamu pilih saja yang kamu inginkan. Ayah akan dukung. Kamu bahagia ayah juga bahagia." Putus Damar. Hal itu tak ubah seperti hadiah yang paling di nanti Hira. Setelah sekian lama memperjuangan keinginannya, akhirnya ia bisa menetukan masa depannya sendiri, tanpa paksaan yang justru membuatnya galau setengah mati.
.
.
.